By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Manifesto GMNI di Tengah Jerat Hegemoni Sosial
Tanggapi Akan Adanya Pelaporan Firman Masengi, Pimred Marhaenist.id: Tuduhan Harus Diuji Secara Adil, Jangan Bungkam Ruang Kritik
Mengapa Kepemilikan Alat Produksi tetap menjadikan Marhen Miskin?
Routa Dikepung Oligarki Nikel dan Rakyat Dipinggirkan, DPP GMNI Bidang ESDM Siap Bergabung dalam Koalisi Besar Save Routa
GMNI Cabang Bandung, Rumah yang Menghidupkan Pikiran dan Perjuangan

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Demokrasi Bukan Hadiah Elite, Tetapi Hak Rakyat

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Jumat, 9 Januari 2026 | 01:03 WIB
Bagikan
Waktu Baca 4 Menit
Foto: Moh. Fadli D. Lahalik, Ketua DPC PA GMNI Touna (Dokpri)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Pemilihan Kepala Daerah bukan sekadar persoalan teknis elektoral, melainkan merupakan bagian dari perjuangan ideologis tentang siapa yang sesungguhnya memegang kedaulatan dalam negara, rakyat atau elite.

Dalam perspektif Marhaenisme, demokrasi tidak boleh direduksi menjadi prosedur formal semata, tetapi harus menjadi alat pembebasan kaum marhaen dari penindasan struktural, eksploitasi, dan dominasi elite kekuasaan.

Wacana pemilihan kepala daerah oleh DPR atau DPRD harus dikaji secara kritis dalam kerangka ini. Jika mekanisme tersebut justru menjauhkan rakyat dari proses pengambilan keputusan politik, maka ia bertentangan dengan semangat demokrasi kerakyatan yang diperjuangkan Bung Karno.

Demokrasi bukan hanya tentang efisiensi, melainkan tentang partisipasi, kesadaran politik, dan kedaulatan rakyat atas nasibnya sendiri. Wacana pemilihan kepala daerah oleh DPR sering dibungkus dengan alasan efisiensi, stabilitas, dan penghematan anggaran. Namun, di balik retorika tersebut, terdapat persoalan mendasar, apakah negara sedang berusaha memperbaiki demokrasi, atau justru mundur darinya?

Pemilihan oleh DPR secara faktual akan memangkas keterlibatan rakyat dalam proses politik. Rakyat tidak lagi memilih pemimpinnya sendiri, melainkan hanya menyaksikan elite saling bernegosiasi di ruang tertutup. Ini bukan kemajuan, melainkan kemunduran demokrasi. Ini bukan reformasi, melainkan restorasi kekuasaan elite. Kaum tani, nelayan, buruh, dan rakyat kecil bukanlah objek pembangunan, melainkan subjek sejarah.

Mereka harus memiliki ruang untuk menentukan pemimpinnya sendiri. Ketika hak ini dicabut dan dialihkan kepada segelintir elite di parlemen, maka yang terjadi bukanlah demokrasi, melainkan delegasi kekuasaan yang rawan disusupi kepentingan oligarki.

Pemilihan oleh DPR berpotensi memperkuat politik transaksional, di mana jabatan kepala daerah menjadi komoditas yang dipertukarkan melalui kompromi kepentingan, bukan melalui mandat rakyat. Dalam sistem seperti ini, kepala daerah akan lebih loyal kepada partai dan elite politik dibandingkan kepada rakyat yang seharusnya mereka layani. Ini adalah bentuk baru dari kolonialisme politik. kekuasaan dikuasai segelintir orang, sementara rakyat hanya menjadi penonton.

Baca Juga:   RUU TNI 2024: Adaptasi atau Ancaman bagi Demokrasi?

Dalih bahwa rakyat “mudah terprovokasi” atau “belum dewasa secara politik” adalah bentuk penghinaan terhadap kedaulatan rakyat itu sendiri. Jika demokrasi dianggap merepotkan, maka yang harus diperbaiki adalah sistemnya, bukan dengan mengurangi hak rakyat. Negara seharusnya mendidik, bukan menggantikan suara rakyat.

Bagi GMNI, demokrasi sejati adalah demokrasi yang membebaskan, bukan demokrasi yang menjinakkan. Pemimpin daerah harus lahir dari kehendak rakyat, bukan dari ruang-ruang negosiasi elite. Jika negara sungguh-sungguh berpihak pada kaum marhaen, maka ia harus memperluas ruang partisipasi rakyat, bukan mempersempitnya. Lebih berbahaya lagi, pemilihan oleh DPR membuka ruang besar bagi transaksi politik.

