By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Merdeka Menjadi Perempuan: Refleksi Nilai Kartini di Era Generasi Z
Melampaui Kartini: Ini Bukan Lagi Soal Mengenang, Tapi Melawan
Persimpangan Krisis Filsafat dan Ideologi dalam Menyelamatkan Alam
Sosialisasi Empat Pilar MPR RI Bersama H. Abidin Fikri Perkuat Semangat Kebangsaan Mahasiswa di Yogyakarta
GMNI Jakarta Timur Soroti Dugaan Cacat Hukum Transaksi Tanah, Desak Keadilan Agraria untuk Kaum Marhaen

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Korupsi dalam Negara yang Bermimpi Keadilan Sosial

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Rabu, 12 Maret 2025 | 14:04 WIB
Bagikan
Waktu Baca 6 Menit
Foto: Yonki, Kader GMNI Malang/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Kita ingin menjadi Negara yang adil dan sejahtera. Memang ungkapan ini terdengar sudah lazim, namun kita masih bermimpi bahwa suatu saat kalimat di atas tidak hanya menjadi sebuah ungkapan, tapi ada wujud nyatanya. Sebagai Negara yang kaya kita memiliki banyak rintangan, salah satu rintangan yang paling berat yang kita hadapi saat ini adalah korupsi.

Anomali kekuasaan berpijak dari satu tangan ke tangan yang lain, padahal untuk mengatasi problem korupsi seharusnya ada kemampuan untuk memutuskan anomali kekuasaan tersebut. Tentang hal ini, kita merasakan kekhwatiran yang sama”. Sepertinya kita tidak tekun mengurus negara kita sendiri, ada pihak-pihak tertentu yang menggunakan jalan pintas untuk menimbun kekayaannya sendiri. Salah satu jalan pintas itu adalah korupsi yang digunakan untuk menimbun kekayaannya sendiri.

Dalam pandangan Immanuel Kant, negara memiliki kewajiban untuk melindungi hak-hak alamiah yang melekat pada setiap manusia. Tapi terkadang dengan Kekuasaan mereka yang berkuasa atas Negara, membicarakan hal yang mustahil dikerjakan. Itu sebabnya hoax paling banyak muncul justru dari Negara sendiri. Lantas dalam situasi seperti itulah kita menemukan sebuah peradaban yang kurang elok, yang isinya ialah pemerintahan yang korup.

Kesulitan rakyat dalam mengakses keadilan bisa saja disebabkan karena pemerintahaan yang korup. Barang kali kita mendapatkan evaluasi ini untuk menjadi sumber kritik kepada penguasa, “Siapapun bisa mengkritisi hal tersebut”. Sebab kita, baik yang pro maupun yang kontra pada pemerintahan ini adalah komponen masyarakat yang merasakan atau mengalami dampak dari pemerintah yang korup. Mulai dari hukum yang sulit diakses untuk mencari keadilan, hingga kemiskinan dan kemelaratan. itu sebabnya ada yang masih berpandangan bahwa “Kita menganut hukum yang tajam ke bawah tumpul ke atas”.

Baca Juga:   Ekonomi Perhatian dan Krisis Kesadaran: Algoritma, Kekuasaan, dan Arsitektur Kendali Pikiran

Perlu diingat bahwa setiap era memiliki konstruksi yang membentuk cara berpikir, berbicara, dan bertindak manusia. Kita memasuki fase baru: imperialisme terstruktur dalam era digitalisasi, dengan demikian korupsi berkembang dengan cara – cara moderen.

Pada awal tahun 2025 ini, Negara kita dihebohkan dengan adanya berita-berita tentang para pejabat yang korup. Wajah – wajah munafik dari pejabat – pejabat yang korup itu, dipajang di dinding media secara terang-terangan. Kita berharap dengan begitu bisa membuat efek jerah, tapi sepertinya sia-sia jika kita menaruh harapan tersebut.

Masih banyak kasus korupsi yang telah merugikan Negara. Di sisi lain masih banyak kemiskinan dan kemelaratan yang kita temukan. Suatu ketika saya mendapati seorang ibu miskin yang memarahi anaknya karena anaknya minta disekolahkan, tapi ibu itu tidak mampu menyekolahkan anaknya. “Tahun 2025 masih ada yang seperti ini”, kataku dalam hati. tidakkah kita membayangkan betapa jahatnya para pejabat yang korup itu.

Masih adakah harapan bahwa ke depan tidak ada lagi korupsi di Negeri ini?. Sepertinya pertanyaan tersebut akan selalu menjadi misteri, sebab tidak ada jaminan, sekalipun seorang Presiden yang kita pilih dan kita tugaskan melalui konstitusi untuk memberantas korupsi tersebut, “Hingga saat ini belum mampu menjamin akan memberantas korupsi, malahan korupsi makin menjadi-jadi”. Maka tak heran jika bangsa ini hidup dalam ketidak adilan dan kemelaratan yang berkepanjangan. Ibarat sebuah pepatah yang mengatakan kita hidup dalam kemarau yang panjang. Bebas dari penjajah, tapi dijajah lagi oleh pejabat. IMPERIALISME telah hadir sebagai Monoisme.

Kita harus jujur dan berterus terang untuk mengatakan bahwa korupsi adalah tindakan jahat yang menakutkan, korupsi bisa saja membunuh banyak harapan dan cita-cita. Sejalan dengan hal itu, kita telah diingatkan oleh ungkapan Haryatmoko yang telah menegaskan bahwa korupsi itu adalah upaya campur tangan menggunakan kemampuan yang didapat dari posisi penyalahgunaan informasi, keputusan, pengaruh, uang dan/atau kekayaan demi kepentingan dan keuntungan dari pihaknya sendiri. Seharusnya kita sebagai bangsa yang kaya, kita merasa berkecukupan, jangan mencuri dari yang bukan milik kita.

