By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Adi Maliano Satu-Satunya dalam Catatan Sejarah Kader GMNI Kendari yang Menjabat sebagai Ketua KNPI Kendari
DPP GMNI Desak Pemerintah Segera Benahi Ketimpangan Infrastruktur dan Akses Pendidikan di Daerah 3T
Peta Baru Kekuasaan Kazakhstan Pasca-Referendum
Soekarno Bukan Sekedar Presiden
Ekonomi Biru: Analisis Kritis Atas Kapitalisme Maritim

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
ArtikelOpini

Matinya Pancasila di Bulan Juni

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Minggu, 1 Juni 2025 | 14:28 WIB
Bagikan
Waktu Baca 4 Menit
Foto: Firman Tendry Masengi, Advokat, aktivis prodem 98, alumni GMNI Jakarta/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Pagi belum benar-benar terang ketika Prabowo keluar dari rumah kayunya yang lapuk di tepi gang. Di tangannya, segelas kopi hitam mengepul. Ia duduk di bangku panjang warung kecil milik Bu Titik, menghadap ke pagar Sekolah Dasar Inpres yang berdiri sejak zaman Orde Baru.

Dari balik pagar itu, suara anak-anak kecil menggemakan lima sila Pancasila.

“Satu! Ketuhanan Yang Maha Esa!”
“Dua! Kemanusiaan yang adil dan beradab!”

Prabowo tersenyum kecil. Suara itu—lantang, hafal, dan tulus—mengingatkannya pada masa mudanya. Dulu, ia juga pernah seperti mereka: percaya penuh pada setiap kata dalam Pancasila. Ia pernah turun ke jalan, memimpin demonstrasi, membacakan manifesto Trisakti, dan berdiri di depan gas air mata demi “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.”

Kini, puluhan tahun kemudian, ia hanya bisa duduk dan mendengarkan dari kejauhan. Ia tak lagi berorasi. Ia tak lagi berbaris. Yang tersisa darinya hanyalah ingatan—dan segelas kopi yang mulai dingin.

Sore itu, televisi di warung menayangkan pidato seorang pejabat tinggi. Latar merah putih, jas hitam, dan suara berat yang dilatih retorikanya. Prabowo menonton dalam diam. Di layar, sang pejabat bicara tentang pentingnya keadilan, gotong royong, dan nilai-nilai Pancasila.

Prabowo menyesap kopinya, lalu bergumam, “Pancasila… sekarang adalah dekorasi sering dipajang daripada dijalankan.”

Ia masih ingat betul bagaimana Bung Karno menyebut Pancasila sebagai *philosophische grondslag*, dasar filsafat bangsa. Ia juga mengingat istilah *leitstar dinamis*—bintang penuntun yang hidup. Tapi di zaman sekarang, pikirnya, Pancasila telah berubah bentuk: bukan lagi arah, melainkan alat.

Dulu, kata “adil” membuatnya bergetar. Kini, kata itu hanya muncul di baliho, di spanduk, di amplop bantuan, di pidato-pidato yang lupa rakyat.

Baca Juga:   Paradox Prabowo: Gengsi Global & Tragedi di Tapal Batas

Ia pernah percaya bahwa “kemanusiaan yang adil dan beradab” dan “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” bisa menjadi nyata. Tapi kini ia melihat:

Buruh dipecat demi efisiensi,

Petani digusur demi investasi,

Mahasiswa dibungkam demi stabilitas,

Dan hukum—seperti pisau—tajam ke rakyat, tumpul ke penguasa.

Seseorang di warung bertanya, “Masih percaya sama Pancasila, Wo?”

Prabowo tersenyum. “Percaya. Tapi bukan versi yang mereka umbar di televisi.”

“Maksudnya?”

“Versi yang hidup. Yang berpihak. Yang tidak berhenti di pidato. Versi yang membela si kecil, bukan menindasnya dengan kata-kata indah.”

Ia menatap ke luar warung. Langit sore menggantung merah muram.

Beberapa hari kemudian, di sekolah yang sama, anak-anak kembali melafalkan Pancasila. Tapi kali ini Prabowo berdiri lebih dekat ke pagar, memperhatikan wajah-wajah kecil yang berteriak lantang.

“Lima! Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia!”

Ia tersenyum – bukan karena bangga, tapi karena sedih. Ia tahu, suara itu akan tumbuh dalam sistem yang tak memedulikan makna. Akan ada anak yang menghafal Pancasila, lalu hidup dalam kemiskinan. Akan ada yang belajar tentang keadilan, tapi disuruh diam saat ketidakadilan datang.

