By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Prof. Arief Hidayat: Perjanjian Dagang RI–AS Jadi Ujian Konstitusi dan Politik Luar Negeri Bebas Aktif
DPP GMNI Desak Pengusutan Terbuka Dugaan Kekerasan Oknum Brimob di Kota Tual yang Tewaskan Anak 14 Tahun
Selamat Datang di “AI New Normal”
Kader GMNI Kota Palu Desak Transparansi Penanganan Kasus Dugaan Kekerasan Aparat di Tual
Antara Dapur MBG dan Nyawa di Kota Tual: GMNI Jakarta Timur Dukung Penuh Kapolri Jadi Petani!

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Kabar Alumni GMNI

Ketum PA GMNI: Transisi Demokrasi Tak Boleh Set Back ke Era Sebelum Reformasi

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Sabtu, 3 Februari 2024 | 13:37 WIB
Bagikan
Waktu Baca 4 Menit
Foto: Arief Hidayat, Ketua Umum DPP PA GMNI saat memberikan sambutannya dalam acara perayaan Hari Natal DPP PA GMNI, di Gedung TVRI, Jakarta Pusat, Selasa (30/1/2024)/Marhaenist.id.
Bagikan

Marhaenist.id, Jakarta – Ketua Umum DPP Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (PA GMNI) Prof Arief Hidayat mengingatkan soal adanya time cyclus atau waktu siklus 20-30 tahunan yang akan selalu dialami Indonesia.

Menurut Arief, waktu siklus yang terjadi 20-30 tahunan ini, selalu menjadi peristiwa maupun tonggak sejarah penting bagi perjalanan bangsa ini.

“Saya mempunyai analisis, di Indonesia ini ada yang namanya time siklus 20-30 tahunan. Time siklus itu dimulai dari tahun 1908, sejak munculnya politik tanam paksa (abab 19), setelah bangsa yang hidup di Nusantara ini kemudian melahirkan kebijakan yang disebut dengan politik etis,” kata Arief saat memberikan sambutannya dalam acara perayaan Hari Natal DPP PA GMNI, di Gedung TVRI, Jakarta Pusat, Selasa (30/1/2024).

Ketika itu, sambung Arief, politik etis melahirkan sekolah-sekolah pada zaman Hindia Belanda pada awal abad ke 20. Dari politik etis ini, kemudian memunculkan cerdik pandai dari kaum pribumi.

“Tapi hanya beberapa kelompok kecil dari anak priyayi, anak bangsawan yang bisa mengeyam pendidikan baik dalam Hindia maupun luar negeri di seperti di Belanda,” paparnya.

Dari sana lah, lanjut Arief kemudian tokoh-tokoh dalam negeri seperti Soekarno muncul. Sedangkan, contoh lain dari sekolah di negeri Belanda, misalnya Prof Soepomo, dan Bung Hatta. Atas dasar kesadaran politik etis itu, para tokoh-tokoh bangsa ini merasa Indonesia harus menjadi bangsa merdeka yang lepas dari penjajahan.

“Dengan memiliki pemikiran yang sama, maka pada tahun 1928 muncullah gerakan-gerakan kebangkitan nasional,” ujarnya.

Akhirnya, ’08 hingga ’28, atau berselang 20 tahun kemudian, kata Arief, kesadaran itu meningkat hingga muncul era sumpah pemuda, diikuti dengan perlawanan untuk lepas dari penjajahan. Sehingga di 17 Agustus 1945 para tokoh bangsa itu memerdekakan bangsa ini.

Baca Juga:   IKN Dorong PA GMNI Balikpapan Ajarkan Pemuda Semangat Gotong Royong dan Kembangkan Pertanian

“Setelah 45 ada peristiwa besar, yaitu pada tahun ’65 pemberontakan G30S/PKI, siklusnya juga 20 tahunan. Kemudian setelah ’65, siklus berikutnya tahun ’98 era reformasi,” urai mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) ini.

Pasca era reformasi, yakni tahun 2024, 2025 bangsa ini pun memasuki satu fase waktu siklus 20-30 an lagi. Dalam waktu siklus ini ada peristiwa- peristiwa besar yang menjadi tonggak sejarah Republik ini.”

Oleh karena itu, pria yang pernah menjadi Presiden Asosiasi Mahkamah Konstitusi dan Lembaga Sejenis se-Asia ini meminta kepada masyarakat Indonesia untuk cermat mengamati waktu siklus yang dialami bangsa ini.

