By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
DPP GMNI Segera Laporkan Dugaan Perampasan Lahan Warga Transmigrasi di Halmahera Utara ke Tiga Instansi Pusat
Kaya Energi, Miskin Kedaulatan
Teguhkan Marhaenisme, PPAB III Komisariat Bung Tomo Manajemen Konsolidasikan Gerakan Perubahan
Kurs di Atas Piring Rakyat: Membedah Regulatory Capture dan Fondasi Sosio-Demokrasi
DPC GMNI Jakarta Barat Gelar Nobar “Pesta Babi”, 150 Peserta Soroti Gagalnya Reformasi

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Erosi dari Dalam: Penyebab Utama Runtuhnya Partai Politik Besar

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Rabu, 11 Februari 2026 | 11:53 WIB
Bagikan
Waktu Baca 4 Menit
Ilustrasi AI 'Erosi dari Dalam: Penyebab Utama Runtuhnya Partai Politik Besar'/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Dalam sejarah politik, partai besar jarang runtuh karena serangan dari luar. Justru, banyak yang melemah dari dalam. Konflik internal, perebutan pengaruh, fragmentasi kepemimpinan, hingga krisis regenerasi sering menjadi faktor yang lebih menentukan dibanding tekanan eksternal. Sejarah menunjukkan bahwa keruntuhan partai sering diawali bukan oleh kekuatan lawan, tetapi oleh retaknya fondasi internal yang sebelumnya menopang kekuatan mereka.

Partai politik modern adalah organisasi besar dengan beragam kepentingan, latar belakang, dan orientasi kekuasaan. Dalam kondisi ideal, keberagaman itu menjadi sumber kekuatan karena memperkaya perspektif dan memperluas basis dukungan. Namun, ketika struktur internal tidak solid, loyalitas kader melemah, atau proses kaderisasi tidak sehat, maka keberagaman itu justru berubah menjadi potensi konflik.

Ruang friksi terbuka lebar, dan organisasi perlahan kehilangan kohesi. Dalam kondisi seperti itu, perpecahan ideologi, rivalitas elite, dan hilangnya kepercayaan publik dapat terjadi secara bersamaan.

Konflik internal sering kali bukan sekadar perbedaan pandangan, tetapi pertarungan kepentingan yang tidak lagi dikendalikan oleh visi kolektif. Ketika orientasi perjuangan bergeser dari kepentingan rakyat menjadi sekadar perebutan posisi dan pengaruh, maka partai kehilangan arah ideologisnya. Pada titik ini, partai tidak lagi menjadi alat perjuangan politik, melainkan sekadar kendaraan kekuasaan. Akibatnya, militansi kader melemah, semangat perjuangan memudar, dan identitas politik menjadi kabur.

Selain itu, partai yang terlalu bergantung pada figur tertentu berisiko mengalami stagnasi regenerasi. Figur sentral memang dapat menjadi sumber legitimasi dan pemersatu, tetapi ketergantungan yang berlebihan menciptakan ketimpangan dalam distribusi kepemimpinan. Kader-kader potensial tidak mendapatkan ruang tumbuh, dan organisasi kehilangan dinamika.

Ketika kepemimpinan tidak berganti secara sehat dan terencana, energi politik partai perlahan menurun. Partai menjadi kaku, tidak responsif terhadap perubahan, dan semakin jauh dari realitas sosial yang dihadapi masyarakat.

Baca Juga:   (Refleksi 80 Tahun Indonesia Merdeka) Bukan Emas, Melainkan Indonesia (C)emas: Indonesia Menuju Kehancuran Raya

Dalam situasi seperti ini, erosi kepercayaan publik menjadi konsekuensi yang sulit dihindari. Masyarakat, khususnya generasi muda, cenderung menjauh dari partai yang terlihat elitis, tertutup, dan tidak memberikan ruang partisipasi yang bermakna.

Kepercayaan adalah fondasi utama legitimasi politik. Sekali kepercayaan itu retak, pemulihannya membutuhkan waktu panjang dan kerja politik yang serius. Kompetitor bahkan tidak perlu melakukan serangan besar—cukup menunggu hingga partai tersebut kehilangan relevansinya secara alami.

Lebih jauh, krisis internal juga berdampak pada melemahnya kapasitas partai dalam menjalankan fungsi utamanya sebagai sarana pendidikan politik, artikulasi kepentingan rakyat, dan rekrutmen kepemimpinan nasional.

Partai yang lemah secara internal akan kesulitan melahirkan pemimpin berkualitas. Akibatnya, politik kehilangan arah transformasionalnya dan terjebak dalam rutinitas kekuasaan tanpa visi jangka panjang.

