By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Demokrasi Bukan Dagangan Elite: GMNI Situbondo Tolak Tegas Pilkada oleh DPRD
Dokumen Rahasia Amerika: AS Mengetahui Skala Pembantaian Tragedi 1965
Kendalikan Hama Belalang dengan Ayam: Kebijakan Kemandirian Pangan Ibrahim Traoré di Burkina Faso
Sukarno dan Analisis Anti-Kolonialnya yang tidak Rasis
Ibrahim Traoré, Pan-Afrikanisme dan Langkah-Langkahnya untuk Kedaulatan Afrika

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Sukarnoisme

Mengapa Bung Karno Melepas Seluruh Kenegaraaan di Makam Rasullulah?

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Kamis, 8 Januari 2026 | 20:43 WIB
Bagikan
Waktu Baca 3 Menit
Ilustrasi Bung Karno (Sumber: IA)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Pada tahun 1955, Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci. Kunjungan tersebut berlangsung dalam kapasitas ganda: sebagai kepala negara dan sebagai seorang Muslim yang memenuhi panggilan spiritual.

Pemerintah Kerajaan Arab Saudi menyambut Bung Karno sebagai tamu kehormatan negara, bahkan disambut langsung oleh Raja Saud bin Abdulaziz Al Saud.

Perjalanan ini bukan sekadar agenda diplomatik internasional. Di balik protokol kenegaraan yang megah, tersimpan niat personal Bung Karno untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Ia memahami bahwa haji bukan hanya ritual fisik, melainkan perjalanan batin yang menuntut kerendahan hati dan ketundukan penuh kepada Allah SWT.

Puncak makna spiritual itu terasa ketika Bung Karno tiba di Madinah Al-Munawwarah. Kota suci ini menyimpan jejak Rasulullah SAW, pusat peradaban Islam yang sarat dengan nilai keadaban, kesederhanaan, dan keteladanan. Di sanalah Masjid Nabawi berdiri, menjadi tempat peristirahatan terakhir Nabi Muhammad SAW.

Saat hendak memasuki Masjid Nabawi untuk berziarah ke makam Rasulullah, Bung Karno mengambil sebuah keputusan yang sarat makna. Ia dengan sadar dan tenang melepaskan seluruh atribut kepresidenan yang melekat padanya—lencana kehormatan, tanda pangkat, dan simbol-simbol kekuasaan negara.

Tindakan itu sempat mengundang keheranan dari rombongan Kerajaan Arab Saudi. Raja Saud bin Abdulaziz, yang menyaksikan langsung sikap Bung Karno, mempertanyakan alasan di balik pelepasan atribut kenegaraan tersebut. Baginya, Soekarno adalah kepala negara besar yang justru layak dihormati dengan segala simbol kekuasaannya.

Namun jawaban Bung Karno mencerminkan kedalaman spiritual dan pandangan hidupnya. Ia dengan penuh keteduhan menyampaikan bahwa di hadapan Rasulullah SAW, semua gelar, pangkat, dan kedudukan duniawi tidak memiliki arti apa pun. Yang tersisa hanyalah seorang hamba di hadapan Nabi Allah.

Baca Juga:   Mengenal Kehidupan Pribadi Ir. Soekarno

Bagi Bung Karno, makam Rasulullah adalah ruang kesucian yang melampaui hierarki dunia. Ia tidak ingin hadir sebagai presiden, pemimpin revolusi, atau tokoh besar dunia. Ia ingin hadir sebagai manusia biasa, sebagai umat Muhammad yang penuh hormat dan adab.

Sikap tersebut menunjukkan bahwa Bung Karno memahami betul makna kepemimpinan sejati. Kekuasaan, baginya, bukan alat untuk ditinggikan, melainkan amanah yang harus disadari keterbatasannya. Di hadapan nilai-nilai ilahi, kekuasaan manusia hanyalah titipan yang fana.

Kisah ini kemudian dikenang bukan hanya sebagai cerita spiritual, tetapi juga sebagai pelajaran etika kepemimpinan. Bahwa seorang pemimpin besar justru diukur dari kemampuannya merendahkan diri, menghormati nilai-nilai luhur, dan menempatkan kekuasaan pada posisi yang semestinya.

