
Marhaenist id – Perang bukan sekadar pertempuran antar tentara. Ia adalah mesin penghancur lingkungan terbesar yang pernah diciptakan manusia. Setiap peluru, setiap bom, setiap tank yang melaju, meninggalkan luka permanen di bumi. Di Ukraina, misalnya, jutaan hektar lahan subur berubah menjadi gurun beracun karena ranjau dan bahan peledak.
Di Gaza, air tanah yang sudah langka kini tercemar oleh bahan kimia senjata. Di Myanmar atau Sudan, hutan-hutan yang menjadi paru-paru kawasan lenyap dalam sekejap demi “jalan strategi militer”.
Data PBB sudah berulang kali menyatakan: perang menyumbang hingga 5-6% emisi karbon global setiap tahun—lebih besar dari seluruh industri penerbangan sipil dunia. Tapi siapa yang membayar tagihannya? Bukan presiden atau jenderal di istana, melainkan rakyat kecil yang kehilangan air bersih, tanah subur, dan udara yang bisa dihirup tanpa batuk darah.
Kita sering mendengar klaim “perang demi keamanan nasional”. Tapi mari kita jujur, perang selalu dimulai oleh segelintir orang yang haus kekuasaan dan sumber daya. Mereka yang duduk di ruang rapat mewah, jauh dari ledakan, yang memutuskan “kita harus menang”.
Sementara rakyat yang tinggal di desa-desa pinggiran harus menghadapi kenyataan: sungai yang dulu jernih kini berwarna hitam karena tumpahan minyak dari tank yang terbakar; hutan yang dulu memberi kayu bakar dan obat-obatan kini menjadi medan ranjau; hewan-hewan liar yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat adat punah dalam semalam.
Anak-anak lahir dengan cacat karena ibu mereka menghirup debu uranium yang tersebar. Ibu-ibu kehilangan bayi karena air yang tercemar. Petani kehilangan mata pencaharian karena tanah tak lagi bisa ditanami selama puluhan tahun. Inilah yang disebut “dampak kolateral”, istilah dingin yang menyembunyikan penderitaan jutaan rakyat tak berdosa.
Yang lebih ironis, perang justru mempercepat krisis iklim yang sudah mengancam kita semua. Bom yang meledak melepaskan gas rumah kaca dalam jumlah masif. Pembakaran hutan untuk “membuka jalur” militer melepas karbon yang seharusnya diserap pohon. Sementara itu, negara-negara kaya yang memasok senjata terus berbicara soal “green transition” di forum-forum internasional.
Mereka menjual jet tempur dan rudal sambil pura-pura peduli lingkungan. Padahal, setiap dolar yang dihabiskan untuk perang adalah dolar yang dicuri dari dana reboisasi, dari program air bersih, dari perlindungan satwa. Rakyat yang paling miskin: petani, nelayan, masyarakat adat, yang paling dulu merasakan akibatnya: gagal panen, banjir bandang karena hutan hilang, ikan mati karena laut tercemar.
Kita, rakyat biasa, bukan pion dalam permainan geopolitik. Kita adalah korban utama. Saat pemimpin dunia saling tuding dan mengirimkan senjata, yang mati bukanlah mereka. Yang mati adalah anak-anak yang tak sempat belajar karena sekolahnya menjadi reruntuhan beracun.
Yang menderita adalah ibu-ibu yang tak lagi bisa memberi ASI karena tubuhnya penuh racun. Yang kehilangan masa depan adalah generasi muda yang harus menghirup udara beracun dan minum air yang sudah tak layak.
Sudah saatnya kita berhenti melihat perang sebagai “keniscayaan sejarah”. Perang adalah pilihan. Pilihan segelintir elite yang mengorbankan bumi dan rakyat demi ambisi mereka. Jika kita benar-benar mencintai lingkungan, kita harus menolak perang dengan tegas, bukan hanya dengan poster di jalan, tapi dengan menuntut akuntabilitas: siapa yang memulai, siapa yang memasok senjata, dan siapa yang harus bertanggung jawab membersihkan racun yang mereka tinggalkan.
Lingkungan bukan milik negara atau militer. Lingkungan adalah rumah kita bersama. Saat rumah itu dibakar demi “kepentingan nasional”, yang kehilangan bukanlah para jenderal, melainkan kita, rakyat yang setiap hari berjuang hanya untuk bertahan hidup. Sudah cukup.
Hentikan perang. Lindungi bumi. Kembalikan hak hidup kepada rakyat. Karena tanpa lingkungan yang sehat, tak ada kemenangan yang berarti, hanya puing-puing dan air mata yang tak pernah kering.***
Penulis: Samuel Adrian Sihombing, Kader GMNI Medan sekaligus Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Katolik Santo Thomas Meda.