By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Kawal Dugaan Korupsi Proyek KDMP Rp112 T, Aliansi Mahasiswa Jakarta Gelar Aksi Ketiga & Serahkan Berkas Laporan Resmi ke Kejaksaan Agung
Di Balik Kenaikan BBM: Ketika Beban Fiskal Dialihkan kepada Masyarakat dan Paradoks Swasembada Energi
DPC GMNI Jakarta Timur Serukan “Revolusi Total”, Soroti Krisis Ekonomi hingga Dugaan Korupsi Program Strategis Negara
Papan Catur Global dan Jerat Fosil: Menggugat Rabun Jauh Penguasa atas Kenaikan BBM dan Hilangnya Marwah Bangsa
Prof. Ikrar Nusa Bhakti Soroti Minimnya Keterlibatan Dubes dalam Kunjungan Luar Negeri Presiden Prabowo

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Hantu Film Pesta Babi: Seseram Apakah bagi Pemerintahan Prabowo-Gibran?

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Senin, 11 Mei 2026 | 12:16 WIB
Bagikan
Waktu Baca 3 Menit
Ilustrasi Gambar tentang "Hantu Film Pesta Babi, Seseram Apa bagi Pemerintahan Prabowo-Gibran?" (Desain AI)/MARHAENIST.
Bagikan

Marharnist.id – Dalam sejarah politik modern, pemerintah sering kali lebih takut pada karya seni dibanding suara demonstrasi jalanan. Buku dibredel, lagu dilarang, teater dibungkam, hingga film dipersekusi sebelum sempat diputar. Ketakutan itu lahir bukan karena karya seni memiliki senjata, tetapi karena ia mampu menembus kesadaran publik dengan cara yang tidak bisa dilakukan pidato politik.

Belakangan, polemik seputar film Pesta Babi kembali memantik perdebatan publik. Sebagian pihak menuduh film tersebut berbahaya, provokatif, bahkan dianggap dapat mengganggu stabilitas. Namun pertanyaannya: Seseram apa sebenarnya sebuah film bagi pemerintahan Prabowo-Gibran?

Jika sebuah film dianggap ancaman serius, maka ada dua kemungkinan. Pertama, film itu memang memiliki daya kritik yang tajam terhadap realitas sosial-politik. Kedua, pemerintah sedang berada dalam kondisi yang terlalu sensitif terhadap kritik. Dalam konteks demokrasi, kemungkinan kedua justru lebih mengkhawatirkan.

Film, pada hakikatnya, adalah medium ekspresi. Ia bisa berupa kritik, satire, alegori, atau bahkan kemarahan sosial yang dituangkan dalam bahasa visual. Ketika sebuah karya langsung dicurigai sebagai ancaman, publik tentu bertanya: apakah pemerintah takut pada narasi tandingan?

Padahal pemerintahan yang kuat seharusnya tidak alergi terhadap kritik budaya. Demokrasi tidak hanya diukur dari suksesnya pemilu atau tingginya angka pembangunan infrastruktur, tetapi juga dari sejauh mana negara memberi ruang terhadap kebebasan berekspresi. Ketika ruang itu mulai menyempit, maka demokrasi perlahan kehilangan rohnya.

Polemik Pesta Babi memperlihatkan bagaimana masyarakat Indonesia masih hidup dalam bayang-bayang politik sensor. Kritik sering dipahami sebagai permusuhan, sementara karya seni dianggap harus selalu sejalan dengan moral resmi negara. Ini berbahaya, sebab negara akhirnya berpotensi menjadi penafsir tunggal atas apa yang boleh dipikirkan rakyat.

Baca Juga:   Strategi Golkar Menjaga Stabilitas di Tengah Pergantian Ketua Umum Menjelang Pilkada Serentak 2024

Ironisnya, pelarangan atau tekanan terhadap karya seni justru sering membuat karya tersebut semakin populer. Publik menjadi penasaran. Diskusi meluas. Narasi yang semula kecil berubah menjadi simbol perlawanan terhadap pembungkaman. Dalam banyak kasus, yang menciptakan “hantu” bukan filmnya, melainkan reaksi berlebihan terhadap film itu sendiri.

