By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Demokrasi Bukan Dagangan Elite: GMNI Situbondo Tolak Tegas Pilkada oleh DPRD
Dokumen Rahasia Amerika: AS Mengetahui Skala Pembantaian Tragedi 1965
Kendalikan Hama Belalang dengan Ayam: Kebijakan Kemandirian Pangan Ibrahim Traoré di Burkina Faso
Sukarno dan Analisis Anti-Kolonialnya yang tidak Rasis
Ibrahim Traoré, Pan-Afrikanisme dan Langkah-Langkahnya untuk Kedaulatan Afrika

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Air Mata Irine ‘Jurnalis CNN’ dan Duka Aceh Tamiang

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Sabtu, 20 Desember 2025 | 06:06 WIB
Bagikan
Waktu Baca 4 Menit
Tangkapan Layar Irine Jurnalis CNN Indonesia yang sedang menangis saat melakukan liputan pasca Banjir Bandang di Aceh Tamiang (Sumber: Indopos)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Air mata Irine, seorang jurnalis CNN, menjadi potret paling jujur dari duka yang menyelimuti Aceh Tamiang saat ia melakukan liputan. Di balik profesionalisme yang menuntut keteguhan dan jarak emosional, ada momen ketika realitas kemanusiaan menembus batas itu.

Tangisan Irine bukan sekadar ekspresi personal, melainkan cermin penderitaan masyarakat yang kisahnya terlalu getir untuk sekadar dilaporkan dengan nada datar.

Sebagai jurnalis, Irine hadir untuk menyampaikan fakta. Namun, di Aceh Tamiang, fakta-fakta itu bukan hanya deretan data dan kronologi. Ia adalah wajah-wajah kehilangan, suara-suara yang bergetar, dan luka sosial yang terbuka lebar.

Ketika air mata seorang jurnalis tumpah, itu menandakan bahwa tragedi yang terjadi telah melampaui ambang kewajaran nurani.

Yang membuat Irine menangis karena melihat masyarakat di Aceh Tamiang masih belum menerima bantuan secara merata selama lebih dari tiga minggu ia berada di sana. Ia tak sanggup melihat anak-anak kecil berdiri di pinggir jalan meminta makan dan warga yang kelaparan, sehingga tangisnya pecah di tengah siaran.

Air mata Irine menegaskan bahwa jurnalisme sejati tidak pernah netral terhadap kemanusiaan. Objektivitas tidak berarti membungkam empati. Justru di situlah peran pers: menyampaikan kebenaran sekaligus menggugah kesadaran publik.

Tangisan itu menjadi bahasa universal yang menyatukan penonton, pembaca, dan masyarakat Aceh Tamiang dalam satu rasa: duka dan kemarahan yang sama.

Lebih dari sekadar liputan, peristiwa ini adalah panggilan moral. Negara tidak boleh absen ketika warganya terluka. Aparat dan pemangku kebijakan harus menjadikan tragedi ini sebagai titik balik untuk berbenah, memastikan bahwa keadilan dan perlindungan bukan hanya slogan, tetapi nyata dirasakan hingga ke pelosok.

Aceh Tamiang tidak membutuhkan belas kasihan sesaat. Yang dibutuhkan adalah keberpihakan yang konsisten pada rakyat. Jika air mata seorang jurnalis mampu membuka mata publik, maka sudah seharusnya para pengambil keputusan juga tersentak dan bergerak.

Baca Juga:   Ironi Sebuah Nasionalisme

Air mata Irine Jurnalis CNN akan dikenang sebagai saksi bisu dari duka Aceh Tamiang. Semoga dari tangisan itu lahir kesadaran kolektif bahwa kemanusiaan tidak boleh kalah oleh kelalaian, dan setiap tragedi harus direspons dengan keadilan serta tanggung jawab yang sungguh-sungguh.

Diketahui, kisah Irine, jurnalis CNN di Aceh Tamiang yang menangis ini saat melaporkan kondisi pasca bencana banjir bandang pada Rabu (17/12/2025) viral dimedia sosial.

Dalam laporan langsungnya, Irine menyampaikan bahwa masyarakat di Aceh Tamiang masih belum menerima bantuan secara merata selama lebih dari tiga minggu ia berada di sana.Ia juga menyoroti bahwa relawan sudah berada di titik kelelahan dalam upaya menembus wilayah terisolasi.

