
Marhaenist.id, Jember — Dalam rangka memperingati Hari Ibu, Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Jember menegaskan bahwa Hari Ibu tidak semestinya direduksi sebagai perayaan seremonial yang dipenuhi bunga, ucapan manis, dan romantisasi peran perempuan dalam ranah domestik.
DPC GMNI Jember menilai, di balik narasi perayaan tersebut, realitas penindasan terhadap perempuan masih terus berlangsung. Berbagai persoalan struktural seperti beban ganda perempuan, ketimpangan akses ekonomi, upah rendah, tidak diakuinya kerja keperawatan, kekerasan berbasis gender, hingga lemahnya peran negara dalam menjamin keadilan dan perlindungan hak-hak perempuan masih menjadi masalah serius.
Melalui momentum Hari Ibu, DPC GMNI Jember memandang penting adanya refleksi kritis terhadap kondisi sosial, politik, dan ekonomi yang hingga kini masih melanggengkan ketidakadilan gender.
Hari Ibu, menurut GMNI Jember, seharusnya menjadi ruang untuk mengingat kembali sejarah panjang perjuangan perempuan Indonesia dalam melawan penindasan dan ketidaksetaraan.
“Emansipasi perempuan belum tuntas dan perjuangan masih jauh dari selesai. Hari Ibu harus menjadi pengingat bahwa masih banyak hak perempuan yang terpinggirkan dan belum dipenuhi secara adil oleh negara,” demikian pernyataan DPC GMNI Jember, Senin (22/12/2025).
DPC GMNI Jember menegaskan bahwa peringatan Hari Ibu bukan sekadar agenda perayaan, melainkan momentum untuk berpikir kritis, menyuarakan ketidakadilan, serta melawan sistem yang menindas perempuan.
Dengan semangat Marhaenisme, DPC GMNI Jember menyerukan agar perjuangan perempuan ditempatkan sebagai bagian tak terpisahkan dari perjuangan rakyat secara keseluruhan demi tercapainya keadilan sosial.
Merdeka! GMNI Jaya! Marhaen Menang!***
Penulis: Redaksi/Editor: Bung Wadhaar.