By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Demokrasi Bukan Dagangan Elite: GMNI Situbondo Tolak Tegas Pilkada oleh DPRD
Dokumen Rahasia Amerika: AS Mengetahui Skala Pembantaian Tragedi 1965
Kendalikan Hama Belalang dengan Ayam: Kebijakan Kemandirian Pangan Ibrahim Traoré di Burkina Faso
Sukarno dan Analisis Anti-Kolonialnya yang tidak Rasis
Ibrahim Traoré, Pan-Afrikanisme dan Langkah-Langkahnya untuk Kedaulatan Afrika

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Refleksi 80 Tahun Indonesia Merdeka

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Selasa, 5 Agustus 2025 | 20:36 WIB
Bagikan
Waktu Baca 10 Menit
Foto: Bagus Adil, Bendahara DPC PA GMNI Situbondo/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Indonesia bagiku bukan sekadar tanah kelahiran. Indonesia adalah anugerah tuhan yang begitu indah. Kaya alamnya, beragam suku budayanya, dan ramah manusianya.

Bagiku terlahir sebagai orang Indonesia adalah anugerah terindah dan meninggal di Indonesia itu adalah berkah. Jika kata Martinus A.W. Brouwer “Bumi Pasundan lahir ketika Tuhan sedang tersenyum” maka bagiku “Indonesia diciptakan Tuhan dengan penuh riang tawa mesra”.

Euforia Revolusi 1945 masih kental di ingatan. Cara merayakannya pun beraneka ragam. Ada yang melakukan seremonial-seremonial seperti upacara bendera, pergi berziarah ke makam pahlawan dan lain sebagainya.

Menurutku kemerdekaan bukan hanya untuk dirayakan tapi juga harus dipertahankan dan diusahakan. Ketika kita sudah benar-benar merdeka, pasti kita akan berdiri di atas kaki sendiri (Berdikari). Tak terasa sudah 80 tahun bangsa ini merdeka, menarik sekali untuk kita refleksikan sudah sampai di mana bangsa ini berjalan beriringan bersama.

Bisa tercermin dari narasi ini. Bersumber dari pikiranku, orang yang pernah aku temui, dan orang-orang yang pernah aku baca tulisannya. Latar belakang pikiran yang sangat beragam menjadikan narasi ini menarik untuk dinikmati dengan seduhan segelas kopi.

Aku memulainya dari beberapa bait puisi yang dibacakan oleh Sufyan dan Ferdi yang merupakan salah satu siswa sekolah dasar di Dusun Balung.

Sekolah yang aku datangi untuk sebuah panggilan jiwa tertentu. Puisi mereka berjudul “Terima Kasih Sekolahku” karya Kak Dedi.

“Hari demi hari begitu cepat berganti.
Sang Mentari tetap setia menyemangati
Embun-embun pagi menjadi saksi
Bagaimana aku menjemput mimpi
Siang hari yang terik menjadi teman
Memekik bunga-bunga ilmu
Setiap hari kami penuh semangat
Untuk menggapai cita-cita
Bergandeng tangan pantang menyerah
Menyatu dalam genggaman asa demi masa depan yang cerah…”

Itu adalah beberapa bait puisi yang mereka berdua senandungkan. Menurutku puisi sendiri adalah suatu bentuk sastra pembebasan yang sedang dalam perjalanan untuk mencetak sebuah kepribadian manusia yang bebas dan merdeka.

Kalau aku mengutip ucapan Wijhi Tukul dalam kumpulan puisinya yang berjudul “Aku Ingin Jadi Peluru”, seni (puisi) adalah satu bentuk dari banyak tafsir atas realitas, seni bukanlah sesuatu yang kosong dan tidak berpihak, justru ia memiliki pemihakan yang besar, yakni atas hati nurani.

