By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Merayakan atau Melupakan Kartini di Tengah Krisis Ruang Aman Perempuan
Nasib Guru Honorer di Tengah Gelombang Pengangkatan PPPK Pegawai SPPG
Kunjungan Seremonial Kepala BGN di Jember dalam Bayang Bayang
Indikasi Skandal dalam Program makan Bergizi Gratis
Komplikasi Program Makan Bergizi Gratis

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Berhenti Mendewakan Investasi Asing, Pembangunan Harus Bertumpu Pada Kekuatan Rakyat

Marhaenist ID
Marhaenist ID Diterbitkan : Selasa, 16 Desember 2025 | 19:45 WIB
Bagikan
Waktu Baca 4 Menit
Perajin membersihkan kedelai di salah satu rumah industri di Jakarta, Kamis (6/10). Ketua Umum Gabungan Koperasi Produsen Tahu dan Tempe Indonesia (Gakopindo) Aip Syarifuddin mengatakan kenaikan harga kedelai impor satu bulan terakhir rata-rata berada di kisaran Rp6.900 - Rp7.000 per kilogram di tingkat koperasi yang sebelumnya Rp6.300 - Rp6.500 sedangkan harga di pasaran lebih tinggi yakni Rp10.597 per kilogramnya. ANTARA FOTO/M Agung Rajasa/pras/16.
Perajin membersihkan kedelai di salah satu rumah industri di Jakarta, Kamis (6/10). Ketua Umum Gabungan Koperasi Produsen Tahu dan Tempe Indonesia (Gakopindo) Aip Syarifuddin mengatakan kenaikan harga kedelai impor satu bulan terakhir rata-rata berada di kisaran Rp6.900 - Rp7.000 per kilogram di tingkat koperasi yang sebelumnya Rp6.300 - Rp6.500 sedangkan harga di pasaran lebih tinggi yakni Rp10.597 per kilogramnya. ANTARA FOTO/M Agung Rajasa/pras/16.
Bagikan

Marhaenist.id – Selama bertahun-tahun, pemerintah baik pusat maupun daerah, kerap menjadikan masuknya investasi asing sebagai indikator utama keberhasilan pembangunan. Angka-angka investasi dipamerkan, karpet merah digelar, dan regulasi dipermudah. Namun satu pertanyaan mendasar jarang diajukan secara jujur: untuk siapa pembangunan itu sesungguhnya bekerja?

Daftar Konten
Ketika Modal Asing Menjadi Ilusi SolusiGotong Royong Sebagai Fondasi Ekonomi yang TerlupakanPembangunan Berkelanjutan Tidak Datang dari LuarRingkasan

Di banyak wilayah Indonesia, terutama daerah agraris dan berbasis masyarakat adat, investasi asing justru meninggalkan paradoks. Modal memang datang, tetapi kesejahteraan tidak selalu tinggal. Tanah beralih fungsi, konflik sosial meningkat, dan masyarakat lokal kerap hanya menjadi penonton di rumah sendiri.

Ketika Modal Asing Menjadi Ilusi Solusi

Secara teori, investasi asing (Foreign Direct Investment/FDI) dapat mendorong pertumbuhan ekonomi, membuka lapangan kerja, dan mentransfer teknologi. Namun dalam praktiknya, khususnya di daerah dengan kapasitas institusional yang lemah, FDI sering beroperasi secara ekstraktif.

Keuntungan ekonomi lebih banyak mengalir ke luar daerah, bahkan ke luar negeri. Tenaga kerja lokal ditempatkan pada posisi berupah rendah, sementara pengambilan keputusan strategis berada di tangan korporasi. Yang tertinggal di daerah adalah jejak ekologis, ketegangan sosial, dan ketergantungan ekonomi jangka panjang.

Pembangunan semacam ini rapuh. Begitu harga komoditas turun atau iklim investasi berubah, modal pergi, dan masyarakat kembali menanggung kerusakan.

Gotong Royong Sebagai Fondasi Ekonomi yang Terlupakan

Indonesia sesungguhnya memiliki modal sosial yang jauh lebih kuat dibanding banyak negara lain: gotong royong. Dalam perspektif ekonomi modern, ini bukan sekadar nilai budaya, melainkan fondasi kelembagaan yang sangat relevan.

Model investasi berbasis komunitas, koperasi, BUMDes, usaha bersama masyarakat adat, memiliki keunggulan struktural. Modal berputar di dalam wilayah, keuntungan dinikmati bersama, dan keputusan diambil secara partisipatif. Risiko konflik lebih kecil karena kepemilikan bersifat kolektif dan berbasis konsensus.

Baca Juga:   Dari Sulawesi untuk DPP: 'Persatuan adalah Kunci Menuju Kejayaan GMNI'

Di banyak negara maju, model ini justru menjadi tulang punggung ekonomi. Jerman dengan jaringan usaha menengahnya (Mittelstand), Jepang dengan koperasi pertanian, dan negara-negara Skandinavia dengan ekonomi komunitas membuktikan bahwa kemandirian lokal adalah sumber daya strategis, bukan hambatan pembangunan.

