By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Kunjungan DPK GMNI UBP Karawang ke DPP GMNI Jadi Ruang Refleksi Kepemimpinan Berbasis Marhaenisme
Tanggapi Dugaan Keracunan Massal MBG di Duren Sawit, Direktur Eksekutif Sentra Institute Soroti Lemahnya Pengawasan dan Transparansi Vendor
RTH Penting, GMNI Jakarta Timur: Jangan Sampai Menumbalkan Rakyat dan Jadi Lahan Korupsi
Tan Malaka Bukan Pendiri Republik?
Soroti Kemacetan Ketapang, Sonny T. Danaparamita: Ini Kegagalan Manajemen Logistik

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Republik Jenderal Multitasking

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Sabtu, 6 Desember 2025 | 12:46 WIB
Bagikan
Waktu Baca 5 Menit
Foto: Firman Tendry Masengi, Aktivis 98/Alumni GMNI (Sumber: Radar Aktual)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Tuhan tampaknya menciptakan spesies baru manusia: Di Wakanda  manusia berseragam dengan  bintang dipundak semakin  banyak dengan hobi yang sama — menjarah tanah rakyat dan menukar sumpah jabatan dengan kuitansi transaksi gelap. Negeri ini begitu subur, bukan hanya subur tanahnya, tapi subur jenderalnya.

Tak ada negara di planet ini yang memproduksi jenderal sebanyak Wakanda — bahkan mungkin melebihi populasi petani yang diusir dari sawahnya sendiri.

Katanya, setiap tahun, jumlah rakyat miskin menurun di televisi, tapi jumlah jenderal naik drastis di kenyataan. Seragam semakin berkilau, sementara dapur rakyat semakin redup. Bintang-bintang yang dulu dibayangkan sebagai simbol keberanian kini lebih mirip plakat izin menjarah.

Republik Jenderal Tanpa Perang

Negeri ini begitu damai hingga kadang kita lupa bahwa tentara pernah dibentuk untuk berperang melindungi rakyat dan negara. Tapi siapa yang butuh perang kalau menyerbu tanah rakyat jauh lebih menguntungkan?

Perang melawan penjajah sudah selesai puluhan tahun lalu, sementara perang melawan petani penggarap baru saja dimulai. Aparat bersenjata tidak lagi menjaga perbatasan, tapi menjaga pagar proyek tambang dan perkebunan yang dirampas dari warga.

Daripada memukul musuh asing, lebih mudah memukul nenek-nenek yang mempertahankan sawahnya. Lebih gampang menembakkan gas air mata ke demonstran mahasiswa dan buruh serta kampung-kampung daripada ke penyelundup miliaran dolar yang justru duduk di meja makan yang sama.

Jenderal-jenderal Multitalenta

Sulit menemukan jenderal yang tidak punya bisnis. Mungkin itu bakat genetik. Seragam hanyalah sampul; profesi utama mereka adalah mafia tanah yang tersertifikasi negara.

Ketika mereka bosan menjadi penjaga negara, mereka dengan lincah berubah menjadi:

Raja tambang ilegal

Penguasa konsesi hutan

Broker jual beli jabatan

Baca Juga:   Ketika Sistem Distribusi Menekan Pedagang Kecil: GMNI Tidak Boleh Diam

Komisaris segala BUMN

Penyelundup komoditas nasional

Investor perdagangan manusia

Direktur tender pengadaan palsu

Distributor hukum fleksibel—yang bisa disetrika sesuai harga

Dan ketika rakyat bertanya:
“Mengapa kami kehilangan tanah kami?”
Jawabannya sederhana:
Karena tanah itu sudah ditakdirkan jadi milik yang berbintang, bukan yang berkeringat.

Hukum Sebagai Komoditas Grosir

Di negeri ini, hukum bukan lagi alat keadilan, tapi barang dagangan eceran dan grosir. Kita bukan negara hukum, kita negara kasir hukum, di mana keadilan adalah sistem lelang tertutup: siapa bayar paling tinggi, dialah yang menang.

Kalau rakyat kecil mencuri ayam, dia masuk penjara tanpa diskon. Tapi kalau pejabat berseragam mencuri gunung dan sungai, dia diundang ceramah tentang nasionalisme dan integritas.

Ironisnya, setiap skandal besar selalu mendadak hilang, seperti debu yang disapu ke bawah karpet merah. Karpet itu dibentangkan untuk penyambutan bintang baru yang baru saja pensiun untuk mengurus bisnis kecil-kecilan senilai triliunan.

Pahlawan yang Tidak Pernah Ada

Mereka sering bicara soal cinta tanah air.
Dan benar—mereka sangat mencintai tanah air.
Buktinya: tanah air itu mereka miliki hampir seluruhnya.

