By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Merayakan atau Melupakan Kartini di Tengah Krisis Ruang Aman Perempuan
Nasib Guru Honorer di Tengah Gelombang Pengangkatan PPPK Pegawai SPPG
Kunjungan Seremonial Kepala BGN di Jember dalam Bayang Bayang
Indikasi Skandal dalam Program makan Bergizi Gratis
Komplikasi Program Makan Bergizi Gratis

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Mengapa Status Bencana Nasional di Sumatera Tidak Diberlakukan?

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Kamis, 4 Desember 2025 | 01:18 WIB
Bagikan
Waktu Baca 4 Menit
Foto: Salah satu daerah terdampak Banjir Sumatera (Sumber: CNBC Indonesia)/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Ketika rumah-rumah hanyut, jalan terputus, dan warga bertahan hidup dengan perahu rakitan dari drum bekas, negara tampaknya masih sibuk menghitung: “Ini sudah cukup parah belum untuk disebut Bencana Nasional?”

Pertanyaan itu terdengar absurd. Tetapi begitulah kenyataannya, absurditas kebijakan, bukan absurditas bencana.

1. Negara Seakan Menunggu Runtuhnya Seluruh Pulau

Bencana di Sumatera sudah memakan korban, menenggelamkan desa, menghancurkan ladang, dan memutus akses ke berbagai kabupaten. Tetapi rupanya, skala kehancuran itu belum cukup “meyakinkan” pemerintah.

Apa negara sedang menunggu:

– Satu provinsi hilang dari peta?

– Separuh Sumatera tenggelam? atau

– Hashtag #BencanaNasional trending dulu baru bergerak?

Karena sejauh ini, realita di lapangan sudah teriak, tapi pusat seperti tutup telinga.

2. Ada yang Bilang Ini Soal Administrasi. Tidak. Ini Soal Politik

Mari bicara apa adanya. Status Bencana Nasional itu mahal, bukan hanya secara anggaran, tapi secara citra politik.

– Untuk pusat, menetapkannya berarti:

– Mengakui daerah gagal,

– Sekaligus mengakui bahwa sistem mitigasi nasional tidak bekerja,

– Dan membuka ruang kritik setinggi gunung.

Dan bagi sebagian pejabat, reputasi tampaknya lebih penting daripada ribuan orang yang tidur di tenda darurat.

Dalam bahasa yang lebih jujur: Ini tentang rasa takut dicap tidak kompeten. Padahal, publik sudah tahu dari dulu tanpa perlu status resmi.

3. Drama Otonomi Daerah: Semua Saling Lihat, Tidak Ada yang Mau Ngaku Tidak Mampu

UU Penanggulangan Bencana mengatur bahwa sebelum pusat ambil alih penuh, daerah harus mengakui ketidakmampuannya.

Persoalannya: Siapa pejabat daerah yang mau mengucap kalimat politis paling berbahaya itu  “kami tidak mampu”?

Mereka sedang membangun elektabilitas, bukan merobohkannya.

Baca Juga:   Mungkinkah De-Sukarnoisasi Djilid II Terjadi ?: Rekonsilisasi Elit & Harga Sembako Melejit era Pseudo-Demokrasi 2024

Alhasil, muncullah drama klasik kebijakan Indonesia:

– Pusat menunggu sinyal dari daerah,

– Daerah menunggu inisiatif dari pusat,

– Rakyat menunggu bantuan yang tidak kunjung sampai.

Sementara itu, air bah tidak menunggu siapa pun.

4. Ketakutan Membuka Kotak Pandora: Industri Ekstraktif dan Dosa Lama

Jika status Bencana Nasional ditetapkan, negara wajib mengurai akar masalah.

Dan di Sumatera, akar masalah itu bukan sekadar hujan:
ia bernama tambang liar, izin longgar, deforestasi, perkebunan rakus, dan tata ruang yang dipermainkan modal.

Menetapkan Bencana Nasional berarti membuka pertanyaan:

– Bagaimana bisa banjir sebesar ini terjadi?

– Siapa perusahaan yang merusak hutan?

– Berapa besar kontribusi industri ekstraktif yang membuat tanah tidak mampu menahan air?

Ini pertanyaan yang sangat tidak disukai para pemilik konsesi dan, sayangnya, tidak disukai sebagian pejabat yang merasa “dekat”.

5. Rakyat Sudah Tenggelam, Pemerintah Masih Tenggelam Dalam Kalkulasi

Di tengah tumpukan debat politis yang membosankan itu, ada fakta getir yang tak terbantahkan:

Ribuan warga masih bertahan hidup dengan perahu, bukan kebijakan.

