By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Adi Maliano Satu-Satunya dalam Catatan Sejarah Kader GMNI Kendari yang Menjabat sebagai Ketua KNPI Kendari
DPP GMNI Desak Pemerintah Segera Benahi Ketimpangan Infrastruktur dan Akses Pendidikan di Daerah 3T
Peta Baru Kekuasaan Kazakhstan Pasca-Referendum
Soekarno Bukan Sekedar Presiden
Ekonomi Biru: Analisis Kritis Atas Kapitalisme Maritim

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

GMNI Harus Kembali ke Jalan Persatuan

Marhaenist Indonesia
Marhaenist Indonesia Diterbitkan : Kamis, 12 Juni 2025 | 23:04 WIB
Bagikan
Waktu Baca 3 Menit
Foto: Adi Maliano saat pertama digembleng di GMNI/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Dalam beberapa tahun terakhir, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) menghadapi tantangan serius yang mengancam integritas dan eksistensinya sebagai organisasi kader berbasis ideologi.

Konflik dualisme kepemimpinan di tingkat Dewan Pimpinan Pusat (DPP) telah menciptakan polarisasi hingga ke akar rumput, menghambat kaderisasi, dan mereduksi makna ideologis GMNI sebagai rumah perjuangan Marhaenis.

Sebagai organisasi yang menjadikan Marhaenisme warisan Bung Karno sebagai dasar perjuangan, GMNI semestinya menjadi ruang konsolidasi intelektual, bukan arena pertarungan kekuasaan. Namun faktanya, dualisme yang terus berlangsung telah menjauhkan GMNI dari marwah awalnya.

Ketika dua kubu saling mengklaim legitimasi, yang terdampak langsung adalah kader di tingkat komisariat dan cabang—mereka yang seharusnya menjadi ujung tombak gerakan justru terjebak dalam kebingungan arah.

Ideologi Bukan Alat Politik

Marhaenisme sejatinya adalah jalan ideologis yang mengutamakan kesetaraan, gotong royong, dan perjuangan kelas. Bung Karno meletakkan dasar ini bukan untuk diperebutkan, tapi untuk dijalankan secara kolektif. Ironisnya, Marhaenisme hari ini justru terfragmentasi oleh tafsir-tafsir praktis yang cenderung membenarkan dominasi dan sektarianisme.

Dualisme dalam organisasi tidak bisa dilihat sebagai hal biasa. Ia adalah luka ideologis yang, jika dibiarkan, akan menjauhkan GMNI dari orientasi kerakyatannya. Kita sedang menyaksikan bukan hanya krisis kepemimpinan, tetapi juga krisis identitas. GMNI yang seharusnya tampil sebagai organisasi ideologis progresif kini justru dipersepsikan sebagai kelompok yang terbelah dan pragmatis.

Saatnya Islah Ideologis

Penyelesaian konflik dualisme tidak bisa diserahkan pada proses hukum atau administratif semata. Ia harus didekati secara ideologis dan kultural. Islah bukan hanya tentang siapa yang sah, tetapi tentang siapa yang bersedia menanggalkan ego demi persatuan. Kongres Islah Nasional bisa menjadi forum bersama yang menjunjung semangat rekonsiliasi dan musyawarah mufakat.

Baca Juga:   Bulan Bung Karno: Ini Bukan tentang Persatuan, Tapi tentang Siapa yang Punya Kepentingan!

Dalam konteks ini, kader-kader GMNI di seluruh Indonesia memiliki tanggung jawab besar. Mereka harus menjadi penekan moral agar DPP dari kedua kubu membuka diri pada dialog ideologis. Kader di daerah harus sadar bahwa kekuatan GMNI bukan terletak pada siapa yang memimpin di pusat, melainkan pada kesetiaan terhadap nilai-nilai perjuangan yang diwariskan oleh Bung Karno.

