By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Kehilangan yang Tidak Disadari: Suku Terasing di Ambang Lenyap
Dirgahayu GMNI ke-72, Heri Pudyatmoko Serukan Penguatan Marhaenisme dan Persatuan
Memperkuat Demokrasi di Tengah Badai Digital: Tanggapan Kritis atas Buku “Bawaslu di Tengah Era Big Data”
Dies Natalis Ke 72, GMNI Jaktim Serukan Tetaplah di Garis Marhaen meski berada di Persimpangan Jalan antara Idealisme dan Realistis
Konflik Geopolitik dalam Perspektif Marhaen antara Perebutan Kuasa Global dan Nasib Rakyat Kecil

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Sukarnoisme

Abdul Karim Qasim, Sang Jenderal Sosok Pengagum Bung Karno dari Babilonia

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Minggu, 15 Maret 2026 | 16:36 WIB
Bagikan
Waktu Baca 6 Menit
Foto: Presiden Soekarno didampingi Jenderal Qasim selama di Irak (Sumber: Arsip Nasional RI)/MARHAENIST
Bagikan

Marhaenist.id – Anda kenal Abdul Karim Qasim? Kemungkinan besar tidak. Dia adalah bagian dari sejarah Irak, yang ingin dikubur sejarah dunia. Dengan periode berkuasa yang sangat singkat dia telah membangkitkan periode politik progresif, anti-imperialisme, dan penekanan pada kemandirian nasional Irak.

Abdul Karim Qasim adalah Jenderal militer Irak yang meruntuhkan rezim monarki dan mendirikan Republik Irak modern melalui Revolusi 14 Juli 1958. Melalui aksi kudeta, ia mengakhiri kekuasaan tiga puluh tujuh tahun Hasyimiyah yang didukung Inggris. Rezim boneka Barat yang korup dan menyengsarakan rakyat.

Qasim berkuasa dari tahun 1958 sampai 1963 dengan menjabat sebagai Perdana Menteri. Hanya 5 tahun memang. Namun dia banyak melakukan perubahan besar di Irak. Begitu berkuasa, dia mengeluarkan UU reforma agraria.

Kepemilikan tanah didistribusikan sebesar-besarnya kepada para petani. Mereka yang memiliki kekuasaan tanpa batas di monarki Hasyimiyah dibabat habis. Pembagian hasil pertanian, 70% untuk petani penggarap, 30% untuk pemilik tanah.

Pendidikan berkembang pesat dimasanya. Anggaran pendidikannya dinaikkan hampir 100% dari anggaran sebelumnya. Dari kebijakannya yang paling menjengkelkan pihak asing adalah, ia menasionalisasi perusahaan-perusahaan asing, termasuk perusahaan minyak dengan mengambil alih 99,5% keuntungan.

Dengan keuntungan minyak itu, dia membangun perumahan gratis untuk jutaan rakyat Irak dan menggratiskan biaya pendidikan. Anak dari tukang kayu miskin ini menjadi ikon pemimpin yang mencintai rakyatnya. Poster-poster wajahnya ada disetiap rumah-rumah rakyat Irak sampai ke pelosok desa.

Kebijakan populisnya terkait kesetaraan gender jauh lebih radikal. Dia membawa Irak sebagai negara Arab modern pertama yang memberi hak politik pada kaum perempuan. Dia melarang poligami, melarang pernikahan perempuan di bawah umur dengan memberlakukan usia minimum untuk menikah dan memberlakukan UU yang melindungi perempuan dari perceraian sewenang-wenang. Kebijakannya yang paling revolusioner, dia memberikan perempuan hak yang sama dalam warisan. UU yang mendapat tantangan kuat dari alim ulama Irak.

Baca Juga:   Historical: Pidato Bung Karno Saat Hari Natal

Jenderal Qasim ini sangat mengagumi Soekarno. Bahkan dia mengaku, ide melakukan penggulingan monarki dan melakukan nasionalisasi besar-besaran untuk kesejahteraan rakyat justru dari spirit anti imperiliasme dan berdikari Soekarno. Dalam pidato-pidatonya dia sering menyebut Soekarno sebagai tokoh yang menginspirasi kebijakan-kebijakan politiknya.

Dia memperkenalkan kepada rakyatnya, Soekarno adalah pemimpin negara-negara Asia dan Afrika. Tahun 1960, dia mengundang Soekarno ke Irak. Soekarno disambut luar biasa. Rakyat Irak tumpah ruah di jalan-jalan. Sejarah Irak menuliskan, sampai detik ini tidak ada kepala negara asing yang disambut semeriah itu selain Soekarno.

Sebagaimana kebiasaannya membawa ole-oleh dari Indonesia, Soekarno membawa bibit ikan mas. Bibit ikan itu ditebarnya di sungai Tigris. Sungai yang menjadi ciri khas Mesopotamia. Rakyat Irak menamai ikan itu, ikan Soekarno. Sampai sekarang, di restoran-restoran Baghdad, ada menu ikan bakar, dengan nama menu Ikan Soekarno.

Di Babilonia, Presiden Soekarno disambut dengan nyanyian yang terkenal,
سوكارنو اهلاً بيك ……….. شعب العراق ايحييك
“Sukarno, selamat datang ………… rakyat Irak menyambutmu”.

Sayang Abdul Karim Qasim menurut para analis politik dan sejarawan tidak begitu cerdas berpolitik. Dia terlalu baik, meski kepada lawan-lawan politiknya. Dari 16 menterinya, 12 diantaranya dari partai Baath. Partai yang kemudian tahun 1963 melakukan kudeta berdarah dan menghabisi nyawanya. Dia ditembak secara brutal bersama pengawal-pengawalnya dan dikubur ditempat yang dirahasiakan.

