By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Kehilangan yang Tidak Disadari: Suku Terasing di Ambang Lenyap
Dirgahayu GMNI ke-72, Heri Pudyatmoko Serukan Penguatan Marhaenisme dan Persatuan
Memperkuat Demokrasi di Tengah Badai Digital: Tanggapan Kritis atas Buku “Bawaslu di Tengah Era Big Data”
Dies Natalis Ke 72, GMNI Jaktim Serukan Tetaplah di Garis Marhaen meski berada di Persimpangan Jalan antara Idealisme dan Realistis
Konflik Geopolitik dalam Perspektif Marhaen antara Perebutan Kuasa Global dan Nasib Rakyat Kecil

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Dampak Perang terhadap Lingkungan

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Selasa, 17 Maret 2026 | 09:05 WIB
Bagikan
Waktu Baca 4 Menit
Foto: Ilustrasi Perang Amerika-Israel vs Iran (Sumber: IA)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist id – Perang bukan sekadar pertempuran antar tentara. Ia adalah mesin penghancur lingkungan terbesar yang pernah diciptakan manusia. Setiap peluru, setiap bom, setiap tank yang melaju, meninggalkan luka permanen di bumi. Di Ukraina, misalnya, jutaan hektar lahan subur berubah menjadi gurun beracun karena ranjau dan bahan peledak.

Di Gaza, air tanah yang sudah langka kini tercemar oleh bahan kimia senjata. Di Myanmar atau Sudan, hutan-hutan yang menjadi paru-paru kawasan lenyap dalam sekejap demi “jalan strategi militer”.

Data PBB sudah berulang kali menyatakan: perang menyumbang hingga 5-6% emisi karbon global setiap tahun—lebih besar dari seluruh industri penerbangan sipil dunia. Tapi siapa yang membayar tagihannya? Bukan presiden atau jenderal di istana, melainkan rakyat kecil yang kehilangan air bersih, tanah subur, dan udara yang bisa dihirup tanpa batuk darah.

Kita sering mendengar klaim “perang demi keamanan nasional”. Tapi mari kita jujur, perang selalu dimulai oleh segelintir orang yang haus kekuasaan dan sumber daya. Mereka yang duduk di ruang rapat mewah, jauh dari ledakan, yang memutuskan “kita harus menang”.

Sementara rakyat yang tinggal di desa-desa pinggiran harus menghadapi kenyataan: sungai yang dulu jernih kini berwarna hitam karena tumpahan minyak dari tank yang terbakar; hutan yang dulu memberi kayu bakar dan obat-obatan kini menjadi medan ranjau; hewan-hewan liar yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat adat punah dalam semalam.

Anak-anak lahir dengan cacat karena ibu mereka menghirup debu uranium yang tersebar. Ibu-ibu kehilangan bayi karena air yang tercemar. Petani kehilangan mata pencaharian karena tanah tak lagi bisa ditanami selama puluhan tahun. Inilah yang disebut “dampak kolateral”, istilah dingin yang menyembunyikan penderitaan jutaan rakyat tak berdosa.

Baca Juga:   Inisiatif Kebijakan Impor Garam dan Gula

Yang lebih ironis, perang justru mempercepat krisis iklim yang sudah mengancam kita semua. Bom yang meledak melepaskan gas rumah kaca dalam jumlah masif. Pembakaran hutan untuk “membuka jalur” militer melepas karbon yang seharusnya diserap pohon. Sementara itu, negara-negara kaya yang memasok senjata terus berbicara soal “green transition” di forum-forum internasional.

Mereka menjual jet tempur dan rudal sambil pura-pura peduli lingkungan. Padahal, setiap dolar yang dihabiskan untuk perang adalah dolar yang dicuri dari dana reboisasi, dari program air bersih, dari perlindungan satwa. Rakyat yang paling miskin: petani, nelayan, masyarakat adat, yang paling dulu merasakan akibatnya: gagal panen, banjir bandang karena hutan hilang, ikan mati karena laut tercemar.

Kita, rakyat biasa, bukan pion dalam permainan geopolitik. Kita adalah korban utama. Saat pemimpin dunia saling tuding dan mengirimkan senjata, yang mati bukanlah mereka. Yang mati adalah anak-anak yang tak sempat belajar karena sekolahnya menjadi reruntuhan beracun.

Yang menderita adalah ibu-ibu yang tak lagi bisa memberi ASI karena tubuhnya penuh racun. Yang kehilangan masa depan adalah generasi muda yang harus menghirup udara beracun dan minum air yang sudah tak layak.

