By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
MBG, Sukarno, dan Politik di Meja Makan
PA GMNI Kaltim: Aksi 21 April Harus Jadi Momentum Koreksi dan Menjaga Marwah Pergerakan Mahasiswa
Athar Hasimin Nahkodai PA GMNI Baubau, Konfercab I Tegaskan Perlawanan Apatisme Intelektual dan Pragmatisme Sempit
Aktivis ’98 Soroti Arah Kebijakan Pemerintahan Prabowo–Gibran dalam Momentum 71 Tahun KAA: Dasa Sila Bandung Jangan Dikhianati
Jelang Konfercab GMNI Purwokerto 2026, Eks Ketua DPK GMNI Humaniora UMP Tekankan Tiga Pilar Regenerasi

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Tiongkok yang Terbangun: Antara Ambisi Adidaya dan Narasi Jebakan Utang

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Senin, 15 Desember 2025 | 14:34 WIB
Bagikan
Waktu Baca 6 Menit
Foto: Rendy Rizaldy Putra, Kader GMNI Yogyakarta/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Napoleon Bonaparte pernah mengatakan, “Biarkan Tiongkok tertidur, sebab ketika ia terbangun, dunia akan terguncang.” Dua abad kemudian, ramalan itu tampak menemukan relevansinya. Tiongkok yang selama berpuluh-puluh tahun terkesan pasif dalam percaturan global kini bangkit sebagai kekuatan besar yang mengguncang stabilitas ekonomi dan geopolitik dunia, termasuk Eropa dan Amerika Serikat. Meski secara formal masih dikategorikan sebagai negara berkembang, Tiongkok adalah negara dengan skala ekonomi, populasi, dan pengaruh global yang tidak bisa disamakan dengan negara berkembang lain.

Kebangkitan Tiongkok ditandai oleh transformasi ekonomi yang luar biasa. Dalam dua dekade terakhir, Tiongkok menjelma menjadi kreditur terbesar dunia, menyalurkan pinjaman ratusan miliar dolar ke puluhan negara di Asia, Afrika, Amerika Latin, hingga Eropa. Melalui skema pembiayaan infrastruktur raksasa seperti Belt and Road Initiative (BRI), Tiongkok memperluas pengaruhnya ke jalur perdagangan global, pelabuhan strategis, tambang, energi, dan jaringan transportasi lintas negara.

Fenomena ini memunculkan kekhawatiran di Barat. Tiongkok, dengan sistem politik sosialis dan kontrol negara yang kuat, dituduh menggunakan utang sebagai instrumen dominasi geopolitik. Istilah China Debt Trap atau jebakan utang Tiongkok pun mengemuka, menggambarkan kekhawatiran bahwa negara-negara penerima pinjaman akan terjerat ketergantungan ekonomi dan kehilangan kedaulatan atas aset strategis mereka. Namun, benarkah Tiongkok mampu “menguasai dunia” hanya melalui diplomasi utang? Untuk memahami kebangkitan Tiongkok, penting melihat akar sejarah dan budayanya.

Berbeda dengan peradaban besar lain seperti Romawi atau Mesir Kuno yang runtuh, peradaban Tiongkok bertahan ribuan tahun dan terus berevolusi. Tiongkok telah mengalami berbagai fase politik: monarki absolut selama ribuan tahun, revolusi republik pada 1911 di bawah Sun Yat-sen, hingga berdirinya Republik Rakyat Tiongkok pada 1949 oleh Mao Zedong. Setiap fase meninggalkan warisan pembelajaran politik yang membentuk fleksibilitas elite dan masyarakat Tiongkok.

Baca Juga:   Trump Batalkan MBG: Prabowo–Gibran Hanya Tunduk dan Diam

Titik balik kebangkitan ekonomi Tiongkok terjadi pada reformasi 1978 di bawah Deng Xiaoping. Reformasi ini menandai adaptasi Partai Komunis Tiongkok terhadap ekonomi
global dengan membuka kawasan industri, menarik investasi asing, dan mengembangkan teknologi serta informasi, tanpa melepaskan kontrol politik negara. Tiongkok menjalankan
sistem unik: sosialisme dalam politik, tetapi pragmatis dan liberal dalam ekonomi. Paradoks ini justru menjadi kekuatan utama Tiongkok.

