By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Demokrasi Bukan Dagangan Elite: GMNI Situbondo Tolak Tegas Pilkada oleh DPRD
Dokumen Rahasia Amerika: AS Mengetahui Skala Pembantaian Tragedi 1965
Kendalikan Hama Belalang dengan Ayam: Kebijakan Kemandirian Pangan Ibrahim Traoré di Burkina Faso
Sukarno dan Analisis Anti-Kolonialnya yang tidak Rasis
Ibrahim Traoré, Pan-Afrikanisme dan Langkah-Langkahnya untuk Kedaulatan Afrika

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Demokrasi Bukan Hadiah Elite, Tetapi Hak Rakyat

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Jumat, 9 Januari 2026 | 01:03 WIB
Bagikan
Waktu Baca 4 Menit
Foto: Moh. Fadli D. Lahalik, Ketua DPC PA GMNI Touna (Dokpri)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Pemilihan Kepala Daerah bukan sekadar persoalan teknis elektoral, melainkan merupakan bagian dari perjuangan ideologis tentang siapa yang sesungguhnya memegang kedaulatan dalam negara, rakyat atau elite.

Dalam perspektif Marhaenisme, demokrasi tidak boleh direduksi menjadi prosedur formal semata, tetapi harus menjadi alat pembebasan kaum marhaen dari penindasan struktural, eksploitasi, dan dominasi elite kekuasaan.

Wacana pemilihan kepala daerah oleh DPR atau DPRD harus dikaji secara kritis dalam kerangka ini. Jika mekanisme tersebut justru menjauhkan rakyat dari proses pengambilan keputusan politik, maka ia bertentangan dengan semangat demokrasi kerakyatan yang diperjuangkan Bung Karno.

Demokrasi bukan hanya tentang efisiensi, melainkan tentang partisipasi, kesadaran politik, dan kedaulatan rakyat atas nasibnya sendiri. Wacana pemilihan kepala daerah oleh DPR sering dibungkus dengan alasan efisiensi, stabilitas, dan penghematan anggaran. Namun, di balik retorika tersebut, terdapat persoalan mendasar, apakah negara sedang berusaha memperbaiki demokrasi, atau justru mundur darinya?

Pemilihan oleh DPR secara faktual akan memangkas keterlibatan rakyat dalam proses politik. Rakyat tidak lagi memilih pemimpinnya sendiri, melainkan hanya menyaksikan elite saling bernegosiasi di ruang tertutup. Ini bukan kemajuan, melainkan kemunduran demokrasi. Ini bukan reformasi, melainkan restorasi kekuasaan elite. Kaum tani, nelayan, buruh, dan rakyat kecil bukanlah objek pembangunan, melainkan subjek sejarah.

Mereka harus memiliki ruang untuk menentukan pemimpinnya sendiri. Ketika hak ini dicabut dan dialihkan kepada segelintir elite di parlemen, maka yang terjadi bukanlah demokrasi, melainkan delegasi kekuasaan yang rawan disusupi kepentingan oligarki.

Pemilihan oleh DPR berpotensi memperkuat politik transaksional, di mana jabatan kepala daerah menjadi komoditas yang dipertukarkan melalui kompromi kepentingan, bukan melalui mandat rakyat. Dalam sistem seperti ini, kepala daerah akan lebih loyal kepada partai dan elite politik dibandingkan kepada rakyat yang seharusnya mereka layani. Ini adalah bentuk baru dari kolonialisme politik. kekuasaan dikuasai segelintir orang, sementara rakyat hanya menjadi penonton.

Baca Juga:   Menumbuhkan Nilai-nilai Pancasila di Era Digitalisasi

Dalih bahwa rakyat “mudah terprovokasi” atau “belum dewasa secara politik” adalah bentuk penghinaan terhadap kedaulatan rakyat itu sendiri. Jika demokrasi dianggap merepotkan, maka yang harus diperbaiki adalah sistemnya, bukan dengan mengurangi hak rakyat. Negara seharusnya mendidik, bukan menggantikan suara rakyat.

Bagi GMNI, demokrasi sejati adalah demokrasi yang membebaskan, bukan demokrasi yang menjinakkan. Pemimpin daerah harus lahir dari kehendak rakyat, bukan dari ruang-ruang negosiasi elite. Jika negara sungguh-sungguh berpihak pada kaum marhaen, maka ia harus memperluas ruang partisipasi rakyat, bukan mempersempitnya. Lebih berbahaya lagi, pemilihan oleh DPR membuka ruang besar bagi transaksi politik.

Lobi, deal-deal kekuasaan, kompromi kepentingan, dan praktik politik uang justru akan semakin sulit diawasi publik. Jika Pilkada langsung saja masih rawan korupsi, maka bagaimana dengan sistem yang berlangsung tanpa pengawasan rakyat?, pemimpin yang lahir dari transaksi elite tidak akan pernah benar-benar berpihak kepada rakyat. Ia akan tunduk pada kepentingan partai, pemodal, dan jaringan kekuasaan yang melahirkannya. Dalam sistem ini, rakyat hanya menjadi angka statistik, bukan pemilik kedaulatan.

