By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Merayakan atau Melupakan Kartini di Tengah Krisis Ruang Aman Perempuan
Nasib Guru Honorer di Tengah Gelombang Pengangkatan PPPK Pegawai SPPG
Kunjungan Seremonial Kepala BGN di Jember dalam Bayang Bayang
Indikasi Skandal dalam Program makan Bergizi Gratis
Komplikasi Program Makan Bergizi Gratis

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
ArtikelOpini

Dialektika “Menuju” dan “Mencapai”: Analisis Semantik-Ideologis dalam Pemikiran Tan Malaka dan Soekarno

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Selasa, 23 Desember 2025 | 00:50 WIB
Bagikan
Waktu Baca 5 Menit
Foto: Bung Karno dan Tan Malaka (Sumber: Koran Sulindo)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – (Pendahuluan) Dalam kajian pemikiran politik, bahasa bukan sekadar medium komunikasi, melainkan bagian inheren dari konstruksi ideologi. Pilihan diksi mencerminkan cara suatu subjek historis memahami waktu, kekuasaan, dan strategi perubahan sosial.

Dalam konteks pemikiran kemerdekaan Indonesia, hal tersebut tampak secara signifikan dalam dua teks kanonik: Naar de Republiek Indonesia karya Tan Malaka dan Mentjapai Indonesia Merdeka karya Soekarno. Perbedaan penggunaan diksi “menuju” dan “mencapai” tidak dapat dipahami sebagai variasi linguistik semata, melainkan sebagai ekspresi dua paradigma ideologis yang berbeda dalam membaca revolusi, sejarah, dan peran subjek politik.¹

¹ Anderson, Imagined Communities, 6–7.

“Menuju”: Konsepsi Proses Historis yang Dialektis

(Tan Malaka – Naar de Republiek Indonesia)

Secara semantik, diksi “menuju” menunjukkan arah tanpa menjamin titik akhir. Ia mengandung pengertian prosesual, bertahap, dan terbuka terhadap kemungkinan historis. Dalam pemikiran Tan Malaka, “menuju republik” merepresentasikan pemahaman materialistis-historis tentang perubahan sosial, di mana republik dipahami sebagai konsekuensi objektif dari kontradiksi kolonialisme dan kapitalisme.²

² Malaka, Naar de Republiek Indonesia.

Tan Malaka menolak voluntarisme politik yang menempatkan kemerdekaan sebagai hasil kehendak elite semata. Republik hanya dapat lahir apabila syarat material—terutama kesadaran kelas dan organisasi massa—telah terpenuhi. Oleh karena itu, revolusi dipahami sebagai proses panjang yang bersifat dialektis dan nonlinier.³

³ Poeze, Pergulatan Menuju Republik, 112–118.

Secara ideologis, diksi “menuju” merefleksikan asumsi bahwa perubahan sosial ditentukan oleh struktur objektif, bukan sekadar momentum politik. Kemerdekaan politik tanpa transformasi struktural dianggap sebagai ilusi. Pendidikan dan pembentukan kesadaran politik massa menjadi prasyarat mutlak pembebasan sejati.⁴

⁴ Marx, Critique of Political Economy, 20–21; Malaka, Madilog, 3–10.

“Mencapai”: Teleologi Politik dan Kehendak Subjektif

Baca Juga:   Kesengsaraan Rakyat Indonesia Disebabkan oleh Nekolim

(Soekarno – Mentjapai Indonesia Merdeka)

Berbeda dengan Tan Malaka, Soekarno menggunakan diksi “mencapai” yang bersifat teleologis dan afirmatif. Kata ini menandakan tujuan yang jelas serta keyakinan bahwa tujuan tersebut dapat diraih melalui tindakan politik yang terorganisir. “Mencapai” tidak sekadar menunjukkan proses, melainkan penaklukan jarak antara kondisi terjajah dan kemerdekaan.⁵

⁵ Soekarno, Mentjapai Indonesia Merdeka.

Dalam pemikiran Soekarno, sejarah tidak dipahami sebagai proses objektif yang menunggu kematangan material, melainkan sebagai arena politik yang dapat dipercepat melalui kehendak kolektif, kepemimpinan, dan mobilisasi nasional. Menunggu kondisi ideal justru dipandang sebagai bentuk kepasrahan politik.⁶

⁶ Soekarno, Di Bawah Bendera Revolusi, 1:15–20.

Secara ideologis, diksi “mencapai” mencerminkan nasionalisme revolusioner yang menempatkan bangsa sebagai subjek sejarah utama. Persatuan nasional diposisikan sebagai kekuatan politik yang melampaui fragmentasi kelas, meskipun berisiko mereduksi kompleksitas kontradiksi sosial yang ada.⁷

⁷ Kahin, Nationalism and Revolution, 94–98.

Perbandingan Ideologis: Proses Historis dan Tujuan Politis

Perbedaan antara “menuju” dan “mencapai” mencerminkan dua kerangka epistemologis dalam membaca revolusi. “Menuju” berangkat dari materialisme historis dan perjuangan kelas, dengan subjek utama kelas tertindas yang harus dibentuk kesadarannya secara sistematis. Pendekatan ini kuat secara ideologis, tetapi berisiko terjebak dalam abstraksi teoretis dan kehilangan momentum politik.⁸

⁸ Magnis-Suseno, Pemikiran Karl Marx, 87–90.

