By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Soekarno Bukan Sekedar Presiden
Ekonomi Biru: Analisis Kritis Atas Kapitalisme Maritim
Perkuat Pembangunan Nasional, PA GMNI di Sultra Gaungkan Kolaborasi Antar Organ Alumni Cipayung
Wacana Pemakzulan Presiden, Firman Tendry Masengi: Titik Temu Legalitas Konstitusi dan Legitimasi Rakyat
Pemakzulan, Konstitusi, dan Legitimasi Rakyat

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

RUU Dewan Pertimbangan Presiden: Konsolidasi Kekuasaan, Menguatkan Presiden Untuk Melemahkan Demokrasi

Indo Marhaenist
Indo Marhaenist Diterbitkan : Rabu, 24 Juli 2024 | 00:06 WIB
Bagikan
Waktu Baca 4 Menit
Presiden Joko Widodo usai melantik sembilan anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) 2019-2024 di Istana Negara, Jakarta, pada Jumat, 13 Desember 2019. BPMI/Setpres
Bagikan

Marhaenist – Sejauh ini, keberadaan Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) tidak memberikan solusi nyata terhadap berbagai permasalahan bangsa. Fungsi mereka sering kali terlihat lebih sebagai simbol formalitas daripada badan yang benar-benar efektif dalam memberikan nasihat strategis kepada Presiden. Ide untuk merubah Wantimpres menjadi Dewan Pertimbangan Agung (DPA) justru menimbulkan kekhawatiran bahwa tujuan utamanya adalah melindungi Presiden dari kritik oposisi. Hal ini didasarkan pada fakta bahwa banyak anggota Wantimpres adalah tokoh-tokoh senior politik yang mewakili berbagai golongan dan partai, yang seharusnya menjadi pengkritik pemerintah, bukan pelindungnya.

Contoh konkret dari kekhawatiran ini adalah penunjukan beberapa tokoh senior politik yang sebelumnya dikenal kritis terhadap pemerintah, namun setelah diangkat menjadi anggota Wantimpres, kritik tersebut meredup. Misalnya, seorang mantan menteri yang dahulu sering mengkritik kebijakan ekonomi pemerintah, kini lebih banyak menyetujui tanpa banyak pertanyaan.

Wantipres kemudian akan diubah menjadi DPA itu tampak lebih seperti perpanjangan tangan Presiden yang bertujuan untuk mengkonsolidasikan kekuasaan dan meredam suara-suara kritis. Pengangkatan tokoh-tokoh politik senior ke dalam DPA hanya akan menjadikan mereka sebagai ‘yes-men’ yang mendukung setiap kebijakan tanpa memberikan kritik konstruktif. Pada akhirnya, perubahan ini dikhawatirkan hanya akan memperkuat kekuasaan eksekutif dan mengurangi mekanisme check and balance yang sehat dalam pemerintahan.

Apakah perubahan ini benar-benar demi kepentingan bangsa, atau sekadar langkah untuk memperkuat posisi Presiden di tengah pusaran politik? Pertanyaan ini perlu dijawab dengan jujur dan kritis oleh semua elemen bangsa.

Jika dewan penasihat hanya berfungsi sebagai perisai untuk presiden, maka akan terjadi bias dalam pengambilan keputusan. Pandangan kritis yang konstruktif dari dewan penasihat penting untuk memastikan bahwa setiap kebijakan yang diambil telah melalui proses evaluasi yang ketat dan mendalam. Sebagai contoh, kebijakan impor beras yang menuai protes dari petani lokal karena merugikan mereka, seharusnya mendapatkan evaluasi mendalam dari Wantimpres sebelum diimplementasikan. Namun, tanpa adanya kritik konstruktif, kebijakan tersebut tetap berjalan dan berdampak negatif bagi sektor pertanian domestik.

Baca Juga:   Putusan MK soal Kolegium dan Konsil Kesehatan: Apa Artinya bagi Dokter, Mahasiswa, dan Pasien?

