By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
DPP GMNI Mendorong Pelaksanaan UHC: Tidak Menyisakan Ketimpangan Akses dan Kualitas Layanan Kesehatan
Demokrasi Bukan Dagangan Elite: GMNI Situbondo Tolak Tegas Pilkada oleh DPRD
Dokumen Rahasia Amerika: AS Mengetahui Skala Pembantaian Tragedi 1965
Kendalikan Hama Belalang dengan Ayam: Kebijakan Kemandirian Pangan Ibrahim Traoré di Burkina Faso
Sukarno dan Analisis Anti-Kolonialnya yang tidak Rasis

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Kabar GMNIOpini

Menapaki Jalan Persatuan: Rekonsiliasi Menjadi Konsekuensi Logis dari Perpecahan GMNI

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Kamis, 31 Juli 2025 | 01:42 WIB
Bagikan
Waktu Baca 6 Menit
Foto: Wildan A. Y, Kader GMNI Jatim/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Tulisan ini bagian dari refleksi bagi kita sebagai kader GMNI yang terombang-ambing oleh perpecahan yang ada di internal GMNI itu sendiri. Para aktivis GMNI sebetulnya sadar bahwa GMNI tengah berada di antara “perang ide/perang kelompok” yang membawa GMNI justru pada posisi saling klaim legitimasi atas interpretasi tentang siapa yang paling memperjuangkan marhaenisme secara paripurna.

Keadaan yang dialami oleh GMNI (perang ide/perang kelompok) dapat dimaknai sebagai realitas konstruktif pada taraf dialektika ilmu pengetahuan dalam hal mendiskusikan tema-tema aktual yang bersinggungan dengan peranan ideologi yang dibawa terhadap permasalahan yang ada. Tetapi, “perang ide/perang kelompok” pada taraf tertentu dapat menjadi realitas destruktif apabila berimplikasi pada perpecahan organisasi secara struktural hingga tingkat basis.

Akibatnya kondisi demikian memperlemah gerakan itu sendiri sehingganya GMNI mengalami degradasi dan kejumudan dalam hal kaderisasi dan organisasi akibat perpecahan yang terawat sejak 2019.

Ilusi Ideologi

Diawali dari sebuah pertanyaan kritis untuk mengurai permasalahan di internal GMNI; mengapa organisasi mahasiswa yang mengklaim sebagai pewaris ajaran Bung Karno terjebak pada ilusi ideologi? Ilusi ideologi merupakan istilah yang diciptakan untuk mempermudah pemahaman tentang fenomena adanya narasi-narasi perdebatan yang terkemas rapih dengan mengatasnamakan ‘memperjuangkan ideologi’ padahal fondasi narasi tersebut secara fundamental disokong oleh selubung agenda politik kekuasaan antar kubu.

Agenda politik kekuasaan tak abai menjadikan organisasi gerakan mahasiswa sebagai pelindung kemapanan politik. Hal ini dapat kita ketahui bahwa organisasi gerakan mahasiswa memiliki daya tawar tinggi untuk dipakai mengamankan posisi politik elit.

Organisasi gerakan mahasiswa yang dianggap sebagai kepanjangan tangan aspirasi rakyat dimonopoli dan dikooptasi dengan harapan organisasi gerakan mahasiswa lebih dapat dikendalikan dan menghindari aspirasi rakyat sebagai keutamaan perjuangan.

Baca Juga:   Telah Lahirkan Tokoh-Tokoh Nasional, Siapa Sajakah Mereka yang Pernah Berorganisasi di GMNI?

Alih-alih kedudukan politik ialah bagian untuk melakukan perbaikan dan menciptakan kesejahteraan, justru tak lain kedudukan tersebut dipakai untuk mendahulukan kepentingan elektoral dengan salah satu modusnya mengamputasi organisasi gerakan mahasiswa agar tidak lagi aspiratif dengan cara memecah-mecah kekuatannya.

Marhaenisme sendiri diciptakan oleh Bung Karno sebagai ideologi untuk menyatukan kaum marhaen atas politik devide et impera yang menciptakan ketidakadilan akibat imperialisme dan kolonialisme yang beroperasi. Pada prinsipnya, marhaenisme terumuskan untuk menghendaki adanya persatuan.

