
Marhaenist.id, Jeneponto – Setelah menggelar aksi demonstrasi di Kantor DPRD Kabupaten Jeneponto guna mendesak pengesahan Rancangan Undang-Undang Perlindungan Pekerja Rumah Tangga (RUU PPRT), Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Jeneponto melanjutkan rangkaian aksinya dengan kegiatan doa bersama di depan Markas Kepolisian Resor (Polres) Jeneponto, Senin (9/3/2026).
Aksi simpatik tersebut dilakukan sebagai bentuk solidaritas kemanusiaan atas sejumlah tragedi yang menimpa rakyat kecil di berbagai daerah, sekaligus sebagai refleksi ideologis atas nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan sosial.
Ketua DPC GMNI Jeneponto, Bung Nasrul Cicin, menegaskan bahwa kegiatan doa bersama ini merupakan respon moral terhadap berbagai peristiwa yang dinilai mencederai nilai-nilai demokrasi dan kemanusiaan.
Menurutnya, GMNI Jeneponto menyoroti beberapa kasus tragis yang terjadi belakangan ini, di antaranya meninggalnya Bertrand Eka Prasetyo (18) di Makassar serta Arianto Tawakal (14), seorang pelajar kelas IX MTs Negeri 1 Maluku Tenggara, yang juga menjadi korban tindakan represif oknum aparat.
Selain itu, GMNI Jeneponto juga menyampaikan duka atas wafatnya Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, yang dipandang sebagai salah satu tokoh dunia yang konsisten melawan hegemoni global.
“Di Makassar, darah anak bangsa tumpah hingga nyawanya melayang. Di Maluku, tunas bangsa harus gugur sebelum berkembang. Ini bukan sekadar pelanggaran hukum, tetapi juga penghinaan terhadap nilai kemanusiaan,” tegas Nasrul dalam orasinya.

Meneguhkan Nilai Perikemanusiaan
Dalam kesempatan tersebut, GMNI Jeneponto menegaskan bahwa perjuangan mereka berangkat dari nilai-nilai kemanusiaan sebagaimana yang diajarkan oleh Bung Karno.
Nasrul mengutip gagasan Sang Proklamator yang menekankan bahwa nasionalisme Indonesia adalah nasionalisme yang berlandaskan perikemanusiaan.
“Nasionalisme kita adalah nasionalisme yang berperikemanusiaan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa aksi doa di depan Polres Jeneponto juga merupakan pesan moral kepada institusi kepolisian agar tetap berpijak pada tugas utamanya sebagai pelindung dan pelayan masyarakat.
“Kami datang ke Polres setelah berjuang di DPRD untuk mengingatkan bahwa di balik seragam cokelat terdapat tanggung jawab moral kepada Tuhan dan kepada rakyat Marhaen,” lanjutnya.
Solidaritas Kemanusiaan dan Perjuangan Global
GMNI Jeneponto juga menegaskan bahwa solidaritas kemanusiaan tidak hanya terbatas pada isu lokal, tetapi juga mencakup perjuangan melawan ketidakadilan di tingkat internasional.
Dalam konteks tersebut, mereka turut menyampaikan penghormatan atas wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran sebagai simbol solidaritas terhadap kekuatan dunia yang melawan dominasi global.
Bagi GMNI, setiap perjuangan melawan penindasan, baik di tingkat lokal maupun internasional, merupakan bagian dari semangat solidaritas New Emerging Forces (NEFO) yang pernah digaungkan oleh Bung Karno.
Kegiatan doa bersama berlangsung dengan khidmat dan dihadiri oleh jajaran kepolisian setempat, termasuk Kasat Intel Polres Jeneponto, yang turut menyaksikan jalannya aksi.
Aksi tersebut menegaskan bahwa semangat perjuangan kader GMNI tidak selalu diwujudkan melalui kemarahan di jalanan, tetapi juga melalui refleksi moral dan doa bagi para korban ketidakadilan.***
Penulis: Redaksi/Editor: Bung Wadhaar.