Baca Juga:   Menuju Ramadan–Lebaran 2026: Di Balik Kejamnya Tradisi Mudik

Seorang pejabat yang korup mestinya belajar dari seorang Marhaen, “Seberat apapun hidupnya seorang Marhaen, ia tidak mencuri dari yang bukan miliknya”, bahkan sebagian dari miliknya disumbangkan ke Negara dengan harapan orang lain juga bisa merasakan hidup yang berkecukupan. Namun sayangnya, kini Marhaen-marhaen itu yang terpinggirkan dari dunianya, yang menjadi Budak di negaranya sendiri.

Gerak sejarah kehidupan sosial manusia berada pada posisi esensinya yang tergenggam oleh Imperialisme .Selama rakyat tidak diajarkan tentang hal ini, selama itu pula kita dikuasai oleh iblis imperialisme yang telah bersemayam dalam kekuasaan.

Di Era globalisasi ini ketika kita membandingkan kehidupan berbangsa dan bernegara kita dengan Negara asing, tentu masih banyak evaluasi yang harusnya kita kerjakan agar tidak tertinggal dan tidak diremehkan oleh dunia internasional. Sejalan dengan hal tersebut, tak lupa kita harus memberi saran kepada negara untuk memperbaiki sistem pemerintahannya, agar dapat membuka akses keadilan demi tercapainya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.***


Penulis: Yongki, Kader GMNI Malang.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Merdeka Menjadi Perempuan: Refleksi Nilai Kartini di Era Generasi Z
Selasa, 21 April 2026 | 22:17 WIB
Ilustrasi Gambar tentang "Melampaui Kartini: Ini Bukan Lagi Soal Mengenang, Tapi Melawan" karya Noufal Hanif (Desain AI)/MARHAENIST.
Melampaui Kartini: Ini Bukan Lagi Soal Mengenang, Tapi Melawan
Selasa, 21 April 2026 | 20:10 WIB
Persimpangan Krisis Filsafat dan Ideologi dalam Menyelamatkan Alam
Selasa, 21 April 2026 | 10:25 WIB
Foto: Saat Abidin Fikri memaparkan materi Sosialisasi Empat Pilar dihadapan Mahasiswa Yogjakarta, Senin (20/4/2026) (Dok. Abidin Fikri)/MARHAENIST.
Sosialisasi Empat Pilar MPR RI Bersama H. Abidin Fikri Perkuat Semangat Kebangsaan Mahasiswa di Yogyakarta
Senin, 20 April 2026 | 23:18 WIB
GMNI Jakarta Timur Soroti Dugaan Cacat Hukum Transaksi Tanah, Desak Keadilan Agraria untuk Kaum Marhaen
Senin, 20 April 2026 | 22:09 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
Tirani yang Tersenyum dalam Bayang Kiamat Epistemik: Evolusi Kekuasaan dari Orwellian ke Huxleyian – Part I
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

Gelar UPA di Februari 2026, PERADI UTAMA Lanjutkan Program Beasiswa Advokat Bersama PA-GMNI dan KOPRI PMII

Marhaenist.id, Jakarta — Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Perhimpunan Advokat Indonesia (PERADI) UTAMA…

Supremasi Hukum: Jangan Jadikan Hukum Positif Indonesia Sebagai Instrumen Politik Praktis

Marhaenist.id - Mengutip dari halaman website resmi Mahkamah Konstitusi Indonesia menjelaskan bahwa…

Pelaku dan Aktivis Pemerhati Budaya Aji Barata Putuskan Maju di Pilkada Banyumas

Marhaenist.id, Banyumas - Seorang aktivis pemerhati dan pelaku budaya Bambang Barata Aji…

Nurmiyati Bagit & Bahtiar Husni. MARHAENIST

Nurmiyati Bagit, Korban Lakalantas di Ternate Desak Penahanan Pelaku Demi Keadilan

Marhaenist, Ternate - Seorang ibu rumah tangga di Ternate, Maluku Utara, Nurmiyati…

Gelar Diskusi Bersama Para Pakar, GMNI Jaksel Bahas Otoritarianisme Legal: Antara Hukum dan Kekuasaan

Marhaenist.id, Jakarta — Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Anggota Wantimpres Soekarwo dan rombongan bersama Bupati Malang M Sanusi (paling kiri) pada saat meninjau Stadion Kanjuruhan, di Kabupaten Malang, Jawa Timur, Kamis (06/10/2022). TELEGRAF/Koeshondo W. Widjojo

Kunjungi Stadion Kanjuruhan, Wantimpres Siapkan Data Primer Bagi Jokowi

Marhaenist - Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) menyiapkan data-data primer untuk disampaikan kepada…

Koperasi dan Era Anthropocene: Menjawab dengan Praktik atas Krisis Kemanusiaan dan Lingkungan

Seri Belajar Koperasi #1 Marhaenist - Praktik sistem kapitalisme industri yang berkembang…

GMNI Demo KPU dan DPR Yang Adakan Rapat Konsinyering di Malam Hari

MARHAENIST - Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) menggelar demonstrasi di depan Hotel…

GMNI Penajam Desak Evaluasi Proyek RDMP Bukti Lemahnya Pengawasan Disnaker & DPRD

Marhaenist.id, Penajam Paser Utara - Duka mendalam menyelimuti kalangan masyarakat Penajam usai insiden longsor…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?