Kehendak persatuan di dalamnya mengandung sebuah kekuatan yang dapat dikapitalisasi sebagai instrumen untuk melawan, bukan kawan sendiri, melainkan musuh-musuh kaum marhaen. Secara luas, marhaenisme ialah fitur fundamental yang dirumuskan menjadi ideologi untuk mengonsolidasikan kekuatan kaum marhaen supaya mereka dapat memahami cara kerja imperialisme dan bagaimana cara melawannya.

Marhaenisme yang dipikul GMNI hari ini berbanding terbalik dengan semangat awal penciptaannya. Narasi-narasi ideologis oleh segenap ‘elit’ GMNI dipakai sebagai instrumen komodifikasi, mengomersiliasikan narasi ideologi untuk kepentingan politik kekuasaan. Watak seperti ini tidak mempertemukan ideologi dengan diaspora praksis, terutama advokasi terhadap kaum marhaen.

Jalan Persatuan Sebagai Kunci Gerakan

Politik devide et impera pernah menyelinap dalam dinamika sosial kemasyarakatan. Sengaja modus itu dioperasikan untuk memecah belah masyarakat supaya mudah untuk dikendalikan. Metode yang dipakai dengan cara memanfaatkan perbedaan agama, suku, ras, dan etnis.

Dengan memecah belah masyarakat, para kolonial berkepentingan agar persatuan antar masyarakat tidak dapat terkonsolidasi dan dengan begitu mereka dapat melakukan masifikasi untuk menjajah secara terus menerus.

Bung Karno dengan piranti pembacaan yang kuat dalam melihat fenomena ini kala itu, ia menggagas ide marhaenisme sebagai sarana untuk menyatukan masyarakat (kaum marhaen). Bung Karno paham kelindan antara strategi politik devide et impera dengan wajah imperialisme dan kapitalisme melalui kolonialisme yang membutuhkan penguasaan terhadap sumber bahan baku untuk keberlanjutan proses akumulasi kapital.

Baca Juga:   Murnikah 3 Pimpiman DPP GMNI Berbicara Persatuan untuk Menyatukan Kembali GMNI?

Bung Karno memahami politik devide et impera merupakan permasalahan utama yang menghambat proses konsolidasi rakyat untuk menggapai kemerdekaan. Untuk menyelesaikan permasalahan tersebut, ia secara rutin mendidik rakyat melalui pidato-pidatonya tentang betapa pentingnya Persatuan Nasional dilakukan. Bagi Bung Karno, Persatuan Nasional merupakan kunci dari pergerakan rakyat untuk melawan kolonialisme dan mencapai kemerdekaan Indonesia.

Tragedi yang dialami GMNI memiliki kemiripan dengan kondisi pra-kemerdekaan. Peristiwa awal dimulai pada tahun 2019 pada saat gelaran Kongres GMNI yang melahirkan kepemimpinan di tingkat Pusat hingga Komisariat terpecah belah. Akan mustahil perpecahan GMNI dinilai sebagai bagian dari proses ‘mempertarungan ideologi’ dengan menggelorakan klaim pihak ini lah yang akan menolong marhaen.

Permasalahan terpecahnya GMNI menjadi konsekuensi logis dari praktik agenda selubung atau diaspora praksis perebutan kekuasaan. Lebih memprihatinkan lagi, dampak perpecahan mengakibatkan kader-kader di tingkat komisariat saling pesimis dan trusth issue terhadap kader sesamanya; mereka saling bertanya dari gerbong mana dan dari barisan siapa. Bagaimana pun, posisi struktur di tingkat Pusat ialah legitimasi yang diberikan dari tingkat basis.

Ini menjadi keprihatinan tersendiri apabila di tiap tahun struktur di tingkat basis menggelorakan semangat kaderisasi untuk rekrutmen kader, menempa sumber daya manusia untuk dibentuk karakternya menjadi seorang marhaenis dan peka terhadap permasalahan sosial, namun yang dilihat oleh struktur di tingkat Pusat justru potret pemenuhan kuota keanggotaan untuk melegitimasi posisi strukturalnya.

