By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Dokumen Rahasia Amerika: AS Mengetahui Skala Pembantaian Tragedi 1965
Kendalikan Hama Belalang dengan Ayam: Kebijakan Kemandirian Pangan Ibrahim Traoré di Burkina Faso
Sukarno dan Analisis Anti-Kolonialnya yang tidak Rasis
Ibrahim Traoré, Pan-Afrikanisme dan Langkah-Langkahnya untuk Kedaulatan Afrika
Rumah Kelahiran Sang Fajar Bung Karno

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Republik Pengantar Paket

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Selasa, 29 April 2025 | 21:53 WIB
Bagikan
Waktu Baca 4 Menit
Foto: Yongki, Mantan Ketua DPC GMNI Malang/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Sekarang marilah kita menyulam kembali ingatan kita tentang pengalaman pahit pada masa-masa kolonial. Suatu masa yang suram itu telah menggugah semangat perjuangan para pendiri bangsa kita. Pada masa itu mereka sangat sibuk untuk mencari jalan keluar menuju kebebasan dan merdeka. Mereka bertaruh segalanya bahkan berkorban nyawa demi mencapai kemerdekaan.

Tuhan tidak menutup mata, setelah melewati masa perjuangan yang panjang itu, maka tiba saatnya bagi bangsa Indonesia untuk merdeka. Tetapi pada kemudian hari apa yang terjadi?. Setiap dari kita telah menghirup udara kemerdekaan itu namun masih tercekik. Apa sebabnya kita masih tercekik?. Barulah kita menyadari bahwa kita tidak berjalan di atas relnya Republik Indonesia.

Apa itu relnya Republik Indonesia?. Bung bisa menafsirkan dengan berbagai tafsir, namun satu hal yang pasti relnya Republik Indonesia yang saya maksud adalah cita-cita dari Republik Indonesia itu sendiri. Sekarang ini kita merasakan sebagai bangsa yang hidup dalam fatamorgana. Kehilangan kepercayaan diri mengubah kita dari bangsa patriot menjadi bangsa pengantar paket.

Lebih jelas saya ingin kita menggali lagi apa itu Republik Indonesia. Dalam karya-karya Tan-Malaka seperti Madilog dan Naar de Republiek Indonesia, Tan Malaka menekankan pentingnya republik sebagai alat untuk membangun masyarakat sosialis yang bebas dari penindasan kolonial dan feodalisme. Visi yang sama dilontarkan oleh Bung Karno tentang dasar Negara Indonesia Merdeka dalam pidato termasyhurnya pada 1 Juni 1945 di depan sidang BPUPKI itu. Singkat kata bahwa cita-cita kita adalah sebagai Republik Indonesia yang merdeka untuk membangun masyarakat sosialis.

Dalam karya-karya kita sebagai bangsa yang modern ini, tidak nampak jelas kita sedang membangun masyarakat yang sosialis itu, kita terombang – ambing seperti bertemu di jalan buntut, terisolasi dari tradisi – tradisi klasik, dan semakin dicekik oleh kapitalis, namun sekedar melangsungkan nasib kita hanya bisa memilih menjadi bangsa pengantar paket. Lantas siapa pemilik paket itu ?. Mereka adalah para kapitalis, para konglomerat atau kaum-kaum Oligarki.

Baca Juga:   Dunia Berubah Total dalam Lima Tahun

Mereka membangun gedung – gedung pencakar langit di atas tanah – tanah rakyat secara paksa, demikian pula merampas kekayaan rakyat hingga tak tersisa. Dengan kondisi menderita rakyat ingin meminta bantuan kepada pemerintah, namun yang tidak diduga adalah jawaban pemerintah yang lesu. “Ya nanti kita usahakan ya” sudah begitu saja dan berlalu.

Baru-baru ini CNBC memberitakan kepada kita mengenai laporan dari World Bank. Dalam laporan Word Bank itu terang-terang menunjukkan data bahwa mayoritas masyarakat di Indonesia sebagai penduduk miskin, dengan porsi sebesar 60,3% dari jumlah penduduk pada 2024 sebesar 285,1 juta jiwa. Kabar ini laksana badai yang belum berlalu, terus menerjang dalam kalbu. Kemiskinan masih menjadi hantu. Apakah kita belum siap untuk bergerak maju ?.

Sekarang marilah kita melihat apa yang telah kita perbuat, benar – benar suatu masalah yang sulit diatasi ialah perilaku pejabat kita yang tidak berkenan. Korupsi, Kolusi, Nepotisme terus menjadi – jadi. Tradisi semacam ini yang buat rakyat Indonesia miskin dan melarat. Bertumbuh dalam ketidak jujuran semakin mendekatkan kita pada kehancuran. Mengenai ketidak jujuran ini, Bung Hatta telah mengingatkan kita dengan berkata: “Kurang cerdas dapat diperbaiki dengan belajar, kurang cakap dapat dihilangkan dengan pengalaman, tapi kalau kurang jujur ini yang sulit diperbaiki”.