Pemilihan langsung bukan sistem yang sempurna, tetapi ia memberi ruang bagi rakyat untuk belajar, bersuara, dan berdaulat. Tugas kita bukan menghapus peran rakyat, melainkan memperbaiki kualitas demokrasi itu sendiri, memberantas politik uang, memperkuat pendidikan politik, dan melawan dominasi oligarki.

Demokrasi bukanlah beban, melainkan jalan perjuangan. Demokrasi memang mahal, rumit, dan sering kacau. Tapi sejarah membuktikan bahwa kekuasaan yang tidak dikontrol rakyat akan selalu berubah menjadi tirani. Jika hari ini rakyat dihilangkan dari Pilkada, maka besok bisa jadi hak politik lainnya juga akan dikurangi atas nama “efisiensi”.

Demokrasi bukan sekadar metode memilih pemimpin. Ia adalah perlawanan terhadap dominasi elite, alat kontrol terhadap kekuasaan, dan sarana rakyat mempertahankan martabatnya. Ketika hak memilih dirampas, maka yang dirampas bukan hanya suara, tetapi juga harga diri politik rakyat.***

Baca Juga:   UKM (Usaha Kok Merugi)

Penulis: Moh. Fadli D. Lahalik, Ketua DPC PA GMNI Touna.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print

ARTIKEL TERBARU

Demokrasi Bukan Dagangan Elite: GMNI Situbondo Tolak Tegas Pilkada oleh DPRD
Selasa, 13 Januari 2026 | 12:57 WIB
Dokumen Rahasia Amerika: AS Mengetahui Skala Pembantaian Tragedi 1965
Selasa, 13 Januari 2026 | 10:42 WIB
Foto: Ibrahim Traore, Presiden Burkina Faso (Sumber: Inilah.com)/MARHAENIST.
Kendalikan Hama Belalang dengan Ayam: Kebijakan Kemandirian Pangan Ibrahim Traoré di Burkina Faso
Senin, 12 Januari 2026 | 19:19 WIB
Sukarno dan Analisis Anti-Kolonialnya yang tidak Rasis
Senin, 12 Januari 2026 | 15:03 WIB
Foto: Ibrahim Traore, Presiden Burkina Faso (Sumber: Inilah.com)/MARHAENIST.
Ibrahim Traoré, Pan-Afrikanisme dan Langkah-Langkahnya untuk Kedaulatan Afrika
Senin, 12 Januari 2026 | 15:02 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

Kolam Koalisi dalam Sistem Pemerintahan di Indonesia Saat ini

Marhaenist.id - Mendengar kata koalisi mungkin tidak asing bagi para elit politik,…

Lagi Viral, Tren Pengibaran Bendera One Piece adalah Simbol Keresahan Rakyat terdahap Pemerintah

Marhaenist.id - Menjelang peringatan HUT ke-80 Republik Indonesia, media sosial diramaikan oleh…

Pesan Bung Karno Pada GMNI: Revolusi Adalah Menjebol dan Membangun!

Marhaenist.id - Bagi Bung Karno, semangat mengabdi kepada bangsa dan tanah air,…

Jokowi Contoh Teladan Bapak Nepotisme

Marhaenist.id, Jakarta- Pengamat politik, Eep Saefullah Fatah dalam video terbaru, secara terang-terangan…

Resmikan Sekretariat Gotong-Royong GMNI Banyuwangi, Rifqi Nuril Huda: Ini Siap Jadi Pusat Penguatan Intelektual Kader

Marhaenist.id, Banyuwangi - Sekretariat Gotong Royong Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Banyuwangi di…

GMNI UHT Surabaya: Mispersepsi Pemerintah Soal “Bendera One Piece”

Marhaenist.id, Surabaya - Beberapa kesempatan terakhir, Indonesia melalui media sosialnya digemparkan dengan…

Perajin membersihkan kedelai di salah satu rumah industri di Jakarta, Kamis (6/10). Ketua Umum Gabungan Koperasi Produsen Tahu dan Tempe Indonesia (Gakopindo) Aip Syarifuddin mengatakan kenaikan harga kedelai impor satu bulan terakhir rata-rata berada di kisaran Rp6.900 - Rp7.000 per kilogram di tingkat koperasi yang sebelumnya Rp6.300 - Rp6.500 sedangkan harga di pasaran lebih tinggi yakni Rp10.597 per kilogramnya. ANTARA FOTO/M Agung Rajasa/pras/16.

Pemerintah Berikan Subsidi Kedelai Rp1.000 Hingga Akhir Tahun

Marhaenist - Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang program subsidi kedelai sebesar Rp1.000 per…

Peristiwa Cikini: Upaya Pembunuhan Terhadap Presiden Soekarno

Marhaenist.id - Pada tanggal 30 November 1957 terjadi upaya pembunuhan terhadap Presiden…

Kader GMNI Jombang Inisiasi Program Krupuk Ikan Jendhil

Marhaenist.id - Cepu, Blora - Dalam rangka melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN)…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format

Vivere Pericoloso

🎧 Online Radio

Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?