By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Reforma Agraria dan Krisis Keadilan Sosial
Ketua GMNI NTT Desak Presiden Prabowo Tetapkan Perangkat Desa sebagai ASN atau PPPK
Paul Finsen Mayor: Negara Harus Membaca Budaya Geopolitik Papua, Bukan Memaksakan Modal
GMNI Jakarta Selatan Serukan Aksi Solidaritas untuk Laras Faizati dan Aktivis yang Dikriminalisasi
Etika Negara Demokrasi: Ketika Kekuasaan Harus Tunduk pada Kepercayaan Rakyat

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Kapitalisme

Investor Khawatirkan Stabilitas Keuangan RI Imbas Program Makan Siang Gratis

Indo Marhaenist
Indo Marhaenist Diterbitkan : Selasa, 9 Juli 2024 | 18:02 WIB
Bagikan
Waktu Baca 5 Menit
Program makan siang gratis untuk anak sekolah diusung oleh presiden terpilih Prabowo Subianto. FILE/Katadata
Bagikan

Marhaenist – Program makan siang gratis untuk anak sekolah yang diusung oleh presiden terpilih Prabowo Subianto membuat pasar utang dan mata uang negara cemas, karena rencana tersebut.

Prabowo dan timnya berusaha keras untuk menghindari kesan pemborosan fiskal serta meyakinkan para pelaku pasar bahwa pemerintahan baru akan mematuhi batas utang resmi yang membatasi defisit anggaran hingga 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Namun, bagi pasar yang terbiasa dengan stabilitas dan pendekatan fiskal yang hati-hati di bawah kepemimpinan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, usulan belanja bernilai jumbo saja sudah cukup meresahkan.

Imbal hasil obligasi naik dan nilai tukar rupiah terdepresiasi, meskipun sebagian besar melemahnya rupiah lebih disebabkan oleh ketangguhan dolar AS.

“Kami percaya situasi saat ini lebih merupakan sebuah kegaduhan, tetapi kami melihat adanya risiko fiskal yang meningkat. Oleh karena itu, pasar mungkin mulai membutuhkan premi risiko yang lebih tinggi pada obligasi Pemerintah Indonesia,” kata Jenny Zeng, Kepala Investasi untuk Pendapatan Tetap wilayah Asia Pasifik di Allianz Global Investors, dilansir (09/07/2024).

“Risiko lainnya juga adalah karena adanya pergantian para menteri,” kata Zeng, merujuk pada ketidakpastian mengenai siapa yang akan menduduki posisi menteri keuangan di bawah kepemimpinan Prabowo nanti.

Seorang banker di sebuah lembaga perbankan China di Indonesia mengatakan bahwa kekhawatiran fiskal mendorong mereka untuk memindahkan sekitar 30 persen dari portofolio mereka ke instrumen dengan tenor lebih rendah, termasuk diversifikasi ke dalam surat utang jangka pendek yang denominasinya dalam rupiah (SRBI) yang diterbitkan oleh Bank Indonesia.

Rencana makan gratis Prabowo yang perkirakan akan menelan dana sebesar Rp71 triliun pada 2025, seharusnya tidak menimbulkan kekhawatiran.

Baca Juga:   Ekonomi Negara Sedang Dalam Keadaan Tidak Baik-Baik Saja

Meskipun awalnya dikategorikan sebagai obligasi sampah pada awal abad ini, kini obligasi Indonesia dianggap memiliki peringkat investasi.

Beberapa investor bahkan berpendapat bahwa pemerintah Prabowo sebaiknya menggelontorkan dana untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 8 persen. Namun, masih ada ketidakpastian mengenai seberapa besar anggaran yang akan dihabiskan Prabowo untuk program-programnya, serta apakah ia akan mengurangi subsidi BBM dan investasi lainnya untuk menjaga keseimbangan keuangan negara.

Clifford Lau, seorang manajer portofolio di William Blair, mengatakan, “Tampaknya akan ada lebih banyak ketidakpastian daripada kepastian. Saya masih tetap berinvestasi, tetapi mungkin tidak sebanyak sebelumnya.”

Investasi dari luar negeri dalam portofolio menyusut. Investor asing menarik $2,8 miliar dari obligasi pemerintah dalam bentuk rupiah dan pasar saham hingga Juni tahun ini.

Nilai tukar rupiah saat ini mencapai titik terendah dalam empat tahun terhadap dolar AS, mengalami kerugian lebih dari 5 persen sepanjang tahun ini. Penurunan ini sebagian besar disebabkan oleh peningkatan imbal hasil (yield) obligasi AS dan penguatan dolar, yang juga mempengaruhi mata uang negara-negara berkembang lainnya.

Para investor yang mencari obligasi dengan imbal hasil lebih tinggi juga beralih ke India, yang obligasinya tidak hanya memiliki imbal hasil yang sebanding tetapi juga baru saja masuk ke dalam indeks global JP Morgan.

Proyeksi dan Harapan Investor

Beberapa investor tetap menaruh harapan terhadap pemerintahan Prabowo. Mereka merujuk pada bagaimana pemerintahan Prabowo juga ingin mengerek pendapatan dan meningkatkan kepatuhan pajak, dan membatasi defisit fiskal sebesar 2,8 persen dari PDB, meskipun lebih tinggi dari target tahun ini sebesar 2,3 persen.