Baca Juga:   Tidak Cukup Minta Maaf: Tuntut Tindakan Nyata untuk Kematian Pengemudi Ojol

Aku suka dengan kalimat di dua baris terakhir puisi tadi, ”Bergandengan tangan pantang menyerah, menyatu dalam genggaman asa demi masa depan yang cerah”. Kalimat ini menurutku memiliki tafsir tersendiri tentang sebuah bangsa yang sedang berada di depan gerbang untuk menuju jembatan emas dalam meraih kemerdekaanya.
Berbicara kemerdekaan, apakah merdeka diraih ketika suatu bangsa tidak diperintah oleh bangsa luar?

Menurutku ini adalah pertanyaan sekaligus jawaban mayoritas. Kemudian apakah dapat dikatakan merdeka jika seluruh hasil kekayaan alam di dalamnya dapat dinikmati secara gratis oleh masyarakatnya? Menurutku ini adalah pemikiran minoritas.

Mungkin aku lebih setuju jika kemerdekaan diartikan dengan tidak adanya eksploitasi manusia atas manusia (exploitation de l‘homme par l‘homme) dan eksploitasi bangsa atas bangsa (exploitation de nation par nation).

Tapi itu sepertinya mustahil sekali untuk mutlak terwujud. Kenapa? Sebab, kedua hal di atas akan terus terjadi selama roda zaman terus berputar, selama masyarakat terus berdinamika.

Jadi menurutku kemerdekaan itu seperti hal yang fiksi. Oleh karena hal tersebut fiksi, maka harus kita terus perjuangkan jika kita mengaku sebagai suatu bangsa. Kuingatkan, bukan merasa bisa memiliki Indonesia, tetapi bisa merasa memiliki Indonesia.

Oh iya, dulu Bung Karno pernah ditanya oleh Daud Beureueh dalam sidang BPUPKI. “Soekarno, apa itu bangsa?” namun Soekarno baru menjawabnya pada tahun 1948.

Mungkin aku akan mengambil pendapat yang menurutku netral dari Bennedict Anderson tentang bangsa, ia berpendapat bahwa bangsa adalah “imagined community” suatu komunitas terbayang, karena mustahil bagi seorang individu untuk benar-benar pernah berinteraksi satu sama lain dengan individu dari kelompok yang lain.

Sebenarnya banyak sekali keragaman yang dimiliki oleh bangsa ini, dimulai dari kultur, agama, etnis sampai kepada konsep sebuah pemikiran pun berbeda. Contoh nyata yakni pasti akan ada perbedaan bahasa dalam sebuah bangsa. Bahasa yang digunakan oleh Suku Jawa dan Suku Madura, Suku Batak dan Suku Toraja, pasti berbeda.

Kemudian pasti juga akan ada perbedaan mengenai konsep demokrasi. Demokrasi menurut Soekarno dan Muhammad Natsir berbeda. Jadi tidak menutup kemungkinan pasti ada beberapa perbedaan konsep menurut tokoh nasional yang lain.

Baca Juga:   Pentingnya Keterwakilan Unsur Mahasiswa Didalam Satgas PPKS Unpam

Jadi aku sepakat jika harus ada sebuah konsep pemersatu untuk menaungi keanekaragaman ini. Kalau dalam bidang bahasa ada Bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu bangsa.

Kemudian jika kita berbicara lebih jauh lagi tentang keanekaragaman, maka konsep Pancasila dengan nilai Bhinneka Tunggal Ika-lah yang menurutku paling cocok dalam menaungi dan menyatukan seluruh perbedaan yang ada di dalam bangsa ini. Ingat, Pancasila sendiri hadir karena adanya perbedaan, bukan untuk menghilangkan perbedaan.

Jika kita sedikit berpikir lebih holistis dan kritis lagi, sebenarnya secara tidak langsung budaya luhur kita sedikit demi sedikit telah menghilang karena salah satu masalahnya diakibatkan oleh belum siapnya filter kita untuk mengantisipasi efek negatif dari globalisasi.

Kemudian lagi, kita terlalu sibuk mencari kiblat sebagai patokan dasar kemajuan suatu peradaban. Yang daerah A meniru B, yang daerah B meniru daerah C, dan seterusnya, lalu berakhir di New York sebagai patokan utama dan yang terutama.