Aspirasi persatuan di tingkat basis bukan narasi politis yang di-drive oleh demagog. Aspirasi tersebut berkaitan kuat dengan upaya merevitalisasi organisasi dan ideologi untuk dihidupkan kembali dengan semangat gotong royong.

Perpecahan di GMNI akan memperlemah gerakan itu sendiri. Pada prinsipnya, gerakan mahasiswa tidak boleh kehilangan makna awal dari makna gerakan mahasiswa itu sendiri. GMNI memikul tanggung jawab menjadikan marhaenisme mengideologisasi dalam tataran sosial kemasyarakatan.

Baca Juga:   GMNI Jember Tegaskan Pembebasan Kader Bukan Akhir Perjuangan, Melainkan Awal Babak Baru Gerakan

Persatuan di tubuh GMNI menjadi konsekuensi logis agar GMNI dapat selangkah lebih maju menghadapi perubahan zaman yang kian cepat. Jalan Persatuan adalah kunci gerakan! Merdekaaa…!!!


Penulis: Wildan A. Y, Kader GMNI Jatim.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print

ARTIKEL TERBARU

DPP GMNI Mendorong Pelaksanaan UHC: Tidak Menyisakan Ketimpangan Akses dan Kualitas Layanan Kesehatan
Selasa, 13 Januari 2026 | 18:01 WIB
Demokrasi Bukan Dagangan Elite: GMNI Situbondo Tolak Tegas Pilkada oleh DPRD
Selasa, 13 Januari 2026 | 12:57 WIB
Dokumen Rahasia Amerika: AS Mengetahui Skala Pembantaian Tragedi 1965
Selasa, 13 Januari 2026 | 10:42 WIB
Foto: Ibrahim Traore, Presiden Burkina Faso (Sumber: Inilah.com)/MARHAENIST.
Kendalikan Hama Belalang dengan Ayam: Kebijakan Kemandirian Pangan Ibrahim Traoré di Burkina Faso
Senin, 12 Januari 2026 | 19:19 WIB
Sukarno dan Analisis Anti-Kolonialnya yang tidak Rasis
Senin, 12 Januari 2026 | 15:03 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

Presiden Jokowi Resmi Buka Kongres IV Persatuan Alumni GMNI

Marhaenist - Presiden Joko Widodo (Jokowi) secara resmi membuka Kongres IV Persatuan…

Kasus Raya: Alarm Keras untuk Indonesia

Marhaenist.id - Raya adalah seorang bocah 4 tahun asal Sukabumi, harus meregang…

17 Agustus 1945: Salah Kaprah Hari Kemerdekaan Bangsa Indonesia menjadi HUT RI

Marhaenist.id - Banyak yang masih salah kaprah menganggapi tanggal 17 Agustus 1945…

Cara Melawan Kapitalisme (2): Sang Karyawan Hemat

Marhaenist.id - Ini adalah adalah sebuah cerita yang saya adopsi dari praktik nyata…

Rp 1.000,7 Triliun untuk Papua, Rakyatnya Tetap Miskin

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD geram dengan perkembangan…

Mengapa AS Berani Menangkap Maduro?

Marhaenist.id - Secara sejarah mereka punya legal precedent (1961 bay of pigs…

Mahasiswa Cipayung Plus Kota Medan temui Ganjar Pranowo diskusikan energi baru terbarukan. MARHAENIST

Temui Ganjar, Mahasiswa Cipayung Plus Diskusikan Energi Baru Terbarukan

Marhaenist - Sejumlah organisasi mahasiswa yang tergabung Kelompok Cipayung Plus Kota Medan…

Hakekat dari Pancasila adalah Membela Kaum Miskin

Marhaenist.id - Mungkin bagi sebagian besar aktivis mahasiswa saat ini yang berada…

Polisi dengan kendaraan yang rusak di lapangan stadion Kanjuruhan di Malang, Jawa Timur, setelah bentrokan antara pendukung tim berseteru. AP/Yudha Prabowo

Berduka Atas Tragedi Kanjuruhan, Jokowi Minta Liga 1 Dihentikan

Marhaenist - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan dukacita yang mendalam atas meninggalnya…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format

Vivere Pericoloso

🎧 Online Radio

Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?