Keberhasilan Tiongkok juga tidak lepas dari fondasi budaya Konfusianisme yang
menekankan stabilitas, hierarki, disiplin, dan harmoni sosial. Konsep xiaokang masyarakat cukup makmur menjadi visi pembangunan nasional yang dikonkritkan melalui empat modernisasi: industri, pertanian, transportasi, dan pertahanan. Stabilitas politik dipandang sebagai prasyarat utama pembangunan ekonomi, sebuah pendekatan yang berbeda tajam dengan demokrasi liberal Barat.

Dalam konteks global, BRI menjadi simbol ambisi Tiongkok. Melalui pembiayaan infrastruktur, Tiongkok menawarkan solusi konkret bagi negara berkembang yang kerap diabaikan oleh lembaga keuangan Barat. Banyak negara Afrika, Asia Selatan, dan Amerika Latin melihat Tiongkok bukan sebagai penjajah baru, melainkan mitra pembangunan. Mereka tidak ingin diposisikan sebagai penerima amal, melainkan sebagai mitra dagang setara. Kasus Sri Lanka sering dijadikan contoh jebakan utang Tiongkok, khususnya penyewaan

Pelabuhan Hambantota selama 99 tahun. Namun, kajian independen seperti dari Chatham House menunjukkan bahwa krisis Sri Lanka lebih disebabkan oleh kebijakan domestik yang buruk, utang dari berbagai sumber non-Tiongkok, serta keputusan politik internal. Tiongkok tidak pernah mengambil alih kedaulatan pelabuhan tersebut, dan tidak ada bukti pemanfaatan militer strategis oleh Tiongkok.

Hal serupa terjadi di Afrika. Meski total utang Afrika ke Tiongkok besar, data
menunjukkan tidak ada gelombang besar penyitaan aset oleh Tiongkok. Bahkan, Tiongkok terlibat aktif dalam program penangguhan dan restrukturisasi utang melalui kerangka G20. Tuduhan jebakan utang sering kali lebih bersifat naratif politik daripada analisis empiris.

Baca Juga:   Refleksi 80 Tahun Indonesia Merdeka

Namun demikian, bukan berarti kekhawatiran terhadap Tiongkok sepenuhnya tidak berdasar. Beberapa pinjaman Tiongkok memang memiliki bunga lebih tinggi dibandingkanIMF atau Bank Dunia, serta minim transparansi. Dalam sejumlah kasus seperti Pakistan, Maladewa, dan proyek kereta cepat Jakarta–Bandung, risiko pembengkakan biaya dan beban fiskal menjadi nyata. Di Indonesia, proyek kereta cepat memunculkan perdebatan serius tentang kelayakan ekonomi, pembengkakan biaya, dan keterlibatan APBN.

Di sinilah persoalan utamanya: utang pada dasarnya bukan jebakan jika dikelola dengan tata kelola yang baik. Krisis muncul ketika negara penerima gagal melakukan studi kelayakan, lemah dalam negosiasi, dan terjebak kepentingan politik jangka pendek. Tiongkok menyediakan modal, tetapi keputusan akhir tetap berada di tangan elite domestik negara peminjam. Meningkatnya pengaruh Tiongkok adalah fakta geopolitik yang tak terelakkan. Dengan ekonomi triliunan dolar, modernisasi militer, dan jaringan global yang luas, Tiongkok secara alamiah menantang dominasi Amerika Serikat. Bagi negara-negara berkembang, kebangkitan Tiongkok membuka peluang sekaligus risiko. Tantangannya bukan memilih antara Tiongkok atau Barat, melainkan bagaimana memanfaatkan persaingan global untuk kepentingan nasional.

Pada akhirnya, narasi jebakan utang Tiongkok sering kali mencerminkan ketakutan Barat terhadap perubahan tatanan dunia. Tiongkok bukan malaikat, tetapi juga bukan iblis tunggal dalam sistem global. Kebangkitan Tiongkok menandai pergeseran pusat kekuatan dunia menuju tatanan multipolar. Dunia tidak lagi dimonopoli oleh satu kekuatan, dan negara berkembang kini memiliki lebih banyak opsi.

