
Marhaenist.id, Jakarta — Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) dibawah kepemimpinan Sujarhi-Amir menyatakan keprihatinan mendalam atas semakin memburuknya kondisi politik internasional yang ditandai dengan meningkatnya konflik bersenjata, rivalitas geopolitik antarnegara adidaya, serta eskalasi ketegangan militer di berbagai kawasan dunia.
Situasi ini dinilai membuka kemungkinan nyata terjadinya Perang Dunia III yang akan membawa penderitaan luas bagi umat manusia, khususnya negara-negara berkembang.
Ketua DPP GMNI Bidang Hubungan Internasional, Cristian Viery Pagliuca, menegaskan bahwa konflik-konflik global yang terjadi saat ini bukanlah konflik ideologis demi kemanusiaan, melainkan konflik yang berakar pada praktik imperialisme modern, perebutan sumber daya alam, dominasi ekonomi-politik, serta kepentingan kapitalisme global.
“Negara-negara kuat menggunakan perang, sanksi ekonomi, dan intervensi politik sebagai instrumen untuk mempertahankan hegemoninya, sementara rakyat dunia menjadi korban utama,” tegas Cristian.
GMNI menilai, berbagai konflik dan ketegangan internasional yang belakangan terjadi menunjukkan pola yang sama.
Mulai dari konflik Rusia–Ukraina, upaya penguasaan sumber daya alam Venezuela oleh Amerika Serikat dengan dalih penangkapan Presiden Nicolas Maduro, ketegangan Amerika Serikat dengan Denmark, perseteruan wilayah Thailand–Kamboja, hingga konflik di kawasan lain di dunia.
Cristian juga menyoroti keputusan Indonesia yang menyatakan keterlibatan dalam Dewan Perdamaian yang dibentuk oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Menurutnya, langkah tersebut seharusnya menjadi momentum bagi Indonesia untuk kembali memainkan peran strategis sebagai pelopor Gerakan Non-Blok dan jembatan perdamaian dunia.
“Jika dunia dipaksa memilih kubu, maka Indonesia harus memilih kedaulatan. Jika ‘perdamaian’ dijadikan alat dominasi, maka melawannya adalah sikap politik yang sah,” ujarnya.
Atas kondisi tersebut, GMNI mendesak:
Pemerintah Indonesia untuk tetap konsisten menjalankan politik luar negeri bebas dan aktif, tidak terseret dalam blok kekuatan mana pun, serta berani bersuara lantang menentang perang dan agresi militer di forum internasional.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) agar tidak tunduk pada kepentingan negara-negara besar dan kembali pada mandat utamanya sebagai penjaga perdamaian dunia.
Solidaritas internasional rakyat dunia, khususnya gerakan mahasiswa dan kaum tertindas, untuk melawan perang, imperialisme, dan segala bentuk eksploitasi global.
GMNI meyakini bahwa perdamaian dunia hanya dapat terwujud melalui keadilan sosial, kedaulatan bangsa-bangsa, serta penghormatan terhadap hak menentukan nasib sendiri.
Sejalan dengan amanat Pembukaan UUD 1945 dan semangat Dasasila Bandung, GMNI menyerukan:
Hentikan perang! Lawan imperialisme! Bangun dunia yang adil, damai, dan berperikemanusiaan.
“Perdamaian bukan hadiah dari negara kuat, melainkan hak seluruh umat manusia,” tandas Cristian.***
Penulis: Redaksi/Editor: Bung Wadhaar.