Dan akan ada pejabat yang mengutip sila kelima… sambil menandatangani kontrak yang menggusur ribuan rumah rakyat.

Prabowo membatin, “Pancasila bukan untuk dihafal, tapi diperjuangkan. Adil bukan untuk dikutip, tapi dibela.”

Ia tahu, suatu hari nanti anak-anak itu akan bertanya:

“Mengapa kami diajarkan keadilan, tapi hidup dalam ketimpangan?”

Dan ketika hari itu tiba, Prabowo berharap masih ada satu-dua orang tua yang mau berkata jujur:

“Karena yang mengkhianati Pancasila bukan penjajah,
Tapi mereka yang paling sering mengucapkannya”***

Disclaimer: Ini sebuah Cerpen yang berkisah tentang tokoh fiksi bernama Prabowo—seorang lelaki tua mantan aktivis yang menyaksikan kehancuran Pancasila di tengah kekuasaan yang penuh simbol dan pengkhianatan.


Penulis: Firman Tendry Masengi, Advokat, Aktivis Prodem 98, Alumni GMNI Jakarta.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Adi Maliano Satu-Satunya dalam Catatan Sejarah Kader GMNI Kendari yang Menjabat sebagai Ketua KNPI Kendari
Senin, 13 April 2026 | 12:29 WIB
DPP GMNI Desak Pemerintah Segera Benahi Ketimpangan Infrastruktur dan Akses Pendidikan di Daerah 3T
Minggu, 12 April 2026 | 23:11 WIB
Foto: Fauzan Luthsa, Analis Geopolitik Eurasia Strategi Institute (Dokpri)/MARHAENIST.
Peta Baru Kekuasaan Kazakhstan Pasca-Referendum
Minggu, 12 April 2026 | 16:52 WIB
Soekarno Bukan Sekedar Presiden
Minggu, 12 April 2026 | 13:37 WIB
Foto: Benediktus Aquino, Alumni GMNI DKI Jakarta (Dokpri)/MARHAENIST.
Ekonomi Biru: Analisis Kritis Atas Kapitalisme Maritim
Sabtu, 11 April 2026 | 22:02 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

Mengapa Status Bencana Nasional di Sumatera Tidak Diberlakukan?

Marhaenist.id - Ketika rumah-rumah hanyut, jalan terputus, dan warga bertahan hidup dengan…

Pelantikan Pengurus DPC GMNI Jakarta Timur Periode 2025-2027 dan Dialog Marhaenis Sukses Digelar

Marhaenist.id, Jaktim – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Dies Natalis ke-72 GMNI, DPC Jakarta Timur Gelar Diskusi Publik Bahas Relevansi Politik Bebas Aktif di Tengah Geopolitik Global

Marhaenist.id, Jaktim – Dewan Pengurus Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Jakarta…

Kemerdekaan Yang Tidak Pasti: Potret Kekerasan Perempuan Tak Kunjung Usai

MARHAENIST - Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-79 adalah momentum yang ditunggu oleh…

Pengembangan Koperasi Listrik Zambia

Marhaenist - Delegasi pemerintah dari Zambia tiba di Nashville, Tennessee, untuk menghadiri…

Kisruh Koperasi dan MRT Bikin Iklim Usaha Buruk,  Ketua PB Jakarta Apresiasi Kebijakan Pramono Anung

Marhaenist.id, Jakarta - Kisruh  antara Koperasi pedagang  dengan manajemen Plasa 2 Blok…

Presiden FIFA Gianni Infantino memberikan kaos bertuliskan nama “Jokowi” kepada Presiden RI, usai pernyataan pers bersama di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (18/10/2022). Setkab/Rahmat

Presiden FIFA Minta Persiapan Piala Dunia U-20 Ditangani Secara Profesional

Marhaenist - Presiden Joko Widodo (Jokowi) bersama FIFA memastikan Piala Dunia U-20…

1 Juni dan Panggilan Sejarah: GMNI Harus Menjadi Teladan Persatuan

Marhaenist.id - Hari Lahir Pancasila setiap 1 Juni adalah pengingat historis sekaligus…

Pajak untuk Keadilan

Marhaenist.id - Perdebatan soal kenaikan tarif PPN dari 11 persen menjadi 12 persen…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?