Sekarang barulah kita mengerti Republik Indonesia sekarang sangat berbeda jauh dari Republik rancangan Tan Malaka, Republik rancangan Bung Karno dan Republik rancangan Bung Hatta. Di dalam Republik Indonesia sekarang ini, tumbuh benih-benih ketidak jujuran, semakin menjalar menjulang tinggi melampaui hati nurani.

Cinta, kekeluargaan, dan gotong royong sekedar metafisik. Bung di dalam Republik Indonesia sekarang itu, kita bertemu sebuah perusahaan asing penjual Pizza, sementara rakyat kita “sekedar melangsungkan nasib hanya bisa memilih menjadi pengantar paket”.***

Baca Juga:   GMNI dalam Persimpangan Jalan: Machtsvorming sebagai Gagasan Pemersatu

Penulis: Yongky, Mantan Ketua DPC GMNI Malang.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print

ARTIKEL TERBARU

Dokumen Rahasia Amerika: AS Mengetahui Skala Pembantaian Tragedi 1965
Selasa, 13 Januari 2026 | 10:42 WIB
Foto: Ibrahim Traore, Presiden Burkina Faso (Sumber: Inilah.com)/MARHAENIST.
Kendalikan Hama Belalang dengan Ayam: Kebijakan Kemandirian Pangan Ibrahim Traoré di Burkina Faso
Senin, 12 Januari 2026 | 19:19 WIB
Sukarno dan Analisis Anti-Kolonialnya yang tidak Rasis
Senin, 12 Januari 2026 | 15:03 WIB
Foto: Ibrahim Traore, Presiden Burkina Faso (Sumber: Inilah.com)/MARHAENIST.
Ibrahim Traoré, Pan-Afrikanisme dan Langkah-Langkahnya untuk Kedaulatan Afrika
Senin, 12 Januari 2026 | 15:02 WIB
Rumah Kelahiran Sang Fajar Bung Karno
Minggu, 11 Januari 2026 | 13:43 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

Darurat Penegakan Hukum, GMNI Nias Selatan Soroti Lemahnya Aparat Penegakan Hukum

Marhaenist.id, Nisel - Banyaknya laporan masyarakat di Kepolisian Resort (Polres) Nias Selatan…

Hari Ke 8 Kawal Aksi Masyarakat Talaga Raya atas PT AMI, GMNI Baubau Minta Agar Perundingan Bisa Melahirkan Solusi

Marhaenist.id, Buteng - Hari ke 8 masyarakat Talaga Raya bersama Dewan Pimpinan…

DPC GMNI Bantaeng Kutuk Keras Tindakan Represif Oknum ASN Dinas PUPR Sinjai terhadap Kader GMNI Sinjai

Marhaenist.id, Bantaeng - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Detik-detik Seorang Jurnalis di Morowali ditangkap oleh Aparat Kemanan yang berpakaian preman dan bersenjata Laras Panjang (Sumber: Portal Hukum Indonesia)/MARHAENIST.

Viral! Jerit Tangis di Torete: Saat Laras Panjang Membungkam Hak Warga, Roy Diseret Tanpa Dialog

Marhaenist.id, Morowali – Suasana Desa Torete yang semula tenang, mendadak berubah mencekam…

Menapaki Jalan Persatuan: Rekonsiliasi Menjadi Konsekuensi Logis dari Perpecahan GMNI

Marhaenist.id - Tulisan ini bagian dari refleksi bagi kita sebagai kader GMNI…

Skandal Korupsi Tol Balikpapan-Samarinda: Keresahan Masyarakat Kalitim Sejak 2023 Akhirnya Terjawab

Marhaenist.id - Jalan tol merupakan jalur alternatif yang disediakan pemerintah untuk masyarakat…

Nurmiyati Bagit & Bahtiar Husni. MARHAENIST

Nurmiyati Bagit, Korban Lakalantas di Ternate Desak Penahanan Pelaku Demi Keadilan

Marhaenist, Ternate - Seorang ibu rumah tangga di Ternate, Maluku Utara, Nurmiyati…

Presiden Joko Widodo saat membagikan Bantuan Langsung Tunai (BLT). ANTARA/Arif Firmansyah

Jokowi: Sebanyak 19,9 Juta Orang Telah Terima BLT BBM

Marhaenist - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyebutkan sekitar 19,9 juta orang atau…

DPC dan DPK GMNI Se-Bangka Belitung Resmi di Lantik

Marhaenist.id, Bangka - Dengan mengusung tema “Mewujudkan Tri Sakti Bung Karno yang…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format

Vivere Pericoloso

🎧 Online Radio

Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?