By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Pingin Nonton “Pesta Babi” Full Movie, Yuk Klik Link dan Reviewnya Disini
DPC GMNI Jakarta Timur Soroti Pelemahan Rupiah, Desak Pemerintah dan BI Perkuat Fondasi Ekonomi Nasional
Indonesia Menjadi Negara Agung dengan Jalan Kebangsaan ala Soekarno
Aliansi PERISAI Gelar Aksi di Jakarta, Soroti Militerisasi Ruang Sipil dan Kebijakan Pemerintah
Dukung Prabowo Tertibkan Ekspor Batu Bara dan Sawit, PA GMNI Jakarta Raya: Itu Langkah Jitu

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Insight

Pingin Nonton “Pesta Babi” Full Movie, Yuk Klik Link dan Reviewnya Disini

Marhaenist ID
Marhaenist ID Diterbitkan : Jumat, 22 Mei 2026 | 20:29 WIB
Bagikan
Waktu Baca 9 Menit
Film dokumenter “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita” adalah film dokumenter investigatif. Watchdoc/JubiTV
Bagikan

Catatan Penting Keamanan Digital: Mengingat film ini melibatkan sensitivitas politik dan beberapa kali mengalami pembubaran oleh otoritas setempat, pastikan Anda mengakses tautan atau menghadiri pemutaran dari penyelenggara yang tepercaya dan legal secara hukum komunitas untuk menghindari kesalahpahaman.”

Marhaenist.id – Film dokumenter “Pesta Babi” menjadi salah satu karya sinematik yang memicu diskusi sangat hangat, intens, dan sarat akan isu sosio-politik dan ekonomi. Film ini bukan sekadar menyajikan rekaman visual antropologis mengenai tradisi atau ritus adat, melainkan sebuah kritik tajam dan refleksi mendalam mengenai realitas yang dihadapi oleh masyarakat adat di Papua.

Daftar Konten
Narasi dan Sinopsis Film Pesta BabiAlur Cerita dan Konflik UtamaPandangan, Review, dan Kontroversi PublikPerpektif Aktivis dan Kalangan AkademisiPerspektif Aparat Keamanan dan PemerintahReview Publik Secara UmumKeterangan Link dan Cara Menonton Film Pesta BabiMelalui Jaringan Kolektif dan Nobar KomunitasPlatform Distribusi Film Independen

Melalui pendekatan dokumenter independen, film ini berhasil menarik perhatian berbagai elemen masyarakat, mulai dari kalangan aktivis, akademisi, masyarakat umum, hingga aparat keamanan.

“Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita” adalah film dokumenter investigatif karya Dandhy Dwi Laksono dan Cypri Paju Dale. Dokumenter berdurasi 95 menit ini memotret perjuangan pilu masyarakat adat di Papua Selatan (suku Marind, Yei, Awyu, dan Muyu) yang ruang hidupnya terancam eksploitasi lahan skala besar akibat Proyek Strategis Nasional (PSN).

Lewat visual yang kuat, film ini memperlihatkan bagaimana hutan adat digunduli menjadi kawasan industri tebu, sawit, dan biodiesel, serta mengungkap gurita korporasi di baliknya. Judulnya diambil dari tradisi penting Papua yang melambangkan kebersamaan dan hubungan erat manusia dengan alam.

Film ini sudah bisa ditonton dan diakses secara legal dan gratis melalui kanal resmi JubiTV dan Watchdoc Image di platform YouTube sejak 22 Mei 2026.

Berikut Adalah Link Nonton Resmi:

  • YouTube Watchdoc Image

  • YouTube Jubi TV



Narasi dan Sinopsis Film Pesta Babi

Secara garis besar, Pesta Babi adalah film dokumenter yang menyoroti perjuangan ruang hidup, eksistensi, dan hak-hak masyarakat adat di tanah Papua menghadapi derasnya arus modernisasi, korporasi, dan kebijakan pembangunan nasional.

Baca Juga:   Tragedi Kanjuruhan, GBN Desak Jokowi Segera Mereformasi Polri

Latar Belakang Istilah “Pesta Babi”

Bagi masyarakat adat di pedalaman Papua (seperti suku Dani atau Lani), ritual “Pesta Babi” atau Wam Mawe/Bakakar Batu bukan sekadar acara makan bersama atau pesta pora. Tradisi ini merupakan simbol sakral dari:

Sistem Sosial dan Rekonsiliasi: Penyelesaian konflik antar-suku, perayaan kemenangan, atau upacara pernikahan adat.

Ikatan Spiritual: Bentuk syukur kepada leluhur dan alam semesta yang telah memberikan kesuburan bagi tanah mereka.

Kedaulatan Pangan: Kepemilikan babi dan lahan ulayat menunjukkan kemandirian dan martabat sebuah klan.

Alur Cerita dan Konflik Utama

Film ini meminjam metafora dari tradisi sakral tersebut untuk memotret realitas yang kontras di era modern. Narasi tidak dibangun secara fiksi, melainkan melalui jalinan wawancara langsung dengan para tetua adat, mama-mama Papua, serta para aktivis lingkungan yang berjuang di garda terdepan.