Selain itu, Irine menyampaikan pesan dari warga agar kondisi sebenarnya disampaikan kepada publik dan menyeru pemerintah untuk tidak ragu meminta bantuan pihak luar jika kewalahan.

Namun video liputan Irine ini sempat viral di media sosial dan menyita perhatian publik, kemudian diambil turun dari kanal media sosial resmi CNN Indonesia dengan alasan takut disalahgunakan dan berpotensi memicu framing yang salah terhadap pihak tertentu.

Alasan pihak CNN Indonesia menurunkan liputan berita Irine menuai beragam komentar dari netizen, hingga ada yang mengatakan “Apakah ini Pembungkaman terhadap Media melalui intervensi seseorang untuk tetap menutupi ketidaksanggupan Pemerintah dan lambat dalam menangani bencana?”***


Catatan Redaksi, Ditulis Oleh: La Ode Mustawwadhaar.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print

ARTIKEL TERBARU

Demokrasi Bukan Dagangan Elite: GMNI Situbondo Tolak Tegas Pilkada oleh DPRD
Selasa, 13 Januari 2026 | 12:57 WIB
Dokumen Rahasia Amerika: AS Mengetahui Skala Pembantaian Tragedi 1965
Selasa, 13 Januari 2026 | 10:42 WIB
Foto: Ibrahim Traore, Presiden Burkina Faso (Sumber: Inilah.com)/MARHAENIST.
Kendalikan Hama Belalang dengan Ayam: Kebijakan Kemandirian Pangan Ibrahim Traoré di Burkina Faso
Senin, 12 Januari 2026 | 19:19 WIB
Sukarno dan Analisis Anti-Kolonialnya yang tidak Rasis
Senin, 12 Januari 2026 | 15:03 WIB
Foto: Ibrahim Traore, Presiden Burkina Faso (Sumber: Inilah.com)/MARHAENIST.
Ibrahim Traoré, Pan-Afrikanisme dan Langkah-Langkahnya untuk Kedaulatan Afrika
Senin, 12 Januari 2026 | 15:02 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

Koperasi dan Era Anthropocene: Menjawab dengan Praktik atas Krisis Kemanusiaan dan Lingkungan

Seri Belajar Koperasi #1 Marhaenist - Praktik sistem kapitalisme industri yang berkembang…

Hendak Sampaikan Aspirasi Ke Wapres, Seorang Aktifis Mahasiswa di Kendari Babak Belur Dibogem Aparat Keamanan

Marhaenist.id, Kendari - Rimon Fatrah Negara atau yang akrab dipanggil Rifat, seorang…

Eros Djarot Resmi Rilis Buku Berjudul “Autobiografi Erros Djarot jilid 1” dan “Erros Djarot: Apa Kata Sahabat”

Marhaenist.id, Jakarta - Politikus dan budayawan Soegeng Rahardjo Djarot yang akrab disapa…

“Merahnya Ajaran Bung Karno” Sebuah Refleksi Pembebasan Ala Indonesia

Marhaenist.id, Lebak - Dalam rangka menyambut bulan kemerdekaan RI dan sekaligus sebagai…

(Jika) Bobibos vs Pertamina: Pertarungan Nilai, Etika, dan Kuasa di Tengah Krisis Kepercayaan Publik

Marhaenist.id - Dalam beberapa waktu terakhir, publik dihebohkan oleh memanasnya isu antara…

Ganjar-Mahfud Gugat Hasil Pilpres 2024 ke MK

Marhaenist.id, Jakarta - Pasangan calon presiden dan calon wakil presiden (Capres-Cawapres) nomor…

Pernyataan Sikap Politik Konsolidasi Barisan Nasionalis

___________________________________________________ Terdiri dari perwakilan 27 organisasi dan para tokoh kaum Nasionalis BK.…

Prihatin dengan Kondisi Demokrasi, PA GMNI dan Forum Komunikasi Santri Situbondo: Penguatan Demokrasi Harus melalui Partisipasi Anak Muda

Marhaenist.id, Situbondo — Pergeseran periodisasi rezim yang dipimpin oleh Prabowo-Gibran dalam lanskap…

Kenang Tewasnya Randy-Yusuf sebagai Pahlawan Demokrasi, Front GMNI dan PMII Kendari Ingin Monumennya Segera Berdiri

Marhaenist.id, Kendari - Front Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) dan Pergerakan Mahasiswa…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format

Vivere Pericoloso

🎧 Online Radio

Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?