By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Manifesto GMNI di Tengah Jerat Hegemoni Sosial
Tanggapi Akan Adanya Pelaporan Firman Masengi, Pimred Marhaenist.id: Tuduhan Harus Diuji Secara Adil, Jangan Bungkam Ruang Kritik
Mengapa Kepemilikan Alat Produksi tetap menjadikan Marhen Miskin?
Routa Dikepung Oligarki Nikel dan Rakyat Dipinggirkan, DPP GMNI Bidang ESDM Siap Bergabung dalam Koalisi Besar Save Routa
GMNI Cabang Bandung, Rumah yang Menghidupkan Pikiran dan Perjuangan

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Polithinking

Bawaslu: Pengawas Pemilu atau Mitos Demokrasi?

Eko Zaiwan
Eko Zaiwan Diterbitkan : Rabu, 9 Oktober 2024 | 13:33 WIB
Bagikan
Waktu Baca 5 Menit
Eko Zaiwan, Alumni GmnI, Peneliti Presisi45. MARHAENIST
Bagikan

Marhaenist.id-Seperti halnya urban legend yang sering terdengar kuat di permukaan tetapi sulit dibuktikan, peran Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) dalam penyelenggaraan pemilu kerap dipandang dengan kacamata yang serupa. Di atas kertas, Bawaslu memiliki struktur yang kokoh, hadir di setiap tingkatan pemilu, dan memiliki tugas penting untuk menjaga agar pemilu berjalan jujur dan adil. Namun, banyak pihak merasakan adanya kesenjangan antara peran yang diharapkan dengan praktik yang terjadi di lapangan, terutama dalam menangani pelanggaran besar seperti pelanggaran terstruktur, sistematis, dan masif (TSM).

Masyarakat sering berharap bahwa dengan adanya pengawasan yang tersebar, pemilu bisa lebih ketat dan efektif. Sayangnya, peran Bawaslu dalam memberantas pelanggaran pemilu sering dianggap kurang tegas. Kritik sering kali diarahkan pada lambatnya Bawaslu dalam menangani pelanggaran serius, seperti praktik politik uang yang kerap terjadi di pemilu Indonesia.

Contoh nyata yang mencolok adalah dugaan politik uang dalam Pemilu 2024. Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) berharap Bawaslu bisa lebih berani menangani isu ini. Namun, meski banyak kasus terdeteksi, proses penanganannya masih dianggap lamban dan tidak efektif. Keberadaan Sentra Penegakan Hukum Terpadu (Gakkumdu), yang merupakan kolaborasi antara Bawaslu, kepolisian, dan kejaksaan untuk menangani pelanggaran pemilu, belum memberikan hasil maksimal dalam penegakan hukum.

Ketidakpuasan masyarakat terhadap Bawaslu muncul karena beberapa faktor. Salah satunya adalah keterbatasan kewenangan Bawaslu dalam menangani pelanggaran serius. Walaupun Bawaslu memiliki kekuasaan untuk melakukan pengawasan dan memberikan rekomendasi, mereka tidak selalu memiliki kewenangan langsung untuk menjatuhkan hukuman. Proses hukum yang panjang dan rumit sering kali menghambat tindakan cepat. Selain itu, tekanan politik dari berbagai pihak juga menjadi kendala dalam menjalankan tugas secara independen.

Baca Juga:   Di Banyuwangi, Atikoh Sampaikan Pentingnya Gunakan Hak Pilih

Situasi ini menunjukkan bahwa meskipun Bawaslu diharapkan menjadi garda terdepan dalam menjaga integritas pemilu, mereka terjebak dalam mitos bahwa keberadaan mereka cukup untuk mencegah pelanggaran. Kenyataannya, tantangan yang dihadapi jauh lebih kompleks, terutama di era digital, di mana informasi bisa dengan mudah disebarkan dan disalahgunakan. Dengan meningkatnya jumlah pemilih dan keragaman praktik politik, pengawasan menjadi semakin sulit.

Oleh karena itu, untuk memperbaiki keadaan ini, sejumlah solusi bisa dipertimbangkan. Pertama, memperkuat kewenangan Bawaslu agar bisa langsung menindak pelanggaran pemilu tanpa terhambat oleh proses yang berbelit. Hal ini akan memberikan Bawaslu kemampuan yang lebih besar dalam menangani pelanggaran secara efektif. Kedua, meningkatkan koordinasi dengan Gakkumdu untuk mempercepat proses penanganan kasus. Ini dapat menciptakan sinergi yang lebih baik antara Bawaslu dan lembaga penegak hukum lainnya, sehingga pelanggaran dapat ditangani dengan lebih cepat dan tepat.

Ketiga, perlu ada pelatihan yang lebih intensif bagi pengawas pemilu di tingkat lokal agar pengawasan lebih efektif dan proaktif. Pengawas yang terlatih dengan baik akan lebih mampu mengenali dan menanggapi pelanggaran secara cepat. Keempat, penting untuk menjaga independensi Bawaslu dari pengaruh politik. Agar Bawaslu bisa berfungsi dengan baik, mereka harus bebas dari tekanan politik yang bisa memengaruhi keputusan mereka. Meningkatkan transparansi dalam proses kerja Bawaslu juga dapat membantu membangun kepercayaan masyarakat.

