By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Soekarno Bukan Sekedar Presiden
Ekonomi Biru: Analisis Kritis Atas Kapitalisme Maritim
Perkuat Pembangunan Nasional, PA GMNI di Sultra Gaungkan Kolaborasi Antar Organ Alumni Cipayung
Wacana Pemakzulan Presiden, Firman Tendry Masengi: Titik Temu Legalitas Konstitusi dan Legitimasi Rakyat
Pemakzulan, Konstitusi, dan Legitimasi Rakyat

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Sukarnoisme

Jauh di Mata, Dekat di Hati: Persaudaraan Ho Chi Minh dan Soekarno

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Kamis, 19 Februari 2026 | 15:54 WIB
Bagikan
Waktu Baca 4 Menit
Bagikan

Marhaenist.id – Enam puluh tahun silam, sebuah peristiwa diplomatik yang sarat rasa dan makna tercatat dalam sejarah Asia Tenggara. Seorang pemimpin revolusi Vietnam, Ho Chi Minh, menapakkan kaki di Indonesia, yaitu negeri pertama di kawasan ini yang ia kunjungi pasca kemenangan bersejarah di Dien Bien Phu tahun 1954. Indonesia bukan sekadar tujuan diplomatik, melainkan rumah persahabatan.

Akhir Februari 1959, rakyat Indonesia menyaksikan sosok sederhana dengan janggut memutih dan senyum hangat turun dari pesawat di Bandara Kemayoran, Jakarta. Sambutan meriah mengalir dari hati ke hati. Presiden pertama Indonesia, Soekarno, menyambutnya bukan sebagai tamu negara biasa, melainkan sebagai saudara, yaitu “Paman Ho”. Sebutan itu pun dibalas penuh keakraban: “Bung Karno”.

Dalam pidato penyambutan yang menggetarkan, Bung Karno menyuarakan kekaguman bangsa Indonesia terhadap Paman Ho, yaitu seorang pejuang kemerdekaan, penentang kolonialisme dan imperialisme, serta simbol perjuangan keadilan sosial. Dari Sabang sampai Merauke, rakyat Indonesia mengenal dan menghormatinya.

Selama sepuluh hari di Indonesia, Paman Ho menjelajah Jakarta, Bandung, Medan, Bali, hingga Surabaya, yaitu kampung halaman Bung Karno. Di setiap kota, pekik persahabatan menggema: “Hidup Paman Ho! Hidup Vietnam–Indonesia!” Ia bahkan berpidato di hadapan DPR Indonesia, menegaskan kesamaan nasib dan cita-cita kedua bangsa. Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945; setengah bulan kemudian, 2 September 1945, Vietnam menyusul melahirkan Republik Demokrasi Vietnam.

Persaudaraan itu bukan simbol semata. Paman Ho menjalin ikatan keluarga dengan Bung Karno dan mengangkat putrinya, Megawati, sebagai anak angkat, sebuah gestur yang menegaskan kedekatan personal di balik diplomasi.

Tiga bulan berselang, giliran Bung Karno berkunjung ke Vietnam (24–26 Juni 1959). Setibanya di bandara, ia berseru lantang, “Selamat datang, kakak sulungku!”, lalu memeluk Paman Ho. Sambutan rakyat Vietnam membanjir dari kota hingga desa, dari sekolah hingga pabrik, dari barak tentara hingga alun-alun. Hanoi bergemuruh oleh kehadiran sahabat besar bangsa Vietnam.

Baca Juga:   Ironi Proklamator Kemerdekaan yang Diakhir Hayatnya Malah Diperkosa Kemerdekaannya

Di hadapan jutaan warga, Paman Ho mengutip bait puisi rakyat Vietnam, yaitu Puisi Kieu yang kemudian abadi dalam sejarah persahabatan kedua bangsa:

Jauh di mata, dekat di hati
Teman sejati, saudara sejati

Ia menutup dengan seruan persatuan yang menggugah:
Bersatu, bersatu, dan bersatu,
Kesulitan apa pun dapat kita atasi,
Musuh mana pun dapat kita kalahkan,
Kemenangan sebesar apa pun dapat kita raih.

