By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Gelar Halal Bihalal, PA GMNI Serukan Penguatan Karakter dan Gotong Royong Hadapi Tekanan Global
DPD PA GMNI Sultra Ucapkan Selamat HUT ke-62 Harmoni Sultra, Dukung ASR Wujudkan Kesejahteraan Masyarakat
Resonansi Nusantara: Jalan Tengah di Tengah Guncangan Peradaban
Manifesto Rejuvenasi Rahim Ibu Pertiwi
Dekadensi Hukum: Hegemoni Otokrasi Orwellean

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Pemerintah dan Praktik Manipulasi dalam Proyek Strategis Nasional pada Pengembangan Pantai Indah Kapuk (PIK 2)

Eko Zaiwan
Eko Zaiwan Diterbitkan : Minggu, 19 Januari 2025 | 22:50 WIB
Bagikan
Waktu Baca 4 Menit
Ilustrasi Manipulasi dan Hukum/Redaksi/Marhaenist
Bagikan

Marhaenist.id – Di perairan Kabupaten Tangerang, Banten, ditemukan pagar laut sepanjang 30,16 kilometer yang membentang dari Desa Muncung hingga Desa Pakuhaji. Pagar ini terbuat dari bambu setinggi 6 meter, diperkuat dengan anyaman bambu, paranet, dan karung berisi pasir sebagai pemberat. Pemasangannya dilakukan oleh warga setempat atas perintah pihak yang belum teridentifikasi, dengan imbalan upah Rp 100.000 per orang.

Diketahui bahwa lokasi ini adalah lokasi proyek pembangunan kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK) yang merupakan bagian dari proyek strategis nasional (PSN), mencakup pengembangan kawasan terpadu di pesisir, termasuk reklamasi laut.

Pemasangan pagar laut ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai tujuan dan dampaknya. Dalam keterangan yang disampaikan oleh Heri Amrin Fasa, pagar laut ini bukan sekadar struktur pembatas diperairan, melainkan mekanisme terselubung untuk menyamarkan aktivitas reklamasi yang merusak ekosistem laut. Menurutku, ini bukannya berfungsi sebagai pembatas, pagar laut ini didesain untuk membagi kavling-kavling di laut, menciptakan ilusi sehingga laut terlihat seperti gugusan kavlingan tambak.

Salah satu alasan manipulasi kawasan menjadi kavlingan (petak-petak) tambak adalah bahwa tambak laut dianggap sebagai lahan daratan, yang memungkinkan pemiliknya memperoleh Hak Guna Bangunan (HGB) lebih mudah. Hal ini jauh lebih praktis dibandingkan dengan reklamasi laut yang memerlukan izin khusus dan memiliki proses yang lebih rumit.

Manipulasi pagar laut sebagai kavlingan tambak dilakukan untuk menciptakan kesan bahwa daerah tersebut bukan bagian dari reklamasi laut, melainkan proyek pengurukan atau penimbunan tambak yang biasa terjadi di daratan. Tujuan dari strategi ini adalah untuk menghindari regulasi yang lebih ketat yang diberlakukan untuk reklamasi laut.

Praktik ini merupakan bentuk pengkhianatan terhadap prinsip transparansi dalam pengelolaan proyek publik. Dengan memanfaatkan celah regulasi dan kelemahan pengawasan, pihak-pihak yang terlibat dapat mengaburkan agenda reklamasi yang seharusnya melalui pengkajian mendalam terhadap dampak lingkungan.

Baca Juga:   GMNI Harus Kembali ke Jalan Persatuan

Ironisnya, aktivitas ini seringkali justru difasilitasi oleh pemerintah, yang seharusnya bertindak sebagai garda terdepan dalam melindungi kepentingan rakyat. Proyek yang seharusnya membawa manfaat malah menjadi ladang eksploitasi, baik terhadap lingkungan maupun masyarakat setempat.

Dengan mengatasnamakan PSN, pemerintah diduga berpihak kepada korporasi besar dalam konflik ini. Ketika para petani dan nelayan lokal berusaha mempertahankan hak atas tanah dan laut yang menjadi sumber penghidupan mereka, mereka justru dihadapkan pada tekanan, intimidasi, bahkan ancaman penggusuran.

Banyak petani dipaksa menjual tanah mereka dengan harga murah, sementara pemerintah yang seharusnya membela mereka justru memfasilitasi kepentingan korporasi. Praktik semacam ini menggambarkan wajah “penjajahan modern”, di mana korporasi bertransformasi menjadi penguasa baru atas kehidupan rakyat kecil.

