By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Demokrasi Bukan Dagangan Elite: GMNI Situbondo Tolak Tegas Pilkada oleh DPRD
Dokumen Rahasia Amerika: AS Mengetahui Skala Pembantaian Tragedi 1965
Kendalikan Hama Belalang dengan Ayam: Kebijakan Kemandirian Pangan Ibrahim Traoré di Burkina Faso
Sukarno dan Analisis Anti-Kolonialnya yang tidak Rasis
Ibrahim Traoré, Pan-Afrikanisme dan Langkah-Langkahnya untuk Kedaulatan Afrika

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
IndonesianaInsight

Aceh, Helsinki, dan Konstelasi Kekuasaan Baru: Dari Perlawanan ke Koalisi Elit

Eko Zaiwan
Eko Zaiwan Diterbitkan : Rabu, 16 Juli 2025 | 14:21 WIB
Bagikan
Waktu Baca 4 Menit
Foto : Pabrik karet remah milik adik Presiden Prabowo Subianto, Hashim Djojohadikusumo akhirnya resmi beroperasi di Aceh/MARHAENIST
Bagikan

Marhaenist.id – Dua dekade setelah Perjanjian Damai Helsinki 2005, relasi antara Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Aceh mengalami transformasi signifikan. Perjanjian yang mengakhiri konflik berkepanjangan antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Pemerintah RI ini memang berhasil meredam senjata, namun tidak serta-merta menghapus ketegangan struktural yang lebih dalam: relasi kuasa antara pusat dan daerah, antara elite nasional dan lokal, antara kepentingan politik dan ekonomi.

Daftar Konten
Dari Medan Tempur ke Meja BisnisTiga Pulau, Sumber Daya, dan Kedaulatan WilayahApakah Ini Koalisi Damai atau Oligarki Baru?Penutup: Jalan Damai Belum Usai

Kini, konstelasi politik memasuki babak baru. Keterpilihan Prabowo Subianto sebagai Presiden RI, dan kemenangan Muzakir Manaf (Mualem)—mantan Panglima GAM—sebagai Gubernur Aceh, menandai babak baru dalam rekonsiliasi elit pascakonflik. Dalam konteks ini, pertemuan antara Muzakir Manaf dan Hasyim Djojohadikusumo, adik Prabowo sekaligus pengusaha nasional, bukanlah sekadar silaturahmi biasa. Ia adalah simbol politik: bahwa mantan pihak yang dulu bertikai, kini tengah menyusun ulang posisi dalam lanskap kekuasaan baru.

Dari Medan Tempur ke Meja Bisnis

Muzakir Manaf bukan hanya simbol politik lokal. Ia adalah representasi dari jaringan mantan kombatan GAM yang kini masuk ke dalam sistem negara. Sejak diberlakukannya Undang-Undang Pemerintahan Aceh (UU No. 11 Tahun 2006), para eks kombatan diberi ruang untuk mengelola daerah melalui partai politik lokal dan jabatan eksekutif. Integrasi politik ini dianggap sebagai buah dari keberhasilan Helsinki. Namun, integrasi itu juga membuka ruang baru: pergeseran perlawanan menjadi negosiasi, dari medan tempur ke meja bisnis dan politik.

Hasyim Djojohadikusumo, yang memiliki investasi di sektor perkebunan dan industri di Aceh, memainkan peran sebagai penghubung antara pusat kekuasaan politik nasional dan potensi ekonomi daerah. Maka, hubungan keduanya tidak semata politis, tapi juga ekonomi—dan inilah medan baru relasi antara NKRI dan Aceh hari ini.

Baca Juga:   Kirimkan Tulisan Anda ke Marhaenist.id, Inilah Syarat dan Ketentuannya!

Tiga Pulau, Sumber Daya, dan Kedaulatan Wilayah

Ketegangan kembali muncul saat Muzakir menolak ajakan pertemuan dengan Bobby Nasution, Gubernur Sumatera Utara, terkait isu tiga pulau kaya gas yang sempat diwacanakan akan dialihkan ke Sumatera Utara. Dalam situasi ini, sikap Muzakir bukan sekadar manuver administratif, melainkan ekspresi kuat dari sikap historis Aceh terhadap kedaulatan wilayah dan sumber daya alamnya.