Jadi ketika daerah kita tidak sesuai dengan patokan yang kita tetapkan dan harapkan maka kita akan merasa inferior dan juga insecure dengan sendirinya, hal ini biasanya banyak terjadi kepada pemuda dan pemudi yang sedang merantau ke kota besar.

Padahal logika sederhananya menurutku seperti ini. Amerika dengan pemerintahan demokrasinya menghasilkan gedung-gedung besar. Kemudian Qatar dengan pemerintahan monarkinya juga bisa menghasilkan banyak gedung besar.

Bahkan gedung terbesar di dunia ada di Qatar yakni Burj Khalifa dengan tinggi hampir mencapai 1 kilometer. Masa iya harus meniru segalanya dari mereka sebagai tolak ukur sebuah kemajuan? Padahal kita punya potensi yang berbeda dari mereka untuk mencapai kemajuan itu.

Seharusnya potensi daerah yang kita miliki perlu kita maksimalkan dan kembangkan lagi melalui inovasi-inovasi baru. Bung Karno menurutku adalah sebuah contoh teladan bagi para generasi muda supaya tidak menerima mentah perihal pemikiran maupun konsep yang mereka terima dari luar.

Jadi harus melalui proses dialektik dengan keadaan setempat. Salah satu contohnya yakni ketika Bung Karno tidak mengambil dengan mentah Marxisme sebagai asas ekonomi. Namun ia tafsirkan lagi dengan melihat kondisi sosial dan ekonomi Indonesia.

Kemudian lahirlah Marhaenisme sebagai asas perjuangan. Bahkan Manifesto Politik Usdek (Manispol Usdek) yang digagas oleh beliau berakhir dengan akhiran akronim “K” yang artinya “kepribadian Indonesia”. Jadi haluan negara kita ini dulu harus berdasarkan kepribadian Indonesia.

Baca Juga:   Feodalisme Digital dalam Ekonomi Creator: Membaca Ulang Generasi Emas 2045 dari Kacamata Marhaenisme

Ada sebuah pertanyaan sederhana dari seorang anak kecil yang menurutku tidak bisa dijawab dengan jawaban yang sederhana. Begini bunyi pertanyaannya: “Kak orang kota katanya pintar-pintar, tapi kenapa ya sungainya kok kotor?”

Itu adalah sebuah pertanyaan sederhana yang menurutku akan terjawab dengan sendirinya oleh pengalaman ia kelak. Maka aku diam tanpa sepatah kata pun terujar dari mulutku untuk ikut serta dalam menemukan jawabannya.

Aku jadi ingat dengan ucapan Bung Karno ketika beliau memproklamirkan dasar negara kita Pancasila: “Pancasila bukan aku yang menciptakannya. Tapi aku menggalinya dalam ingatanku, ciptaku, khayalku setelah menyelami sejarah bangsa Indonesia ini lapis demi lapis”.

Anak kecil yang bertanya tadi menurutku dia masih murni, masih belum terbawa oleh arus negatif dari globalisasi yang sedikit demi sedikit tanpa kita sadari telah menghilangkan budaya luhur kita.

Maka dari itu, sebenarnya yang paling memahami Pancasila adalah anak kecil ini. Dan aku harus banyak belajar kepadanya. Niat awalku yang datang ke sana murni karena panggilan jiwa, demi menyelamatkan dirinya.

Namun kenyataannya dirikulah yang diselamatkan oleh dirinya. Ini adalah momen di mana ketika narasi dan teoriku dipatahkan oleh sebuah pertanyaan sederhana yang terlontar dari ucapan seorang anak kecil.

Hal yang dapat kupetik sesudah 80 tahun bangsa ini menyatakan kesiapannya untuk merdeka adalah aku tidak boleh hanya mencari eksistensi sambil memperbaiki masa depan sendiri. Lebih dari itu, semakin banyak tempat dan orang yang aku temui, semakin pahamlah aku bahwa revolusi Indonesia belum selesai.