Erat kaitannya, perubahan ini akan melemahkan kemampuan oposisi dalam mengawasi dan mengkritisi kebijakan pemerintah. Oposisi memainkan peran penting dalam sistem demokrasi sebagai penyeimbang kekuasaan. Ketika dewan penasihat hanya berfungsi untuk melindungi presiden, kritik yang biasanya disampaikan oleh oposisi dapat teredam. Hal ini berpotensi menciptakan situasi di mana kebijakan pemerintah berjalan tanpa pengawasan yang memadai, sehingga meningkatkan risiko kebijakan yang tidak berpihak pada kepentingan publik. Sebagai ilustrasi, ketika kebijakan kontroversial mengenai alokasi anggaran untuk proyek infrastruktur besar tidak mendapat pengawasan ketat, hal ini dapat menyebabkan pemborosan dan korupsi.

Perubahan ini, jika tidak diimbangi dengan mekanisme check and balance yang memadai, berpotensi melemahkan demokrasi dengan mengurangi transparansi dan
akuntabilitas. Sebagai contoh, kebijakan kontroversial seperti impor beras yang merugikan petani lokal dapat diteruskan tanpa evaluasi yang mendalam jika kritik dari dewan penasihat teredam. Begitu juga, pengawasan terhadap alokasi anggaran untuk proyek-proyek besar bisa menjadi tidak memadai, meningkatkan risiko pemborosan dan korupsi.

Secara keseluruhan, penting untuk mempertimbangkan dampak jangka panjang dari perubahan ini terhadap kualitas demokrasi dan akuntabilitas pemerintah. Penunjukan dan fungsi dewan penasihat haruslah transparan dan benar-benar bertujuan untuk kepentingan bangsa, bukan sekadar melindungi kekuasaan eksekutif.


Oleh : Eko Zaiwan, Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Peneliti Presisi45

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Soekarno Bukan Sekedar Presiden
Minggu, 12 April 2026 | 13:37 WIB
Foto: Benediktus Aquino, Alumni GMNI DKI Jakarta (Dokpri)/MARHAENIST.
Ekonomi Biru: Analisis Kritis Atas Kapitalisme Maritim
Sabtu, 11 April 2026 | 22:02 WIB
Perkuat Pembangunan Nasional, PA GMNI di Sultra Gaungkan Kolaborasi Antar Organ Alumni Cipayung
Sabtu, 11 April 2026 | 19:21 WIB
Wacana Pemakzulan Presiden, Firman Tendry Masengi: Titik Temu Legalitas Konstitusi dan Legitimasi Rakyat
Sabtu, 11 April 2026 | 18:07 WIB
Pemakzulan, Konstitusi, dan Legitimasi Rakyat
Sabtu, 11 April 2026 | 12:16 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

Refleksi Hari Lahir Bapak Proklamator: Pemuda Harus Meneladani Ajaran Bung Karno

Marhaenist.id - Bangsa Indonesia kembali diingatkan oleh sejarah bahwa tanggal 06 Juni…

Keraton Surakarta dan Gagasan Negara Kebudayaan Soekarno

Marhaenist.id - Keributan yang terjadi dalam prosesi penyerahan Surat Keputusan Menteri Kebudayaan…

Satu Oktober: Nyawa Lenyap, Tragedi Kanjuruhan, dan Pelanggaran HAM

Penulis: Aryasatya Krishdiansyah (Wakabid Sosial Politik GMNI UINSA Gunung Anyar).   Marhaenist.id…

Pro dan Kontra PT. SIM di Dusun Pelita, Bupati SBB dilema?

Marhaenist.id - Sudah hampir dua tahun terakhir, kita di suguhkan dengan berita-berita…

Tiga Komponen Marhaenisme

Marhaenist.id - Salah satu karya agung Soekarno di lapangan pemikiran adalah Marhaenisme.…

Wacana Revisi UU Pilkada Menguat, Didin Indra Saputra: Demokrasi Jangan Mundur

Marhaenist.id, Jakarta – Wacana revisi Undang-Undang Pemilihan Kepala Daerah (UU Pilkada) yang…

Menghidupkan Marhenisme: Lanfang dan Monterado sebagai Warisan Geopolitik Nusantara

Marhaenist.id - Nusantara bukan hanya ruang geografis. Ia adalah budaya maritim, jaringan…

DPC GMNI Jeneponto Gelar Rekrutmen Anggota Baru Melalui PPAB Lintas Komisariat

Marhaenist.id, Jeneponto - Dewan Pengurus Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Ganjar Akan Buka Lapangan Kerja dan Siapkan SDM Unggul saat Kampanye di Manado

Marhaenist.id, Manado – Ganjar Pranowo, berjanji akan membuka lapangan kerja dan menyiapkan…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?