By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Bakercab GMNI Bandung Desak DPRD Kota Bandung Tolak LKPJ Pemkot Bandung
DPK GMNI IPB Soroti Dampak Reklamasi dan Tol Laut terhadap Nelayan Cilincing
Hantu Film Pesta Babi: Seseram Apakah bagi Pemerintahan Prabowo-Gibran?
Soekarno, Marhaenisme, dan Krisis Demokrasi Modern
Lanjutkan Program Bersama PA GMNI, PERADI UTAMA Buka PKPA Beasiswa Murni Batch 3 untuk Kader GMNI se-Indonesia

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Kabar Alumni GMNI

GMNI dan Dunia Aktivisme Ganjar Pranowo

Indo Marhaenist
Indo Marhaenist Diterbitkan : Rabu, 13 September 2023 | 18:21 WIB
Bagikan
Waktu Baca 9 Menit
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. FILE/Marhaenist
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. FILE/Marhaenist
Bagikan

Marhaenist – Ganjar Pranowo lahir pada masa ketika Indonesia sedang merayakan peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-30 yang jatuh pada 28 Oktober 1968. Ia merupakan anak ke-5 dari enam bersaudara dari ayah yang bekerja sebagai polisi dengan pangkat terakhir Letnan Satu (Lettu) saat pensiun, sementara ibunya adalah seorang ibu rumah tangga yang sehari-hari mendidik anak-anaknya untuk menjadi manusia jujur, berintegritas dan menjaga nama baik serta mampu menjaga martabat keluarga Kehidupan Ganjar sejatinya tidak mudah. Di antara keterbatasan ekonomi keluarganya, Ganjar memiliki riwayat pengalaman yang sama dengan Presiden Sukarno soal pergantian nama.

Daftar Konten
Bergabung GMNIDikejar-Kejar Rezim Orde Baru

Bagi orang Jawa mengganti nama seorang anak menjadi hal lumrah dan kerap dilakukan. Utamanya jika anak tersebut sakit-sakitan karena dianggap namanya tidak cocok. Orang Jawa menyebutnya dengan istilah kabotan jeneng (keberatan nama). Pun anak yang sakit-sakitan akibat kabotan jeneng dipercaya akan pulih kesehatannya setelah namanya diganti. Sukarno kecil yang memiliki nama lahir Kusno Sosrodihardjo dulunya sering sakit-sakitan sehingga diganti namanya menjadi Sukarno.

Bagi orang Jawa mengganti nama seorang anak menjadi hal lumrah dan kerap dilakukan. Utamanya jika anak tersebut sakit-sakitan karena dianggap namanya tidak cocok. Orang Jawa menyebutnya dengan istilah kabotan jeneng (keberatan nama). Pun anak yang sakit-sakitan akibat kabotan jeneng dipercaya akan pulih kesehatannya setelah namanya diganti. Sukarno kecil yang memiliki nama lahir Kusno Sosrodihardjo dulunya sering sakit-sakitan sehingga diganti namanya menjadi Sukarno.

Nama yang terinspirasi dari tokoh pahlawan terbesar dalam cerita Mahabrata bernama Karna yang memiliki sifat setia kawan, berjiwa patriot, dan mengabdikan seluruh hidupnya demi bangsa. Pun Ganjar Pranowo memiliki nama kecil Ganjar Sungkowo. Ganjar memiliki arti ganjaran atau hadiah. Sementara Sungkowo berarti belasungkawa. Jika digabungkan kira-kira artinya “hadiah belasungkawa“. Ceritanya, nama Ganjar Sungkowo dipilih karena ia lahir ketika kondisi ekonomi keluarga sangat susah. Praktis kondisi Ganjar seolah mengikuti namanya Sungkowo (belasungkawa).

