By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Prof. Arief Hidayat: Perjanjian Dagang RI–AS Jadi Ujian Konstitusi dan Politik Luar Negeri Bebas Aktif
DPP GMNI Desak Pengusutan Terbuka Dugaan Kekerasan Oknum Brimob di Kota Tual yang Tewaskan Anak 14 Tahun
Selamat Datang di “AI New Normal”
Kader GMNI Kota Palu Desak Transparansi Penanganan Kasus Dugaan Kekerasan Aparat di Tual
Antara Dapur MBG dan Nyawa di Kota Tual: GMNI Jakarta Timur Dukung Penuh Kapolri Jadi Petani!

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
ArtikelKabar GMNIOpini

Bung Toban dan Jiwa Marhaenisme : Kesetiaan Kader pada Jalan Rakyat Menuju Revolusioner

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Kamis, 25 Desember 2025 | 00:28 WIB
Bagikan
Waktu Baca 3 Menit
Foto: Almarhum Bung Toban (Sumber: Transtimur)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Marhaenisme, sebagaimana dirumuskan oleh Bung Karno, bukanlah sekadar teori sosial, melainkan sikap hidup dan keberpihakan ideologis. Ia lahir dari perjumpaan langsung dengan penderitaan rakyat kecil kaum marhaen yang hidup di bawah tekanan struktur ketidakadilan.

Bagi Bung Karno, revolusi bukan peristiwa sesaat, melainkan proses panjang pembentukan manusia Indonesia yang berkepribadian, berdaulat, dan berkeadilan. Dalam konteks inilah “Bung Toban” menempatkan dirinya: sebagai kader GMNI yang memilih berdiri bersama rakyat di jalan juang.

Bung Toban memahami spirit ini secara praksis. Ia hadir di tengah dinamika sosial Halmahera Selatan bukan sebagai penonton, melainkan sebagai bagian dari denyut penderitaan rakyat. Ketika jeritan masyarakat kecil terdengar, ia datang bukan karena perintah organisasi, tetapi karena kesadaran ideologis yang telah menyatu dengan nuraninya.

Marhaenisme menolak perjuangan elitis. Ia menuntut kader untuk “turun ke bawah”, menyelami realitas hidup rakyat, dan menjadikan penderitaan mereka sebagai titik tolak perjuangan. Bung Toban menjalankan prinsip ini dengan kesetiaan yang nyaris asketis. Ia tidak pernah mengeluh atas amanah yang dipikul, sebab baginya GMNI adalah rumah perjuangan, ruang untuk mengabdi, bukan alat untuk mencari kenyamanan pribadi.

Dalam pidato-pidato Bung Karno, ditegaskan bahwa kader revolusioner sejati adalah mereka yang berani setia pada garis ideologi, meski jalan itu sunyi dan penuh risiko. Bung Toban adalah contoh nyata kader semacam itu. Ia tidak menjadikan GMNI sebagai kendaraan oportunistik, melainkan sebagai alat perjuangan ideologis untuk menjembatani kepentingan rakyat dengan cita-cita keadilan sosial.

Kepekaan sosial almarhum bukanlah empati sentimental, melainkan kesadaran marhaenis: memahami bahwa kemiskinan, ketimpangan, dan penindasan bukanlah nasib, tetapi hasil dari struktur yang timpang. Karena itu, bagi Bung Toban menyuarakan kepentingan masyarakat umum adalah sebuah kemuliaan, sebab di sanalah martabat manusia dipertaruhkan.

Baca Juga:   Aksi Nyata untuk Lingkungan yang Lebih Hijau, GMNI Malang dan Kaliku Gelar Gerakan Penanaman Pohon di Sepadan Kali Curungrejo

Kini Bung Toban telah pergi. Namun sebagaimana Bung Karno pernah menegaskan, “Orang boleh Mati, tetapi ide tidak bisa Dibunuh.” Semangat perjuangan yang ia hidupi adalah bagian dari api marhaenisme yang harus terus dijaga oleh GMNI Halmahera Selatan dan seluruh kader GMNI di manapun berada.

