Marhaenist.id, Jakarta Timur — Perkembangan teknologi dan digitalisasi dinilai menjadi instrumen strategis dalam memperkuat nilai-nilai Marhaenisme agar tetap relevan dan membumi di tengah masyarakat, khususnya kaum marhaen.
Di era transformasi digital, penyebaran ideologi tidak lagi cukup dilakukan melalui forum-forum konvensional, melainkan harus hadir aktif di ruang digital yang dekat dengan kehidupan rakyat.
Marhaenisme sebagai ajaran perjuangan yang berpihak pada kaum tertindas menuntut adanya inovasi dalam metode penyampaian gagasan. Teknologi digital membuka ruang partisipasi yang lebih luas, cepat, dan inklusif, sehingga nilai-nilai kesadaran kelas, kemandirian ekonomi, serta keadilan sosial dapat menjangkau akar rumput secara lebih efektif.
Pemanfaatan media sosial, platform edukasi digital, produksi konten kreatif, hingga digitalisasi administrasi organisasi menjadi langkah konkret dalam memperkuat gerakan ideologis. Digital tidak hanya dipahami sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai sarana kaderisasi, penguatan narasi perjuangan, dan mobilisasi kesadaran rakyat.
Hal tersebut ditegaskan oleh Anggiat Andreas Purwanto, Wakabid Pengembangan Teknologi dan Inovasi Digital Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Jakarta Timur di bawah kepemimpinan Jansen Henry Kurniawan.
Menurutnya, transformasi digital harus ditempatkan sebagai bagian dari strategi ideologis organisasi, bukan sekadar mengikuti arus perkembangan zaman.
“Teknologi harus kita kuasai sebagai alat perjuangan. Marhaenisme tidak boleh terjebak sebagai wacana elitis, tetapi harus hadir di ruang-ruang digital yang diakses langsung oleh rakyat,” tegas Anggiat, Minggu (1/2/2026).
Lebih lanjut, kata dia, digitalisasi gerakan dipandang sebagai upaya memperpendek jarak antara gagasan dan realitas sosial.
“Melalui penguasaan teknologi, GMNI dapat mengembangkan pendidikan politik berbasis digital, memperkuat advokasi rakyat, serta mendorong inovasi ekonomi kerakyatan yang sejalan dengan semangat Marhaenisme,” tandas Anggiat.
Dengan pendekatan tersebut, Marhaenisme tidak hanya bertahan sebagai ideologi historis, tetapi terus hidup, berkembang, dan berakar kuat di tengah masyarakat.
Teknologi dan digital, ketika dikuasai secara sadar dan berpihak, menjadi senjata baru perjuangan rakyat menuju keadilan sosial sebagaimana dicita-citakan.***
Penulis: Redaksi/Editor: Bung Wadhaar.