By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Sosialisasi Empat Pilar MPR RI Bersama H. Abidin Fikri Perkuat Semangat Kebangsaan Mahasiswa di Yogyakarta
GMNI Jakarta Timur Soroti Dugaan Cacat Hukum Transaksi Tanah, Desak Keadilan Agraria untuk Kaum Marhaen
Marhaenisme dalam Titik Nadir Rakyat
MBG, Sukarno, dan Politik di Meja Makan
PA GMNI Kaltim: Aksi 21 April Harus Jadi Momentum Koreksi dan Menjaga Marwah Pergerakan Mahasiswa

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
ArtikelOpini

Matinya Pancasila di Bulan Juni

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Minggu, 1 Juni 2025 | 14:28 WIB
Bagikan
Waktu Baca 4 Menit
Foto: Firman Tendry Masengi, Advokat, aktivis prodem 98, alumni GMNI Jakarta/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Pagi belum benar-benar terang ketika Prabowo keluar dari rumah kayunya yang lapuk di tepi gang. Di tangannya, segelas kopi hitam mengepul. Ia duduk di bangku panjang warung kecil milik Bu Titik, menghadap ke pagar Sekolah Dasar Inpres yang berdiri sejak zaman Orde Baru.

Dari balik pagar itu, suara anak-anak kecil menggemakan lima sila Pancasila.

“Satu! Ketuhanan Yang Maha Esa!”
“Dua! Kemanusiaan yang adil dan beradab!”

Prabowo tersenyum kecil. Suara itu—lantang, hafal, dan tulus—mengingatkannya pada masa mudanya. Dulu, ia juga pernah seperti mereka: percaya penuh pada setiap kata dalam Pancasila. Ia pernah turun ke jalan, memimpin demonstrasi, membacakan manifesto Trisakti, dan berdiri di depan gas air mata demi “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.”

Kini, puluhan tahun kemudian, ia hanya bisa duduk dan mendengarkan dari kejauhan. Ia tak lagi berorasi. Ia tak lagi berbaris. Yang tersisa darinya hanyalah ingatan—dan segelas kopi yang mulai dingin.

Sore itu, televisi di warung menayangkan pidato seorang pejabat tinggi. Latar merah putih, jas hitam, dan suara berat yang dilatih retorikanya. Prabowo menonton dalam diam. Di layar, sang pejabat bicara tentang pentingnya keadilan, gotong royong, dan nilai-nilai Pancasila.

Prabowo menyesap kopinya, lalu bergumam, “Pancasila… sekarang adalah dekorasi sering dipajang daripada dijalankan.”

Ia masih ingat betul bagaimana Bung Karno menyebut Pancasila sebagai *philosophische grondslag*, dasar filsafat bangsa. Ia juga mengingat istilah *leitstar dinamis*—bintang penuntun yang hidup. Tapi di zaman sekarang, pikirnya, Pancasila telah berubah bentuk: bukan lagi arah, melainkan alat.

Dulu, kata “adil” membuatnya bergetar. Kini, kata itu hanya muncul di baliho, di spanduk, di amplop bantuan, di pidato-pidato yang lupa rakyat.

Baca Juga:   Menggugat Patologi Korupsi dan Menagih Restorasi Institusi Penegakkan Hukum

Ia pernah percaya bahwa “kemanusiaan yang adil dan beradab” dan “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” bisa menjadi nyata. Tapi kini ia melihat:

Buruh dipecat demi efisiensi,

Petani digusur demi investasi,

Mahasiswa dibungkam demi stabilitas,

Dan hukum—seperti pisau—tajam ke rakyat, tumpul ke penguasa.

Seseorang di warung bertanya, “Masih percaya sama Pancasila, Wo?”

Prabowo tersenyum. “Percaya. Tapi bukan versi yang mereka umbar di televisi.”

“Maksudnya?”

“Versi yang hidup. Yang berpihak. Yang tidak berhenti di pidato. Versi yang membela si kecil, bukan menindasnya dengan kata-kata indah.”

Ia menatap ke luar warung. Langit sore menggantung merah muram.

Beberapa hari kemudian, di sekolah yang sama, anak-anak kembali melafalkan Pancasila. Tapi kali ini Prabowo berdiri lebih dekat ke pagar, memperhatikan wajah-wajah kecil yang berteriak lantang.

“Lima! Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia!”

