By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Ekonomi Biru: Analisis Kritis Atas Kapitalisme Maritim
Perkuat Pembangunan Nasional, PA GMNI di Sultra Gaungkan Kolaborasi Antar Organ Alumni Cipayung
Wacana Pemakzulan Presiden, Firman Tendry Masengi: Titik Temu Legalitas Konstitusi dan Legitimasi Rakyat
Pemakzulan, Konstitusi, dan Legitimasi Rakyat
Spirit Wisanggeni di Tubuh GMNI: Api Ideologi di Tengah Pusaran Konflik

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Motor Triliunan MBG vs Keringat Marhaen: Negara Lupa Amanat Bung Karno?

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Kamis, 9 April 2026 | 15:35 WIB
Bagikan
Waktu Baca 6 Menit
Foto: Saepul Umar, Wakabid Kaderisasi DPK GMNI Unpam Serang (Dokpri)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Di tengah tekanan krisis global yang terus menghimpit rakyat kecil dengan harga bahan pokok yang tak kunjung turun, dan beban hidup yang semakin mencekik, sorotan publik tiba‑tiba beralih pada sebaris motor listrik berlogo Badan Gizi Nasional (BGN).

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang sebagai wajah baru kebijakan sosial kerakyatan malah menjadi sorotan karena pengadaan motor listrik yang menyeret pertanyaan besar: apakah anggaran ini benar‑benar untuk mempercepat pemenuhan gizi, atau justru menjadi simbol baru birokratisasi dan kelebihan aset yang berjalan di atas pundak kaum marhaen?

Kepala BGN, Dadan Hindayana, baru‑baru ini melakukan klarifikasi resmi: pengadaan motor listrik untuk operasional Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) tidak sebanyak 70 ribu unit seperti ramai beredar di media sosial. Angka resmi yang disebutkan adalah bahwa pemerintah menganggarkan 25 ribu unit motor listrik untuk MBG melalui anggaran 2025, dan hingga kini baru sekitar 21.801 unit yang terealisasi.

Jumlah ini sekaligus meluruskan narasi viral yang memperbesar skala dan menimbulkan kesan pemborosan ekstrem, namun tetap tak menghilangkan inti kritik: anggaran puluhan ribu unit motor listrik untuk program bantuan gizi tetap menjadi simbol soal arah politik anggaran negara.

Dalam perspektif Marhaenisme yang militan, anggaran negara bukan sekadar angka di laporan keuangan, melainkan sekrup awal dari keberpihakan negara kepada rakyat kecil. Bung Karno pernah menegaskan bahwa pembangunan harus berpihak kepada “yang lemah secara ekonomi”, bukan bagi yang sudah kaya dan kuat.

Dalam konteks MBG, pertanyaan yang muncul bukan hanya soal jumlah unit, tapi soal apakah pengadaan 21.801 motor listrik dengan anggaran 2025 sebelum bahkan sempat didistribusikan dan dicatat sebagai Barang Milik Negara, memberi kontribusi langsung dan proporsional terhadap penurunan angka stunting nasional yang masih tinggi di kisaran 21-22%.

Baca Juga:   Save Raja Ampat? Gugat Kolonialisme Ekologis, Kembalikan Kedaulatan ke Tanah Papua!

Jika anggaran pengadaan motor ini lebih besar dibandingkan dengan peningkatan alokasi aktual untuk tambahan makanan atau suplementasi gizi bagi anak marhaen, maka Marhaenisme akan melihatnya sebagai distorsi politik anggaran.

Yang menambah keraguan adalah fakta bahwa pengadaan motor ini belum masuk tahap distribusi nyata. Menurut Kepala BGN, unit‑unit tersebut masih dalam proses pencatatan sebagai BMN dan distribusi akan berlangsung setelah proses administrasi selesai.

Dalam bahasa marhaen, ini berarti: aset sudah dibeli dan dianggarkan, namun manfaat nyata bagi rakyat terutama balita dan anak sekolah belum terlihat secara jelas. Ini sejalan dengan kritik yang sering muncul bahwa birokrasi Indonesia cenderung lebih fokus pada simbol dan infrastruktur operasional ketimbang pada hasil langsung bagi kaum marhaen.

Dalam konteks nasional, program MBG sendiri telah menggelontorkan realisasi anggaran hingga Rp44 triliun per 9 Maret 2026 untuk kegiatan BGN, yang diperuntukkan bagi penyaluran makanan bergizi dan operasional di berbagai daerah. Angka ini menunjukkan bahwa negara memang serius mengalokasikan anggaran besar untuk gizi, namun pilihan bentuk aset yang diadopsi seperti 21.801 unit motor listrik tetap menjadi titik kritis bagi gerakan mahasiswa.

Dalam semangat tradisi GMNI, kader yang menuntut efisiensi dan kejujuran anggaran sejak masa Orde Baru akan menyoal: apakah anggaran motor ini tidak bisa ditekan lebih hemat atau diganti dengan skema transportasi kolektif, seperti kerja sama dengan layanan logistik lokal atau penggunaan kendaraan yang lebih sederhana dan murah?

