By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
DPP GMNI Soroti Pelemahan Rupiah, Desak Evaluasi Menyeluruh Kebijakan Ekonomi Nasional
Bangun Sinergisitas, DPD PA GMNI Sultra Siap Mengawal Program Kebijakan Pemda untuk Rakyat
Menuju Hari Kebangkitan Nasional, Aliansi PERISAI Serukan Perlawanan terhadap Imperialisme dan Tuntut Pembatalan ART
DPP GMNI Segera Laporkan Dugaan Perampasan Lahan Warga Transmigrasi di Halmahera Utara ke Tiga Instansi Pusat
Kaya Energi, Miskin Kedaulatan

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Energi Mahal, Kelas Menengah Melemah: Indonesia Tumbuh, Tapi Siapa yang Naik?

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Rabu, 6 Mei 2026 | 12:05 WIB
Bagikan
Waktu Baca 5 Menit
Foto: Yuwono Setyo Widagdo, S.Sos., M.H (Dokpri)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Indonesia hari ini terlihat kuat. Ekonomi tumbuh stabil. Ekspor energi melonjak. Neraca perdagangan surplus. Namun di balik itu, ada perubahan yang lebih sunyi dan lebih berbahaya, kelas menengah mulai melemah.

Ini bukan sekadar soal angka. Ini soal arah masa depan.

Ketika Pertumbuhan Tidak Lagi Terasa

Dalam lima tahun terakhir, jutaan orang keluar dari kategori kelas menengah. Di saat yang sama, kelompok “menuju kelas menengah” yang hidup di batas aman ekonomi justru membengkak.

World Bank sejak lama mengingatkan bahwa kelas menengah adalah kunci stabilitas ekonomi dan sosial.
Dalam laporannya, Bank Dunia menegaskan:

“The middle class is critical for Indonesia’s economic future.”

Masalahnya, yang terjadi hari ini justru sebaliknya. Kelas menengah tidak menguat melainkan tergerus perlahan.

Boom Energi: Berkah yang Tidak Menetes

Indonesia diuntungkan oleh kenaikan harga energi global, terutama batu bara. Permintaan meningkat, harga sempat melonjak, dan negara menikmati tambahan penerimaan.

Namun, pertanyaannya sederhana:
apakah masyarakat ikut merasakan?
Ekonom Bhima Yudhistira menilai bahwa pertumbuhan berbasis komoditas memiliki keterbatasan serius:

“Booming komoditas tidak otomatis meningkatkan kesejahteraan masyarakat luas, karena nilai tambahnya tidak terdistribusi merata.”

Pernyataan ini menjelaskan paradoks Indonesia hari ini: ekonomi bisa tumbuh tinggi, tetapi tidak semua ikut naik.

Kelas Menengah yang Diam-Diam Tertekan

Kelas menengah selama ini adalah mesin ekonomi:

• Mereka belanja
• Mereka bayar pajak
• Mereka menjaga stabilitas sosial

Namun kini, perilakunya berubah.
Mereka mulai:

• Menahan konsumsi
• Mengurangi belanja non-esensial
• Fokus pada keamanan finansial

Ekonom Yusuf Rendy Manilet menggambarkan fenomena ini dengan cukup tajam:

“Yang terjadi bukan hanya pelemahan daya beli, tetapi perubahan perilaku konsumsi akibat ketidakpastian.”
Artinya, ini bukan sekadar soal uang tetapi soal rasa aman.

Baca Juga:   Kembalikan Kedaulatan Aggraria di Desa Pamboborang

Energi: Antara Subsidi dan Beban

Di sinilah politik ekonomi energi menjadi krusial. Negara berusaha menjaga harga energi tetap stabil melalui subsidi. Namun di sisi lain, tekanan global membuat biaya energi tetap tinggi.

Akibatnya, kelas menengah sering berada di posisi paling rentan:

• Tidak cukup miskin untuk mendapat perlindungan penuh
• Tidak cukup kaya untuk kebal terhadap kenaikan harga

Penelitian tentang kebijakan energi bahkan menunjukkan bahwa kebijakan seperti pajak karbon dapat berdampak regresif lebih membebani kelompok berpendapatan menengah dan bawah. Dengan kata lain, energi tidak hanya soal listrik atau BBM, tetapi soal distribusi beban ekonomi.

Geopolitik Energi dan Masa Depan yang Tidak Pasti

Kenaikan harga energi beberapa tahun terakhir bukan fenomena kebetulan. Ia dipicu oleh:

• Konflik geopolitik global
• Gangguan rantai pasok
• Transisi menuju energi bersih

Namun tren ke depan justru berbalik. Permintaan batu bara diproyeksikan mencapai puncak dan kemudian menurun.

Artinya, Indonesia menghadapi risiko ganda:

• Saat harga naik → masyarakat terbebani
• Saat harga turun → negara kehilangan penerimaan

Siklus ini membuat ekonomi terlihat kuat, tetapi sebenarnya rapuh secara struktural.

