Marhaenist.id – Air mata Irine, seorang jurnalis CNN, menjadi potret paling jujur dari duka yang menyelimuti Aceh Tamiang saat ia melakukan liputan. Di balik profesionalisme yang menuntut keteguhan dan jarak emosional, ada momen ketika realitas kemanusiaan menembus batas itu.
Tangisan Irine bukan sekadar ekspresi personal, melainkan cermin penderitaan masyarakat yang kisahnya terlalu getir untuk sekadar dilaporkan dengan nada datar.
Sebagai jurnalis, Irine hadir untuk menyampaikan fakta. Namun, di Aceh Tamiang, fakta-fakta itu bukan hanya deretan data dan kronologi. Ia adalah wajah-wajah kehilangan, suara-suara yang bergetar, dan luka sosial yang terbuka lebar.
Ketika air mata seorang jurnalis tumpah, itu menandakan bahwa tragedi yang terjadi telah melampaui ambang kewajaran nurani.
Yang membuat Irine menangis karena melihat masyarakat di Aceh Tamiang masih belum menerima bantuan secara merata selama lebih dari tiga minggu ia berada di sana. Ia tak sanggup melihat anak-anak kecil berdiri di pinggir jalan meminta makan dan warga yang kelaparan, sehingga tangisnya pecah di tengah siaran.
Air mata Irine menegaskan bahwa jurnalisme sejati tidak pernah netral terhadap kemanusiaan. Objektivitas tidak berarti membungkam empati. Justru di situlah peran pers: menyampaikan kebenaran sekaligus menggugah kesadaran publik.
Tangisan itu menjadi bahasa universal yang menyatukan penonton, pembaca, dan masyarakat Aceh Tamiang dalam satu rasa: duka dan kemarahan yang sama.
Lebih dari sekadar liputan, peristiwa ini adalah panggilan moral. Negara tidak boleh absen ketika warganya terluka. Aparat dan pemangku kebijakan harus menjadikan tragedi ini sebagai titik balik untuk berbenah, memastikan bahwa keadilan dan perlindungan bukan hanya slogan, tetapi nyata dirasakan hingga ke pelosok.
Aceh Tamiang tidak membutuhkan belas kasihan sesaat. Yang dibutuhkan adalah keberpihakan yang konsisten pada rakyat. Jika air mata seorang jurnalis mampu membuka mata publik, maka sudah seharusnya para pengambil keputusan juga tersentak dan bergerak.
Air mata Irine Jurnalis CNN akan dikenang sebagai saksi bisu dari duka Aceh Tamiang. Semoga dari tangisan itu lahir kesadaran kolektif bahwa kemanusiaan tidak boleh kalah oleh kelalaian, dan setiap tragedi harus direspons dengan keadilan serta tanggung jawab yang sungguh-sungguh.
Diketahui, kisah Irine, jurnalis CNN di Aceh Tamiang yang menangis ini saat melaporkan kondisi pasca bencana banjir bandang pada Rabu (17/12/2025) viral dimedia sosial.
Dalam laporan langsungnya, Irine menyampaikan bahwa masyarakat di Aceh Tamiang masih belum menerima bantuan secara merata selama lebih dari tiga minggu ia berada di sana.Ia juga menyoroti bahwa relawan sudah berada di titik kelelahan dalam upaya menembus wilayah terisolasi.
Selain itu, Irine menyampaikan pesan dari warga agar kondisi sebenarnya disampaikan kepada publik dan menyeru pemerintah untuk tidak ragu meminta bantuan pihak luar jika kewalahan.
Namun video liputan Irine ini sempat viral di media sosial dan menyita perhatian publik, kemudian diambil turun dari kanal media sosial resmi CNN Indonesia dengan alasan takut disalahgunakan dan berpotensi memicu framing yang salah terhadap pihak tertentu.
Alasan pihak CNN Indonesia menurunkan liputan berita Irine menuai beragam komentar dari netizen, hingga ada yang mengatakan “Apakah ini Pembungkaman terhadap Media melalui intervensi seseorang untuk tetap menutupi ketidaksanggupan Pemerintah dan lambat dalam menangani bencana?”***
Catatan Redaksi, Ditulis Oleh: La Ode Mustawwadhaar.