Marhaenist.id – Wacana pergantian Prof. Arief Hidayat dengan nama Adies Kadir bukan sekadar isu personal atau rotasi jabatan biasa. Ia adalah pertarungan arah kekuasaan: apakah institusi strategis negara akan tetap dijaga oleh integritas dan nalar konstitusional, atau justru direduksi menjadi bagian dari transaksi politik elite.
Nama Adies Kadir yang kini digadang-gadang muncul untuk menjadi salah satu hakim MK, justru menghadirkan tanda tanya besar bukan harapan. Di balik manuver politik yang ada dan akumulasi jabatan yang ia miliki, rekam jejak Adies Kadir tak lepas dari sejumlah kontroversi yang patut dicermati secara kritis.
Politik Tanpa Gagasan, Kekuasaan Tanpa Visi
Adies Kadir adalah produk paling telanjang dari politik akumulatif: politik yang tumbuh bukan dari gagasan, keberanian moral, atau keberpihakan ideologis, melainkan dari keluwesan membaca arah angin kekuasaan.
Kariernya menanjak seiring kedekatannya dengan pusat-pusat elite, bukan karena rekam jejak intelektual atau perjuangan membela kepentingan rakyat.
Model politik semacam ini berbahaya bila ditempatkan di posisi strategis negara. Ia melahirkan pejabat yang piawai menjaga stabilitas elite, tetapi gagap ketika harus membela konstitusi dan keadilan sosial.
Jejak DPR dan Legislasi Bermasalah
Tak bisa dipungkiri, nama Adies Kadir melekat erat dengan wajah DPR yang hari ini banyak kehilangan legitimasi publik. Lembaga yang semestinya menjadi rumah rakyat justru dikenal sebagai pabrik undang-undang bermasalah minim partisipasi, terburu-buru, dan sarat kepentingan oligarki.
Diam atau ikut mengamini proses legislasi semacam itu bukan sikap netral. Itu adalah bentuk keberpihakan. Dan keberpihakan tersebut jelas bukan pada rakyat kecil, buruh, petani, dan kaum marhaen, melainkan pada kepentingan modal dan elite politik.
Dalam konteks ini pula, publik mempertanyakan sejauh mana Adies Kadir-sebagai bagian dari pimpinan dan elite parlemen-memiliki keberanian moral untuk berdiri di sisi rakyat, bukan sekadar menjadi perpanjangan tangan kompromi politik kekuasaan.
Krisis Etika dan Keteladanan
Lebih dari sekadar soal kebijakan, problem utama Adies Kadir adalah krisis etika politik. Di tengah kemiskinan struktural, ketimpangan agraria, dan kriminalisasi rakyat kecil, figur-figur elite justru tampil dengan bahasa kekuasaan yang dingin, elitis, dan jauh dari empati sosial.
Bagaimana mungkin publik mempercayakan posisi strategis negara kepada sosok yang tak menunjukkan kepekaan terhadap penderitaan rakyat? Jabatan tinggi bukan sekadar soal kemampuan administratif, tetapi soal keteladanan moral.
Mengganti Prof. Arief: Sebuah Kemunduran?
Prof. Arief Hidayat dikenal sebagai figur yang jujur dengan basis intelektual, tradisi akademik, dan kesadaran konstitusional. Menggantinya dengan figur yang lebih dikenal karena manuver politik ketimbang pemikiran kenegaraan adalah langkah mundur bagi demokrasi.
Ini bukan soal personal Adies Kadir. Ini soal standar kepemimpinan nasional. Jika standar itu diturunkan demi kompromi elite, maka yang dikorbankan adalah masa depan konstitusi dan kepercayaan publik.
Negara Bukan Ladang Bagi Politisi Pragmatis
Negara bukan ladang karier. Konstitusi bukan alat tawar-menawar. Dan jabatan strategis bukan kompensasi atas loyalitas politik. Jika wacana penggantian ini dipaksakan, publik berhak mencurigai satu hal: institusi negara sedang ditarik semakin jauh ke dalam pelukan oligarki.
Sejarah mencatat, kehancuran bangsa tidak selalu dimulai dari kudeta atau konflik terbuka. Ia sering lahir dari keputusan-keputusan “biasa” yang menormalisasi mediokritas dan menghalalkan pragmatisme.
Saatnya Publik Bersikap
Wacana Adies Kadir menggantikan Prof. Arief harus dihentikan atau setidaknya diuji secara terbuka dan keras. Bukan lewat bisik-bisik elite, tetapi melalui pengadilan opini publik.
Demokrasi akan mati bukan karena kurangnya pemilu, melainkan karena rakyat dibiarkan diam ketika standar moral kekuasaan diruntuhkan. Jika jabatan strategis terus diisi oleh politisi tanpa visi ideologis dan keberanian etis, maka negara ini pelan-pelan kehilangan arah dan kehilangan jiwanya.***
Penulis: La Ode Mustawwadhaar, Redaksi Marhaenist.id.