Foto: Dr. med. vet. Rudi Samapati, Alumni GMNI, FKH UGM/MARHAENIST.

Pembangunan Berkelanjutan Tidak Datang dari Luar

Agenda global seperti Sustainable Development Goals (SDGs) menekankan pentingnya keadilan sosial, perlindungan lingkungan, dan institusi yang inklusif. Ironisnya, banyak proyek investasi asing di Indonesia justru bertentangan dengan prinsip-prinsip ini.

Sebaliknya, investasi berbasis gotong royong masyarakat lebih selaras dengan pembangunan berkelanjutan. Ia menjaga relasi manusia dengan tanah, menghormati pengetahuan lokal, dan membangun ekonomi yang tahan krisis. Ini bukan romantisme masa lalu, melainkan praktik yang terbukti secara empiris.

Sudah saatnya pemerintah mengubah cara mengukur keberhasilan pembangunan. Bukan semata dari besaran investasi yang masuk, tetapi dari sejauh mana:

Pendapatan masyarakat lokal meningkat.

Konflik agraria menurun.

Lingkungan tetap lestari.

Kedaulatan ekonomi daerah menguat.

Investasi asing seharusnya diposisikan sebagai pelengkap yang selektif, bukan sebagai pusat gravitasi kebijakan pembangunan. Tanah, air, dan pangan tidak boleh diperlakukan sebagai komoditas semata.

Ringkasan

Pemerintah yang kuat bukan yang paling rajin memikat investor asing, melainkan yang paling percaya pada kemampuan rakyatnya sendiri. Pembangunan yang berdaulat lahir dari keberanian untuk berkata: modal boleh datang, tetapi arah dan kendali tetap di tangan masyarakat.

Jika gotong royong adalah jiwa bangsa ini, maka sudah semestinya ia juga menjadi fondasi utama pembangunan ekonomi Indonesia.***


Penulis: Dr. med. vet. Rudi Samapati, Alumni GMNI, FKH UGM. MARHAENIST

 

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Merayakan atau Melupakan Kartini di Tengah Krisis Ruang Aman Perempuan
Sabtu, 18 April 2026 | 10:23 WIB
Nasib Guru Honorer di Tengah Gelombang Pengangkatan PPPK Pegawai SPPG
Sabtu, 18 April 2026 | 10:01 WIB
Kunjungan Seremonial Kepala BGN di Jember dalam Bayang Bayang
Sabtu, 18 April 2026 | 09:57 WIB
Indikasi Skandal dalam Program makan Bergizi Gratis
Sabtu, 18 April 2026 | 09:53 WIB
Komplikasi Program Makan Bergizi Gratis
Sabtu, 18 April 2026 | 09:42 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
Tirani yang Tersenyum dalam Bayang Kiamat Epistemik: Evolusi Kekuasaan dari Orwellian ke Huxleyian – Part I
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

Demokrasi Bukan Hadiah Elite, Tetapi Hak Rakyat

Marhaenist.id - Pemilihan Kepala Daerah bukan sekadar persoalan teknis elektoral, melainkan merupakan…

Aku Lelah, Mencintaimu adalah Tindakan Masokis

Marhaenist.id- Mencintaimu adalah ibadah paling melelahkan yang pernah aku jalani. Ia bukan…

Hukum Sebagai Panglima Bukan Kekuasaan

MARHAENIST - Baru saja kita memperingati hari konstitusi pada tanggal 18 agustus…

Bentuk Komite, Prancis dan Palestina Perkokoh Negara Palestina

Marhaenist.id, Paris - Presiden Prancis Emmanuel Macron, Selasa, mengumumkan pembentukan komite bersama Prancis–Palestina…

Erosi dari Dalam: Penyebab Utama Runtuhnya Partai Politik Besar

Marhaenist.id - Dalam sejarah politik, partai besar jarang runtuh karena serangan dari…

Setelah Gelar PKPA, Program Beasiswa Peradi Utama – PA GMNI akan Memasuki Tahapan UPA: Inilah Syarat dan Ketentuannya

Marhaenist.id, Jakarta — Setelah sukses menyelenggarakan Beasiswa Murni Batch 1 Pendidikan Khusus…

Dukung Ganjar, Caleg Demokrat Alumni GMNI Ini Tak Peduli Disanksi Partai

Marhaenist.id, Malang - Caleg DPRD Dapil V Jatim dari Partai Demokrat sekaligus…

Ramai Soal Begal Konstitusi, Garuda Biru Bergema di Medsos

MARHAENIST - Serempak warganet beramai-ramai membagikan gambar burung garuda berwarna biru disertai…

Merantau Keluar Negeri, Antara Peluang Emas dan Dilema Bangsa

Marhaenist.id – Kondisi ekonomi Indonesia butuh waktu untuk kembali membaik. Tiap saat kita…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?