By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
DPP GMNI Tekankan Peran Kewirausahaan dalam Memperkuat Ekonomi Rakyat dan Kaderisasi
Spirit Masjid Jogokaryan: Islam Modern yang Riil dalam Bingkai Marhaenisme
Erosi dari Dalam: Penyebab Utama Runtuhnya Partai Politik Besar
Konflik Agraria di Kawasan Transmigrasi Kotabaru, DPP GMNI Soroti Dugaan Penyerobotan Lahan dan Kriminalisasi Warga
Setan-Setan Pendidikan Dalam Bingkai Indonesia Emas 2045

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Manajer Asing Pimpin BUMN: Saatnya Berhenti Merasa Rendah Diri

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Senin, 20 Oktober 2025 | 12:00 WIB
Bagikan
Waktu Baca 4 Menit
Ilustrasi Gambar Manajer Asing Pimpin BUMN: Saatnya Berhenti Merasa Rendah Diri/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Rencana pemerintah membuka peluang bagi manajer asing untuk memimpin Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menimbulkan pertanyaan mendasar: apakah kita sudah kehilangan kepercayaan diri terhadap kemampuan anak bangsa sendiri?

Kebijakan ini terlihat seolah rasional dan modern—“demi profesionalisme dan efisiensi global.” Namun di balik retorika itu tersembunyi mentalitas inferior yang sudah lama menggerogoti bangsa ini: keyakinan bahwa yang datang dari luar negeri pasti lebih baik.

Ijazah dan Kesetaraan yang Tak Pernah Netral

Dalam praktik internasional, ijazah tidak pernah benar-benar setara antarnegara. Lulusan dari negara berkembang sering kali dianggap “kurang” oleh negara maju. S1 dari Asia kerap hanya diakui setara dua tahun kuliah di Eropa, dan S2 bisa saja hanya dianggap S1.

Ini bukan sekadar soal akademik, melainkan politik dan ekonomi. Negara maju sengaja melindungi pasar kerja mereka dengan “menurunkan” pengakuan ijazah dari negara berkembang. Dengan begitu, hanya mereka yang lolos ujian tambahan yang bisa bekerja di sana.

Artinya, sistem pendidikan global sudah bias sejak awal—dan lebih berfungsi sebagai alat kontrol ekonomi ketimbang penilaian objektif atas kualitas pengetahuan.

Ironi Ketergantungan pada Label Asing

Karena terjebak dalam cara pandang seperti ini, kita sering gagal melihat kemampuan sendiri. Padahal, banyak profesional Indonesia telah berhasil memimpin perusahaan multinasional, baik di dalam maupun luar negeri. Masalah di tubuh BUMN bukan pada kemampuan SDM lokal, tetapi pada tata kelola, intervensi politik, dan lemahnya meritokrasi.

Mengganti direksi BUMN dengan orang asing tidak menyelesaikan akar masalah. Yang dibutuhkan adalah sistem yang bersih, bukan sekadar figur dengan aksen asing.

Foto: Dr. med. vet. Rudi Samapati, Alumni GMNI, FKH UGM/MARHAENIST.

Kualitas Tidak Ditentukan Asal Negara

Menjadi pemimpin BUMN bukan hanya soal mengelola neraca keuangan. Itu juga soal memahami realitas sosial, budaya kerja, dan tanggung jawab publik. Seorang manajer asing mungkin mahir membaca laporan keuangan, tetapi belum tentu memahami bagaimana kebijakan tarif listrik atau BBM memengaruhi kehidupan rakyat di pelosok.

Baca Juga:   Inisiatif Kebijakan Impor Garam dan Gula

Kualitas kepemimpinan seharusnya diukur dari integritas, kapasitas, dan komitmen—bukan dari paspor atau universitas tempat seseorang belajar.

Menolak Mentalitas Rendah Diri

Dengan mengundang manajer asing memimpin BUMN, pemerintah sebenarnya sedang melegitimasi diskriminasi akademik global. Kita menerima begitu saja bahwa lulusan luar negeri lebih unggul, sementara anak negeri yang sudah bekerja keras dan memahami konteks lokal dipinggirkan.