Tiongkok telah terbangun. Dunia memang terguncang. Pertanyaannya bukan lagi apakah Tiongkok akan menjadi adidaya global, melainkan bagaimana dunia termasuk Indonesia bersikap cerdas, kritis, dan berdaulat dalam menghadapi kebangkitan tersebut.***


Penulis: Rendy Rizaldy Putra, Mantan Sekretaris DPC GMNI Yogjakarta Periode 2022/2024.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

MBG, Sukarno, dan Politik di Meja Makan
Senin, 20 April 2026 | 13:49 WIB
PA GMNI Kaltim: Aksi 21 April Harus Jadi Momentum Koreksi dan Menjaga Marwah Pergerakan Mahasiswa
Senin, 20 April 2026 | 12:35 WIB
Athar Hasimin Nahkodai PA GMNI Baubau, Konfercab I Tegaskan Perlawanan Apatisme Intelektual dan Pragmatisme Sempit
Minggu, 19 April 2026 | 21:56 WIB
Aktivis ’98 Soroti Arah Kebijakan Pemerintahan Prabowo–Gibran dalam Momentum 71 Tahun KAA: Dasa Sila Bandung Jangan Dikhianati
Minggu, 19 April 2026 | 19:29 WIB
Jelang Konfercab GMNI Purwokerto 2026, Eks Ketua DPK GMNI Humaniora UMP Tekankan Tiga Pilar Regenerasi
Sabtu, 18 April 2026 | 17:53 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
Tirani yang Tersenyum dalam Bayang Kiamat Epistemik: Evolusi Kekuasaan dari Orwellian ke Huxleyian – Part I
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

Bung Tomo, Sang Orator Si Pembakar Semangat Perjuangan Melawan Penjajah

Marhaenist.id - Sutomo atau dikenal dengan panggilan Bung Tomo tercatat sebagai pahlawan…

Ribuan Kader dan Alumni GMNI Napak Tilas Ziarahi Makam Bung Karno

Marhaenist - Ribuan kader dan alumni dari Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Tanamkan Nilai Marhaenisme pada Peserta Baru, GMNI Touna Sukses Gelar PPAB Ke 7

Marhaenist.id, Touna - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Garis polisi terpasang di gerbang 13 Stadion Kanjuruhan, di Kabupaten Malang, Jawa Timur, Kamis (06/10/2022) tempat korban meninggal berdesak-desakan akibat gas air mata. TELEGRAF/Koeshondo W. Widjojo

Jumlah Korban Tragedi Kanjuruhan Bertambah 1 Orang, Total Meninggal 132 Jiwa

Marhaenist - Korban tewas dalam tragedi Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur bertambah satu…

Pilkada Kota Yogyakarta Sungguh Istimewa

Marhaenist.id - Pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Yogyakarta sudah berjalan dengan lancar…

GMNI Jaktim Tanyakan Kemana Pemangkasan Alokasi Dana Pendidikan dan Tuntut Percepatan Pengesahan RUU PRT

Marhaenist.id, Jakarta - Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Jakarta Timur Jaktim mengkritik…

Tanggapi Akan Adanya Pelaporan Firman Masengi, Pimred Marhaenist.id: Tuduhan Harus Diuji Secara Adil, Jangan Bungkam Ruang Kritik

Jakarta, Marhaenist.id  — Polemik yang melibatkan Prabowo Subianto, aktivis Firman Tendry Masengi,…

Lagi Viral, Tren Pengibaran Bendera One Piece adalah Simbol Keresahan Rakyat terdahap Pemerintah

Marhaenist.id - Menjelang peringatan HUT ke-80 Republik Indonesia, media sosial diramaikan oleh…

Demokrasi Ditangan Jokowi: Tantangan Etika Politik dan Moralitas

Marhaenist.id - Dinamika politik Indonesia kembali memunculkan sorotan dengan berkembangnya situasi seputar…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?