By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Aliansi PERISAI Gelar Aksi di Jakarta, Soroti Militerisasi Ruang Sipil dan Kebijakan Pemerintah
Dukung Prabowo Tertibkan Ekspor Batu Bara dan Sawit, PA GMNI Jakarta Raya: Itu Langkah Jitu
DPD GMNI Jakarta Laporkan Dugaan Korupsi Proyek KDMP Rp112 Triliun ke Kejagung
DPK GMNI UNILA Kampus B Bantah Hadiri Konfercablub GMNI Kota Metro
GMNI dan Lahirnya Buku Merah 1960

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Kabar Alumni GMNI

Arief Hidayat: Hakim Konstitusi Harus Bertransformasi Menjadi Negarawan, Bukan Lagi Politisi

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Jumat, 13 Februari 2026 | 19:53 WIB
Bagikan
Waktu Baca 3 Menit
Foto: Arief Hidayat saat menghadiri sidang tertutup program doktor hukum di Universitas Bhayangkara Jakarta Raya, Jumat (13/2/2026) (Sumber: Telusuri.co.id)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id, Jakarta — Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia, Arief Hidayat, menegaskan bahwa latar belakang profesi seorang hakim konstitusi, termasuk yang berasal dari partai politik, tidak serta-merta mengancam kehormatan lembaga peradilan konstitusi.

Daftar Konten
Peradilan Politik yang Tak TerhindarkanDua Pilar Menjaga Marwah MahkamahPolitisi Boleh, Asal Lepas KepentinganIndependensi di Atas Segalanya

Namun, ia mengingatkan bahwa setiap hakim konstitusi harus mampu bertransformasi menjadi negarawan ketika telah mengemban amanah sebagai penjaga konstitusi.

Pernyataan tersebut disampaikan Arief saat menghadiri sidang tertutup program doktor hukum di Universitas Bhayangkara Jakarta Raya, Jumat (13/2/2026).

Menurut Arief, persoalan utama bukan terletak pada asal-usul profesi hakim, melainkan pada kemampuan individu tersebut untuk melepaskan kepentingan politik dan berdiri tegak sebagai penjaga konstitusi.

“Begitu masuk menjadi hakim konstitusi, ia harus menjadi negarawan. Artinya tidak lagi partisan dan wajib melepaskan kepentingan kelompok maupun partai politik,” ujarnya.

Peradilan Politik yang Tak Terhindarkan

Arief menjelaskan bahwa secara konseptual, mahkamah konstitusi di berbagai negara merupakan constitutional court atau peradilan politik. Hal ini karena lembaga tersebut bersentuhan langsung dengan dinamika ketatanegaraan dan proses politik.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa pengaruh sosial dan politik tidak boleh mengganggu objektivitas putusan hakim.

“Tugas utama mahkamah adalah memastikan konstitusi berjalan sesuai dengan ruh dan kehendak dasarnya, bukan melayani kepentingan kekuasaan,” tegasnya.

Dua Pilar Menjaga Marwah Mahkamah

Untuk menjaga integritas lembaga peradilan konstitusi, Arief menekankan dua syarat utama:

Pertama, kemandirian lembaga, termasuk memiliki anggaran yang mandiri dan tidak bergantung pada kekuasaan eksekutif maupun legislatif.

Kedua, kualitas sumber daya manusia, di mana hakim konstitusi harus memiliki keberanian untuk berdiri di atas konstitusi serta tidak tunduk pada tekanan eksternal.

Baca Juga:   DPC PA GMNI Kab Klaten Adakan Vaksinasi Booster Untuk Karyawan dan Buruh

Politisi Boleh, Asal Lepas Kepentingan

Menanggapi kekhawatiran publik terkait masuknya politisi sebagai hakim konstitusi, Arief menyebut bahwa sumber rekrutmen bukanlah persoalan utama selama memenuhi syarat formal, seperti bergelar doktor hukum dan memiliki pengalaman minimal 15 tahun di bidang hukum.

Ia juga menyoroti sistem pemilihan hakim konstitusi di Indonesia yang melibatkan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, Presiden Republik Indonesia, dan Mahkamah Agung Republik Indonesia.