Pada 27 Juni 1959, Paman Ho menganugerahkan Bintang Perlawanan Kelas Satu kepada Bung Karno. Terharu, Bung Karno membalas dengan keyakinan mendalam, yaitu bangsa Vietnam dengan rakyat, semangat, dan pemimpin seperti itu pasti menang. Sebelum kembali, ia mengangkat tangan tinggi-tinggi dan berseru, “Hidup Vietnam!”

Takdir kemudian memisahkan mereka. Paman Ho wafat pada 2 September 1969; setahun kemudian, 21 Juni 1970, Bung Karno menyusul. Namun persahabatan yang mereka rajut tak pernah padam. Fondasi itu terus hidup dalam hubungan diplomatik Vietnam–Indonesia yang kini hampir 65 tahun, berkembang menjadi kemitraan strategis dan kerja sama lintas bidang.

Hari ini, Vietnam dan Indonesia berdiri sebagai sahabat di kawasan, sebuah warisan persaudaraan yang lahir dari perjuangan, diperkuat oleh rasa, dan dirangkum indah dalam satu kalimat abadi: jauh di mata, dekat di hati.***


Sumber: Facebook Ragam Fakta.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Soekarno Bukan Sekedar Presiden
Minggu, 12 April 2026 | 13:37 WIB
Foto: Benediktus Aquino, Alumni GMNI DKI Jakarta (Dokpri)/MARHAENIST.
Ekonomi Biru: Analisis Kritis Atas Kapitalisme Maritim
Sabtu, 11 April 2026 | 22:02 WIB
Perkuat Pembangunan Nasional, PA GMNI di Sultra Gaungkan Kolaborasi Antar Organ Alumni Cipayung
Sabtu, 11 April 2026 | 19:21 WIB
Wacana Pemakzulan Presiden, Firman Tendry Masengi: Titik Temu Legalitas Konstitusi dan Legitimasi Rakyat
Sabtu, 11 April 2026 | 18:07 WIB
Pemakzulan, Konstitusi, dan Legitimasi Rakyat
Sabtu, 11 April 2026 | 12:16 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

Sikapi Dugaan Pembunuhan Tahanan oleh Oknum Kepolisian, GMNI Polman Minta Pelaku di Hukum Sebarat-Beratnya

Marhaenist.id, Polman - Seorang tahanan laki-laki berinisial R, warga Dusun Tatamu, Desa…

Populisme Kanan dan Tantangan Demokrasi Marhaen di Era Digital

Marhaenist.id - Demokrasi Indonesia tengah menghadapi tantangan serius. Bukan dari absennya prosedur…

Reforma Agraria dan Krisis Keadilan Sosial

Marhaenist.id - Persoalan agraria di Indonesia bukan isu baru, tetapi luka lama…

Pemuda Kaubun Tekankan Bawaslu Kutim ke Panwascam Kawal PKPU No 15 Tahun 2023 Tentang Larangan Pemilu 2024

Marhaenist.id, Kutai Timur  - Marak terjadi pemasangan Alat Peraga Kampanye (APK) Politik…

Kepemimpinan Baduy Menjaga Pangan Indonesia

Marhaenist.id - Di tengah krisis iklim dan ketergantungan pangan pada pasar global,…

Gelar FGD, DPC GMNI Kendari Ajak Kaum Milenial Cerdas Dalam Bermedia Sosial

Marhaenist.id, Kendari - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Resmikan Sekretariat Gotong-Royong GMNI Banyuwangi, Rifqi Nuril Huda: Ini Siap Jadi Pusat Penguatan Intelektual Kader

Marhaenist.id, Banyuwangi - Sekretariat Gotong Royong Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Banyuwangi di…

Kebijakan Makam Tumpang Surabaya Dikritik, Pemuda Demokrat Soroti Penyusutan RTH dan Pengabaian Kewajiban Pengembang

Marhaenist.id, Surabaya - Rencana Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya melalui pernyataan Walikota Surabaya Eri…

Refleksi 17 Agustus 1945: Menuju Kemerdekaan RI, Mengenang Peristiwa Rengasdengklok

Marhaenist.id - Pada 15 Agustus 1945, sekitar pukul 19.00, pertemuan dengan berbagai…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?