Ia tersenyum – bukan karena bangga, tapi karena sedih. Ia tahu, suara itu akan tumbuh dalam sistem yang tak memedulikan makna. Akan ada anak yang menghafal Pancasila, lalu hidup dalam kemiskinan. Akan ada yang belajar tentang keadilan, tapi disuruh diam saat ketidakadilan datang.

Dan akan ada pejabat yang mengutip sila kelima… sambil menandatangani kontrak yang menggusur ribuan rumah rakyat.

Prabowo membatin, “Pancasila bukan untuk dihafal, tapi diperjuangkan. Adil bukan untuk dikutip, tapi dibela.”

Ia tahu, suatu hari nanti anak-anak itu akan bertanya:

“Mengapa kami diajarkan keadilan, tapi hidup dalam ketimpangan?”

Dan ketika hari itu tiba, Prabowo berharap masih ada satu-dua orang tua yang mau berkata jujur:

“Karena yang mengkhianati Pancasila bukan penjajah,
Tapi mereka yang paling sering mengucapkannya”***

Disclaimer: Ini sebuah Cerpen yang berkisah tentang tokoh fiksi bernama Prabowo—seorang lelaki tua mantan aktivis yang menyaksikan kehancuran Pancasila di tengah kekuasaan yang penuh simbol dan pengkhianatan.


Penulis: Firman Tendry Masengi, Advokat, Aktivis Prodem 98, Alumni GMNI Jakarta.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Foto: Saat Abidin Fikri memaparkan materi Sosialisasi Empat Pilar dihadapan Mahasiswa Yogjakarta, Senin (20/4/2026) (Dok. Abidin Fikri)/MARHAENIST.
Sosialisasi Empat Pilar MPR RI Bersama H. Abidin Fikri Perkuat Semangat Kebangsaan Mahasiswa di Yogyakarta
Senin, 20 April 2026 | 23:18 WIB
GMNI Jakarta Timur Soroti Dugaan Cacat Hukum Transaksi Tanah, Desak Keadilan Agraria untuk Kaum Marhaen
Senin, 20 April 2026 | 22:09 WIB
Marhaenisme dalam Titik Nadir Rakyat
Senin, 20 April 2026 | 21:21 WIB
MBG, Sukarno, dan Politik di Meja Makan
Senin, 20 April 2026 | 13:49 WIB
PA GMNI Kaltim: Aksi 21 April Harus Jadi Momentum Koreksi dan Menjaga Marwah Pergerakan Mahasiswa
Senin, 20 April 2026 | 12:35 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
Tirani yang Tersenyum dalam Bayang Kiamat Epistemik: Evolusi Kekuasaan dari Orwellian ke Huxleyian – Part I
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

Dr. H. Sutrisno: Pengawasan Persaingan Digital Adalah Kewajiban Konstitusional

Marhaenist.id, Jakarta  — Perkembangan ekonomi digital yang kian pesat dinilai tidak selalu…

Bareng Komunitas Vespa, Ganjar Blusukan Cek Harga Sembako di Pasar Pekalongan

Marhaenist.id, Pekalongan - Ratusan Scooteris Pekalongan dan Pemalang berkumpul di GSP Kafe…

Mengantisipasi Otoritarianisme Politik Massa Mengambang

Marhaenist.id - Dalam konteks pemilu elektoral atau pemilihan umum, biasanya ada beberapa…

DPK GMNI Bung Tomo-Touna Sukses Gelar PPAB Ke 2

Marhaenist.id, Touna - Dewan Pengurus Komisariat (DPK) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

YLBHI: 10 Faktor Jokowi Layak Disebut Pemimpin Korup dan Pelanggar Hukum dan HAM Terorganisir

Marhaenist.id - Menutup tahun 2024, salah satu organisasi nirlaba bernama Organized Crime…

Bung Karno: Semboyan Kita Banyak Bicara, Banyak Bekerja

Marhaenist.id - Salah besar jika kita berpegang pada perkataan: "jangan banyak bicara…

PDIP Lantik Pengurus Baru, Diantaranya Alumni GMNI, Siapa Aja Yang Kamu Kenal?

Marhaenist - Sekertaris Jenderal (Sekjen) PDIP Hasto Kristiyanto dalam acara pelantikan pengurus…

PA GMNI Usulkan Utusan Golongan dan Daerah Kembali Jadi Bagian MPR RI

Marhaenist - Ketua Dewan Pakar Nasional PA GMNI Ahmad Basarah menilai sudah…

Mao Zedong, Beberapa Masalah Mengenai Metode Memimpin

Marhaenist.id - Mao Zedong adalah mantan pemimpin Republik Rakyat China atau disingkat RRC.…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?