
Marhaenist.id – Selat Malaka bukan sekadar jalur laut biasa, melainkan urat nadi perdagangan dunia yang menentukan ritme ekonomi global. Setiap tahun, lebih dari 80.000 mother vessel atau kapal-kapal besar melintasi kawasan ini, membawa berbagai komoditas strategis yang menopang kebutuhan ekonomi internasional. Mulai dari minyak mentah, gas alam, hingga rantai pasok barang dan jasa bernilai triliunan dolar, semuanya bergerak melalui Selat Malaka.
Tercatat sekitar 16-17 juta barel minyak dan 9,2 miliar kaki kubik gas melintas setiap hari. Tidak hanya itu, sekitar 40 persen jalur perdagangan dunia bergantung pada lintasan ini, dengan total nilai ekonomi mencapai USD 3,4 hingga 4 triliun per tahun. Angka tersebut bukan hanya fantastis, tetapi menunjukkan bahwa Selat Malaka adalah salah satu titik paling strategis dalam geopolitik dan geoekonomi dunia.
Pertanyaannya, di mana posisi Indonesia dalam pusaran ekonomi raksasa ini?
Sebagai negara maritim terbesar di kawasan Asia Tenggara dan salah satu negara yang secara geografis paling dekat dengan Selat Malaka, Indonesia seharusnya tidak hanya menjadi penonton. Indonesia harus hadir sebagai pemain utama. Sudah saatnya negara ini mengambil langkah strategis untuk menjadikan Selat Malaka sebagai instrumen kebangkitan ekonomi nasional.
Jika Indonesia mampu mengambil kebijakan strategis berupa pengelolaan keamanan maritim, pengawasan perdagangan, serta asuransi jalur pelayaran melalui otoritas negara seperti BAKAMLA (Badan Keamanan Laut), maka peluang penerimaan negara sangat besar. Misalnya, jika Indonesia menerapkan skema kontribusi keamanan dan asuransi perdagangan sebesar 3 persen saja dari total nilai ekonomi yang melintas, maka potensi pendapatan negara dapat mencapai sekitar Rp2.070 triliun per tahun.
Angka ini jauh melampaui banyak sektor penerimaan konvensional yang selama ini menjadi andalan negara. Ini bisa menjadi sumber pajak baru yang mampu memperkuat APBN, mempercepat pembangunan infrastruktur nasional, meningkatkan kesejahteraan rakyat, hingga memperkuat pertahanan dan keamanan laut Indonesia.
Sejarah sebenarnya telah memberikan pelajaran besar. Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit pernah mencapai kejayaan bukan semata karena kekuatan militernya, tetapi karena kemampuan mereka mengendalikan jalur perdagangan maritim. Mereka memahami bahwa siapa yang menguasai laut, dialah yang menentukan arah ekonomi dan politik kawasan.
Sriwijaya menjadikan Selat Malaka sebagai sumber kekuatan ekonomi dengan mengelola lalu lintas perdagangan dan menarik kontribusi dari kapal-kapal yang melintas atas nama keamanan dan perlindungan. Begitu pula Majapahit yang membangun supremasi maritim sebagai fondasi kejayaan Nusantara.
Ironisnya, setelah hampir 100 tahun Indonesia merdeka, belum ada langkah besar dan berani untuk mengambil alih tata kelola strategis Selat Malaka secara maksimal. Indonesia justru sering terjebak pada posisi pasif, sementara negara-negara lain lebih agresif membaca peluang geopolitik yang ada.
Hari ini, momentum itu kembali terbuka.
Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, Indonesia memiliki peluang besar untuk melakukan gebrakan baru. Visi kemandirian ekonomi, ketahanan nasional, dan penguatan sektor maritim harus diterjemahkan dalam kebijakan konkret yang berani dan terukur. Selat Malaka harus dipandang bukan hanya sebagai wilayah perlintasan, tetapi sebagai aset strategis bangsa yang dapat menjadi sumber kekuatan ekonomi baru Indonesia.
Tentu, langkah ini tidak sederhana. Dibutuhkan diplomasi regional yang kuat dengan negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura, serta penyesuaian terhadap hukum laut internasional. Namun, diplomasi tidak boleh menjadi alasan untuk diam. Justru Indonesia harus memimpin pembicaraan tentang tata kelola keamanan dan keberlanjutan ekonomi Selat Malaka sebagai kawasan strategis bersama.
Negara besar tidak lahir dari keraguan, tetapi dari keberanian mengambil keputusan besar.
Indonesia adalah bangsa maritim. Laut bukan pemisah, melainkan pemersatu. Selat Malaka adalah peluang nyata yang selama ini belum dimaksimalkan. Jika dikelola dengan visi besar, keberanian politik, dan strategi nasional yang tepat, Selat Malaka bisa menjadi titik awal kebangkitan ekonomi Indonesia menuju Indonesia Emas.
Sudah saatnya Indonesia tidak hanya berdiri di tepi sejarah, tetapi menjadi penentu arah sejarah itu sendiri. Selat Malaka bukan hanya jalur perdagangan dunia, ia adalah pintu menuju masa depan ekonomi Indonesia yang lebih berdaulat, kuat, dan sejahtera.***
Penulis: Anang Slamet Rudiyanto, Alumni GMNI Kendari, Anggota Institut Energi Anak Bangsa.