
Marhaenist.id – Di ruang-ruang diskusi dan meja ngopi, banyak yang bertanya, apakah Marhaenisme hanya lahir ketika Bung Karno bertemu dengan seorang petani bernama Marhaen di pematang sawah Bandung tahun 1927 yang kini hanya menjadi artefak sejarah yang telah usai?
Marhaenisme bukanlah fosil, ia adalah metode berpikir (method of thought) yang hidup dan bernapas mengikuti dialektika zaman. Bung Karno pun mengajarkan bahwa Marhaen adalah mereka yang memiliki alat kerja, namun tetap tertindas oleh sistem.
Coba Kita lihat di Bumi Turatea, Marhaenisme menemukan denyut nadinya yang paling kencang, sebab Ia adalah satu faham yang timbul dari rasa kemanusiaan yang mendalam. Kita harus berani bertanya secara radikal: Jika Bung Karno berjalan di sepanjang pesisir Binamu-Arungkeke hari ini, atau mendaki perbukitan Kelara-Rumbia, siapa yang akan beliau sebut sebagai Marhaen?
Wajah Marhaen itu bertransformasi: Ia adalah petani yang punya lahan, tapi nasibnya tetap ditentukan oleh tengkulak. Ia adalah driver ojol/kurir paket yang bertaruh nyawa dijalanan yang mungkin tidak memiliki jaminan kesehatan dan nasibnya ditentukan oleh rating serta algoritma aplikasi, seluruh hidupnya dikendalikan oleh server kapitalis yang berada ribuan kilometer dari Jeneponto. Ia adalah Mahasiswa cerdas yang terancam putus mimpi dan menggadaikan idealisme demi sekadar bertahan hidup di tengah kerasnya ekonomi pendidikan.
Jadi, Siapa Marhaen di Jeneponto hari ini? Mereka adalah tetangga kita, saudara kita, dan mungkin diri kita sendiri. Bagi kami, Marhaenisme adalah iman politik. Ia adalah instruksi untuk tidak pernah diam selama masih ada tangis di gubuk-gubuk si miskin.
Bung Karno pernah menegaskan: “Kita bukan saja hendak mendirikan negara Indonesia merdeka, tetapi kita hendak mendirikan satu kekeluargaan yang besar, satu Gotong-Royong yang besar”. Mari merapatkan barisan. Karena hanya dengan persatuan, kita bisa mengubah keluh kesah menjadi kekuatan, dan mengubah penindasan menjadi kedaulatan.***
Penulis: Nasrul Cicin, Ketua DPC GMNI Jeneponto.