
Marhaenist.id, Batam – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Kota Batam menggelar kegiatan Kelas Ideologi dan Buka Bersama yang melibatkan kader serta alumni GMNI se-Kota Batam pada Jumat (6/3/2026).
Kegiatan tersebut mengusung tema “Dari Kesadaran ke Pergerakan: Perempuan dalam Barisan Marhaenisme.”
Agenda ini diselenggarakan sebagai ruang refleksi sekaligus penguatan kesadaran ideologis mengenai peran perempuan dalam perjuangan sosial.
Diskusi yang berlangsung menyoroti pemikiran Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, sebagaimana tertuang dalam buku Sarinah, yang menegaskan bahwa pembebasan perempuan tidak dapat dipisahkan dari perjuangan rakyat melawan berbagai bentuk penindasan sosial, ekonomi, dan politik.
Melalui forum diskusi yang berlangsung dinamis, para peserta diajak memahami bahwa semangat Marhaenisme tidak hanya berhenti pada kesadaran ideologis semata, tetapi harus diwujudkan dalam praktik gerakan yang nyata.
Perempuan dipandang sebagai subjek perjuangan yang memiliki peran strategis dalam mendorong perubahan sosial menuju masyarakat yang lebih adil dan berkeadaban.
Kegiatan ini juga menjadi momentum reflektif menjelang peringatan Hari Perempuan Internasional (International Women’s Day) yang diperingati setiap tanggal 8 Maret. Peringatan tersebut merupakan simbol penghargaan atas perjuangan, keberanian, serta kontribusi perempuan dalam berbagai bidang kehidupan.
Berawal dari gerakan perempuan yang menuntut hak-hak dasar seperti kesempatan kerja yang layak dan kesetaraan sosial-politik, International Women’s Day kini menjadi pengingat penting akan perjuangan menciptakan dunia yang lebih adil dan setara bagi perempuan.
Ketua DPC GMNI Kota Batam, Bung Alwie Djaelani, menegaskan pentingnya kesetaraan peran antara laki-laki dan perempuan dalam perjuangan sosial. Ia mengutip pemikiran Soekarno dalam buku Sarinah yang menyatakan bahwa “laki-laki dan perempuan adalah dua sayap dari seekor burung.”
“Apabila kedua sayap tersebut sama kuatnya, maka burung itu mampu terbang mencapai ketinggian yang setinggi-tingginya. Namun apabila salah satu sayapnya patah atau dilemahkan, maka burung tersebut tidak akan mampu terbang sama sekali,” ujarnya.
Ia menambahkan, dalam organisasi pun prinsip tersebut harus dijaga. Jika kader laki-laki dan perempuan tidak saling bahu-membahu memperjuangkan kepentingan bersama, maka organisasi hanya akan menjadi sekumpulan individu yang mementingkan kepentingan pribadi.
Sementara itu, Ketua Komisariat Caretaker GMNI Raja Haji Fisabilillah, Bung Otniel, menegaskan bahwa peringatan International Women’s Day tidak boleh sekadar menjadi seremoni tahunan.
“Peringatan ini harus menjadi momentum untuk meneguhkan komitmen bersama dalam memperjuangkan kesetaraan dan keadilan. Sejalan dengan pemikiran Soekarno dalam Sarinah, perempuan merupakan kekuatan revolusioner yang memiliki peran strategis dalam perjuangan kaum Marhaen,” ungkapnya.
Ia juga menekankan bahwa perjuangan perempuan bukanlah perjuangan yang berdiri sendiri, melainkan bagian yang tidak terpisahkan dari perjuangan bersama dalam semangat Marhaenisme guna mewujudkan masyarakat yang adil, setara, dan berkeadaban.
Senada dengan hal tersebut, Ketua Komisariat GMNI Fakultas Hukum Universitas Riau Kepulauan (Unrika), Bung Daffa, menyampaikan bahwa tema kegiatan tersebut menegaskan pentingnya keterlibatan perempuan dalam perjuangan sosial.
Menurutnya, dalam sejarah bangsa Indonesia banyak tokoh perempuan yang turut menjadi penggerak perubahan sosial dan reformasi. Dalam gagasan Marhaenisme yang diperkenalkan oleh Soekarno, perjuangan rakyat tidak hanya berbicara mengenai persoalan ekonomi, tetapi juga melawan ketimpangan struktural yang terjadi dalam masyarakat.
“Perempuan sebagai bagian dari rakyat memiliki pengalaman langsung terhadap realitas tersebut. Karena itu, keterlibatan perempuan dalam barisan perjuangan bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian penting dari upaya mewujudkan keadilan sosial,” jelasnya.
Ia menambahkan, dari kesadaran itulah lahir pergerakan, di mana perempuan turut mengambil peran aktif dalam memperjuangkan nilai kemanusiaan, kesetaraan, dan keberpihakan kepada kaum Marhaen.
Melalui kegiatan bertema “Dari Kesadaran ke Pergerakan: Perempuan dalam Barisan Marhaenisme” ini, DPC GMNI Batam berharap para kader mampu menyerap nilai-nilai ideologi tersebut dan mengkonversikannya ke dalam gerakan nyata yang berpihak pada kedaulatan rakyat banyak.***
Penulis: Redaksi/Editor: Bung Wadhaar.