By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Kasus Anak PRT Benhil, Institut Sarinah: Indikasi Kelalaian Serius Aparat, Kompolnas Harus Turun
Tamansiswa: Membangun Pedagogi Indonesia
Negeri Kaya, Buruh Sengsara: Saat Negara Menjadi Pelayan Modal
Aliansi PERISAI Tegaskan “MayDay Bukan Pesta”, Serukan Aksi Nasional di Berbagai Daerah
Mahasiswa Apatis, Ketua DPK GMNI STIE Indonesia Jakarta Soroti Sikap Individualis dan Pentingnya Kesadaran Kolektif

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Polithinking

Bahlil Lahadalia dan Reorientasi Ideologis Golkar: Mengembalikan Partai Karya ke Akar Marhaenisme Soekarno

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Selasa, 20 Januari 2026 | 08:47 WIB
Bagikan
Waktu Baca 4 Menit
Player Publikasi Golkar Marhaen Indonesia (Dokpri GMI)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Indonesia tidak dibangun oleh satu golongan, apalagi satu elite. Sejarah Republik menunjukkan bahwa bangsa ini dilahirkan melalui kerja bersama berbagai kekuatan fungsional, petani, buruh, nelayan, ulama, tentara, teknokrat, dan kaum terdidik, sebagaimana dirumuskan Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, dalam gagasan kebangsaannya.

Dalam kerangka tersebut, Bung Karno memandang partai politik bukan semata instrumen elektoral, melainkan alat konsolidasi sosial rakyat. Partai, bagi Soekarno, harus berpijak pada realitas kerja dan produksi bangsa, bukan sekadar kontestasi elite yang terputus dari kehidupan rakyat sehari-hari.

Pandangan inilah yang kembali menjadi rujukan dalam membaca arah transformasi Partai Golkar, terutama dengan munculnya Bahlil Lahadalia sebagai figur yang kerap diposisikan sebagai simbol perubahan orientasi ideologis partai.

Soekarno secara terbuka mengkritik demokrasi liberal yang menurutnya melahirkan fragmentasi politik dan konflik antar-elite. Ia menggagas Demokrasi Terpimpin, sebuah sistem yang menempatkan rakyat sebagai kekuatan produktif dan disatukan berdasarkan fungsi serta karya, bukan sekadar identitas ideologis.

Dari pemikiran tersebut lahirlah *Sekretariat Bersama Golongan Karya (Sekber Golkar)*, yang dirancang sebagai wadah kekuatan fungsional bangsa. Golkar, dalam konsepsi awalnya, bukan partai ideologis sempit, melainkan organisasi karya nasional sebuah kanal politik bagi mereka yang bekerja dan memproduksi bagi negara.

Soekarno menyebut Marhaen sebagai rakyat yang bukan miskin karena kodrat, melainkan karena struktur yang tidak adil. Dalam konteks ini, Marhaenisme bukanlah ideologi ekstrem, melainkan kritik terhadap sistem ekonomi-politik yang menjauhkan rakyat dari akses produksi dan kesejahteraan.

Golkar Marhaen Indonesia membaca Marhaenisme sebagai fondasi etik kebijakan: keberpihakan pada ekonomi rakyat, penguatan pelaku usaha kecil dan menengah, serta penegasan peran negara dalam melindungi rakyat produktif dari ketimpangan struktural.

Baca Juga:   Novel Baswedan: Tidak Ada Bukti Ganjar Terlibat Kasus e-KTP

Dalam lanskap politik kontemporer, Bahlil Lahadalia kerap dipandang sebagai representasi transformasi Golkar ke arah yang lebih membumi. Bukan semata karena posisi strukturalnya dalam kepemimpinan partai besar, melainkan karena narasi sosial dan ekonomi yang ia artikulasikan secara konsisten di ruang publik.

Latar belakang Bahlil yang tumbuh dari lingkungan rakyat kecil, serta penekanannya pada penguatan ekonomi daerah, pelaku usaha nasional, dan pemerataan pembangunan, dibaca sebagai upaya menerjemahkan Marhaenisme ke dalam bahasa kebijakan modern. Dalam konteks ini, Bahlil tidak diposisikan sebagai figur personalistik, melainkan sebagai simbol arah baru Golkar: partai yang berupaya kembali pada watak karya dan fungsi sosialnya.

Soekarno memandang Indonesia sebagai bangsa maritim–kontinental dengan posisi geopolitik strategis. Pandangan tersebut kini dirumuskan sebagai Budaya Geopolitik Nusantara, yakni cara berpikir kebangsaan yang bertumpu pada kedaulatan, kemandirian, dan kekuatan rakyat.

Dalam kerangka ini, Golkar Marhaen Indonesia menekankan bahwa pembangunan nasional harus berpijak pada kepentingan rakyat dan budaya lokal, serta memastikan bahwa integrasi Indonesia ke dalam ekonomi global tidak mengorbankan kedaulatan nasional.