Kontrasnya terasa sangat jelas. Di satu sisi, rakyat marhaen masih harus memilih antara makan yang cukup dan membeli obat atau memenuhi kebutuhan sekolah anak. Di sisi lain, negara menggelontorkan puluhan ribu unit motor listrik dengan anggaran 2025, yang meski sudah diklarifikasi “hanya” 21.801 unit, tetap menimbulkan kekhawatiran bahwa biaya operasional dan perawatan motor ini akan menjadi beban tambahan di masa depan.

Baca Juga:   Warisan Nasionalisme Indonesia: Nilai yang Mempertemukan Perbedaan Dalam Ikatan Persatuan

Dalam tradisi Marhaenisme, tugas mahasiswa bukan mencari kebenaran yang menyenangkan, melainkan mengungkap kebenaran yang tidak menyenangkan. Jika program MBG benar‑benar ingin menjadi program kerakyatan, spiritnya harus sederhana: manfaat harus sebesar mungkin bagi rakyat, sedangkan biaya operasional dan simbol‑simbol kelebihan harus dijaga seminimal mungkin. Bukan dengan mengejar jumlah motor yang terlihat, tapi dengan mengejar jumlah anak marhaen yang benar‑benar terlepas dari gizi buruk.

Karena itu, sikap kritis gerakan mahasiswa tidak bisa berhenti pada opini semata. Klarifikasi dari Kepala BGN adalah titik masuk, bukan akhir dari perdebatan. Momentum ini harus digunakan untuk menuntut audit transparan, perbandingan biaya motor dengan kontribusi riil terhadap penurunan stunting, dan rekomendasi bahwa pengadaan motor listrik tidak akan diperbesar pada anggaran 2026.

Bagi Bung Karno, anggaran negara adalah cermin kebijakan sosial‑ekonomi. Ketika kebijakan itu terlihat lebih banyak berpihak pada simbol dan aset operasional, sementara rakyat marhaen masih bertarung dengan harga pangan dan keterbatasan akses, maka kritik adalah bentuk cinta yang paling jujur terhadap republik ini.

Gerakan mahasiswa tidak boleh diam, bukan karena ingin menyerang, tetapi karena ingin memastikan bahwa setiap rupiah APBN benar‑benar menjadi pelindung bagi kaum marhaen, bukan pemanis bagi birokrasi yang sudah terlalu nyaman.***


Penulis: Saepul Umar, Wakabid Kaderisasi DPK GMNI Unpam Serang.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Foto: Benediktus Aquino, Alumni GMNI DKI Jakarta (Dokpri)/MARHAENIST.
Ekonomi Biru: Analisis Kritis Atas Kapitalisme Maritim
Sabtu, 11 April 2026 | 22:02 WIB
Perkuat Pembangunan Nasional, PA GMNI di Sultra Gaungkan Kolaborasi Antar Organ Alumni Cipayung
Sabtu, 11 April 2026 | 19:21 WIB
Wacana Pemakzulan Presiden, Firman Tendry Masengi: Titik Temu Legalitas Konstitusi dan Legitimasi Rakyat
Sabtu, 11 April 2026 | 18:07 WIB
Pemakzulan, Konstitusi, dan Legitimasi Rakyat
Sabtu, 11 April 2026 | 12:16 WIB
Spirit Wisanggeni di Tubuh GMNI: Api Ideologi di Tengah Pusaran Konflik
Sabtu, 11 April 2026 | 11:18 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

DPC GMNI Binjai Apresiasi Langkah Kapolres dalam Upaya Menjaga Kamtibmas di Bulan Suci Ramadhan

Marhaenist.id, Binjai - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Refleksi 17 Agustus 1945: Menuju Kemerdekaan RI, Mengenang Peristiwa Rengasdengklok

Marhaenist.id - Pada 15 Agustus 1945, sekitar pukul 19.00, pertemuan dengan berbagai…

Obituari Faisal Basri, Ekonom Kritis Yang Selalu Berjarak Dengan Kekuasaan

MARHAENIST - Ekonom senior Faisal Basri meninggal dunia pada dini hari ini…

DPC GMNI Jakarta Timur Audiensi dengan BAWASLU Jakarta Timur Bahas Penguatan Demokrasi Menuju Pemilu 2029

Marhaenist.id, Jakarta Timur – Dewan Pengurus Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Pati Efek dan Demokrasi Kekuasaan Negara

Marhaenist.id - Siapaka sangka hari ini kita telah melihat secara langsung maupun…

Populisme dan Krisis Musyawarah dalam Demokrasi Kita

Marhaenist.id - Dalam beberapa tahun terakhir, populisme semakin menonjol dalam praktik politik…

Sarinah: Jiwa Besar dalam Tubuh Kecil, Refleksi Perempuan Indonesia Masa Kini

Marhaenist.id - Bung Karno pernah menulis, "...Sarinah orang kecil tapi memiliki jiwa…

‘Tak Tahu Berterima Kasih’, Perkataan Dedy Pada Seorang Anak Kecil Seperti Maling Teriak Maling dan Hanya Melukai Hati

Marhaenist.id - Dedi Cozbuzzer (DC) adalah contoh nyata bagaimana prilaku manusia yang…

Jalan Pulang Pemuda Desa Menuju Kedaulatan Pangan Nasional

Marhaenist.id - Di balik hamparan sawah hijau di Dusun Alas Kebong, Desa…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?