Konflik utama dalam dokumenter ini menyoroti premis bahwa “Papua Is Not Empty Land” (Papua Bukanlah Tanah Kosong). Narasi film berfokus pada benturan antara program pembangunan skala besar, seperti deforestasi untuk perkebunan sawit, proyek lumbung pangan (food estate), dan ekspansi pertambangan dengan ruang hidup masyarakat adat.

Ketika hutan-hutan adat yang menjadi tempat berburu dan ritual adat dibabat atas nama kemajuan ekononmi, masyarakat lokal merasa bahwa hak-hak mendasar mereka terpinggirkan. Istilah “Pesta Babi” dalam film ini kemudian bergeser makna secara ironis: sebuah sindiran visual mengenai bagaimana kekayaan alam Papua kerap “dipesta-porakan” oleh segelintir elite korporasi dan penguasa, sementara pemilik tanah ulayat asli justru menjadi penonton di rumahnya sendiri.

Melalui sinematografi yang mentah (raw) dan lanskap alam Papua yang megah namun terancam, penonton diajak melihat bagaimana hilangnya hutan adat secara perlahan juga mengikis identitas kultural masyarakatnya.

Pandangan, Review, dan Kontroversi Publik

Sebagai sebuah karya seni yang menyuarakan isu-isu sensitif, pemutaran film Pesta Babi mengundang gelombang reaksi yang sangat beragam di berbagai daerah di Indonesia. Film ini tidak hanya dinilai dari aspek estetika sinematiknya, tetapi lebih kepada dampak sosial-politik yang ditimbulkannya.

Baca Juga:   Pengembangan Koperasi Listrik Zambia

Perpektif Aktivis dan Kalangan Akademisi

Bagi para aktivis HAM, pemerhati lingkungan, dan mahasiswa, Pesta Babi dinilai sebagai media edukasi dan alternatif informasi yang sangat berani dan jujur.

Suara Kaum Marginal: Banyak kritikus film independen memuji dokumenter ini karena memberikan ruang bagi masyarakat adat Papua untuk menceritakan nasib mereka sendiri tanpa sensor atau polesan narasi media arus utama.

Kritik Kolonialisme Modern: Dalam berbagai diskusi dan forum nonton bareng (nobar) di kalangan mahasiswa, film ini sering dijadikan pemantik diskusi ilmiah mengenai dampak pasca-kolonialisme, represi negara, dan bagaimana kapitalisme global mengancam komunitas lokal. Film ini dianggap sukses memantik empati publik secara emosional.

Perspektif Aparat Keamanan dan Pemerintah

Di sisi lain, narasi yang diusung oleh film ini dianggap oleh sebagian pihak, terutama aparat keamanan (TNI/Polri) dan kelompok ultra-nasionalis, sebagai karya yang terlalu tendensius dan berpotensi memicu instabilitas.

Pembubaran Acara Nobar: Salah satu peristiwa yang melambungkan nama film ini ke panggung kontroversi nasional adalah aksi pembubaran paksa acara pemutaran dan diskusi film Pesta Babi oleh aparat di beberapa kota, salah satunya di Ternate, Maluku Utara.

Alasan Keamanan: Pihak aparat menyatakan bahwa pembubaran dilakukan karena kegiatan tersebut tidak mengantongi izin resmi, serta dikhawatirkan dapat menyebarkan narasi separatisme atau sentimen anti-pemerintah yang memperkeruh suasana, terutama mengingat situasi geopolitik Papua yang dinamis.

Review Publik Secara Umum

Secara umum, audiens memandang film ini sebagai sebuah tamparan realitas. Penonton yang terbiasa melihat Papua hanya dari sudut pandang eksotisme pariwisata (seperti Raja Ampat) dipaksa untuk melihat sisi kelam konflik agraria yang terjadi di pedalaman. Terlepas dari perdebatan politik di sekelilingnya, Pesta Babi diakui berhasil menjalankan fungsi esensial dari sebuah film dokumenter: mengguncang kenyamanan penonton dan menyuarakan apa yang selama ini tersembunyi di bawah karpet pembangunan.

Keterangan Link dan Cara Menonton Film Pesta Babi

Karena statusnya sebagai film dokumenter independen dan non-komersial, film Pesta Babi tidak didistribusikan melalui jaringan bioskop konvensional (seperti XXI atau CGV) maupun platform streaming besar (seperti Netflix atau Disney+).

Baca Juga:   Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI

Bagi Anda yang tertarik untuk menyaksikan dokumenter ini, berikut adalah beberapa jalur akses dan keterangan mengenai cara menontonnya:

Melalui Jaringan Kolektif dan Nobar Komunitas

Cara paling umum untuk menyaksikan film ini adalah dengan mengikuti agenda pemutaran berkala yang diadakan oleh komunitas film lokal, organisasi mahasiswa, atau LSM lingkungan (seperti WALHI atau AMAN).

Keterangan Akses: Informasi jadwal pemutaran biasanya disebarkan melalui media sosial (Instagram/Twitter) dengan kata kunci pencarian “Nobar Film Pesta Babi”. Pemutaran lewat jalur ini biasanya bersifat gratis atau berbasis donasi sukarela dan selalu dibarengi dengan sesi diskusi interaktif bersama sutradara atau pengamat isu Papua.