Mengembalikan Marwah Organisasi

Jika konflik ini terus dipelihara, maka GMNI akan kehilangan generasi ideologisnya. Kader-kader muda akan jenuh, apatis, dan meninggalkan organisasi. Ketika organisasi kehilangan roh perjuangan, ia hanya akan menjadi nama kosong tanpa pengaruh.

Oleh karena itu, sudah saatnya seluruh elemen GMNI kembali ke jalan persatuan. Perbedaan tafsir seharusnya memperkaya dialektika, bukan memecah barisan. Marhaenisme harus menjadi titik temu, bukan alat legitimasi kekuasaan.

Sebagaimana pesan Bung Karno: “Persatuan Indonesia bukan hanya soal menyatukan tubuh, tetapi menyatukan jiwa.” GMNI harus menyatukan kembali jiwanya—jiwa kolektif, jiwa rakyat, dan jiwa yang membebaskan.***


Penulis: Adi Maliano, Mahasiswa Pascasarjana Perencanaan dan Pengembangan Wilayah, Universitas Haluoleo, Kader GMNI Kendari.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Adi Maliano Satu-Satunya dalam Catatan Sejarah Kader GMNI Kendari yang Menjabat sebagai Ketua KNPI Kendari
Senin, 13 April 2026 | 12:29 WIB
DPP GMNI Desak Pemerintah Segera Benahi Ketimpangan Infrastruktur dan Akses Pendidikan di Daerah 3T
Minggu, 12 April 2026 | 23:11 WIB
Foto: Fauzan Luthsa, Analis Geopolitik Eurasia Strategi Institute (Dokpri)/MARHAENIST.
Peta Baru Kekuasaan Kazakhstan Pasca-Referendum
Minggu, 12 April 2026 | 16:52 WIB
Soekarno Bukan Sekedar Presiden
Minggu, 12 April 2026 | 13:37 WIB
Foto: Benediktus Aquino, Alumni GMNI DKI Jakarta (Dokpri)/MARHAENIST.
Ekonomi Biru: Analisis Kritis Atas Kapitalisme Maritim
Sabtu, 11 April 2026 | 22:02 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

Gelar Seri Diskusi Publik Edisi V, PA GMNI Jakarta Raya Tekankan Front Marhaenis Ambil Peran untuk Berdaulat, Berdikari, Berbudaya

Marhaenist.id, Jakarta — DPD Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (PA GMNI) Jakarta…

Indonesia Darurat Part 2, 100 Hari Kerja = 1000 Masalah

Marhaenist.id - Negara Indonesia telah melewati hari ke 100 dalam naungan pemerintahan…

Sarinah dan Ruang yang Masih Kita Cari

Marhaenist.id - Setiap 8 Maret dunia memperingati International Women’s Day. Di banyak…

RUU TNI 2024: Adaptasi atau Ancaman bagi Demokrasi?

Marhaenist.id - Perubahan dalam Rancangan Undang-Undang (RUU) TNI 2024 membawa sejumlah perbedaan…

Anak Yang Terlibat Judi Online Harus Ditangani Dengan Cara Pendekatan Psikologis

Marhaenist - Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Anak, Perempuan, dan Pemuda Kementerian…

Diterpa Berita Hoax, Dendy Setiawan Tegaskan Kembali Tak Akan Mencalonkan Diri sebagai Ketum ataupun Sekjend DPP GMNI

Marhaenis.id, Surabaya - Beredar adanya berita hoaks yang mengatakan bahwa M Ageng…

Dibuka oleh Anggota DPRD, DPC GMNI Wakatobi Sukses Gelar PPAB Ke II

Marhaenist.id, Wakatobi - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. FILE/Humas Jateng Prov

Untuk Bangsa, Ganjar Pranowo Siap Maju Nyapres!

Marhaenist - Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ganjar Pranowo memiliki modal yang besar…

Paul Finsen Mayor: Negara Harus Membaca Budaya Geopolitik Papua, Bukan Memaksakan Modal

Marhaenist.id, Jakarta - Interupsi Senator Papua Barat Daya, Paul Finsen Mayor, dalam…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?