Soekarno tidak pernah membayangkan negara yang lemah. Namun ia juga menolak negara yang kuat tetapi terlepas dari kontrol dan kepentingan rakyat. Prinsip inilah yang menjadi garis ideologis Golkar Marhaen Indonesia: negara yang kuat secara politik dan pertahanan, ekonomi nasional yang mandiri, serta rakyat yang berdaulat sebagai subjek pembangunan.

Sebagai transformasi politik dari Sekber Golkar, Partai Golkar berada di persimpangan sejarah antara pragmatisme kekuasaan dan penguatan kembali identitas ideologisnya sebagai partai karya. Dalam konteks ini, figur seperti Bahlil Lahadalia dipandang sebagai penanda arah, bahwa Golkar tengah mencari kembali relevansinya di tengah perubahan sosial dan tuntutan keadilan ekonomi.

Baca Juga:   Puan Minta Pemerintah Bantu Petani Yang Gagal Panen

Golkar Marhaen Indonesia menegaskan bahwa masa depan Golkar tidak ditentukan oleh nostalgia kekuasaan, melainkan oleh kemampuannya membaca kembali akar ideologisnya: kerja, fungsi, dan keberpihakan pada rakyat produktif.

Dalam kerangka itu, Bahlil Lahadalia ditempatkan sebagai ikon transformasi ideologis, bukan kultus personal, sebuah representasi dari upaya Golkar untuk kembali menjadi partai yang bekerja bersama rakyat, bukan sekadar berbicara atas nama mereka.

Soekarno menanam. Marhaen menumbuhkan. Golkar menjaga Nusantara.***


Penulis: Kemas Fadli Safari, Salah Satu Penggerak Golkar Marhaen Indonesia.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Kasus Anak PRT Benhil, Institut Sarinah: Indikasi Kelalaian Serius Aparat, Kompolnas Harus Turun
Jumat, 1 Mei 2026 | 10:29 WIB
Tamansiswa: Membangun Pedagogi Indonesia
Kamis, 30 April 2026 | 21:47 WIB
Negeri Kaya, Buruh Sengsara: Saat Negara Menjadi Pelayan Modal
Kamis, 30 April 2026 | 19:07 WIB
Aliansi PERISAI Tegaskan “MayDay Bukan Pesta”, Serukan Aksi Nasional di Berbagai Daerah
Kamis, 30 April 2026 | 18:56 WIB
Mahasiswa Apatis, Ketua DPK GMNI STIE Indonesia Jakarta Soroti Sikap Individualis dan Pentingnya Kesadaran Kolektif
Kamis, 30 April 2026 | 16:59 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
Tirani yang Tersenyum dalam Bayang Kiamat Epistemik: Evolusi Kekuasaan dari Orwellian ke Huxleyian – Part I
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

Rasio Manusia vs Rasio Algoritma: Negara Kafka dalam Rezim Algoritmik

Marhaenist.id - Kita sedang hidup dalam sebuah zaman yang dapat disebut sebagai…

Kesal Tak Ditemui Saat Aksi, GMNI dan OKP Se-Sulbar Segel Kantor Gubernur di HUT Sulbar

Marhaenist.id, Mamuju - Aliansi Mahasiswa dan (Organisasi Kepemudan) OKP Se - Sulawesi…

GMNI Soroti Penurunan Kuota KIP Kuliah dan LPDP 2023–2026: Alarm Darurat Akses Pendidikan Tinggi Nasional

Marhaenist.id, Jakarta — Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Keterhilangan Eksistensial: Dari Krisis Kesadaran hingga Kolonisasi Atensi

Marhaenist.id - (Pengantar) Krisis kesadaran yang muncul di era digital menemukan bentuk…

Geopolitik Konstitusi Indonesia: Membaca Warisan Marhaenisme Arief Hidayat

Marhaenist.id - Di tengah dunia yang semakin terfragmentasi oleh konflik geopolitik, perang…

Taufiq Kiemas dan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia

MARHAENIST - Palembang, siang hari yang terik, 19 Agustus 1960. Remaja yang…

DPC GMNI Jakarta Timur Audiensi dengan BAWASLU Jakarta Timur Bahas Penguatan Demokrasi Menuju Pemilu 2029

Marhaenist.id, Jakarta Timur – Dewan Pengurus Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Alumni GMNI Waingapu.

Mari Satukan Langkah dan Hentikan Kebiasaan Mewariskan Perpecahan di GMNI!!!

Marhaenist.id - Sebagai alumni GMNI, saya merasa terpanggil untuk menyampaikan kegelisahan ini.…

DPP GMNI: Indonesia Berpeluang Jadi Mediator Pasca Berakhirnya Perjanjian Nuklir AS–Rusia

Marhaenist.id, Jakarta  – Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?