By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Sosialisasi Empat Pilar MPR RI Bersama H. Abidin Fikri Perkuat Semangat Kebangsaan Mahasiswa di Yogyakarta
GMNI Jakarta Timur Soroti Dugaan Cacat Hukum Transaksi Tanah, Desak Keadilan Agraria untuk Kaum Marhaen
Marhaenisme dalam Titik Nadir Rakyat
MBG, Sukarno, dan Politik di Meja Makan
PA GMNI Kaltim: Aksi 21 April Harus Jadi Momentum Koreksi dan Menjaga Marwah Pergerakan Mahasiswa

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Kabar GMNIOpini

Menapaki Jalan Persatuan: Rekonsiliasi Menjadi Konsekuensi Logis dari Perpecahan GMNI

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Kamis, 31 Juli 2025 | 01:42 WIB
Bagikan
Waktu Baca 6 Menit
Foto: Wildan A. Y, Kader GMNI Jatim/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Tulisan ini bagian dari refleksi bagi kita sebagai kader GMNI yang terombang-ambing oleh perpecahan yang ada di internal GMNI itu sendiri. Para aktivis GMNI sebetulnya sadar bahwa GMNI tengah berada di antara “perang ide/perang kelompok” yang membawa GMNI justru pada posisi saling klaim legitimasi atas interpretasi tentang siapa yang paling memperjuangkan marhaenisme secara paripurna.

Keadaan yang dialami oleh GMNI (perang ide/perang kelompok) dapat dimaknai sebagai realitas konstruktif pada taraf dialektika ilmu pengetahuan dalam hal mendiskusikan tema-tema aktual yang bersinggungan dengan peranan ideologi yang dibawa terhadap permasalahan yang ada. Tetapi, “perang ide/perang kelompok” pada taraf tertentu dapat menjadi realitas destruktif apabila berimplikasi pada perpecahan organisasi secara struktural hingga tingkat basis.

Akibatnya kondisi demikian memperlemah gerakan itu sendiri sehingganya GMNI mengalami degradasi dan kejumudan dalam hal kaderisasi dan organisasi akibat perpecahan yang terawat sejak 2019.

Ilusi Ideologi

Diawali dari sebuah pertanyaan kritis untuk mengurai permasalahan di internal GMNI; mengapa organisasi mahasiswa yang mengklaim sebagai pewaris ajaran Bung Karno terjebak pada ilusi ideologi? Ilusi ideologi merupakan istilah yang diciptakan untuk mempermudah pemahaman tentang fenomena adanya narasi-narasi perdebatan yang terkemas rapih dengan mengatasnamakan ‘memperjuangkan ideologi’ padahal fondasi narasi tersebut secara fundamental disokong oleh selubung agenda politik kekuasaan antar kubu.

Agenda politik kekuasaan tak abai menjadikan organisasi gerakan mahasiswa sebagai pelindung kemapanan politik. Hal ini dapat kita ketahui bahwa organisasi gerakan mahasiswa memiliki daya tawar tinggi untuk dipakai mengamankan posisi politik elit.

Organisasi gerakan mahasiswa yang dianggap sebagai kepanjangan tangan aspirasi rakyat dimonopoli dan dikooptasi dengan harapan organisasi gerakan mahasiswa lebih dapat dikendalikan dan menghindari aspirasi rakyat sebagai keutamaan perjuangan.

Baca Juga:   Dibuka oleh Anggota DPRD, DPC GMNI Wakatobi Sukses Gelar PPAB Ke II

Alih-alih kedudukan politik ialah bagian untuk melakukan perbaikan dan menciptakan kesejahteraan, justru tak lain kedudukan tersebut dipakai untuk mendahulukan kepentingan elektoral dengan salah satu modusnya mengamputasi organisasi gerakan mahasiswa agar tidak lagi aspiratif dengan cara memecah-mecah kekuatannya.

Marhaenisme sendiri diciptakan oleh Bung Karno sebagai ideologi untuk menyatukan kaum marhaen atas politik devide et impera yang menciptakan ketidakadilan akibat imperialisme dan kolonialisme yang beroperasi. Pada prinsipnya, marhaenisme terumuskan untuk menghendaki adanya persatuan.