CIA disebut-sebut berada di balik kudeta paling mengerikan tersebut. Qasim, yang cenderung kiri, tidak begitu disukai Barat; dan sudah diakui sejarah bahwa penggulingannya ditopang oleh Amerika dan Inggris. Para loyalis dan para pendukungnya dari kalangan rakyat biasa diburu dan dibunuh dengan tuduhan Komunis.

Sosoknya yang dicintai rakyat dikerdilkan dengan tuduhan komunis. Rakyat Irak dipaksa melupakan sosoknya dengan hantaman popor senjata. Begitu Saddam Husain berkuasa, kebenciannya juga dia lampiaskan ke Syiah, mazhab yang dianut Abdul Karim Qasim. Warga Syiah Irak menjadi bulan-bulanan, karena ketakutan Saddam, kekuatan politik Syiah kembali bangkit.

Baca Juga:   Sukarno: Islam Harus Berjuang Mengalahkan Kekolotan

Baru ketika Saddam dan kekuasaan Partai Baath runtuh, kerinduan dan kecintaan rakyat padanya kembali bisa diluapkan. Kuburannya ditemukan tahun 2005. Khaled Rahal pematung terkenal Irak membuatkan patung Qasim dan menjulang di jalan al-Rasheed di Baghdad.

Di monumen tersebut tertulis syair yang ditulis Fadhel Mohammed al-Bayati berjudul “Monumen untuk Mengenang Revolusi Agung 14 Juli”

Begini terjemahan syairnya:

“Ini adalah 14 Juli yang abadi.

Lompatan besar dan mempesona prajurit yang membanggakan, mewujudkan kekuatan penyelamat dan pemimpin revolusioner yang memberontak demi rakyat, otot-ototnya tegang, tinjunya menghancurkan jeruji penjara ke segala arah.

Tubuhnya telah meledak keluar dari barisan rakyat seperti ledakan, dan tangan yang memegang senjata diperkuat dengan tangan-tangan rakyat.

Ini adalah awal Revolusi yang mengakhiri sejarah tragedi dan menerjemahkan kekuatan rakyat Irak menjadi energi konstruktif.

Piringan di atas adalah matahari, cahaya setelah kegelapan. Ini adalah salah satu simbol tertua Irak. Di sini [di Mesopotamia kuno] matahari pertama kali terbit untuk menerangi dunia, dan di sini matahari Revolusi pertama kali terbit, dipimpin oleh prajuritnya yang tak kenal takut [Abdul Karim Qasim].

Dengan kakinya prajurit itu menginjak-injak perisai yang melambangkan kejahatan. Ini adalah perisai yang melindungi semua pemerintahan tirani dan korup.”

Selamat jalan Jenderal revolusioner. Jasadmu bisa dimusnahkan neoimperialisme, sebagaimana Soekarno yang kau kagumi, tapi ingatan rakyat tentangmu tidak.***


Sumber: Arsip Nasional RI.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Kehilangan yang Tidak Disadari: Suku Terasing di Ambang Lenyap
Rabu, 25 Maret 2026 | 09:44 WIB
Dirgahayu GMNI ke-72, Heri Pudyatmoko Serukan Penguatan Marhaenisme dan Persatuan
Selasa, 24 Maret 2026 | 09:31 WIB
Memperkuat Demokrasi di Tengah Badai Digital: Tanggapan Kritis atas Buku “Bawaslu di Tengah Era Big Data”
Senin, 23 Maret 2026 | 14:20 WIB
Dies Natalis Ke 72, GMNI Jaktim Serukan Tetaplah di Garis Marhaen meski berada di Persimpangan Jalan antara Idealisme dan Realistis
Senin, 23 Maret 2026 | 10:30 WIB
Konflik Geopolitik dalam Perspektif Marhaen antara Perebutan Kuasa Global dan Nasib Rakyat Kecil
Jumat, 20 Maret 2026 | 16:53 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

DPC GMNI Jakarta Timur: Kawasan Industri Pulogadung Diduga Jadi Penyumbang Polusi Udara di DKI Jakarta

Marhaenist.id, Jakarta Timur – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia…

Bung Karno Bukanlah Komunisme!

Marhaenist.id - Sukarno itu Marxis sejati tetapi bukanlah komunis sama sekali, karena…

Pasang Surut Semangat Kartini dalam Gerakan Emansipasi Perempuan era Modern

Marhaenist.id - Perempuan, seringkali dianggap sebagai orang kedua atau pelengkap peran daripada laki-laki.…

Hendak Gelar Mimbar Rakyat Didepan Kementerian dan Stakeholder, GMNI Tangerang Dijegal Preman dan Aparat Keamanan

Marhaenist.id, Tanggerang - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Indonesia (GMNI) Kabupaten…

GMNI, Marhaen, dan Kebangkitan yang tak Kunjung Datang

Marhaenist.id - Di tengah negeri yang tenggelam dalam lumpur korupsi, oligarki ekonomi,…

GMNI Mendorong KPK untuk Melakukan Pendalaman Kasus Gratifikasi yang Melibatkan Bupati PPU

Marhaenist.id, Penajam Paser Utara – Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia Penajam Paser Utara…

DPC GMNI Palopo Selenggarakan Pelantikan dan Dialog Demokrasi

MARHAENIST - Pengurus Dewan Pimpinan Cabang Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Palopo,…

Materialisme Dialektis dan Historis

Marhaenist.id - Materialisme dialektis adalah pandangan dunia partai Marxis-Leninis. Disebut materialisme dialektis karena…

Ekonomi Negara Sedang Dalam Keadaan Tidak Baik-Baik Saja

Marhaenist - Sejumlah data terbaru menunjukkan perekonomian domestik sedang tidak berada dalam…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?