“Sebab kalau kita tidak hati-hati maka pasca reformasi ini bisa set back kembali ke era sebelum era reformasi. Jadi, saya mengingatkan pada diri kita, kita harus berhati-hati melewati era pasca reformasi itu,” imbuhnya.

Bukan tanpa alasan, Arief mengungkapkan banyak negara-negara di dunia yang gagal bertransformasi dari non demokratik menjadi negara yang demokratik.

“Proses konsolidasi demokrasi banyak negara yang berhasil dan tidak berhasil. Misalnya, Arab Spring, proses konsolidasi mau berubah dari negara yang non demokratik menjadi demokratik. Tapi Arab Spring tidak berhasil malah negara-negara Arab sampai saat ini masih terjadi pergolakan politik dan kekerasan militer. Termasuk yang dialami Yugoslavia,” pungkasnya.

Satu hal, menurut Prof Arief, sebagai organisasi nasionalis, perayaan keagamaan merupakan tradisi wajib bagi PA GMNI. Di samping itu. PA GMNI juga memberikan tali kasih kepada 8 keluarga tokoh alumni GMNI.

Acara perayaan natal PA GMNI yang menghadirkan pendeta Johni Mardisantosa ini juga dihadiri Dirut TVRI Iman Brotoseno, anggota Dewas TVRI Hardly Stefano, Direktur Program dan Pemred Berita TVRI Arif A Kuswardono, Ketua Harian DPP PA GMNI Arudji Wahyono, dan Komisioner Komisi Informasi Publik Pusat Handoko.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Prof. Arief Hidayat: Perjanjian Dagang RI–AS Jadi Ujian Konstitusi dan Politik Luar Negeri Bebas Aktif
Minggu, 22 Februari 2026 | 21:23 WIB
DPP GMNI Desak Pengusutan Terbuka Dugaan Kekerasan Oknum Brimob di Kota Tual yang Tewaskan Anak 14 Tahun
Minggu, 22 Februari 2026 | 00:25 WIB
Selamat Datang di “AI New Normal”
Minggu, 22 Februari 2026 | 00:06 WIB
Kader GMNI Kota Palu Desak Transparansi Penanganan Kasus Dugaan Kekerasan Aparat di Tual
Sabtu, 21 Februari 2026 | 22:13 WIB
Antara Dapur MBG dan Nyawa di Kota Tual: GMNI Jakarta Timur Dukung Penuh Kapolri Jadi Petani!
Sabtu, 21 Februari 2026 | 11:25 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

Che Guevara – Sosialisme dan Manusia di Kuba

Kawan tercinta: Meskipun terlambat, saya tetap berusaha menyelesaikan catatan ini dalam rangkaian…

Kongres GMNI Versi Immanuel: Anti Persatuan dan Klaim Sepihak

Marhaenist.id - Sekitar siang atau sore hari ini pada tanggal 15 Juli…

Sikapi Unras Kawal Putusan MK Atas UU PKPU Diberbagai Daerah, Komnas HAM Desak Aparat Tidak Gunakan Kekerasan

Marhaenist.id, Jakarta- Komnas HAM mencermati bahwa gelombang aksi Unjuk Rasa (Unras) yang terjadi…

Kritik Pernyataan Menkum, Zainal Arifin Mochtar: Putusan MK Tidak Selalu Prospektif, Polri Harus Segera Lakukan Penyesuaian

Marhaenist.id, Jakarta - Pakar Hukum Tata Negara, Zainal Arifin Mochtar menyoroti statement…

Demokrasi Bukan Hadiah Elite, Tetapi Hak Rakyat

Marhaenist.id - Pemilihan Kepala Daerah bukan sekadar persoalan teknis elektoral, melainkan merupakan…

Pancasila Perlu Diperdalam Oleh Masyarakat

Marhaenist.id - Ketika mempelajari sila pertama (Ketuhanan yang maha esa) seharusnya mempelajari…

Kesengsaraan Rakyat Indonesia Disebabkan oleh Nekolim

Marhaenist.id - Belajar dari Bung Karno di dalam menghadapi Nekolim, ia mencanangkan…

Pesan Bung Karno Pada GMNI: Revolusi Adalah Menjebol dan Membangun!

Marhaenist.id - Bagi Bung Karno, semangat mengabdi kepada bangsa dan tanah air,…

Makan Siang Gratis Tidak Akan Bisa Atasi Stunting

Marhaenist - World Bank atau Bank Dunia menyebut bahwa program makan siang…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?