Maka jangan pernah berhenti. Demi Indonesia yang merdeka, berdaulat, adil, dan makmur. Harapan itu akan terwujud ketika kita mau berjuang, belajar, dan saling membantu.

Pada hakikatnya, kekayaan hati dan pikiran tidak didapatkan dari seberapa banyak tempat yang berhasil dijelajahi, seberapa banyak buku yang kita baca. Tetapi seberapa pandai kita memaknai setiap langkah dari pencarian tersebut.

Selamat HUT ke-80 RI!***


Penulis: Bagus Adil, Bendahara DPC PA GMNI Situbondo.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print

ARTIKEL TERBARU

Demokrasi Bukan Dagangan Elite: GMNI Situbondo Tolak Tegas Pilkada oleh DPRD
Selasa, 13 Januari 2026 | 12:57 WIB
Dokumen Rahasia Amerika: AS Mengetahui Skala Pembantaian Tragedi 1965
Selasa, 13 Januari 2026 | 10:42 WIB
Foto: Ibrahim Traore, Presiden Burkina Faso (Sumber: Inilah.com)/MARHAENIST.
Kendalikan Hama Belalang dengan Ayam: Kebijakan Kemandirian Pangan Ibrahim Traoré di Burkina Faso
Senin, 12 Januari 2026 | 19:19 WIB
Sukarno dan Analisis Anti-Kolonialnya yang tidak Rasis
Senin, 12 Januari 2026 | 15:03 WIB
Foto: Ibrahim Traore, Presiden Burkina Faso (Sumber: Inilah.com)/MARHAENIST.
Ibrahim Traoré, Pan-Afrikanisme dan Langkah-Langkahnya untuk Kedaulatan Afrika
Senin, 12 Januari 2026 | 15:02 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

Mas Bambang Patjul Dibutuhkan Fokus Skala Nasional

Marhaenist.id - Partai Demokrasi Indonesia (PDI) - Perjuangan memandang Pemilu 2029 memiliki…

Soroti Kasus Korupsi Pembebasan Lahan Pasar, GMNI Mamasa Desak Kejati Sulbar Segera Tetapkan Tersangkanya

Marhaenist.id, Mamasa - Terkait dengan kasus korupsi pembebasan lahan Pasar Mamasa, pihak…

PA GMNI Salurkan Bantuan Bagi Korban Gempa Cianjur

Marhaenist - Untuk meringankan beban bagi para korban bencana alam gempa bumi…

Pahlawan Soeharto dan Negara Amnesia

Marhaenist.id - "Perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan ingatan melawan lupa." Ungkapan…

Alexander Pekuali (Ketua Umum HIPMA Flobamora)/MARHAENIST.

Gubernur NTT Menyerbu Kampung Adat: Transisi Energi atau Kolonialisme Baru?

Marhaenist.id – Kunjungan Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Emanuel Melkiades Laka Lena,…

IKN Dorong PA GMNI Balikpapan Ajarkan Pemuda Semangat Gotong Royong dan Kembangkan Pertanian

Marhaenist - Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (PA GMNI) kota Balikpapan…

Napak Tilas Bung Karno, Ganjar Silaturahmi ke Keuskupan Bogor

Marhaenist.id, Bogor - Ganjar Pranowo didampingi istrinya, Siti Atikoh bersilaturahmi ke Keuskupan…

Monumen Burung Garuda Pancasila Menghadap Kedepan, PA GMNI Mojokerto Lapor Pihak Berwajib

Persatuan Alumni (PA) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Mojokerto menyayangkan peristiwa peresmian…

Ekonomi Perhatian dan Krisis Kesadaran: Algoritma, Kekuasaan, dan Arsitektur Kendali Pikiran

Marhaenist.id - Kita hidup dalam masa ketika perhatian manusia menjadi komoditas paling berharga…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format

Vivere Pericoloso

🎧 Online Radio

Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?