Sebaliknya, “mencapai” berlandaskan nasionalisme revolusioner dan kehendak kolektif bangsa. Subjek sejarah dipahami sebagai keseluruhan rakyat, dengan keunggulan pada efektivitas mobilisasi, namun mengandung potensi kompromi struktural pascakemerdekaan.⁹

⁹ Feith, Decline of Constitutional Democracy, 25–30.

Penilaian Kritis: Ideologi dan Praksis Revolusi

Dari sudut pandang ideologis, “menuju” lebih radikal karena secara konsisten menolak finalitas kemerdekaan formal dan terus mempertanyakan pembebasan struktural. Ia menguji makna kemerdekaan di luar simbol dan deklarasi politik.¹⁰

Baca Juga:   Merayakan atau Melupakan Kartini di Tengah Krisis Ruang Aman Perempuan

¹⁰ Malaka, Madilog, 7.

Namun dari sudut praksis politik, “mencapai” lebih revolusioner karena memungkinkan lahirnya peristiwa sejarah konkret yang menentukan. Tanpa keyakinan bahwa kemerdekaan dapat diraih, revolusi berisiko berhenti sebagai diskursus intelektual tanpa klimaks politik.¹¹

¹¹ McVey, Rise of Indonesian Communism, 12–14.

Kesimpulan

Tan Malaka berbicara dalam bahasa sejarah, menegaskan bahwa republik hanya dapat lahir apabila syarat material dan kesadaran kelas terpenuhi. Soekarno berbicara dalam bahasa politik, menegaskan bahwa kemerdekaan harus direbut melalui kehendak, persatuan, dan tindakan kolektif.

Kemerdekaan Indonesia lahir melalui keberanian untuk “mencapai”, tetapi problem struktural pascakemerdekaan menunjukkan bahwa proses “menuju” pembebasan sejati belum selesai. Dalam konteks ini, kedua diksi tersebut tidak saling meniadakan, melainkan membentuk dialektika ideologis yang terus relevan dalam membaca sejarah dan masa depan Indonesia.¹²

¹² Kahin, Nationalism and Revolution, 452–455.***


Penulis: Firman Tendry Masengi, Advokat/Direktur Eksekutif RECHT Institute dan Guru Kader GMNI.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Merayakan atau Melupakan Kartini di Tengah Krisis Ruang Aman Perempuan
Sabtu, 18 April 2026 | 10:23 WIB
Nasib Guru Honorer di Tengah Gelombang Pengangkatan PPPK Pegawai SPPG
Sabtu, 18 April 2026 | 10:01 WIB
Kunjungan Seremonial Kepala BGN di Jember dalam Bayang Bayang
Sabtu, 18 April 2026 | 09:57 WIB
Indikasi Skandal dalam Program makan Bergizi Gratis
Sabtu, 18 April 2026 | 09:53 WIB
Komplikasi Program Makan Bergizi Gratis
Sabtu, 18 April 2026 | 09:42 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
Tirani yang Tersenyum dalam Bayang Kiamat Epistemik: Evolusi Kekuasaan dari Orwellian ke Huxleyian – Part I
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

Che Guevara: Kader Tulang Punggung Revolusi

Marhaenist - Tak perlu lagi untuk meragukan watak khas  revolusi kita,tentang hal-ikhwalnya,…

Biografi Singkat Bung Karno

Marhaenist.id - Para Marhaenis pasti sudah tidak asing lagi dengan Ir. Soekarno…

Diterpa Berita Hoax, Dendy Setiawan Tegaskan Kembali Tak Akan Mencalonkan Diri sebagai Ketum ataupun Sekjend DPP GMNI

Marhaenis.id, Surabaya - Beredar adanya berita hoaks yang mengatakan bahwa M Ageng…

GMNI: Revisi UU Pilkada Inkonstitusional

MARHAENIST - Ketua Umum DPP GMNI Arjuna Putra Aldino menilai revisi UU…

PA GMNI Salurkan Bantuan Bagi Korban Gempa Cianjur

Marhaenist - Untuk meringankan beban bagi para korban bencana alam gempa bumi…

6 Tahun Menghilang, Pengamat Curigai adanya Sosok di Balik Layar Harun Masiku

Marharnist.id, Jakarta — Belum tertangkapnya Harun Masiku yang masuk dalam daftar pencarian…

Temui Kapolres, GMNI dan IMALA Minta Usut Tuntas Kasus Kematian Satpol PP Lebak Saat Pengamanan Aksi

Marhaenist.id, Lebak - Perwakilan organisasi mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Nasional…

Perubahan Aturan dan Konsolidasi Kekuasaan di Era Pemerintahan Jokowi: Sebuah Analisis Hukum dan Politik

Marhaenist.id- Pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) telah melalui berbagai tantangan selama masa kepemimpinannya,…

Aktualisasi Marhaenisme dalam Gerakan, GMNI Malang Gelar KTD

Marhaenist.id, Malang - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?