Ini bukan sekadar persoalan ekonomi, tapi juga martabat bangsa. Kita tidak akan pernah menjadi negara maju jika terus merasa bahwa kualitas terbaik selalu datang dari luar.

Saatnya Percaya pada Daya Anak Bangsa

Sudah waktunya kita berhenti memuja simbol “standar global” yang sejatinya dibentuk oleh kepentingan ekonomi negara maju. Bangsa ini memiliki banyak putra-putri yang cerdas, tangguh, dan berintegritas—tinggal diberi ruang dan sistem yang adil untuk membuktikan diri.

Pemimpin BUMN yang sejati bukan yang memiliki ijazah bergengsi, tetapi yang punya komitmen untuk memajukan rakyat dan mengelola kekayaan negara dengan hati bersih.

Kemandirian bangsa tidak lahir dari kontrak kerja dengan orang asing, tetapi dari keberanian untuk mempercayai diri sendiri.***


Penulis: Dr.med.vet. Rudi Samapati, Alumni GMNI.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

DPP GMNI Tekankan Peran Kewirausahaan dalam Memperkuat Ekonomi Rakyat dan Kaderisasi
Kamis, 12 Februari 2026 | 14:27 WIB
Spirit Masjid Jogokaryan: Islam Modern yang Riil dalam Bingkai Marhaenisme
Rabu, 11 Februari 2026 | 18:52 WIB
Erosi dari Dalam: Penyebab Utama Runtuhnya Partai Politik Besar
Rabu, 11 Februari 2026 | 11:53 WIB
Konflik Agraria di Kawasan Transmigrasi Kotabaru, DPP GMNI Soroti Dugaan Penyerobotan Lahan dan Kriminalisasi Warga
Rabu, 11 Februari 2026 | 10:37 WIB
Setan-Setan Pendidikan Dalam Bingkai Indonesia Emas 2045
Selasa, 10 Februari 2026 | 23:04 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

Isi Masa Tenang, Ganjar Pilih Kongkow Lesehan Bareng Warga

Marhaenist.id, Semarang - Ganjar Pranowo mengisi masa tenang kampanye menonton Slank bersama…

Menumbuhkan Nilai-nilai Pancasila di Era Digitalisasi

Marhaenist.id - Untuk mendasarkan kehidupan kita pada Pancasila, tak cukup dengan sekedar…

DPD GMNI Sulbar Soroti Program Makanan Bergizi Gratis Pemerintah

Marhaenist.id, Mamuju - Pemerintah pusat gencar melakukan efisiensi anggaran untuk mendukung program…

Todung Mulya Lubis: MK Paling Berwenang Melakukan Diskualifikasi Paslon

Jakarta, Marhaenist.id - Tim Hukum Pasangan Calon (Paslon) Nomor Urut 3, Ganjar…

Lawan Pengkhianatan Terhadap Konstitusi Oleh Penguasa Yang Merusak Keluhuran Pilkada 2024

Marhaenist.id - Indonesia adalah negara hukum yang demokratis, hal tersebut merupakan amanat…

Satresnarkoba Polres Binjai di Bawah Komando AKP Ismail Pane: Garda Terdepan Lindungi Generasi Muda dari Narkoba

Marhaenist.id, Binjai — Upaya pemberantasan dan pencegahan peredaran narkoba di Kota Binjai…

Eco-Marhaenisme dan Hegemoni Kekuasaan Korporasi Penguasaan Hutan Adat Papua Era Jokowi

Marhaenist.id - Awal hingga pertengahan tahun 2024, Indonesia dihadapkan dengan banyak persoalan…

Arjuna Putra Aldino Lantik Pengurus DPC GMNI Halut Periode 2025-2027

Marhaenist.id, Tobelo - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Halmahera…

Peduli Nelayan Kerang Dara vs PT Pertamina Hulu Sanga-Sanga, Akankah Suara Nelayan Terdengar?

Marhaenist.id - Demo yang dilakukan Aliansi Peduli Nelayan Kerang Dara terhadap PT Pertamina…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?