Ketidakhadiran negara dalam melindungi hak-hak rakyat ini adalah pengkhianatan terhadap mandat konstitusional. Pemerintah tidak hanya abai terhadap aspirasi masyarakat yang terdampak langsung, tetapi juga menutup mata terhadap kerusakan lingkungan yang terjadi. Padahal, reklamasi laut memiliki dampak besar yang tidak hanya menghancurkan ekosistem, tetapi juga mengancam keberlanjutan ekonomi masyarakat pesisir. Sayangnya, hal ini dikesampingkan demi keuntungan sesaat yang dinikmati segelintir elit.

Kegagalan ini menunjukkan perlunya evaluasi mendalam terhadap kebijakan yang mengutamakan pertumbuhan ekonomi di atas segalanya. Pemerintah harus memastikan bahwa setiap kebijakan yang diambil tidak hanya transparan, tetapi juga melibatkan masyarakat dalam proses pengambilan keputusan. Pengawasan publik harus diperkuat, dan regulasi yang tegas terhadap aktivitas reklamasi harus ditegakkan tanpa pandang bulu. Tanpa langkah konkret, kasus seperti pagar laut ini hanya akan menjadi salah satu dari sekian banyak bukti kegagalan pemerintah dalam menjalankan amanat reformasi dan melindungi hak-hak rakyatnya.


Penulis: Wawan.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Gelar Halal Bihalal, PA GMNI Serukan Penguatan Karakter dan Gotong Royong Hadapi Tekanan Global
Minggu, 26 April 2026 | 13:51 WIB
DPD PA GMNI Sultra Ucapkan Selamat HUT ke-62 Harmoni Sultra, Dukung ASR Wujudkan Kesejahteraan Masyarakat
Minggu, 26 April 2026 | 12:27 WIB
Resonansi Nusantara: Jalan Tengah di Tengah Guncangan Peradaban
Minggu, 26 April 2026 | 10:35 WIB
Manifesto Rejuvenasi Rahim Ibu Pertiwi
Minggu, 26 April 2026 | 10:26 WIB
Dekadensi Hukum: Hegemoni Otokrasi Orwellean
Sabtu, 25 April 2026 | 15:38 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
Tirani yang Tersenyum dalam Bayang Kiamat Epistemik: Evolusi Kekuasaan dari Orwellian ke Huxleyian – Part I
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kaesang Pangarep menyampaikan pidatonya setelah dilantik sebagai ketua umum partai dalam rapat umum partai di Jakarta (25/9). ANTARA/Aditya Pradana Putra

Menghilangnya Kaesang Disebut Rugikan PSI dan Sulitkan KPK

MARHAENIST - Sekelompok eksponen Aktivis 98 melayangkan laporan orang hilang untuk putra…

GMNI Palopo Anggap Polres Abai terhadap Dugaan Adanya Penyalahgunaan BBM Subsidi

Marhaenist.id, Palopo - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Dukung Persatuan, DPD GMNI Sultra Apresiasi Terbentuknya Forum Nasional Komunikasi Persatuan dalam Konsolidasi Nasional di Blitar

Marhaenist.id, Kendari - Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Sulawesi…

DPD PA GMNI Jakarta Raya Bakal Gelar Diskusi Publik Edisi Khusus Pra-Konferda V

Marhaenist.id, Jakarta - Dewan Pengurus Daerah (DPD) Persatuan Alumni (PA) Gerakan Mahasiswa…

ABC Dialektika Materialis, Trotsky 1939

Marhaenist.id - Belakangan ini, terutama sejak runtuhnya Tembok Berlin, ada serangan yang…

Arief Hidayat: Hakim Konstitusi Harus Bertransformasi Menjadi Negarawan, Bukan Lagi Politisi

Marhaenist.id, Jakarta — Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia, Arief Hidayat, menegaskan bahwa…

Sukarno dan Analisis Anti-Kolonialnya yang tidak Rasis

Marhaenist.id - Pidato pertama Anies Baswedan sebagai Gubernur DKI Jakarta, Senin (16/10/2017),…

6 Tahun Menghilang, Pengamat Curigai adanya Sosok di Balik Layar Harun Masiku

Marharnist.id, Jakarta — Belum tertangkapnya Harun Masiku yang masuk dalam daftar pencarian…

Memahami KLB GMNI Medan dan Manuvernya di Politik Dualisme GMNI Tahun 2020

Marhaenist.id - Ditahun 2016, GMNI dirundung perpecahan karena adanya Kongres Luar Biasa…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?