Ia kerap sakit, tangannya terhimpit bus dan pelbagai kesialan lain yang dialaminya. Situasi memprihatinkan ini terus berlanjut hingga Ganjar masuk ke Sekolah Dasar (SD). Barulah di kelas 2 SD, keluarganya memutuskan mengganti nama Ganjar Sungkowo menjadi Ganjar Pranowo. “Pra” artinya sebelum dan “nowo” yang merupakan bahasa Jawa berarti sembilan. Pun jika digabungkan Pranowo “sebelum yang kesembilan”.

Baca Juga:   Ketua Mahkamah Konstitusi Buka Bimbingan Teknis Angkatan II PA GMNI

Ganjar tidak begitu memahami alasan keluarga mengubah nama belakangnya menjadi Pranowo, padahal ia bukan anak ke-delapan. Entahlah apa alasannya, bisa saja ini sebagai doa khusus yang terselip dari ayahnya terkait kehidupan Ganjar pada masa yang akan datang. Ganjar sejak muda telah senang membaca buku-buku terkait kehidupan dan pemikiran Sukarno. Meskipun pada saat itu kebijakan de-Sukarnoisasi sedang digalakkan oleh pemerintahan Soeharto.

Adapun de-Sukarnoisasi adalah kebijakan yang diambil oleh pemerintah otoritarianisme orde baru yang memperkecil peranan dan kehadiran Sukarno dalam sejarah ingatan bangsa Indonesia. Lebih lagi ayah Ganjar berprofesi sebagai anggota Polri yang pada masa Soeharto berkuasa masih tergabung dengan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) yang wajib melaksanakan kebijakan pemerintah. Termasuk dalam upaya de-Sukarnoisasi di seluruh wilayah pelosok negeri. Tentu hal ini memperkuat asumsi bahwa kecintaan Ganjar pada sosok Sukarno melampaui segala ketakutan dan potensi tindakan represif yang ia bisa dapatkan dari rezim berkuasa saat itu.

Keberanian Ganjar ini pula dikonversinya dengan membangun gerakan melawan kebijakan pemerintah orde baru.

Bergabung GMNI

Pun tepat ketika Ganjar Pranowo resmi menempuh pendidikan tinggi di Fakultas Hukum UGM tahun 1987, ia memilih bergabung dengan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), organisasi yang bergerak atas dasar pemikiran Marhaenisme Bung Karno. Meneguhkan sikap Ganjar tidak hanya bergulat pada bacaan ide dan pemikiran, tetapi juga diaplikasikannya dalam dunia organisasi gerakan.

Selain bergabung di GMNI, Ganjar juga aktif di mahasiswa pecinta alam UGM yang bernama Majestik 55 dan gerakan diskusi bernama Gerakan Demokrat Kampus (Gedek). Kedua organisasi itu merupakan wadah alternatif bagi gerakan Ganjar dan kawan-kawannya karena di GMNI waktu itu tidak ada kepengurusan yang nyata sebagai dampak kebijakan dari Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK) dan Badan Koordinasi Keorganisasian (BKK) diterapkan kepada seluruh perguruan tinggi di Indonesia oleh rezim pemerintahan Soeharto. Namun secara subtansi, mayoritas mahasiswa GMNI Fakultas UGM bergabung secara serempak di Majestik 55 dan Gedek.

Baca Juga:   Gotong Royong dan Kolaborasi Dorong Wujudkan Masyarakat Adil Makmur

Ini pula yang menjadi alasan secara ideologis kedua organisasi tersebut merupakan organisasi bayangan yang didesain sebagai wadah menjalankan ideologi Marhaenisme Bung Karno. Gerakan ini semakin meluas. Aktivitas protes pada kebijakan pemerintah atas pelbagai kebijakan yang dianggap tidak berpihak pada rakyat kecil menjadi fokus utama dunia pergerakan Ganjar dan kawan-kawannya. Seorang senior di GMNI yang juga merupakan politisi dan anggota DPR dari Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Soetardjo Soerjogoeritno atau Mbah Tarjo menaruh perhatian terhadap aktivitas Ganjar dan Gerakan Demokrat Kampus (Gedek) yang membuat gerakan protes bernama “Bangkit”.

