By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Nubuat Bung Karno Terbukti: Saat Bangsa Sendiri Menjadi Algojo Bagi Nalar dan Demokrasi Rakyat
DPC GMNI Jeneponto Bedah Film ‘Pesta Babi’, Soroti Praktik Kolonialisme Modern di Daerah
DPD GMNI Sultra Buka Posko Pengaduan Tenaga Kerja, Perkuat Perjuangan Hak Buruh di Sulawesi Tenggara
DPC GMNI Jember Tolak Tegas Wacana Reduksi Kampus sebagai Instrumen Industri
DPC GMNI Jember Kecam Krisis Etika DPRD Jember: Legislator Gen Z Gagal Menjadi Teladan Politik

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

KPK dan Tangan Besi Sudewo ‘Bupati Pati’

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Selasa, 20 Januari 2026 | 08:34 WIB
Bagikan
Waktu Baca 3 Menit
Foto: Sudewo, Bupati Pati Jawa Tengah yang ditejaring OTT KPK (Sumber: Desain AI)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sejak awal berdirinya diposisikan sebagai simbol harapan publik dalam memberantas praktik korupsi yang telah mengakar dalam tubuh birokrasi dan kekuasaan.

Namun harapan itu kerap diuji ketika berhadapan dengan kepala daerah yang menerapkan gaya kepemimpinan “tangan besi”, salah satunya yang kini menjadi sorotan adalah Sudewo, Bupati Pati.

Gaya kepemimpinan tangan besi sering kali dibungkus dengan narasi ketegasan, disiplin, dan keberanian mengambil keputusan. Dalam konteks tertentu, ketegasan memang diperlukan untuk memotong rantai birokrasi yang lamban dan sarat kepentingan.

Namun ketika ketegasan berubah menjadi otoritarianisme lokal-minim transparansi, anti kritik, dan cenderung memusatkan kekuasaan, maka di situlah alarm demokrasi seharusnya berbunyi.

Sebagai kepala daerah, Sudewo memiliki kewenangan besar dalam menentukan arah pembangunan, pengelolaan anggaran, hingga kebijakan strategis daerah. Kekuasaan yang besar tanpa pengawasan yang kuat selalu menyimpan potensi penyalahgunaan.

Di sinilah peran KPK menjadi sangat krusial, bukan hanya sebagai penindak, tetapi juga sebagai pengawas moral dan institusional terhadap praktik pemerintahan daerah.

Sayangnya, publik sering menyaksikan bagaimana relasi antara kepala daerah yang kuat secara politik dengan aparat penegak hukum menjadi relasi yang timpang.

Ketika kritik dibungkam, oposisi dilemahkan, dan masyarakat sipil dipersempit ruangnya, maka informasi tentang dugaan penyimpangan pun menjadi sulit mengalir.

KPK tidak boleh terjebak pada logika “menunggu laporan”, sebab dalam situasi kekuasaan tangan besi, laporan sering kali terhambat oleh rasa takut.

Kepemimpinan yang keras juga kerap menggunakan legitimasi elektoral sebagai tameng. Padahal kemenangan dalam pemilihan tidak pernah berarti cek kosong untuk menjalankan kekuasaan tanpa batas.

Demokrasi tidak berhenti di bilik suara; ia hidup melalui kontrol publik, transparansi, dan supremasi hukum.

Baca Juga:   Rezim Jokowi Sudah Jatuh Secara Moral dan De Facto

Jika KPK ingin tetap relevan dan dipercaya, maka keberanian menghadapi figur-figur kuat di daerah adalah ujian nyata. KPK harus menunjukkan bahwa tidak ada kepala daerah yang kebal hukum, sekuat apa pun jaringan politik dan citra kepemimpinannya.

Ketegasan KPK justru diperlukan untuk menyeimbangkan “tangan besi” kekuasaan lokal agar tidak berubah menjadi tangan yang menindas rakyatnya sendiri.

Pada akhirnya, Pati seperti daerah lain di Indonesia-tidak membutuhkan pemimpin yang hanya kuat dalam memerintah, tetapi lemah dalam akuntabilitas. Dan Indonesia tidak membutuhkan lembaga antikorupsi yang hanya tajam ke bawah, tetapi tumpul ke atas.

Pertemuan antara KPK dan kepemimpinan tangan besi akan selalu menjadi penentu: apakah hukum benar-benar berdiri di atas kekuasaan, atau justru tunduk padanya.***


Catatan Redaksi, Ditulis Oleh: La Ode Mustawwadhaar.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Nubuat Bung Karno Terbukti: Saat Bangsa Sendiri Menjadi Algojo Bagi Nalar dan Demokrasi Rakyat
Rabu, 13 Mei 2026 | 15:49 WIB
DPC GMNI Jeneponto Bedah Film ‘Pesta Babi’, Soroti Praktik Kolonialisme Modern di Daerah
Rabu, 13 Mei 2026 | 14:23 WIB
DPD GMNI Sultra Buka Posko Pengaduan Tenaga Kerja, Perkuat Perjuangan Hak Buruh di Sulawesi Tenggara
Rabu, 13 Mei 2026 | 13:11 WIB
DPC GMNI Jember Tolak Tegas Wacana Reduksi Kampus sebagai Instrumen Industri
Rabu, 13 Mei 2026 | 00:57 WIB
DPC GMNI Jember Kecam Krisis Etika DPRD Jember: Legislator Gen Z Gagal Menjadi Teladan Politik
Selasa, 12 Mei 2026 | 22:06 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
Tirani yang Tersenyum dalam Bayang Kiamat Epistemik: Evolusi Kekuasaan dari Orwellian ke Huxleyian – Part I
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

DPC PA GMNI Solo Dukung Kadernya Maju Pada Kontestasi Pilkada 2024

Marhaenist.id, Solo - Dewan Pengurus Cabang (DPC) Persatuan Alumni (PA) Gerakan Mahasiswa…

Aksi Protes Peternak Buang Susu: Quo Vadis Kedaulatan Nasional

Marhaenist.id - Merlihat aksi demonstratif peternak susu di Boyolali yang membuang susu sapi…

DPC GMNI Palembang Siap Dampingi Masyarakat dalam Kasus Drainase Tersumbat Akibat Ulah Developer

Marhaenist id, Palembang — Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia…

Mahasiswa Apatis, Ketua DPK GMNI STIE Indonesia Jakarta Soroti Sikap Individualis dan Pentingnya Kesadaran Kolektif

Marhaenist.id, Jakarta – Fenomena menurunnya minat mahasiswa dalam mengikuti organisasi dan pergerakan…

Gelar Acara Silahturahmi, GMNI Kendari Pererat Jalinan Kekeluargaan Antara Anggota dan Kader Se-Kota Kendari

Marhaenist.id, Kendari - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

GMNI Jakarta Selatan Serukan Aksi Solidaritas untuk Laras Faizati dan Aktivis yang Dikriminalisasi

Marhaenist.id, Jakarta — Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Republik Jenderal Multitasking

Marhaenist.id - Tuhan tampaknya menciptakan spesies baru manusia: Di Wakanda  manusia berseragam…

Sudah Sejahterakah Buruh Hari Ini? Telaah Kritis Melalui Perspektif Marxis

Marhaenist.id - Di tengah kemajuan teknologi, liberalisasi ekonomi, dan pergeseran dunia kerja,…

Beri Sambutan Dalam Pembukaan Konferda V PA GMNI Jakarta Raya, Pramono Anung Soroti Tingginya Ketimpangan Sosial di Jakarta

Marhaenist.id, Jakarta — Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menegaskan bahwa salah satu persoalan…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?