Kehendak persatuan di dalamnya mengandung sebuah kekuatan yang dapat dikapitalisasi sebagai instrumen untuk melawan, bukan kawan sendiri, melainkan musuh-musuh kaum marhaen. Secara luas, marhaenisme ialah fitur fundamental yang dirumuskan menjadi ideologi untuk mengonsolidasikan kekuatan kaum marhaen supaya mereka dapat memahami cara kerja imperialisme dan bagaimana cara melawannya.

Marhaenisme yang dipikul GMNI hari ini berbanding terbalik dengan semangat awal penciptaannya. Narasi-narasi ideologis oleh segenap ‘elit’ GMNI dipakai sebagai instrumen komodifikasi, mengomersiliasikan narasi ideologi untuk kepentingan politik kekuasaan. Watak seperti ini tidak mempertemukan ideologi dengan diaspora praksis, terutama advokasi terhadap kaum marhaen.

Jalan Persatuan Sebagai Kunci Gerakan

Politik devide et impera pernah menyelinap dalam dinamika sosial kemasyarakatan. Sengaja modus itu dioperasikan untuk memecah belah masyarakat supaya mudah untuk dikendalikan. Metode yang dipakai dengan cara memanfaatkan perbedaan agama, suku, ras, dan etnis.

Dengan memecah belah masyarakat, para kolonial berkepentingan agar persatuan antar masyarakat tidak dapat terkonsolidasi dan dengan begitu mereka dapat melakukan masifikasi untuk menjajah secara terus menerus.

Bung Karno dengan piranti pembacaan yang kuat dalam melihat fenomena ini kala itu, ia menggagas ide marhaenisme sebagai sarana untuk menyatukan masyarakat (kaum marhaen). Bung Karno paham kelindan antara strategi politik devide et impera dengan wajah imperialisme dan kapitalisme melalui kolonialisme yang membutuhkan penguasaan terhadap sumber bahan baku untuk keberlanjutan proses akumulasi kapital.

Baca Juga:   Kooperasi dan Hegemoni Kapitalisme

Bung Karno memahami politik devide et impera merupakan permasalahan utama yang menghambat proses konsolidasi rakyat untuk menggapai kemerdekaan. Untuk menyelesaikan permasalahan tersebut, ia secara rutin mendidik rakyat melalui pidato-pidatonya tentang betapa pentingnya Persatuan Nasional dilakukan. Bagi Bung Karno, Persatuan Nasional merupakan kunci dari pergerakan rakyat untuk melawan kolonialisme dan mencapai kemerdekaan Indonesia.

Tragedi yang dialami GMNI memiliki kemiripan dengan kondisi pra-kemerdekaan. Peristiwa awal dimulai pada tahun 2019 pada saat gelaran Kongres GMNI yang melahirkan kepemimpinan di tingkat Pusat hingga Komisariat terpecah belah. Akan mustahil perpecahan GMNI dinilai sebagai bagian dari proses ‘mempertarungan ideologi’ dengan menggelorakan klaim pihak ini lah yang akan menolong marhaen.

Permasalahan terpecahnya GMNI menjadi konsekuensi logis dari praktik agenda selubung atau diaspora praksis perebutan kekuasaan. Lebih memprihatinkan lagi, dampak perpecahan mengakibatkan kader-kader di tingkat komisariat saling pesimis dan trusth issue terhadap kader sesamanya; mereka saling bertanya dari gerbong mana dan dari barisan siapa. Bagaimana pun, posisi struktur di tingkat Pusat ialah legitimasi yang diberikan dari tingkat basis.

Ini menjadi keprihatinan tersendiri apabila di tiap tahun struktur di tingkat basis menggelorakan semangat kaderisasi untuk rekrutmen kader, menempa sumber daya manusia untuk dibentuk karakternya menjadi seorang marhaenis dan peka terhadap permasalahan sosial, namun yang dilihat oleh struktur di tingkat Pusat justru potret pemenuhan kuota keanggotaan untuk melegitimasi posisi strukturalnya.

Aspirasi persatuan di tingkat basis bukan narasi politis yang di-drive oleh demagog. Aspirasi tersebut berkaitan kuat dengan upaya merevitalisasi organisasi dan ideologi untuk dihidupkan kembali dengan semangat gotong royong.

Perpecahan di GMNI akan memperlemah gerakan itu sendiri. Pada prinsipnya, gerakan mahasiswa tidak boleh kehilangan makna awal dari makna gerakan mahasiswa itu sendiri. GMNI memikul tanggung jawab menjadikan marhaenisme mengideologisasi dalam tataran sosial kemasyarakatan.

