By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
YRJI Apresiasi Pertumbuhan Ekonomi 5,61%, Dorong Konsolidasi Nasional untuk Jaga Momentum
Energi Mahal, Kelas Menengah Melemah: Indonesia Tumbuh, Tapi Siapa yang Naik?
Politik Tanpa Arah: Ketika Kekuasaan Kehilangan Nurani
Polemik Hilirisasi Aspal Buton, DPC PA GMNI Buton Soroti Ketimpangan dan Desak Pemerataan Industri
Tragedi PRT Benhil, Koalisi Masyarakat Sipil: Jangan Lindungi Pelaku, Negara Harus Berdiri di Pihak Korban

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Energi Mahal, Kelas Menengah Melemah: Indonesia Tumbuh, Tapi Siapa yang Naik?

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Rabu, 6 Mei 2026 | 12:05 WIB
Bagikan
Waktu Baca 5 Menit
Foto: Yuwono Setyo Widagdo, S.Sos., M.H (Dokpri)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Indonesia hari ini terlihat kuat. Ekonomi tumbuh stabil. Ekspor energi melonjak. Neraca perdagangan surplus. Namun di balik itu, ada perubahan yang lebih sunyi dan lebih berbahaya, kelas menengah mulai melemah.

Ini bukan sekadar soal angka. Ini soal arah masa depan.

Ketika Pertumbuhan Tidak Lagi Terasa

Dalam lima tahun terakhir, jutaan orang keluar dari kategori kelas menengah. Di saat yang sama, kelompok “menuju kelas menengah” yang hidup di batas aman ekonomi justru membengkak.

World Bank sejak lama mengingatkan bahwa kelas menengah adalah kunci stabilitas ekonomi dan sosial.
Dalam laporannya, Bank Dunia menegaskan:

“The middle class is critical for Indonesia’s economic future.”

Masalahnya, yang terjadi hari ini justru sebaliknya. Kelas menengah tidak menguat melainkan tergerus perlahan.

Boom Energi: Berkah yang Tidak Menetes

Indonesia diuntungkan oleh kenaikan harga energi global, terutama batu bara. Permintaan meningkat, harga sempat melonjak, dan negara menikmati tambahan penerimaan.

Namun, pertanyaannya sederhana:
apakah masyarakat ikut merasakan?
Ekonom Bhima Yudhistira menilai bahwa pertumbuhan berbasis komoditas memiliki keterbatasan serius:

“Booming komoditas tidak otomatis meningkatkan kesejahteraan masyarakat luas, karena nilai tambahnya tidak terdistribusi merata.”

Pernyataan ini menjelaskan paradoks Indonesia hari ini: ekonomi bisa tumbuh tinggi, tetapi tidak semua ikut naik.

Kelas Menengah yang Diam-Diam Tertekan

Kelas menengah selama ini adalah mesin ekonomi:

• Mereka belanja
• Mereka bayar pajak
• Mereka menjaga stabilitas sosial

Namun kini, perilakunya berubah.
Mereka mulai:

• Menahan konsumsi
• Mengurangi belanja non-esensial
• Fokus pada keamanan finansial

Ekonom Yusuf Rendy Manilet menggambarkan fenomena ini dengan cukup tajam:

“Yang terjadi bukan hanya pelemahan daya beli, tetapi perubahan perilaku konsumsi akibat ketidakpastian.”
Artinya, ini bukan sekadar soal uang tetapi soal rasa aman.

Baca Juga:   Pajak untuk Keadilan

Energi: Antara Subsidi dan Beban

Di sinilah politik ekonomi energi menjadi krusial. Negara berusaha menjaga harga energi tetap stabil melalui subsidi. Namun di sisi lain, tekanan global membuat biaya energi tetap tinggi.

Akibatnya, kelas menengah sering berada di posisi paling rentan:

• Tidak cukup miskin untuk mendapat perlindungan penuh
• Tidak cukup kaya untuk kebal terhadap kenaikan harga

Penelitian tentang kebijakan energi bahkan menunjukkan bahwa kebijakan seperti pajak karbon dapat berdampak regresif lebih membebani kelompok berpendapatan menengah dan bawah. Dengan kata lain, energi tidak hanya soal listrik atau BBM, tetapi soal distribusi beban ekonomi.

Geopolitik Energi dan Masa Depan yang Tidak Pasti

Kenaikan harga energi beberapa tahun terakhir bukan fenomena kebetulan. Ia dipicu oleh:

• Konflik geopolitik global
• Gangguan rantai pasok
• Transisi menuju energi bersih

Namun tren ke depan justru berbalik. Permintaan batu bara diproyeksikan mencapai puncak dan kemudian menurun.

Artinya, Indonesia menghadapi risiko ganda:

• Saat harga naik → masyarakat terbebani
• Saat harga turun → negara kehilangan penerimaan

Siklus ini membuat ekonomi terlihat kuat, tetapi sebenarnya rapuh secara struktural.

Masalah Sebenarnya: Distribusi yang Tidak Selesai

Indonesia bukan negara miskin sumber daya. Masalahnya bukan produksi melainkan distribusi.

Selama ini:

• Keuntungan energi terkonsentrasi
• Efek ke rumah tangga terbatas
• Kebijakan kompensasi belum optimal

Akibatnya, kelas menengah terjebak di tengah:

➡️ tidak cukup dilindungi
➡️ tetapi cukup terdampak

Dan perlahan, mereka turun kelas tanpa banyak disadari.