Kepergian almarhum adalah peringatan ideologis: bahwa GMNI tidak boleh tercabut dari rakyat, tidak boleh berjarak dari kaum marhaen, dan tidak boleh berkompromi dengan pragmatisme yang melemahkan jiwa revolusioner. Mengenang Bung Toban berarti memperbarui sumpah setia pada marhaenisme setia pada rakyat, setia pada ideologi, dan setia pada cita-cita Indonesia yang adil dan berdaulat.

Selamat jalan, “Bung Toban” Engkau telah menunaikan dharmamu sebagai kader marhaenis. Api perjuanganmu akan tetap menyala dalam setiap langkah GMNI Halmahera Selatan. Merdekaaa!!!!!!


Penulis: Imran Hi. Alim, Kader GMNI Halsel.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Prof. Arief Hidayat: Perjanjian Dagang RI–AS Jadi Ujian Konstitusi dan Politik Luar Negeri Bebas Aktif
Minggu, 22 Februari 2026 | 21:23 WIB
DPP GMNI Desak Pengusutan Terbuka Dugaan Kekerasan Oknum Brimob di Kota Tual yang Tewaskan Anak 14 Tahun
Minggu, 22 Februari 2026 | 00:25 WIB
Selamat Datang di “AI New Normal”
Minggu, 22 Februari 2026 | 00:06 WIB
Kader GMNI Kota Palu Desak Transparansi Penanganan Kasus Dugaan Kekerasan Aparat di Tual
Sabtu, 21 Februari 2026 | 22:13 WIB
Antara Dapur MBG dan Nyawa di Kota Tual: GMNI Jakarta Timur Dukung Penuh Kapolri Jadi Petani!
Sabtu, 21 Februari 2026 | 11:25 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

Relevansi Ajaran Bung Karno Ditengah Distrosi Ideologi dan Perang Proxi

Marhaenist.id - Bulan bung karno sudah berlalu namun bukan berarti ingatan akan…

Populisme Kanan dan Tantangan Demokrasi Marhaen di Era Digital

Marhaenist.id - Demokrasi Indonesia tengah menghadapi tantangan serius. Bukan dari absennya prosedur…

GMNI Berduka: Kurniawan Azhari Alumni GMNI di Sumsel Telah Tutup Usia

Marhaenist.id, Pelembang - Kabar duka menyelimuti Keluarga Besar Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional…

Arah Politik Luar Negeri PDI Perjuangan dalam Konflik Israel – Palestina

Marhaenist - Penulis tak sengaja membaca perkembangan isu terkini dalam pemberitaan media…

KSP Akselerasi Percepatan Program Prioritas Reforma Agraria di Kabupaten Malang

Marhaenist - Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP) Republik Indonesia Usep…

Resah Terhadap Kondisi Bangsa, GMNI Ikut Serta Dalam Aksi #IndonesiaGelap di Depan Istana Presiden

Marhaenist.id, Jakarta - Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) ikut ambil bagian dalam…

Putusan MK soal Kolegium dan Konsil Kesehatan: Apa Artinya bagi Dokter, Mahasiswa, dan Pasien?

Marhaenist.id - Mahkamah Konstitusi (MK) akhirnya memutuskan sebagian gugatan terhadap Undang-Undang Nomor…

Bahas Otonomi Daerah, Mahfud MD Akan Isi FGD di Agenda 45

Marhaenist.id, Jakarta- Mantan Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam), Mahfud…

Foto: Ketua DPC Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Jakarta Selatan, Dendy Se. MARHAENIST

Kasus Ditindak Tunggu Viral, GMNI Jaksel Minta Polri Tambah Personel Reskrim

Marhaenist.id, Jakarta - Viral di media sosial, seorang pegawai toko roti dianiaya…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?