Gerakan ini awalnya adalah gerakan moral membangun kesadaran agar mahasiswa-mahasiswa nasionalis di UGM bangkit dalam memberikan perlawanan pada rezim orde baru. Waktu itu Ganjar dan kawan-kawannya memakai kaos putih, bergambar Bung Karno berwarna merah dengan bertuliskan “Bangkit” dan “Generasi Demokrat Kampus”. Sikap Ganjar yang kritis dan cerdas langsung memikat hati Mbah Tarjo. Ganjar secara verbatim kemudian diundang Mbah Tarjo datang ke rumahnya dalam melanjutkan diskusi terkait persoalan kerakyatan.

Mbah Tarjo punya panggilan kesayangan pada Ganjar, yaitu Ganjar Gedek. Ganjar Gedek di sini merujuk pada Gerakan Demokrat Kampus (Gedek) Yogyakarta yang diinisiasi Ganjar dan teman-teman aktivisnya. Bersama temannya yang bernama Sugeng Triyono atau kerap disapa Jabrik, Ganjar kemudian mendatangi rumah Mbah Tarjo untuk belajar tentang pemikiran Sukarno dan relevansinya terhadap perlawanan pada kapitalisme dan imperialisme di era mutakhir. Mbah Tarjo adalah guru ideologi sekaligus guru politik Ganjar yang banyak “memprovokasi” dunia aktivisme Ganjar. Mbah Tarjo pula yang menjadi jalan politik bagi Ganjar untuk mengarungi politik bersama PDI (sekarang PDI Perjuangan).

Dikejar-Kejar Rezim Orde Baru

Salah satu advokasi yang dilakukan Ganjar ketika menjadi aktivis mahasiswa adalah kala ia bersama Gerakan Demokrat Kampus (Gedek) dan beberapa aliansi gerakan mahasiswa di UGM mengadvokasi pembangunan Waduk Kedung Ombo yang menenggelamkan 37 desa pada 7 kecamatan di 3 kabupaten, yaitu Kabupaten Sragen, Kabupaten Boyolali, dan Kabuapaten Grobogan. Sebanyak 5.268 keluarga terpaksa kehilangan tanahnya karena pembangunan waduk ini dan secara tragis mendapat penggusuran pada awal 1990-an. Waktu itu Ganjar dan kawan-kawan aktivisnya banyak mengalami teror dan intimidasi atas perlawanan mereka terhadap mega proyek tersebut.

Baca Juga:   Mananwir Paul Finsen Mayor dan Dislokasi Geopolitik Nusantara di Papua

Ganjar selama berbulan-bulan lamanya sempat bersembunyi dan tinggal pada salah satu masjid di Boyolali, tidak pulang ke rumah kakaknya di Yogyakarta agar tidak mudah ditemukan oleh pihak aparat. Adapun proyek pembangunan Waduk Kedung Ombo merupakan proyek nasional yang mendapatkan perhatian lebih dari pemerintahan orde baru. Proyek itu bernilai lebih dari 281 juta dolar dengan rincian 156 juta dolar berasal dari pinjaman pada Bank Dunia dan sisanya 25,2 juta dolar berasal dari Bank Exim Jepang, dan serta sisanya ditopang oleh APBN multi-tahun, yaitu APBN tahun 1985 sampai APBN tahun 1989.

Tentu saja bagi penguasa orde baru, aktivitas Ganjar dianggap mengganggu kenyamanan pemerintah karena secara alamiah masyarakat yang terdampak memberikan dukungan penuh pada anak-anak muda UGM itu. Ganjar membangun garis demarkasi antara dirinya dengan pemerintah dalam bentuk perlawanan. Namun bagi seorang Ganjar, perjuangan mengadvokasi masyarakat terdampak pembangunan Waduk Kedung Ombo bukan sekadar eksistensi sebagai aktivis mahasiswa. Perjuangan menolak pembangunan Wadung Kedung Ombo adalah bentuk panggilan hati nurani yang tidak bisa ditawar.

