By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Prof. Arief Hidayat: Perjanjian Dagang RI–AS Jadi Ujian Konstitusi dan Politik Luar Negeri Bebas Aktif
DPP GMNI Desak Pengusutan Terbuka Dugaan Kekerasan Oknum Brimob di Kota Tual yang Tewaskan Anak 14 Tahun
Selamat Datang di “AI New Normal”
Kader GMNI Kota Palu Desak Transparansi Penanganan Kasus Dugaan Kekerasan Aparat di Tual
Antara Dapur MBG dan Nyawa di Kota Tual: GMNI Jakarta Timur Dukung Penuh Kapolri Jadi Petani!

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
ArtikelOpini

Dialektika “Menuju” dan “Mencapai”: Analisis Semantik-Ideologis dalam Pemikiran Tan Malaka dan Soekarno

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Selasa, 23 Desember 2025 | 00:50 WIB
Bagikan
Waktu Baca 5 Menit
Foto: Bung Karno dan Tan Malaka (Sumber: Koran Sulindo)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – (Pendahuluan) Dalam kajian pemikiran politik, bahasa bukan sekadar medium komunikasi, melainkan bagian inheren dari konstruksi ideologi. Pilihan diksi mencerminkan cara suatu subjek historis memahami waktu, kekuasaan, dan strategi perubahan sosial.

Dalam konteks pemikiran kemerdekaan Indonesia, hal tersebut tampak secara signifikan dalam dua teks kanonik: Naar de Republiek Indonesia karya Tan Malaka dan Mentjapai Indonesia Merdeka karya Soekarno. Perbedaan penggunaan diksi “menuju” dan “mencapai” tidak dapat dipahami sebagai variasi linguistik semata, melainkan sebagai ekspresi dua paradigma ideologis yang berbeda dalam membaca revolusi, sejarah, dan peran subjek politik.¹

¹ Anderson, Imagined Communities, 6–7.

“Menuju”: Konsepsi Proses Historis yang Dialektis

(Tan Malaka – Naar de Republiek Indonesia)

Secara semantik, diksi “menuju” menunjukkan arah tanpa menjamin titik akhir. Ia mengandung pengertian prosesual, bertahap, dan terbuka terhadap kemungkinan historis. Dalam pemikiran Tan Malaka, “menuju republik” merepresentasikan pemahaman materialistis-historis tentang perubahan sosial, di mana republik dipahami sebagai konsekuensi objektif dari kontradiksi kolonialisme dan kapitalisme.²

² Malaka, Naar de Republiek Indonesia.

Tan Malaka menolak voluntarisme politik yang menempatkan kemerdekaan sebagai hasil kehendak elite semata. Republik hanya dapat lahir apabila syarat material—terutama kesadaran kelas dan organisasi massa—telah terpenuhi. Oleh karena itu, revolusi dipahami sebagai proses panjang yang bersifat dialektis dan nonlinier.³

³ Poeze, Pergulatan Menuju Republik, 112–118.

Secara ideologis, diksi “menuju” merefleksikan asumsi bahwa perubahan sosial ditentukan oleh struktur objektif, bukan sekadar momentum politik. Kemerdekaan politik tanpa transformasi struktural dianggap sebagai ilusi. Pendidikan dan pembentukan kesadaran politik massa menjadi prasyarat mutlak pembebasan sejati.⁴

⁴ Marx, Critique of Political Economy, 20–21; Malaka, Madilog, 3–10.

“Mencapai”: Teleologi Politik dan Kehendak Subjektif

Baca Juga:   PDI-P dan Revisi UU TNI

(Soekarno – Mentjapai Indonesia Merdeka)

Berbeda dengan Tan Malaka, Soekarno menggunakan diksi “mencapai” yang bersifat teleologis dan afirmatif. Kata ini menandakan tujuan yang jelas serta keyakinan bahwa tujuan tersebut dapat diraih melalui tindakan politik yang terorganisir. “Mencapai” tidak sekadar menunjukkan proses, melainkan penaklukan jarak antara kondisi terjajah dan kemerdekaan.⁵

⁵ Soekarno, Mentjapai Indonesia Merdeka.

Dalam pemikiran Soekarno, sejarah tidak dipahami sebagai proses objektif yang menunggu kematangan material, melainkan sebagai arena politik yang dapat dipercepat melalui kehendak kolektif, kepemimpinan, dan mobilisasi nasional. Menunggu kondisi ideal justru dipandang sebagai bentuk kepasrahan politik.⁶

⁶ Soekarno, Di Bawah Bendera Revolusi, 1:15–20.

Secara ideologis, diksi “mencapai” mencerminkan nasionalisme revolusioner yang menempatkan bangsa sebagai subjek sejarah utama. Persatuan nasional diposisikan sebagai kekuatan politik yang melampaui fragmentasi kelas, meskipun berisiko mereduksi kompleksitas kontradiksi sosial yang ada.⁷

⁷ Kahin, Nationalism and Revolution, 94–98.

Perbandingan Ideologis: Proses Historis dan Tujuan Politis

Perbedaan antara “menuju” dan “mencapai” mencerminkan dua kerangka epistemologis dalam membaca revolusi. “Menuju” berangkat dari materialisme historis dan perjuangan kelas, dengan subjek utama kelas tertindas yang harus dibentuk kesadarannya secara sistematis. Pendekatan ini kuat secara ideologis, tetapi berisiko terjebak dalam abstraksi teoretis dan kehilangan momentum politik.⁸

⁸ Magnis-Suseno, Pemikiran Karl Marx, 87–90.