Exit Planner?

Pertama, kebijakan energi harus dipandang sebagai alat distribusi, bukan sekadar stabilisasi harga. Subsidi dan kompensasi harus menjangkau kelompok rentan termasuk kelas menengah bawah.

Baca Juga:   Resolusi GMNI 2026

Kedua, windfall dari energi harus digunakan untuk investasi jangka panjang:

• Pendidikan
• Kesehatan
• Penciptaan kerja berkualitas

Ketiga, hilirisasi harus menghasilkan dampak nyata bagi masyarakat bukan hanya angka investasi.

Paradoks Indonesia Tumbuh, Tapi Siapa yang Naik?

Indonesia tidak sedang krisis pertumbuhan. Tetapi menghadapi krisis yang lebih halus, krisis distribusi.

Kelas menengah yang melemah adalah sinyal paling jelas. Dan jika sinyal ini diabaikan, dampaknya tidak hanya ekonomi, tetapi juga sosial dan politik.

Karena pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah negara bukan hanya seberapa cepat ia tumbuh, tetapi seberapa banyak warganya yang ikut naik. Dan hari ini, pertanyaannya semakin sulit dihindari, *Indonesia tumbuh tapi siapa yang benar-benar naik kelas?***


Penulis: Yuwono Setyo Widagdo, S.Sos., M.H.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

YRJI Apresiasi Pertumbuhan Ekonomi 5,61%, Dorong Konsolidasi Nasional untuk Jaga Momentum
Rabu, 6 Mei 2026 | 14:03 WIB
Politik Tanpa Arah: Ketika Kekuasaan Kehilangan Nurani
Selasa, 5 Mei 2026 | 21:24 WIB
Polemik Hilirisasi Aspal Buton, DPC PA GMNI Buton Soroti Ketimpangan dan Desak Pemerataan Industri
Selasa, 5 Mei 2026 | 11:49 WIB
Tragedi PRT Benhil, Koalisi Masyarakat Sipil: Jangan Lindungi Pelaku, Negara Harus Berdiri di Pihak Korban
Senin, 4 Mei 2026 | 17:38 WIB
Kedaulatan Rakyat Digugat, DPD GMNI Jakarta: Mengapa Pengadilan Militer Memperlakukan Korban Seperti Terpidana?
Senin, 4 Mei 2026 | 13:43 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
Tirani yang Tersenyum dalam Bayang Kiamat Epistemik: Evolusi Kekuasaan dari Orwellian ke Huxleyian – Part I
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

Ramadhan Harga Pangan Naik Semua, Hanya Yang Asin Saja Yang Turun

Marhaenist, Jakarta  - Mayoritas harga komoditas pangan pada pekan pertama Ramadhan 1445…

Perajin membersihkan kedelai di salah satu rumah industri di Jakarta, Kamis (6/10). Ketua Umum Gabungan Koperasi Produsen Tahu dan Tempe Indonesia (Gakopindo) Aip Syarifuddin mengatakan kenaikan harga kedelai impor satu bulan terakhir rata-rata berada di kisaran Rp6.900 - Rp7.000 per kilogram di tingkat koperasi yang sebelumnya Rp6.300 - Rp6.500 sedangkan harga di pasaran lebih tinggi yakni Rp10.597 per kilogramnya. ANTARA FOTO/M Agung Rajasa/pras/16.

Pemerintah Berikan Subsidi Kedelai Rp1.000 Hingga Akhir Tahun

Marhaenist - Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang program subsidi kedelai sebesar Rp1.000 per…

Maknai Hari Ibu sebagai Refleksi Kritis Perjuangan Perempuan, GMNI Jember: Dari Manifesto Gerakan Perempuan menuju Ritual Sentimental

Marhaenist.id, Jember — Dalam rangka memperingati Hari Ibu, Dewan Pimpinan Cabang (DPC)…

Foto: Deodatus Sunda Se, Ketua DPD GMNI DKI Jakarta (Dokpri)/MARHAENIST.

Hidup 13 Hari, Disebut Tidak Miskin: DPD GMNI DKI Jakarta Bongkar Kemiskinan Semu Versi Negara

Marhaenist.id, Jakarta, – Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

GMNI Penajam Gelar PPAB Cetak Marhaenis Muda Berjiwa Nasionalisme dengan Semangat yang Berasaskan Pancasila

Marhaenist.id, Penajam - Dewan Pengurus Komisariat (DPK) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

GMNI Demo KPU dan DPR Yang Adakan Rapat Konsinyering di Malam Hari

MARHAENIST - Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) menggelar demonstrasi di depan Hotel…

Era Kepemimpinan Bahlil Lahadalia, Golkar Marhaen Indonesia (GMI): Menghadapi Tantangan Strategis Baru

Marhaenist.id, Jakarta – Golkar Marhaen Indonesia.(GMI) menegaskan bahwa lebih dari dua dekade pasca-Reformasi…

Akui Miliki HGU Nyaris 500 Ribu Hektare, GMNI: Prabowo Simbol Oligarki

Marhaenist.id, Jakarta - Prabowo mengungkap sebelum jadi Menteri Pertahanan sudah punya 500 ribu…

Bantu Korban Banjir di Sumbar, DPD PA GMNI Riau Salurkan Paket Bantuan Untuk Para Korban

Marhaenist.id, Pekanbaru - Dewan Pengurus Daerah (DPD) Persatuan Alumni (PA) Gerakan Mahasiswa…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?