Menurutnya, mekanisme tersebut justru menuntut hakim terpilih untuk memutus keterikatan dengan pihak pengusul.

“Begitu terpilih, loyalitasnya hanya kepada konstitusi dan rakyat, bukan kepada lembaga yang mengusulkan,” jelasnya.

Independensi di Atas Segalanya

Sebagai penutup, Arief menekankan bahwa kualitas pribadi hakim konstitusi jauh lebih menentukan dibanding latar belakang profesinya. Seorang hakim konstitusi harus mampu meningkatkan kapasitasnya dari sekadar profesional menjadi negarawan.

Ia menegaskan, selama prinsip independensi dan kenegarawanan dijalankan, marwah mahkamah konstitusi akan tetap terjaga, baik hakim berasal dari kalangan akademisi, praktisi hukum, maupun politisi.***

Penulis: Redaksi/Editor: Bung Wadhaar.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Aliansi PERISAI Gelar Aksi di Jakarta, Soroti Militerisasi Ruang Sipil dan Kebijakan Pemerintah
Jumat, 22 Mei 2026 | 01:25 WIB
Dukung Prabowo Tertibkan Ekspor Batu Bara dan Sawit, PA GMNI Jakarta Raya: Itu Langkah Jitu
Jumat, 22 Mei 2026 | 00:47 WIB
DPD GMNI Jakarta Laporkan Dugaan Korupsi Proyek KDMP Rp112 Triliun ke Kejagung
Kamis, 21 Mei 2026 | 22:36 WIB
DPK GMNI UNILA Kampus B Bantah Hadiri Konfercablub GMNI Kota Metro
Kamis, 21 Mei 2026 | 22:24 WIB
GMNI dan Lahirnya Buku Merah 1960
Kamis, 21 Mei 2026 | 13:08 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
Tirani yang Tersenyum dalam Bayang Kiamat Epistemik: Evolusi Kekuasaan dari Orwellian ke Huxleyian – Part I
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

UKT Naik, Mahasiswa Tercekik, GMNI Surabaya: Pemerintah Tidak Berpihak Pada Pendidikan

Marhaenist.id, Surabaya - Maraknya gelombang protes mahasiswa akibat melejitnya Uang Kuliah Tunggal…

UKT Semakin Mahal dan Menuai Kritrik, Inilah Respon DPP GMNI

Marhaenist.id, Jakarta - Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPP GMNI)…

Jelang Pelantikan Prabowo-Gibran, DPP PA GMNI Layangkan Pernyataan Sikap

Marhaenist.id, Jakarta - Dewan Pengurus Pusat (DPP) Persatuan Alumni (PA) Gerakan Mahasiswa…

Dukung Kongres Persatuan, GMNI Sultra: Ini adalah Cara Terbaik untuk Mengakhiri Dualisme

Marhaenist.id, Kendari - Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Lima Nahdiyin Bertemu Presiden Israel, PBNU Lakukan Pemanggilan, Berikan Sanksi?

Marhaenist - Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Savic Ali mengatakan bahwa…

Indonesia Lagi Tabola-Bale!

Marhaenist.id - Tanggal 17 Agustus 2025 Indonesia menyalurkan bantuan 800 ton beras…

Teror Kepala Babi dan Tikus: Pembungkaman Jurnalisme Investigatif yang Kritik Terhadap Kekuasaan

Marhaenist.id - Terlihat beberapa bangkai tikus yang telah dipenggal sebagai bagian dari…

Bahlil Respon Pernyataan Cak Imin, Karyono Wibowo Nilai Bukan Sekadar Balas Dendam Politik

Marhaenit.id, Jakarta — Pernyataan Ketua Umum Partai Golkar sekaligus Menteri Energi dan…

Foto: Dhiva Trenadi Pramudia, Institut Marhaenisme 27/MARHAENIST.

Membangun Kembali Oposisi Marhaen di Era Post-Politics

Marhaenist.id - Dua puluh tujuh tahun setelah reformasi, makna demokrasi di Indonesia…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?