Terakhir, meningkatkan partisipasi masyarakat dalam mengawasi pemilu secara mandiri juga penting untuk memastikan keadilan pemilu di masa depan. Masyarakat harus didorong untuk berperan aktif dalam proses pengawasan, baik melalui lembaga swadaya masyarakat, maupun melalui platform digital yang memungkinkan mereka melaporkan pelanggaran secara langsung. Dengan memberikan ruang bagi partisipasi publik, Bawaslu tidak hanya akan lebih mudah dalam melaksanakan tugasnya, tetapi juga akan membangun kepercayaan masyarakat terhadap proses pemilu.

Baca Juga:   Meskipun Kepastian Kemenangannya Diluar Negeri Belum Final, Ganjar Mengaku Sudah Kantongi Hasil Exit Poll

Bawaslu memiliki peran penting dalam menjaga integritas demokrasi kita. Namun, tanpa dukungan yang tepat dan perbaikan di beberapa aspek, perannya mungkin akan terus dipandang sebagai mitos yang kuat di permukaan, tetapi lemah dalam kenyataan. Kita sebagai masyarakat perlu menyadari pentingnya peran Bawaslu dan mendorong mereka agar berfungsi secara optimal, sehingga keadilan dan kejujuran dalam pemilu bisa terwujud. Dengan demikian, harapan akan pemilu yang bersih dan demokratis bukan hanya impian, tetapi dapat menjadi kenyataan yang harus kita capai bersama.

Oleh Eko Zaiwan Peneliti Presisi45

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Manifesto GMNI di Tengah Jerat Hegemoni Sosial
Rabu, 15 April 2026 | 14:58 WIB
Tanggapi Akan Adanya Pelaporan Firman Masengi, Pimred Marhaenist.id: Tuduhan Harus Diuji Secara Adil, Jangan Bungkam Ruang Kritik
Rabu, 15 April 2026 | 14:13 WIB
Mengapa Kepemilikan Alat Produksi tetap menjadikan Marhen Miskin?
Selasa, 14 April 2026 | 20:54 WIB
Routa Dikepung Oligarki Nikel dan Rakyat Dipinggirkan, DPP GMNI Bidang ESDM Siap Bergabung dalam Koalisi Besar Save Routa
Selasa, 14 April 2026 | 19:40 WIB
GMNI Cabang Bandung, Rumah yang Menghidupkan Pikiran dan Perjuangan
Selasa, 14 April 2026 | 19:26 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
Tirani yang Tersenyum dalam Bayang Kiamat Epistemik: Evolusi Kekuasaan dari Orwellian ke Huxleyian – Part I
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

Perlu Perubahan Paradigma dan Sistem untuk Pembangunan UMKM dan Koperasi

Marhaenist.id - Sudah berpuluh tahun program pembinaan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM)…

Gelar Kuliah Umum, Institut Marhaenisme 27 dan GMNI Jaksel Soroti Etika Pancasila di Tengah Ancaman Otoritarianisme Baru

Marhaenist.id, Jaksel – Institut Marhaenisme 27 bekerja sama dengan Dewan Pimpinan Cabang…

Ziarah ke Makam Bung Karno, Berdoa dan Menabur Bunga: Ada Gulungan Perkamen di Tembok Gapura (Catatan Perjalanan DPP PA GMNI 4)

Marhaenist.id, Blitar - Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Persatuan Alumni (PA) Gerakan Mahasiswa…

Saatnya Alumni GMNI Perkuat Narasi Persatuan di Medsos

Marhaenist - Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) diminta untuk memperbanyak narasi…

Hai Orang-Orang Yang Beriman, Ramadhan 2026 Jatuh Pada Kamis 19 Februari

Marhaenist - Pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) menetapkan awal puasa atau 1…

Jelang Pelantikan Prabowo-Gibran, DPP PA GMNI Layangkan Pernyataan Sikap

Marhaenist.id, Jakarta - Dewan Pengurus Pusat (DPP) Persatuan Alumni (PA) Gerakan Mahasiswa…

Mengapa Rakyat Marah dan Ingin Membubarkan DPR?

Marhaenist.id, Jakarta - Aksi unjuk rasa Rakyat dengan tuntutan ingin membubarkan Dewan…

Ribuan Warga Solo Raya di Sumut Nyatakan Dukung Ganjar-Mahfud, Siap Menangkan Presiden Rakyat

Marhaenist.id, Simalungun - Sebanyak dua ribu warga asal Solo Raya di Kabupaten…

Garis polisi terpasang di gerbang 13 Stadion Kanjuruhan, di Kabupaten Malang, Jawa Timur, Kamis (06/10/2022) tempat korban meninggal berdesak-desakan akibat gas air mata. TELEGRAF/Koeshondo W. Widjojo

Jumlah Korban Tragedi Kanjuruhan Bertambah 1 Orang, Total Meninggal 132 Jiwa

Marhaenist - Korban tewas dalam tragedi Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur bertambah satu…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?