Sudah saatnya kita berhenti melihat perang sebagai “keniscayaan sejarah”. Perang adalah pilihan. Pilihan segelintir elite yang mengorbankan bumi dan rakyat demi ambisi mereka. Jika kita benar-benar mencintai lingkungan, kita harus menolak perang dengan tegas, bukan hanya dengan poster di jalan, tapi dengan menuntut akuntabilitas: siapa yang memulai, siapa yang memasok senjata, dan siapa yang harus bertanggung jawab membersihkan racun yang mereka tinggalkan.

Lingkungan bukan milik negara atau militer. Lingkungan adalah rumah kita bersama. Saat rumah itu dibakar demi “kepentingan nasional”, yang kehilangan bukanlah para jenderal, melainkan kita, rakyat yang setiap hari berjuang hanya untuk bertahan hidup. Sudah cukup.

Baca Juga:   Feodalisme Digital dalam Ekonomi Creator: Membaca Ulang Generasi Emas 2045 dari Kacamata Marhaenisme

Hentikan perang. Lindungi bumi. Kembalikan hak hidup kepada rakyat. Karena tanpa lingkungan yang sehat, tak ada kemenangan yang berarti, hanya puing-puing dan air mata yang tak pernah kering.***


Penulis: Samuel Adrian Sihombing, Kader GMNI Medan sekaligus Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Katolik Santo Thomas Meda.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Kehilangan yang Tidak Disadari: Suku Terasing di Ambang Lenyap
Rabu, 25 Maret 2026 | 09:44 WIB
Dirgahayu GMNI ke-72, Heri Pudyatmoko Serukan Penguatan Marhaenisme dan Persatuan
Selasa, 24 Maret 2026 | 09:31 WIB
Memperkuat Demokrasi di Tengah Badai Digital: Tanggapan Kritis atas Buku “Bawaslu di Tengah Era Big Data”
Senin, 23 Maret 2026 | 14:20 WIB
Dies Natalis Ke 72, GMNI Jaktim Serukan Tetaplah di Garis Marhaen meski berada di Persimpangan Jalan antara Idealisme dan Realistis
Senin, 23 Maret 2026 | 10:30 WIB
Konflik Geopolitik dalam Perspektif Marhaen antara Perebutan Kuasa Global dan Nasib Rakyat Kecil
Jumat, 20 Maret 2026 | 16:53 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

Pulang Sekolah, Almira Ajak Ibunya ke Acara Ganjar; Mau Foto

Marhaenist.id, Jakarta – Hari Senin (5/2/2024), mungkin menjadi hari yang tak terlupakan…

Jalan Rusak Loloda Utara Kembali Telan Korban, GMNI Halut Desak Pemprov dan Pemkab Bertanggung Jawab

Marhaenist.id, Halut — Sukacita Natal berubah menjadi duka mendalam bagi masyarakat Loloda…

Kritik Blok Masela, DPP GMNI: Tolak Groundbreaking, Tuntaskan Tuntutan Rakyat

Marhaenist.id, Jakarta - Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Kritik Pernyataan Imanuel, Eksponen GMNI: Ada Pelecehan Demokrasi yang Ditutupi Demi Memenangkan Pilpres

Marhaenist.id, Jakarta - Eksponen Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) menyayangkan pernyataan Imanuel…

Perhitungan Suara Telah Usai, Ahmad Safei dan PDIP Sultra Amankan 1 Kursi DPR RI

Marhaenist.id, Kendari - Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) telah mengamankan satu kursi Dewan…

GMNI Jakarta Selatan Serukan Aksi Solidaritas untuk Laras Faizati dan Aktivis yang Dikriminalisasi

Marhaenist.id, Jakarta — Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Menuju Jalan Rekonsoliasi Nasional, Ketum Terpilih Kongres GMNI Bandung dan Kubu Arjuna – Dendy Sepakat Menyulam Persatuan

Marhaenist.id, Jakarta – Di tengah riuh dinamika pasca Kongres Gerakan Mahasiswa Nasional…

Gelar Diskusi Publik, GMNI Jaksel: Ada Bayang-Bayang Otoritarianisme dalam Wacana Pilkada Tidak Langsung

Marhaenist.id, Jakarta - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Peringati Dies Natalis Ke 70, DPK GMNI STAI YPIQ Baubau Gelar Diskusi Publik dalam Menyambut PILKADA Serentak 2024

Marhaenist.id, Baubau - Dewan Pengurus Komisariat (DPK) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?