Marhaenist.id – Pemerkosaan Kekuasaan adalah cara paling ampuh dalam mengusai Sumber Daya Alam. Karena Amerika Serikat dalam segala kekuatannya militernya mampu melakukan hal tersebut.
Permerkosaan kekuasaan yang dilakukan Amerika Serikat dalam mengusai Vanezuela merupakan hilangnya daulat suatu negara diseterakan dengan hilangnya juga daulat rakyat Venezuala.
Namun, Reaksi Amerika melakukan hal tersebut ketidakterlepasan antara hubungan ekonomi-politik Vanezuela yang kehilangan kepercayaan dan keharmonisan. Hal itu disebabkan Venezuela membangun hubungan ekonomi yang lebih harmonis ke Rusia.
Hubungan itu dapat dilihat dengan bilateral ekonomi antara Venezuela dan Rusia dalam minyak, gas, dan kemiliteran. (Vovworld, 2019). Sementara dua negera ini yakni Rusia dan Amerika saling memiliki catatan historisnya dan pertarungan ekonominya.
Indonesia pada masa orde lama yang dibawah kepemimpinan Bung Karno menyampaikan dalam hal Pidatonya di Konferensi Asia-Afrika yakni Dunia Baru Ke-tiga yang pada intinya penyampain tatanan dunia yang lebih adil, damai, dan tidak terbagi oleh rivatalitas antara blok timur dan blok barat. Ide dan Gagasan Dunia Baru Jalan Ketiga melihat Pertarungan Ekonomi Politik Internasional yakni antara negara Rusia dengan Amerika Serikat semakin relevan dilakukan dengan memperhatikan kembali Nasionalisme Indonesia.
Nasionalisme Indonesia itu Nasionalisme yang tumbuh ditamannya internasionalisme, Nasionalisme Indonesia itu adalah Nasionalisme yang bukan Nasionalisme Cavunisme tapi Nasionalisme Indonesia itu yang menolak penindasan manusia atas manusia, bangsa atas bangsa.
Nasionalisme Indonesia itu adalah Kemanusian. Artinya, dalam konteks yang terjadi dalam pemerkosaan kekuasaan yang dilakukan Amerika Serikat terhadap Venezuela adalah bentuk kehilanganya kemanusian tersebut baik dalam hal ekonomi dan politik.
Sehingga dibutuhkan peran yang lebih jauh kedepan terhadap tatanan dunia yang berdasarkan kepercayaan bangsa atas bangsa dengan Tujuan “Usaha Bersama Bangsa Membangun Tatanan Dunia Baru Jalan Ketiga” dan berprinsip atas “Keadilan Bagi Seluruh Bangsa-Bangsa”
Disisi lain, Presiden Venezuela yaitu Nikolas Maduro dalam beberapa halnya keberpihakan ekonomi politik pada Rusia gagal memberikan kesejahteraan bagi rakyatnya. Hal tersebut dapat dilihat dari tingkat kemiskinan hampir 90 persen dari populasi.
Pada tanggal 14 November 2017, lembaga pemeringkat kredit menyatakan bahwa Venezuela gagal membayar utangnya, dengan Standard & Poor’s mengkategorikan Venezuela sebagai “gagal bayar selektif”.(Wikepedia).
Kemudian, Dilain sisi ini kejadian dalam pemerkosaan kekuasaan yang dilakukan Amerika Serikat merupakan bentuk-bentuk kejahatan yang juga tidak dapat ditoleransi dengan segala isu, maksud dan tujuan yang disampaikan. Dan pastinya, permerkosaan kekuasaan itu bagian bentuk penguasaan ekonomi di Venezuela.
Amerika Serikat dengan super powernnya juga ingin menunjukan kepada dunia, bahwa Pemerkosaan Kekuasaan adalah langkah politik dalam pelebaran arus ekonominya agar memberikan peringatan kepada negara-negara yang tidak sejalan dengan arus ekonomi negara Amerika.
Dalam kacamata berberda, berkerja Sama dalam hubungan ekonomi dengan Amerika Serikat dapat membawa untung keuangan dalam pembangunan suatu negara. Namun Asalkan negara itu yang berkerja sama dengan Amerika Serikat adalah Negara yang bisa mempagarkan diri atas dasar politik kebangsaan yang kuat. Sebab, satu negara yang tidak dipagarin oleh kebangsaan kuat akan menjadi suatu keliaran yang hanya menimbulkan kekacauan politik.
Selian itu, Bilateral Ekonomi dengan Rusia dapat membawa iklim ekonomi yang setara. Hal tersebut dicirikan bagaimana Rusia dalam Bilateral Ekonomi berprinsip pada keseteraan.
Namun diantara kedua Negara Rusia dan Amerika Serikat yang memiliki rivalitas akan ber-dampak negatif bagi negara-negara berkembang dalam kondisi sosial, ekonomi dan politik.
Pada sejatinya semua kemerdekaan politik adalah sikap atas tuntutan kesejahteraan ekonomi pada semua rakyat. Namun kesejahteraan rakyat harus didasarkan pada Kemanusian. Dan kemanusian yang dimaksud adalah bagaimana setiap kerja manusia tidak hanya diukur oleh uang. Tapi kemanusian itu Hak yang ada dalam diri manusia yakni pendidikan, kesehatan, budaya, politik dan keadilan.
Maka dari itu, ide dan gagasan konsepsi Bung Karno Dunia Baru Ke tiga makin relevan dilakukan. Karena persoalan bangsa tidak boleh melepaskan kondisi ekonomi politik Internasional. Sebab Tujuan kita Merdeka dalam bernegara dan berbangsa adalah Kemerdekaan Sejati yakni Demokrasi Politik dan Demokrasi Ekonomi. Sehingga mengutip perkataan Bung Karno “Bangunlah Suatu Dunia Dimana Semua Bangsa-Bangsa Hidup Dalam Suatu Perdamaian dan Persaudaran”
Momentum kejadian Venezuala harus diperdayakan Presiden Indonesia yakni Probowo dalam meperkenalkan kepada dunia. Bahwa ada Tatanan Dunia Baru Jalan Ketiga, seperti yang sudah diformulasikan Bung Karno. Pertanyaan-nya, seberapa hebat Probowo merumuskan kembali konsepsi tersebut? Dengan menggalang seluruh elemen partai Politik Indonesia menjadi kesatuan dalam kancah politik Internasional.
Sumber Referensi :
• Ir. Soekarno (1950) Dibawah Bendera Revolisi Jilid 1 : Yayasan Bung Karno.
• Karl Marx. (1867) Das Kapital Komoditi Jilid I : Hasta Mitra
• Karya Lengkap Bung Hatta. Kebangsaan dan Kerakyatan : Universitas Bung Hatta
• Wikepedia. Venezueal Negara Amrika Selatan : https://en.wikipedia.org/wiki/Venezuela dilansir pada tanggal Rabu/07 Januari 2025.
• Vovworld (2019) Rusia Menegaskan Venezuela Merupakan Mitra Strategis Bagi Negara Ini : https://m.vovworld.vn/id-ID/berita/rusia-menegaskan-venezuela-merupakan-mitra-strategis-bagi-negara-ini-728381.vov#ref-https://www.google.com/ dilansir pada tanggal Rabu/ 07 Januari 2025***
Penulis: Paskawan Gultom, Ketua DPC GMNI Medan.