Baca Juga:   Menjelang 100 Hari Pemerintahan WS-HADIR, GMNI Mamasa Serukan Refleksi Pancasila sebagai Dasar Kepemimpinan

Persatuan di tubuh GMNI menjadi konsekuensi logis agar GMNI dapat selangkah lebih maju menghadapi perubahan zaman yang kian cepat. Jalan Persatuan adalah kunci gerakan! Merdekaaa…!!!


Penulis: Wildan A. Y, Kader GMNI Jatim.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Foto: Saat Abidin Fikri memaparkan materi Sosialisasi Empat Pilar dihadapan Mahasiswa Yogjakarta, Senin (20/4/2026) (Dok. Abidin Fikri)/MARHAENIST.
Sosialisasi Empat Pilar MPR RI Bersama H. Abidin Fikri Perkuat Semangat Kebangsaan Mahasiswa di Yogyakarta
Senin, 20 April 2026 | 23:18 WIB
GMNI Jakarta Timur Soroti Dugaan Cacat Hukum Transaksi Tanah, Desak Keadilan Agraria untuk Kaum Marhaen
Senin, 20 April 2026 | 22:09 WIB
Marhaenisme dalam Titik Nadir Rakyat
Senin, 20 April 2026 | 21:21 WIB
MBG, Sukarno, dan Politik di Meja Makan
Senin, 20 April 2026 | 13:49 WIB
PA GMNI Kaltim: Aksi 21 April Harus Jadi Momentum Koreksi dan Menjaga Marwah Pergerakan Mahasiswa
Senin, 20 April 2026 | 12:35 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
Tirani yang Tersenyum dalam Bayang Kiamat Epistemik: Evolusi Kekuasaan dari Orwellian ke Huxleyian – Part I
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

DPC GMNI Tangsel Sesalkan Tindakan Kekerasan terhadap Mahasiswa Katolik di Pamulang

Marhaenist.id, Pamulang Tangsel - Baru-baru ini, sebuah video yang menjadi viral di…

Susilo Bambang Yudhoyono, Joko Widodo, Prabowo Subianto, Pertandingan Melawan Korupsi

MARHAENIST - Indonesia memulai sebuah era baru, memilih presiden secara langsung pada…

GMNI Berduka: Kurniawan Azhari Alumni GMNI di Sumsel Telah Tutup Usia

Marhaenist.id, Pelembang - Kabar duka menyelimuti Keluarga Besar Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional…

Menag Adakan Natal Bersama: Simbol Kecil, Dampak Besar — Asal Jangan Sekadar Panggung Saja

Marhaenist.id - Ketika Kementerian Agama menetapkan tema “C-LIGHT: Christmas — Love in…

6 DPK GMNI Halut Setujui Copot Wilson Musa Sebagai Ketua Cabang

Marhaenist.id, Halut - 6 (Emam) Dewan Pengurus Komisariat (DPK) Gerakan Mahasiswa Nasional…

Foto: Warga Kebon Sayur yang di Tangkap Paksa oleh Aparat (Bapak Juned)/MARHAENIST.

Penangkapan Paksa Warga Kebon Sayur dan Upaya Intimidasi dari aparat Kepolisian

Marhaenist, Jakarta – Pada hari Rabu (13/08/2025) telah terjadi penangkapan paksa oleh…

Momentum Sumpah Pemuda, Andi Aditya: Kemenpora Perlu Luas dalam Program Pemuda!

Marhaenist.id, Jakarta - Peringatan Hari Sumpah Pemuda kali ini mengingatkan kita akan…

Soroti Keberpihakan Pendidikan Tinggi untuk Mahasiswa Kurang Mampu, GMNI Sampaikan Rekomendasi ke PJ Gubernur Jatim

Marhaenist.id, Surabaya - Dalam rangka Bulan Bung Karno, Dewan Pimpinan Daerah (DPD)…

Mungkinkah De-Sukarnoisasi Djilid II Terjadi ?: Rekonsilisasi Elit & Harga Sembako Melejit era Pseudo-Demokrasi 2024

Marhaenis.id - Pada 2019, tahun yang tepat, hajatan demokrasi seperti Pemilihan Presiden…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?