Status Bencana Nasional bagi mereka bukan sekadar judul keputusan presiden — melainkan akses terhadap:

– Logistik cepat,

– Tenaga tambahan,

– Beras dan obat,

– Helikopter evakuasi,

– Dan pendampingan jangka panjang.

Tapi rupanya, penderitaan rakyat masih kalah bobot dibanding ketakutan birokrat akan risiko politis.

6. Jika Bencana Tidak Disebut Bencana, Apa Nama Negara Ini?

Pada titik ini, muncul pertanyaan yang lebih pedih dari banjir itu sendiri:

Jika negara tidak berani menyatakan keadaan darurat ketika rakyatnya sedang darurat,
maka darurat siapa yang sebenarnya sedang dijaga?

Yang jelas, bukan darurat kemanusiaan.***

Baca Juga:   Menyoal Argumentasi Filosofis Konversi Kepemilikan BUMN Menjadi Kepemilikan Langsung oleh Rakyat

Catatan Redaksi, Penulis: La Ode Mustawwadhaar.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Merayakan atau Melupakan Kartini di Tengah Krisis Ruang Aman Perempuan
Sabtu, 18 April 2026 | 10:23 WIB
Nasib Guru Honorer di Tengah Gelombang Pengangkatan PPPK Pegawai SPPG
Sabtu, 18 April 2026 | 10:01 WIB
Kunjungan Seremonial Kepala BGN di Jember dalam Bayang Bayang
Sabtu, 18 April 2026 | 09:57 WIB
Indikasi Skandal dalam Program makan Bergizi Gratis
Sabtu, 18 April 2026 | 09:53 WIB
Komplikasi Program Makan Bergizi Gratis
Sabtu, 18 April 2026 | 09:42 WIB

BANYAK DIBACA

Cara Melakuan Registrasi Data Alumni GMNI di Website Resmi PA GMNI
Cara Masuk di Login Database Alumni Untuk Mendapatkan Kartu Anggota di Website PA GMNI
Negara Hukum Berwatak Pancasila
Tirani yang Tersenyum dalam Bayang Kiamat Epistemik: Evolusi Kekuasaan dari Orwellian ke Huxleyian – Part I
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa

Lainnya Dari Marhaenist

Konflik Politik di Buton Selatan Memanas: Bupati dan Wakilnya Saling Lapor, GMNI Kritik Ketidakdewasaan Kepemimpinan Daerah

Marhaenist.id, Buton Selatan -Ketegangan politis semakin tajam di Kabupaten Buton Selatan (Busel)…

Tampil di Depan Umum Usai Lolos Dari Pembunuhan, Telinga Donald Trump Masih Diperban

Marhaenist - Donald Trump tampil perdana di depan publik sejak upaya pembunuhan,…

Gelar Peluncuran dan Bedah Buku Prof. Arief Hidayat, Tandai 13 Tahun Pengabdian sebagai Hakim Konstitusi

Marhaenist.id, Jakarta — Mahkamah Konstitusi (MK) Republik Indonesia akan menggelar kegiatan Peluncuran…

Hendak Sampaikan Aspirasi Ke Wapres, Seorang Aktifis Mahasiswa di Kendari Babak Belur Dibogem Aparat Keamanan

Marhaenist.id, Kendari - Rimon Fatrah Negara atau yang akrab dipanggil Rifat, seorang…

Ekonomi Perhatian dan Krisis Kesadaran: Algoritma, Kekuasaan, dan Arsitektur Kendali Pikiran

Marhaenist.id - Kita hidup dalam masa ketika perhatian manusia menjadi komoditas paling berharga…

Indonesia Menggugat: DPC GMNI Jakarta Timur Desak Evaluasi Kapolri dan Pecat Menteri HAM

Marhaenist.id, Jakarta – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Pemuda Sumatera Utara Samsudin Ndruru: Kebijakan Pembatasan Daging Babi di Medan Harus Seimbangkan Kepentingan Mayoritas dan Hak Minoritas

Marhaenist.id, Jakarta – Kebijakan berupa Surat Edaran Wali Kota Medan Nomor 500-7.1/1540…

Dari Desa Hadapi Perubahan Iklim, Akar Desa Indonesia Teken MoU dengan Kemendes PDT

Marhaenist.id, Jakarta – Komitmen bersama dalam menghadirkan desa sebagai pusat perubahan kembali…

Whoosh dan Demokratisasi BUMN

Marhaenist.id - Polemik soal kerugian kereta cepat Whoosh atau Kereta Cepat Bandung–Jakarta…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?