Pemerintahan Prabowo-Gibran saat ini berada pada fase penting membangun citra kekuasaan. Apakah akan tampil sebagai pemerintahan yang percaya diri menghadapi kritik, atau justru menjadi rezim yang mudah tersinggung terhadap ekspresi budaya? Jawaban atas pertanyaan itu akan menentukan bagaimana sejarah mencatat mereka.

Sebab pada akhirnya, film tidak pernah benar-benar menjatuhkan kekuasaan. Yang menjatuhkan kekuasaan adalah ketakutan berlebihan terhadap suara rakyat, termasuk suara yang datang dari layar bioskop.

Dan mungkin, yang paling menyeramkan dari Pesta Babi bukanlah isi filmnya, melainkan kemungkinan bahwa negara masih takut pada imajinasi.***


Catatan Redaksi, Ditulis Oleh La Ode Mustawwadhaar.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Kawal Dugaan Korupsi Proyek KDMP Rp112 T, Aliansi Mahasiswa Jakarta Gelar Aksi Ketiga & Serahkan Berkas Laporan Resmi ke Kejaksaan Agung
Kamis, 11 Juni 2026 | 19:02 WIB
Di Balik Kenaikan BBM: Ketika Beban Fiskal Dialihkan kepada Masyarakat dan Paradoks Swasembada Energi
Kamis, 11 Juni 2026 | 18:02 WIB
DPC GMNI Jakarta Timur Serukan “Revolusi Total”, Soroti Krisis Ekonomi hingga Dugaan Korupsi Program Strategis Negara
Kamis, 11 Juni 2026 | 08:55 WIB
Papan Catur Global dan Jerat Fosil: Menggugat Rabun Jauh Penguasa atas Kenaikan BBM dan Hilangnya Marwah Bangsa
Rabu, 10 Juni 2026 | 22:54 WIB
Prof. Ikrar Nusa Bhakti Soroti Minimnya Keterlibatan Dubes dalam Kunjungan Luar Negeri Presiden Prabowo
Rabu, 10 Juni 2026 | 14:21 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
Tirani yang Tersenyum dalam Bayang Kiamat Epistemik: Evolusi Kekuasaan dari Orwellian ke Huxleyian – Part I
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

Terus Kembangkan Potensi Diri, Pesan Bupati Purworejo Untuk GMNI

Marhaenist - Dewan Pengurus Cabang Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPC GMNI) Purworejo…

Ketua DPC Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Jakarta Selatan, Dendy Se. MARHAENIST

GMNI Persoalkan 10 Calon Dewas KPK, Sebut Upaya Jokowi Lindungi Diri dari KKN

Marhaenist.id, Jakarta - Dewan Pimpinan Cabang Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Jakarta…

Donald Trump Ditembak Saat Pidato, Jokowi Terkejut dan Ikutan Sedih

Marhaenist - Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) menyatakan terkejut dan sedih atas…

Hakekat dari Pancasila adalah Membela Kaum Miskin

Marhaenist.id - Mungkin bagi sebagian besar aktivis mahasiswa saat ini yang berada…

PFM Dorong Penetapan Status Bencana Nasional di Aceh, Sumut, dan Sumbar

Marhaenist.id, Jakarta – Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI asal Papua Barat…

Hai Orang-Orang Yang Beriman, Ramadhan 2026 Jatuh Pada Kamis 19 Februari

Marhaenist - Pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) menetapkan awal puasa atau 1…

Tanggapi Isu Keterlibatan dalam BPK, DPC GMNI Jember: Itu tidak Sah dan tidak Sesuai dengan Fakta Sebenarnya

Marhaenist.id, Jember - Belakangan ini, tengah beredar secara masif berbagai informasi dan…

Tolak Penggusuran, Hentikan Intimidasi dan Kriminalisasi yang Dilakukan Polda Metro Jaya Terhadap Warga Kebon Sayur!

Marhaenist, Jakarta - Pada Selasa (27/5/2025), Polda Metro Jaya mendatangi warga Kebon…

Hadirkan 3 Ketum, DPC GMNI Jaktim akan Gelar Dialog Marhaenis dan Pelantikan Pengurus Baru Periode 2025–2027

Marhaenist.id, Jaktim — Dengan semangat Trisakti Bung Karno, Dewan Pimpinan Cabang (DPC)…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?