Masalah Sebenarnya: Distribusi yang Tidak Selesai

Indonesia bukan negara miskin sumber daya. Masalahnya bukan produksi melainkan distribusi.

Selama ini:

• Keuntungan energi terkonsentrasi
• Efek ke rumah tangga terbatas
• Kebijakan kompensasi belum optimal

Akibatnya, kelas menengah terjebak di tengah:

➡️ tidak cukup dilindungi
➡️ tetapi cukup terdampak

Dan perlahan, mereka turun kelas tanpa banyak disadari.

Exit Planner?

Pertama, kebijakan energi harus dipandang sebagai alat distribusi, bukan sekadar stabilisasi harga. Subsidi dan kompensasi harus menjangkau kelompok rentan termasuk kelas menengah bawah.

Baca Juga:   Kasus Bahar Bin Smith Aniaya Banser: Tantangan Bagi Reformasi Polri

Kedua, windfall dari energi harus digunakan untuk investasi jangka panjang:

• Pendidikan
• Kesehatan
• Penciptaan kerja berkualitas

Ketiga, hilirisasi harus menghasilkan dampak nyata bagi masyarakat bukan hanya angka investasi.

Paradoks Indonesia Tumbuh, Tapi Siapa yang Naik?

Indonesia tidak sedang krisis pertumbuhan. Tetapi menghadapi krisis yang lebih halus, krisis distribusi.

Kelas menengah yang melemah adalah sinyal paling jelas. Dan jika sinyal ini diabaikan, dampaknya tidak hanya ekonomi, tetapi juga sosial dan politik.

Karena pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah negara bukan hanya seberapa cepat ia tumbuh, tetapi seberapa banyak warganya yang ikut naik. Dan hari ini, pertanyaannya semakin sulit dihindari, *Indonesia tumbuh tapi siapa yang benar-benar naik kelas?***


Penulis: Yuwono Setyo Widagdo, S.Sos., M.H.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

DPP GMNI Soroti Pelemahan Rupiah, Desak Evaluasi Menyeluruh Kebijakan Ekonomi Nasional
Rabu, 20 Mei 2026 | 17:01 WIB
Bangun Sinergisitas, DPD PA GMNI Sultra Siap Mengawal Program Kebijakan Pemda untuk Rakyat
Rabu, 20 Mei 2026 | 15:32 WIB
Menuju Hari Kebangkitan Nasional, Aliansi PERISAI Serukan Perlawanan terhadap Imperialisme dan Tuntut Pembatalan ART
Rabu, 20 Mei 2026 | 01:23 WIB
DPP GMNI Segera Laporkan Dugaan Perampasan Lahan Warga Transmigrasi di Halmahera Utara ke Tiga Instansi Pusat
Selasa, 19 Mei 2026 | 18:30 WIB
Kaya Energi, Miskin Kedaulatan
Selasa, 19 Mei 2026 | 15:35 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
Tirani yang Tersenyum dalam Bayang Kiamat Epistemik: Evolusi Kekuasaan dari Orwellian ke Huxleyian – Part I
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

Ganjar Akan Buka Lapangan Kerja dan Siapkan SDM Unggul saat Kampanye di Manado

Marhaenist.id, Manado – Ganjar Pranowo, berjanji akan membuka lapangan kerja dan menyiapkan…

DPP GMNI Desak TGPF Bongkar Rantai Komando Kasus Penyiraman Air Keras Aktivis

Marhaenist.id, Jakarta — Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPP GMNI) dibawah…

GMNI Sampaikan Seruan Matinya Demokrasi di Makam Bung Karno Blitar

Marhaenist.id, Blitar - Solidaritas Pejuang-Pemikir Pemikir-Pejuang membuat Seruan Kebanggsaan Indonesia Berkabung; Matinya…

Mao Zedong, Beberapa Masalah Mengenai Metode Memimpin

Marhaenist.id - Mao Zedong adalah mantan pemimpin Republik Rakyat China atau disingkat RRC.…

Disambut dengan Penuh Antusias, GMNI Kota Bekasi Sukses Gelar Nobar Film Pesta Babi

Marhaenist.id, Kota Bekasi - Para aktivis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) di…

Pertanian di Kota Surabaya, GMNI Gandeng Petani Desak Reforma Agraria

Marhaenist.id, Surabaya - Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Surabaya dengan DPK GMNI…

Prabowo Subianto di Asrama Perguruan Tinggi (API) Pondok Pesantren Salafi Tegalrejo, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. FILE/Twitter @prabowo

Kunjungan Prabowo ke Kiai NU Dinilai Sebagai Upaya Garap Suara Umat

Marhaenist - Pengamat politik sekaligus Direktur Eksekutif Indo Barometer M Qodari menyatakan…

PBNU Akan Berikan Sanksi Pada 5 Nahdliyin Yang Temui Presiden Israel

Marhaenist.id, Jakarta- Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Yahya Cholil Staquf,…

GMNI Soroti Akses Mineral Kritis dalam Perjanjian Dagang Indonesia–AS, Tegaskan Kedaulatan Energi Nasional

Marhaenist.id, Jakarta — Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?