
Marhaenist.id, Jakarta – Fenomena menurunnya minat mahasiswa dalam mengikuti organisasi dan pergerakan kemahasiswaan menjadi perhatian serius. Ketua DPK GMNI STIE Indonesia Jakarta, La Ode Muh. Firmansyah, menilai kondisi ini sebagai tanda melemahnya kesadaran kolektif di kalangan mahasiswa di tengah berbagai persoalan sosial, ekonomi, dan pendidikan yang dihadapi bangsa.
Menurutnya, mahasiswa yang sejatinya merupakan kelompok intelektual muda dengan tanggung jawab moral terhadap bangsa dan negara, kini justru cenderung bersikap pasif dan apatis. Banyak di antara mereka memilih menjauh dari ruang-ruang perjuangan intelektual maupun gerakan sosial.
“Perkembangan teknologi dan arus informasi yang begitu cepat melalui media sosial membuat banyak mahasiswa lebih nyaman menjadi penonton daripada pelaku perubahan. Mereka lebih sibuk mengkonsumsi konten digital dan mengikuti tren sesaat dibanding membangun kesadaran kolektif terhadap persoalan rakyat,” ujar Firmansyah dalam keterangannya, Kamis (30/4/2026).
Ia menegaskan, dalam sejarah Indonesia, mahasiswa selalu memiliki posisi strategis sebagai kekuatan moral dalam setiap momentum perubahan, mulai dari perjuangan kemerdekaan hingga reformasi.
Oleh karena itu, hilangnya semangat kritis, keberanian bersikap, dan kepedulian sosial di kalangan mahasiswa menjadi ancaman serius bagi kehidupan demokrasi.
Firmansyah juga menyoroti bahwa sikap apatis yang berkembang dapat melahirkan generasi individualistis yang tidak peduli terhadap ketidakadilan.
Jika dibiarkan, hal ini akan berdampak pada melemahnya partisipasi generasi muda dalam mengawal kebijakan publik.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa organisasi kemahasiswaan bukan sekadar ruang seremonial, melainkan wadah pembelajaran untuk membangun karakter, melatih kepemimpinan, serta mengasah kemampuan berpikir kritis dan analitis.
Organisasi juga menjadi tempat bagi mahasiswa untuk memahami realitas sosial, menyampaikan gagasan, serta membangun solidaritas.
Dalam konteks ini, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) sebagai organisasi kader dan perjuangan memandang pentingnya menghidupkan kembali tradisi intelektual dan keberpihakan terhadap rakyat kecil.
Kampus, menurutnya, tidak boleh hanya menjadi tempat mengejar nilai akademik, tetapi juga ruang lahirnya gagasan, kritik, dan solusi bagi persoalan bangsa.
Ia juga mengidentifikasi berkembangnya budaya pragmatis dan instan sebagai salah satu penyebab menurunnya minat mahasiswa terhadap organisasi.
Banyak mahasiswa mulai menilai aktivitas organisasi dari sisi keuntungan pribadi dan materi, sehingga mengikis semangat perjuangan dan solidaritas.
“Atas dasar itu, kami mengajak seluruh mahasiswa untuk kembali peduli terhadap kondisi sosial di sekitarnya. Keterlibatan dalam organisasi, forum diskusi, kajian ilmiah, maupun aksi sosial adalah bagian penting dalam pembentukan diri sebagai kaum intelektual muda,” tegasnya.
Firmansyah menyatakan keyakinannya bahwa generasi muda Indonesia masih memiliki potensi besar sebagai agen perubahan. Namun, potensi tersebut harus dibangun melalui kesadaran kolektif, pendidikan politik, serta keterlibatan aktif dalam kehidupan sosial masyarakat.
Menutup pernyataannya, ia mengajak seluruh mahasiswa untuk tidak larut dalam budaya apatis dan individualisme.
“Sudah saatnya mahasiswa kembali menghidupkan semangat perjuangan, memperkuat tradisi intelektual, serta hadir di tengah masyarakat sebagai agen perubahan yang membawa harapan bagi masa depan bangsa,” pungkasnya.***
Penulis: Redaksi/Editor: Bung Wadhaar.