Sebaliknya, “mencapai” berlandaskan nasionalisme revolusioner dan kehendak kolektif bangsa. Subjek sejarah dipahami sebagai keseluruhan rakyat, dengan keunggulan pada efektivitas mobilisasi, namun mengandung potensi kompromi struktural pascakemerdekaan.⁹

⁹ Feith, Decline of Constitutional Democracy, 25–30.

Penilaian Kritis: Ideologi dan Praksis Revolusi

Dari sudut pandang ideologis, “menuju” lebih radikal karena secara konsisten menolak finalitas kemerdekaan formal dan terus mempertanyakan pembebasan struktural. Ia menguji makna kemerdekaan di luar simbol dan deklarasi politik.¹⁰

Baca Juga:   Fadli Zon dan Sikap Anti Kritik

¹⁰ Malaka, Madilog, 7.

Namun dari sudut praksis politik, “mencapai” lebih revolusioner karena memungkinkan lahirnya peristiwa sejarah konkret yang menentukan. Tanpa keyakinan bahwa kemerdekaan dapat diraih, revolusi berisiko berhenti sebagai diskursus intelektual tanpa klimaks politik.¹¹

¹¹ McVey, Rise of Indonesian Communism, 12–14.

Kesimpulan

Tan Malaka berbicara dalam bahasa sejarah, menegaskan bahwa republik hanya dapat lahir apabila syarat material dan kesadaran kelas terpenuhi. Soekarno berbicara dalam bahasa politik, menegaskan bahwa kemerdekaan harus direbut melalui kehendak, persatuan, dan tindakan kolektif.

Kemerdekaan Indonesia lahir melalui keberanian untuk “mencapai”, tetapi problem struktural pascakemerdekaan menunjukkan bahwa proses “menuju” pembebasan sejati belum selesai. Dalam konteks ini, kedua diksi tersebut tidak saling meniadakan, melainkan membentuk dialektika ideologis yang terus relevan dalam membaca sejarah dan masa depan Indonesia.¹²

¹² Kahin, Nationalism and Revolution, 452–455.***


Penulis: Firman Tendry Masengi, Advokat/Direktur Eksekutif RECHT Institute dan Guru Kader GMNI.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Prof. Arief Hidayat: Perjanjian Dagang RI–AS Jadi Ujian Konstitusi dan Politik Luar Negeri Bebas Aktif
Minggu, 22 Februari 2026 | 21:23 WIB
DPP GMNI Desak Pengusutan Terbuka Dugaan Kekerasan Oknum Brimob di Kota Tual yang Tewaskan Anak 14 Tahun
Minggu, 22 Februari 2026 | 00:25 WIB
Selamat Datang di “AI New Normal”
Minggu, 22 Februari 2026 | 00:06 WIB
Kader GMNI Kota Palu Desak Transparansi Penanganan Kasus Dugaan Kekerasan Aparat di Tual
Sabtu, 21 Februari 2026 | 22:13 WIB
Antara Dapur MBG dan Nyawa di Kota Tual: GMNI Jakarta Timur Dukung Penuh Kapolri Jadi Petani!
Sabtu, 21 Februari 2026 | 11:25 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

Rekonstruksi Amanat Marhaen, GMNI Menggugat Para Pimpinan MBD

Marhaenist.id - Momentum pemilihan umum kepala daerah dan wakil kepala daerah di…

Hadiri Kaderisari GMNI, Bawaslu Kota Bekasi Dorong Mahasiswa Jadi Agen Perubahan dan Aktif Laporkan Masalah Kebencanaan

Marhaenist.id, Bekasi – Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kota Bekasi mendorong kalangan mahasiswa untuk…

Kemenangan Rakyat dan Ganja di Thailand

Marhaenist - Langkah pemerintah Thailand membatalkan rencana memasukkan ganja sebagai narkoba dan…

Pancasila di Persimpangan Jalan: Ideologi, Identitas, dan Realitas Sosial

Marhaenist.id - Setiap tanggal 1 Juni, kita memperingati Hari Lahir Pancasila —…

Gelar Halal Bi Halal, PA GMNI Perkuat Kesalehan dan Solidaritas Sosial untuk Indonesia Raya

Marhaenist.id, Jakarta - Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Persatuan Alumni (PA) Gerakan Mahasiswa…

Inginkan Persatuan, DPC GMNI Oku Timur Menolak Tegas Kongres GMNI di Kota Bandung

Marhaenist.id, Oku Timur- Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Tak Ingin Militerisasi di Ruang Sipil, GMNI di Sultra Nyatakan Tolak RUU TNI

Marhaenist.id, Sultra - Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) di Sulawesi Tenggara (Sultra) menolak…

Demokrasi Bukan Dagangan Elite: GMNI Situbondo Tolak Tegas Pilkada oleh DPRD

Marhaenist.id, Situbondo — Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Deklarasi Kepengurusan DPD GMNI DKI Jakarta Periode 2026–2028: Komitmen Persatuan dan Penguatan Marwah Organisasi

Marhaenist.id, Jakarta, - Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?