Hingga hari ini, cerita Bung Karno di Makam Rasulullah SAW tetap hidup dalam ingatan kolektif bangsa. Ia menjadi simbol bahwa kebesaran sejati tidak terletak pada atribut dan gelar, melainkan pada ketundukan, adab, dan kesadaran spiritual seorang pemimpin di hadapan Tuhan dan sejarah.***


Disusun oleh Redaksi Marhaenist.id dari berbagai sumber terpercaya.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print

ARTIKEL TERBARU

Demokrasi Bukan Dagangan Elite: GMNI Situbondo Tolak Tegas Pilkada oleh DPRD
Selasa, 13 Januari 2026 | 12:57 WIB
Dokumen Rahasia Amerika: AS Mengetahui Skala Pembantaian Tragedi 1965
Selasa, 13 Januari 2026 | 10:42 WIB
Foto: Ibrahim Traore, Presiden Burkina Faso (Sumber: Inilah.com)/MARHAENIST.
Kendalikan Hama Belalang dengan Ayam: Kebijakan Kemandirian Pangan Ibrahim Traoré di Burkina Faso
Senin, 12 Januari 2026 | 19:19 WIB
Sukarno dan Analisis Anti-Kolonialnya yang tidak Rasis
Senin, 12 Januari 2026 | 15:03 WIB
Foto: Ibrahim Traore, Presiden Burkina Faso (Sumber: Inilah.com)/MARHAENIST.
Ibrahim Traoré, Pan-Afrikanisme dan Langkah-Langkahnya untuk Kedaulatan Afrika
Senin, 12 Januari 2026 | 15:02 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

Mengedepankan Prinsip Kesetaraan Hukum dalam Kasus Sekjen PDI Perjuangan

Marhaenist.id - Kasus permintaan penjadwalan ulang pemeriksaan oleh Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto,…

Reformasi Polri Dimulai dengan Mencopot Sigit sebagai Kapolri

Marhaenist.id - Seruan reformasi kepolisian kembali menggelegar di ruang publik. Seruan ini…

Aksi Mahasiswa dibubarkan oleh Preman Bayaran di Mahkamah Konstitusi/Marhaenist.id.

Kronologi Preman Bayaran Membubarkan Paksa Aksi Mahasiswa di Mahkamah Konstitusi

Marhaenist.id, Jakarta – Gerakan Mahasiswa yang mewakili berbagai kampus di jakarta melakukan…

Bawaslu: Pengawas Pemilu atau Mitos Demokrasi?

Marhaenist.id-Seperti halnya urban legend yang sering terdengar kuat di permukaan tetapi sulit…

Pasangan Hasto-Wawan Temui Warga Masyarakat Penerima PIP

MARHAENIST - Pasangan calon walikota dan wakil walikota Yogyakarta yang diusung oleh…

Fenomena Kotak Kosong dalam Pilkada: Analisis Hukum dan Keadilan Demokrasi

Marhaenist.id-Fenomena politik dalam Pemilihan Umum mengaminkan elemen penting, yaitu yang jujur dan…

Guntur Soekarnoputra dalam peluncuran buku Catatan Merah Dari Putera Bung Karno Jilid 3, 19 Oktober 2022. MARHAENIST

Guntur Soekarnoputra: Pancasila Adalah Ideologi Kiri

Marhaenist - Putra pertama Presiden Soekarno (Bung Karno), yang juga merupakan Ketua…

Negara Darurat Intoleransi!!!

Marhaenist.id - Delapan Puluh Tahun Indonesia telah  bebas dari kolonialisme dan Imperialisme,…

Pidato Bung Karno Saat Konferensi Besar GMNI di Kaliurang 17 Februari 1959

Lenyapkan Sterilitiet Dalam Gerakan Mahasiswa Pidato tertulis PJM Presiden Sukarno pada Konferensi…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format

Vivere Pericoloso

🎧 Online Radio

Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?