Platform Distribusi Film Independen

Beberapa pembuat dokumenter sosial di Indonesia kerap mengunggah karya mereka ke platform video publik atau situs pemutaran film alternatif agar dapat diakses oleh masyarakat luas yang areanya tidak terjangkau oleh nobar fisik.

YouTube: Beberapa potongan dokumenter, video diskusi panel resmi, liputan berita mengenai kontroversi film ini, serta versi penuh (jika kreator sudah melepas hak siarnya ke publik) dapat dicari langsung di platform YouTube dengan mengetikkan kata kunci pencarian resmi: Film Dokumenter Pesta Babi Papua. Anda dapat memantau kanal-kanal berita independen atau organisasi masyarakat sipil yang berfokus pada isu Indonesia Timur.

Situs Kolektif Dokumenter: Film-film sejenis ini terkadang didistribusikan secara terbatas melalui platform pemutaran film lokal seperti Bioskop Online atau situs resmi rumah produksi kolektif yang mendanai proyek tersebut (pantau pembaruan berkala dari produser atau koalisi masyarakat sipil terkait).

Pesta Babi telah bertransformasi dari sekadar rekaman audio-visual menjadi sebuah simbol gerakan sosial. Film ini menantang perspektif kita sebagai satu bangsa untuk melihat pembangunan tidak hanya dari megahnya infrastruktur fisik atau angka pertumbuhan ekonomi, melainkan dari sudut pandang kemanusiaan dan keadilan bagi masyarakat adat yang paling terdampak. Kontroversi penolakan dan pembubaran yang dialaminya justru menjadi bukti nyata bahwa sinema masih memiliki kekuatan besar dalam mengusik kesadaran kolektif publik. Selamat Menonton Semoga Kita Semua Bisa Mengambil Hikmahnya. Merdeka!

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

DPC GMNI Jakarta Timur Soroti Pelemahan Rupiah, Desak Pemerintah dan BI Perkuat Fondasi Ekonomi Nasional
Jumat, 22 Mei 2026 | 15:40 WIB
Indonesia Menjadi Negara Agung dengan Jalan Kebangsaan ala Soekarno
Jumat, 22 Mei 2026 | 10:38 WIB
Aliansi PERISAI Gelar Aksi di Jakarta, Soroti Militerisasi Ruang Sipil dan Kebijakan Pemerintah
Jumat, 22 Mei 2026 | 01:25 WIB
Dukung Prabowo Tertibkan Ekspor Batu Bara dan Sawit, PA GMNI Jakarta Raya: Itu Langkah Jitu
Jumat, 22 Mei 2026 | 00:47 WIB
DPD GMNI Jakarta Laporkan Dugaan Korupsi Proyek KDMP Rp112 Triliun ke Kejagung
Kamis, 21 Mei 2026 | 22:36 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
Tirani yang Tersenyum dalam Bayang Kiamat Epistemik: Evolusi Kekuasaan dari Orwellian ke Huxleyian – Part I
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

Arief Hidayat: Permohonan Memajukan Pelantikan Presiden Langgar Konstitusi

Marhaenist.id, Jakarta - Hakim Mahkamah Konstitusi Arief Hidayat mengatakan bahwa permohonan uji…

Hindari Kecurangan, Relawan Relawan Bentuk Posko Jaga Suara

Marhaenist.id, Jakarta - Kelompok Relawan Jaga Suara dan Kawan 98 menginisiasi pembentukan…

Surat-Surat Islami Sukarno Dari Ende

MARHAENIST - Dalam suratnya kepada T.A. Hassan kali ini, Bung Karno kembali…

DPP GMNI Desak DPR RI Segera Sahkan RUU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga

Marhaenist.id, Jakarta — Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

JAMKI Bedah Mandeknya Pemberantasan Korupsi, Firman Tendri Masengi: Hukum Bergerak atas Tekanan Opini Publik dan Viralitas Media Sosial

Marhaenist.id, Jakarta — Mandeknya pemberantasan korupsi di Indonesia kembali disorot dalam Diskusi Publik…

Kawan 98 dan Jaga Suara Ajak Warga Waspadai Adanya Politik Uang di Pilkada Jakarta

Marhaenist.id, Jakarta - Persaingan antar pasangan calon gubernur dan calon wakil gubernur…

Foto: Muhammad Nabil, Mahasiswa Magister Ilmu Politik Universitas Indonesia (Dokpri)/MARHAENIST.

Di Balik Hilirisasi: Kerentanan Perempuan yang Terabaikan

Marhaenist.id - Di tengah arus besar hilirisasi nikel, Maluku Utara kini menempati posisi…

Metodologi KIV: Sebagai Alat Perjuangan GMNI Melawan Tangangan Zaman

Marhaenist.id - Kaderisasi dan Ideologi adalah roh penting yang menentukan bagaimana jalannya…

Guntur Soekarno, Marhaenisme dan Karakter Bangsa

"Kesejahteraan tak akan terwujud bila tidak ada penguatan dan persatuan jiwa bangsa.…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?