“Dia juga menyoroti pentingnya meningkatkan pendapatan fiskal, jadi sebenarnya ini tidak hanya tentang meningkatkan pengeluaran,” ujar Jerome Tay, seorang manajer investasi pendapatan tetap Asia dari Aberdeen. Ia bahkan memiliki pandangan positif terhadap obligasi pemerintah Indonesia dalam jangka menengah.

Baca Juga:   Konversi Kompor Gas ke Listrik Tidak Berlaku Tahun Ini

Para investor pasar negara berkembang telah lama tertarik pada obligasi tersebut karena menawarkan tingkat imbal hasil tinggi atau ‘carry’.

Perbedaan dalam imbal hasil antara obligasi Indonesia dan AS saat ini telah mengecil menjadi separuh dari 600 basis poin sebelum Federal Reserve mulai menaikkan suku bunga pada 2022, tetapi tetap menarik bagi investor di pasar pendapatan tetap.

Indonesia juga dipandang tidak terlalu rentan pada saat ini, mengingat kepemilikan asing hanya sebesar 14 persen dari obligasi pemerintah yang beredar. Padahal sebelumnya para investor tersebut mengusai separuh obligasi satu dekade lalu.

Harapan bahwa Federal Reserve akan segera mulai memangkas suku bunga memberikan sedikit kenyamanan bagi investor rupiah dan obligasi Indonesia, kata Rudiyanto, seorang direktur di perusahaan manajemen aset lokal Panin.

Namun ada risiko lain yang perlu diwaspadai, terutama terkait utang jatuh tempo yang junlahnya sangat signifikan, diperkirakan mencapai sekitar Rp 800 triliun pada 2025, hampir dua kali lipat dari jumlah tahun ini. Sri Mulyani menyatakan bahwa refinancing tidak akan menjadi masalah selama pemerintah dapat menjaga kepercayaan pasar.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print

ARTIKEL TERBARU

Reforma Agraria dan Krisis Keadilan Sosial
Kamis, 15 Januari 2026 | 15:13 WIB
Ketua GMNI NTT Desak Presiden Prabowo Tetapkan Perangkat Desa sebagai ASN atau PPPK
Kamis, 15 Januari 2026 | 12:08 WIB
Paul Finsen Mayor: Negara Harus Membaca Budaya Geopolitik Papua, Bukan Memaksakan Modal
Kamis, 15 Januari 2026 | 09:03 WIB
GMNI Jakarta Selatan Serukan Aksi Solidaritas untuk Laras Faizati dan Aktivis yang Dikriminalisasi
Kamis, 15 Januari 2026 | 01:27 WIB
Etika Negara Demokrasi: Ketika Kekuasaan Harus Tunduk pada Kepercayaan Rakyat
Rabu, 14 Januari 2026 | 22:55 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

Tanamkan Nilai Marhaenisme pada Peserta Baru, GMNI Touna Sukses Gelar PPAB Ke 7

Marhaenist.id, Touna - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Kapitalis dan Komunis

Marhaenist.id - Pada pandangan pertama, kapitalisme dan komunisme tampak seperti dua kutub…

GMNI Surabaya Kecam Aksi Oknum Ormas, Dukung Kepolisian Tegakkan Hukum dan Lindungi Warga Lansia

Marhaenist.id, Surabaya — Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Breakring News: Seorang Driver Ojol jadi Korban Demo DPR, Terlindas Kendaraan Taktis Polisi Hingga Tewas

Marhaenist.id, Jakarta - Aksi unjuk rasa besar-besaran di depan Gedung DPR/MPR RI,…

Melihat Bencana Ekologis Sumatera sebagai Ekosida dan Eko-Terorisme: Kejahatan Terorganisir

Marhaenist.id - Tidak ada bencana yang benar-benar “alamiah” ketika hutan telah dilucuti,…

Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Jawa Timur saat adakan orasi di depan gedung Grahadi Surabaya, (26/08/2024). FILE/IST. Photo

Kawal Implementasi PKPU, GMNI Jatim Gruduk Gedung Grahadi Surabaya

MARHAENIST - Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Jawa Timur bersama dengan Budayawan…

Merapat Ke PDIP, Perindo Usulkan Arya Ariyanto Sebagai Balon Wakil Walikota Yogyakarta

Marhaenist - Menjelang Pilkada 2024, Partai Perindo Kota Yogyakarta aktif memantau dinamika…

Ziarah ke Makam Bung Karno, Berdoa dan Menabur Bunga: Ada Gulungan Perkamen di Tembok Gapura (Catatan Perjalanan DPP PA GMNI 4)

Marhaenist.id, Blitar - Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Persatuan Alumni (PA) Gerakan Mahasiswa…

Ketum PA GMNI: Arah Pembangunan Nasional Harus Mengacu Pada Pembukaan UUD 1945

Marhaenist - Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) bekerjasama dengan Dewan Pakar Nasional Persatuan…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format

Vivere Pericoloso

🎧 Online Radio

Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?