Karena bagi Ganjar kala itu kesejahteraan masyarakat adalah hal pokok yang harus dan wajib dipenuhi serta tidak ada pilihan bergeser satu langkah pun dari apa yang diyakininya. Perjuangan berbulan-bulan bersama masyarakat terdampak pembangunan Waduk Kedung Ombo membentuk karakter Ganjar untuk lebih peka terhadap kesulitan rakyat. Dari pengalaman berbulan-bulan mengadvokasi rakyat ini pula ia belajar bahwa rezim pemerintahan otoritarianisme harus segera diakhiri karena banyak membuat kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat. Sehingga keyakinannya terhadap perjuangan kerakyatan merupakan kewajiban memerdekakan rakyat marhaen dari segala bentuk eksploitasi, diskriminasi dan penindasan. *Kompas

 

 

 

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Bakercab GMNI Bandung Desak DPRD Kota Bandung Tolak LKPJ Pemkot Bandung
Senin, 11 Mei 2026 | 17:58 WIB
DPK GMNI IPB Soroti Dampak Reklamasi dan Tol Laut terhadap Nelayan Cilincing
Senin, 11 Mei 2026 | 17:16 WIB
Hantu Film Pesta Babi: Seseram Apakah bagi Pemerintahan Prabowo-Gibran?
Senin, 11 Mei 2026 | 12:16 WIB
Soekarno, Marhaenisme, dan Krisis Demokrasi Modern
Minggu, 10 Mei 2026 | 19:33 WIB
Lanjutkan Program Bersama PA GMNI, PERADI UTAMA Buka PKPA Beasiswa Murni Batch 3 untuk Kader GMNI se-Indonesia
Minggu, 10 Mei 2026 | 01:02 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
Tirani yang Tersenyum dalam Bayang Kiamat Epistemik: Evolusi Kekuasaan dari Orwellian ke Huxleyian – Part I
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

Kaderisasi adalah Kekuatan Persatuan dalam Tubuh GMNI

Marhaenist.id - Berbicara soal perpecahan didalam tubuh Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia adalah…

Pejuang Pemikir: Identitas Kita

Marhaenist.id - Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) lahir dan mendeklarasikan eksistensinya sebagai…

Hari Ibu di Kandang Rakyat: Ir. Robi Agustiar Salah Satu Pendiri GMNI Sumedang Tegaskan Peternak adalah Marhaen Modern

Marhaenist.id, Bandung - Di tengah peringatan Hari Ibu, Ir. Robi Agustiar, S.Pt.,…

GMNI Surabaya Mengecam Wacana Pengelolahan Tambang oleh Perguruan Tinggi: Merusak Marwah Lembaga Pendidikan

Marhaenist.id, Surabaya - Wacana pemberian izin usaha tambang untuk perguruan tinggi yang…

Pernyataan Sikap Politik Konsolidasi Barisan Nasionalis

___________________________________________________ Terdiri dari perwakilan 27 organisasi dan para tokoh kaum Nasionalis BK.…

Brave Pink, Hero Green, dan SEAbling

Marhaenist.id - Akhir-akhir ini linimasa kita ramai banget sama warna pink dan…

GMNI UM-Purwokerto Ditribusikan Kadernya Menjadi Tim Pemantau Pilkada Banyumas 2024

Marhaenist.id, Purwokerto - Kader Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Universitas Muhammadiyah Purwokerto…

Konflik Politik di Buton Selatan Memanas: Bupati dan Wakilnya Saling Lapor, GMNI Kritik Ketidakdewasaan Kepemimpinan Daerah

Marhaenist.id, Buton Selatan -Ketegangan politis semakin tajam di Kabupaten Buton Selatan (Busel)…

Hakekat dari Pancasila adalah Membela Kaum Miskin

Marhaenist.id - Mungkin bagi sebagian besar aktivis mahasiswa saat ini yang berada…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?