Dalam politik demokratis, kekuatan partai bukan hanya diukur dari jumlah kursi yang dimiliki, tetapi dari soliditas internal, kualitas kaderisasi, konsistensi ideologi, dan kemampuan beradaptasi dengan perubahan zaman.

Partai yang mampu menjaga integritas internal akan memiliki daya tahan politik yang lebih kuat, bahkan dalam situasi krisis sekalipun. Sebaliknya, partai yang rapuh secara internal, meskipun tampak besar di permukaan, sesungguhnya sedang berjalan menuju fase kemunduran.

Pada akhirnya, keberlangsungan partai politik sangat ditentukan oleh kemampuannya menjaga keseimbangan antara kekuasaan dan idealisme, antara kepemimpinan dan regenerasi, serta antara kepentingan elite dan aspirasi rakyat.

Tanpa fondasi internal yang kuat, partai sebesar apa pun bisa kehilangan relevansi, ditinggalkan kadernya, dan dilupakan oleh sejarah. Sebab dalam politik, kehancuran paling sering tidak datang dari luar, melainkan tumbuh perlahan dari dalam.


Penulis: Opan Sadiman, Alumni GMNI.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

DPP GMNI Segera Laporkan Dugaan Perampasan Lahan Warga Transmigrasi di Halmahera Utara ke Tiga Instansi Pusat
Selasa, 19 Mei 2026 | 18:30 WIB
Kaya Energi, Miskin Kedaulatan
Selasa, 19 Mei 2026 | 15:35 WIB
Teguhkan Marhaenisme, PPAB III Komisariat Bung Tomo Manajemen Konsolidasikan Gerakan Perubahan
Senin, 18 Mei 2026 | 23:28 WIB
Kurs di Atas Piring Rakyat: Membedah Regulatory Capture dan Fondasi Sosio-Demokrasi
Senin, 18 Mei 2026 | 18:27 WIB
DPC GMNI Jakarta Barat Gelar Nobar “Pesta Babi”, 150 Peserta Soroti Gagalnya Reformasi
Senin, 18 Mei 2026 | 17:46 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
Tirani yang Tersenyum dalam Bayang Kiamat Epistemik: Evolusi Kekuasaan dari Orwellian ke Huxleyian – Part I
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

GMNI Berduka: Kurniawan Azhari Alumni GMNI di Sumsel Telah Tutup Usia

Marhaenist.id, Pelembang - Kabar duka menyelimuti Keluarga Besar Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional…

Mahasiswa-Mahasiswi Indonesia, Ayo Bergabung Bersama GMNI!

Marhaenist.id - Mahasiswa dan Mahasiswi Indonesia, saatnya kita bergerak bersama! Dalam dinamika…

YLBHI: 10 Faktor Jokowi Layak Disebut Pemimpin Korup dan Pelanggar Hukum dan HAM Terorganisir

Marhaenist.id - Menutup tahun 2024, salah satu organisasi nirlaba bernama Organized Crime…

Ganjar: Bansos Kewajiban Negara, Tidak Boleh Diklaim Pihak Tertentu!

Marhaenist.id, Jakarta - Persoalan bantuan sosial menjadi topik menarik dalam perhelatan debat…

DPC GMNI Jember Tolak Tegas Wacana Reduksi Kampus sebagai Instrumen Industri

Marhaenist.id, Jember — Wacana evaluasi hingga potensi penutupan sejumlah program studi oleh…

DPC GMNI Padangsidimpuan Kecam Tindakan Represif Aparat terhadap Ketua GMNI Labuhanbatu dan Masyarakat Padang Halaban

Marhaenist.id, Padangsidimpuan — Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Padangsidimpuan…

Foto: Deodatus Sunda Se, Ketua DPD GMNI DKI Jakarta (Dokpri)/MARHAENIST.

GMNI DKI Kecam Gugurnya 3 Prajurit TNI oleh Israel: Desak RI Keluar dari BOP dan Fokus Krisis Domestik

Marhaenist.id, Jakarta, - Dewan Pimpinan Daerah Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPD GMNI)…

PDI-P dan Revisi UU TNI

Marhaenist.id - Dengan adanya penolakan masyarakat terhadap revisi Undang-Undang TNI, PDI-P seharusnya…

Hendak Sampaikan Aspirasi Ke Wapres, Seorang Aktifis Mahasiswa di Kendari Babak Belur Dibogem Aparat Keamanan

Marhaenist.id, Kendari - Rimon Fatrah Negara atau yang akrab dipanggil Rifat, seorang…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?