By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
DPP GMNI Desak DPR RI Segera Sahkan RUU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga
Geopolitik Pangan: Entok, Limbah Pangan, dan Masa Depan Kedaulatan Pangan Nusantara
Hadiri Kaderisasi GMNI, Bawaslu Kota Bekasi Ajak Mahasiswa Cermat Menyaring Informasi di Tengah Maraknya Hoaks
Di Forum MKRI–MK Mesir, Prof. Arief Hidayat Angkat Marhaenisme sebagai Etika Konstitusi
DPD GMNI DKI Jakarta Gelar Konferensi Daerah Pertama, Usung Tema Transformasi Jakarta Menuju Kota Global

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

KPK dan Tangan Besi Sudewo ‘Bupati Pati’

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Selasa, 20 Januari 2026 | 08:34 WIB
Bagikan
Waktu Baca 3 Menit
Foto: Sudewo, Bupati Pati Jawa Tengah yang ditejaring OTT KPK (Sumber: Desain AI)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sejak awal berdirinya diposisikan sebagai simbol harapan publik dalam memberantas praktik korupsi yang telah mengakar dalam tubuh birokrasi dan kekuasaan.

Namun harapan itu kerap diuji ketika berhadapan dengan kepala daerah yang menerapkan gaya kepemimpinan “tangan besi”, salah satunya yang kini menjadi sorotan adalah Sudewo, Bupati Pati.

Gaya kepemimpinan tangan besi sering kali dibungkus dengan narasi ketegasan, disiplin, dan keberanian mengambil keputusan. Dalam konteks tertentu, ketegasan memang diperlukan untuk memotong rantai birokrasi yang lamban dan sarat kepentingan.

Namun ketika ketegasan berubah menjadi otoritarianisme lokal-minim transparansi, anti kritik, dan cenderung memusatkan kekuasaan, maka di situlah alarm demokrasi seharusnya berbunyi.

Sebagai kepala daerah, Sudewo memiliki kewenangan besar dalam menentukan arah pembangunan, pengelolaan anggaran, hingga kebijakan strategis daerah. Kekuasaan yang besar tanpa pengawasan yang kuat selalu menyimpan potensi penyalahgunaan.

Di sinilah peran KPK menjadi sangat krusial, bukan hanya sebagai penindak, tetapi juga sebagai pengawas moral dan institusional terhadap praktik pemerintahan daerah.

Sayangnya, publik sering menyaksikan bagaimana relasi antara kepala daerah yang kuat secara politik dengan aparat penegak hukum menjadi relasi yang timpang.

Ketika kritik dibungkam, oposisi dilemahkan, dan masyarakat sipil dipersempit ruangnya, maka informasi tentang dugaan penyimpangan pun menjadi sulit mengalir.

KPK tidak boleh terjebak pada logika “menunggu laporan”, sebab dalam situasi kekuasaan tangan besi, laporan sering kali terhambat oleh rasa takut.

Kepemimpinan yang keras juga kerap menggunakan legitimasi elektoral sebagai tameng. Padahal kemenangan dalam pemilihan tidak pernah berarti cek kosong untuk menjalankan kekuasaan tanpa batas.

Demokrasi tidak berhenti di bilik suara; ia hidup melalui kontrol publik, transparansi, dan supremasi hukum.

Baca Juga:   Mendukung dan Mengawasi Program Makan Bergizi Gratis

Jika KPK ingin tetap relevan dan dipercaya, maka keberanian menghadapi figur-figur kuat di daerah adalah ujian nyata. KPK harus menunjukkan bahwa tidak ada kepala daerah yang kebal hukum, sekuat apa pun jaringan politik dan citra kepemimpinannya.

Ketegasan KPK justru diperlukan untuk menyeimbangkan “tangan besi” kekuasaan lokal agar tidak berubah menjadi tangan yang menindas rakyatnya sendiri.

Pada akhirnya, Pati seperti daerah lain di Indonesia-tidak membutuhkan pemimpin yang hanya kuat dalam memerintah, tetapi lemah dalam akuntabilitas. Dan Indonesia tidak membutuhkan lembaga antikorupsi yang hanya tajam ke bawah, tetapi tumpul ke atas.

Pertemuan antara KPK dan kepemimpinan tangan besi akan selalu menjadi penentu: apakah hukum benar-benar berdiri di atas kekuasaan, atau justru tunduk padanya.***


Catatan Redaksi, Ditulis Oleh: La Ode Mustawwadhaar.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print

ARTIKEL TERBARU

DPP GMNI Desak DPR RI Segera Sahkan RUU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga
Senin, 26 Januari 2026 | 23:10 WIB
Geopolitik Pangan: Entok, Limbah Pangan, dan Masa Depan Kedaulatan Pangan Nusantara
Senin, 26 Januari 2026 | 22:59 WIB
Hadiri Kaderisasi GMNI, Bawaslu Kota Bekasi Ajak Mahasiswa Cermat Menyaring Informasi di Tengah Maraknya Hoaks
Senin, 26 Januari 2026 | 03:18 WIB
Di Forum MKRI–MK Mesir, Prof. Arief Hidayat Angkat Marhaenisme sebagai Etika Konstitusi
Minggu, 25 Januari 2026 | 19:29 WIB
DPD GMNI DKI Jakarta Gelar Konferensi Daerah Pertama, Usung Tema Transformasi Jakarta Menuju Kota Global
Minggu, 25 Januari 2026 | 18:18 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

Rakyat, Pajak, dan Hak Pilih: Kenapa Pilkada Lewat DPRD Harus Kita Tolak

Marhaenist.id - Memasuki awal tahun 2026, wacana mengembalikan mekanisme Pemilihan Kepala Daerah…

Pesan Emil Salim Kepada Ganjar: Kapal Mau Karam Kok Masih Bernyanyi

Marhaenist.id, Jakarta - Ganjar Pranowo menemui ekonom yang sekaligus mantan Menteri Urusan…

Gelar FDG, DPD PA GMNI Jakarta Raya Dorong Pemprov Lakukan Reforma Agraria Perkotaan

Marhaenist.id, Jakarta - Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Persatuan Alumni (PA) Gerakan Mahasiswa…

Pleno Timsel Calon Anggota Bawaslu Banten Tetapkan Fahmi Sebagai Ketua

Marhaenist - Pleno Tim Seleksi (timsel) calon anggota Bawaslu Provinsi Banten menetapkan…

GMNI UIN Jakarta Bersama Rakyat, Rayakan Kemerdekaan dengan Aksi Nyata

Marhaenist.id, Ciputat – Memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80,…

Terus Kembangkan Potensi Diri, Pesan Bupati Purworejo Untuk GMNI

Marhaenist - Dewan Pengurus Cabang Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPC GMNI) Purworejo…

Heri Purnomo Kembali Terpilih Secara Aklamasi sebagai Ketua PA GMNI Kota Bekasi

Marhaenist.id, Kota Bekasi – Persatuan Alumni (PA) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Menteri koordinator bidang Politik, Hukum dan Keamanan Mahfud MD dan Ketua Umum GBN Erros Djarot. MARHAENIST

Dukung Musisi Bangkit Dari Pandemi, GBN Gelar Bhinneka Culture Festival

Marhaenist - Dalam rangka berikan wadah bagi para musisi-musisi tanah air yang…

Memoar Khrushchev: Bagaimana Awal Mula Persahabatan Indonesia Dengan Uni Soviet?

Marhaenist - Ditengah Perang Dingin, Indonesia muncul sebagai “Macan Asia”. Karisma Presiden…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format

Vivere Pericoloso

🎧 Online Radio

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?