Rakyat diminta cinta negara, sementara negara tidak pernah mencintai mereka kembali. Setiap tetes keringat petani, nelayan, dan buruh mengalir ke sungai uang yang berhulu di meja makan elit.

Dan setiap kali rakyat protes, label radikal, provokator, dan pengganggu stabilitas otomatis menempel seperti stempel halal di kemasan korporasi.

Negeri ini menjelma menjadi sirkus besar:

Badutnya berdasi,

Ringmaster-nya berseragam,

Penontonnya kelaparan,

Dan singa-singa penjaga kandang sedang makan daging manusia.

Akhirnya, Kita Perlu Mengucap Terima Kasih

Terima kasih kepada semua jenderal yang telah bekerja keras membuktikan bahwa monopoli tanah, tambang, dan hukum tidak butuh penjahat dari luar negeri — karena kita sudah punya versi terbaik buatan sendiri.

Baca Juga:   Merdeka dalam Bayang-Bayang Kekerasan dan Kebijakan Serampangan: Refleksi 80 Tahun Republik Indonesia

Terima kasih karena berkat kalian:

Demokrasi kini hanya dekorasi,

Reformasi hanyalah legenda,

Dan keadilan bukan mimpi — tapi candaan gelap sebelum tidur.

Selamat menikmati negeri yang kaya raya tapi dikuasai oleh kelas pemangsa dengan seragam kebangsaan.

Semoga bintang di pundak tidak berubah menjadi bintang kematian bagi bangsanya sendiri.

Salam hormat dari rakyat kecil, pemilik sah negeri ini yang tidak pernah diizinkan memiliki apa pun.***


Penulis: Firman Tendry Masengi, Advocate, Aktivis 98, Alumni GMNI.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Kunjungan DPK GMNI UBP Karawang ke DPP GMNI Jadi Ruang Refleksi Kepemimpinan Berbasis Marhaenisme
Sabtu, 4 April 2026 | 08:53 WIB
Tanggapi Dugaan Keracunan Massal MBG di Duren Sawit, Direktur Eksekutif Sentra Institute Soroti Lemahnya Pengawasan dan Transparansi Vendor
Jumat, 3 April 2026 | 21:24 WIB
RTH Penting, GMNI Jakarta Timur: Jangan Sampai Menumbalkan Rakyat dan Jadi Lahan Korupsi
Jumat, 3 April 2026 | 20:00 WIB
Tan Malaka Bukan Pendiri Republik?
Jumat, 3 April 2026 | 18:34 WIB
Foto: Sonny T Danaparamita, Anggota DPR RI (Dokpri)/MARHAENIST.
Soroti Kemacetan Ketapang, Sonny T. Danaparamita: Ini Kegagalan Manajemen Logistik
Kamis, 2 April 2026 | 11:45 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

Kasus Bahar Bin Smith Aniaya Banser: Tantangan Bagi Reformasi Polri

Marhaenist.id - Kasus dugaan penganiayaan yang melibatkan tokoh kontroversial Bahar Bin Smith…

DPC GMNI Pasaman Kecam Keras Tindakan Represif Oknum Kepolisian Labuhan Batu

Marhaenist.id, Pasaman — Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Antisipasi Seluruh Tahapan Pemilihan, Bawaslu RI Gelar Rakernis Penyelesaian Sengketa Gelombang ke III

Marhaenist.id, Denpasar - Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Republik Indonesia (RI) menggelar…

Risma-Gus Han Jadi Cagub Jatim Pertama Yang Ziarahi Makam Bung Karno di Blitar

MARHAENIST.ID, Blitar - Tri Rismaharini-Gus Han menjadi pasangan Calon Gubernur - Wakil…

Tiga Komponen Marhaenisme

Marhaenist.id - Salah satu karya agung Soekarno di lapangan pemikiran adalah Marhaenisme.…

Membongkar Labirin Impunitas: Blue Wall of Silence dan Normalisasi Kekerasan di Tubuh Polri

Marhaenist.id - Mandat suci pemolisian demokratis yang seharusnya berlandaskan pada filosofi kontrak…

“Merahnya Ajaran Bung Karno” Sebuah Refleksi Pembebasan Ala Indonesia

Marhaenist.id, Lebak - Dalam rangka menyambut bulan kemerdekaan RI dan sekaligus sebagai…

Marhaenisme Tidak Pernah Mati

Marhaenist.id - Marhaenisme merupakan sebuah ideologi yang dikembangkan oleh Bung Karno pada…

Koperasi dan Era Anthropocene: Menjawab dengan Praktik atas Krisis Kemanusiaan dan Lingkungan

Seri Belajar Koperasi #1 Marhaenist - Praktik sistem kapitalisme industri yang berkembang…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?