Lobi, deal-deal kekuasaan, kompromi kepentingan, dan praktik politik uang justru akan semakin sulit diawasi publik. Jika Pilkada langsung saja masih rawan korupsi, maka bagaimana dengan sistem yang berlangsung tanpa pengawasan rakyat?, pemimpin yang lahir dari transaksi elite tidak akan pernah benar-benar berpihak kepada rakyat. Ia akan tunduk pada kepentingan partai, pemodal, dan jaringan kekuasaan yang melahirkannya. Dalam sistem ini, rakyat hanya menjadi angka statistik, bukan pemilik kedaulatan.

Pemilihan langsung bukan sistem yang sempurna, tetapi ia memberi ruang bagi rakyat untuk belajar, bersuara, dan berdaulat. Tugas kita bukan menghapus peran rakyat, melainkan memperbaiki kualitas demokrasi itu sendiri, memberantas politik uang, memperkuat pendidikan politik, dan melawan dominasi oligarki.

Demokrasi bukanlah beban, melainkan jalan perjuangan. Demokrasi memang mahal, rumit, dan sering kacau. Tapi sejarah membuktikan bahwa kekuasaan yang tidak dikontrol rakyat akan selalu berubah menjadi tirani. Jika hari ini rakyat dihilangkan dari Pilkada, maka besok bisa jadi hak politik lainnya juga akan dikurangi atas nama “efisiensi”.

Demokrasi bukan sekadar metode memilih pemimpin. Ia adalah perlawanan terhadap dominasi elite, alat kontrol terhadap kekuasaan, dan sarana rakyat mempertahankan martabatnya. Ketika hak memilih dirampas, maka yang dirampas bukan hanya suara, tetapi juga harga diri politik rakyat.***

Baca Juga:   May Day is Not Holiday

Penulis: Moh. Fadli D. Lahalik, Ketua DPC PA GMNI Touna.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Manifesto GMNI di Tengah Jerat Hegemoni Sosial
Rabu, 15 April 2026 | 14:58 WIB
Tanggapi Akan Adanya Pelaporan Firman Masengi, Pimred Marhaenist.id: Tuduhan Harus Diuji Secara Adil, Jangan Bungkam Ruang Kritik
Rabu, 15 April 2026 | 14:13 WIB
Mengapa Kepemilikan Alat Produksi tetap menjadikan Marhen Miskin?
Selasa, 14 April 2026 | 20:54 WIB
Routa Dikepung Oligarki Nikel dan Rakyat Dipinggirkan, DPP GMNI Bidang ESDM Siap Bergabung dalam Koalisi Besar Save Routa
Selasa, 14 April 2026 | 19:40 WIB
GMNI Cabang Bandung, Rumah yang Menghidupkan Pikiran dan Perjuangan
Selasa, 14 April 2026 | 19:26 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
Tirani yang Tersenyum dalam Bayang Kiamat Epistemik: Evolusi Kekuasaan dari Orwellian ke Huxleyian – Part I
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

Foto: Ratusan Kader GMNI Jakarta Selatan. MARHAENIST

Ratusan Kader GMNI Jaksel Gruduk DPR RI Tolak RUU TNI

Marhaenist, Jakarta - Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia…

Tarif Listrik Nasional Berubah, Cek Nominal Tarif/kWh Terbarunya

Marhaenist - Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) resmi…

Ganjar: Bansos Kewajiban Negara, Tidak Boleh Diklaim Pihak Tertentu!

Marhaenist.id, Jakarta - Persoalan bantuan sosial menjadi topik menarik dalam perhelatan debat…

Jelang Kongres Ke-22, M Ageng Dendy Setiawan Nyatakan Tak Maju Sebagai Calon Ketua Umum DPP GMNI

Marhaenist.id, Surabaya - Jelang kongres GMNI ke-XXII, bursa pencalonan sebagai ketua umum…

Pengakuan Bung Karno Soal Pergumulan Batin: Dari ‘Islam Raba-raba’ menjadi ‘Islam yang Yakin’

Marhaenist.id - Saat ini, mungkin masih ada sebagian orang Indonesia yang setelah…

Pemilu 2024 dan Tiktok

Marhaenis.id - Penggunaan media sosial dalam pemilu 2024 telah menjadi fakta yang…

Persoalkan Flayer Bawaslu, GMNI Ternate Anggap Statement Oknum yang Mengatasnamakan GMNI Malut Kekanak-Kanakan

Marhaenist.id, Ternate - Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia…

Reforma Agraria dan Krisis Keadilan Sosial

Marhaenist.id - Persoalan agraria di Indonesia bukan isu baru, tetapi luka lama…

Peningkatan PPN akan Menjadi Disinsentif Bagi Masyarakat Kecil

Marhaenist.id - Keputusan pemberlakuan tarif pajak pertambahan nilai (PPN) sebesar 12 persen…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?