Bagi banyak kalangan di Aceh, pengalaman masa lalu—dari eksploitasi PT Arun hingga ketidakadilan distribusi hasil SDA—membentuk memori kolektif yang sensitif terhadap segala bentuk intervensi luar. Penolakan Muzakir menjadi peringatan bahwa, meskipun Aceh telah menjadi bagian utuh dari NKRI, semangat kemandirian tetap hidup. Keputusan Kementerian Dalam Negeri yang akhirnya menetapkan tiga pulau tersebut tetap milik Aceh memperlihatkan bahwa pemerintah pusat masih harus berjalan hati-hati dalam menangani sensitivitas regional.

Apakah Ini Koalisi Damai atau Oligarki Baru?

Pertemuan elite mantan kombatan dan elite nasional pascamiliter memang bisa dibaca sebagai keberhasilan integrasi dan rekonsiliasi. Namun, pada sisi lain, ini juga membuka ruang baru bagi terbentuknya oligarki baru: kolaborasi antara mantan aktor kekerasan dan aktor ekonomi-politik nasional dalam menguasai sumber daya strategis.

Di titik ini, publik Aceh dan Indonesia harus bertanya: Apakah transformasi dari konflik menuju damai ini berakhir pada kemakmuran rakyat, atau justru hanya berpindah tangan dari satu bentuk dominasi ke bentuk dominasi lain? Apakah elite baru ini mampu mengartikulasikan kepentingan rakyat Aceh secara adil, atau sekadar memperkuat jaringan kekuasaan ekonomi-politik di balik jubah damai?

Penutup: Jalan Damai Belum Usai

Helsinki bukanlah akhir, ia adalah awal dari proses panjang perundingan damai yang sesungguhnya—yakni pembangunan kesejahteraan, keadilan, dan penghormatan terhadap kekhususan daerah. Perkawinan kekuasaan antara pusat dan daerah harus dikawal ketat, agar tidak berubah menjadi kooptasi pusat terhadap daerah, atau kooptasi elite terhadap rakyat.

Baca Juga:   Ketua PA GMNI: Transisi Demokrasi Tak Boleh Mundur ke Era Sebelum Reformasi

Muzakir Manaf dan Prabowo Subianto hari ini tidak lagi berada di sisi berseberangan. Namun, sejarah tetap mencatat bahwa hubungan keduanya lahir dari luka panjang bangsa ini. Luka itu hanya benar-benar sembuh jika rekonsiliasi tidak berhenti pada elite, melainkan menjelma menjadi kesejahteraan yang dirasakan oleh rakyat Aceh sendiri.***


Penulis: Eko Zaiwan, Alumni GMNII Malang Raya.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print

ARTIKEL TERBARU

Demokrasi Bukan Dagangan Elite: GMNI Situbondo Tolak Tegas Pilkada oleh DPRD
Selasa, 13 Januari 2026 | 12:57 WIB
Dokumen Rahasia Amerika: AS Mengetahui Skala Pembantaian Tragedi 1965
Selasa, 13 Januari 2026 | 10:42 WIB
Foto: Ibrahim Traore, Presiden Burkina Faso (Sumber: Inilah.com)/MARHAENIST.
Kendalikan Hama Belalang dengan Ayam: Kebijakan Kemandirian Pangan Ibrahim Traoré di Burkina Faso
Senin, 12 Januari 2026 | 19:19 WIB
Sukarno dan Analisis Anti-Kolonialnya yang tidak Rasis
Senin, 12 Januari 2026 | 15:03 WIB
Foto: Ibrahim Traore, Presiden Burkina Faso (Sumber: Inilah.com)/MARHAENIST.
Ibrahim Traoré, Pan-Afrikanisme dan Langkah-Langkahnya untuk Kedaulatan Afrika
Senin, 12 Januari 2026 | 15:02 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

Jalan Terjal Profesi Pendidik: Konsepsi Perjuangan dan Sasaran Konstruktif Memaknai Hari Guru Nasional

Marhaenist.id - Sangat tersanjung apabila kita melihat gagasan dasar yang telah dibangun didalam…

Dipecat Akibat Asusila, Ketua KPU Justru Senang dan Riang Gembira

Marhaenist.id, Jakarta - Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI Hasyim Asy’ari berterima kasih…

Resmi Dilantik, DPC GMNI Halut Komitmen Kawal Kebijakan Pemda yang Pro Rakyat

Marhaenist.id, Tobelo - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Gelar PPAB, GMNI Morowali Lahirkan 13 Generasi Baru Pejuang Marhaenis yang Siap Mengabdi untuk Rakyat

Marhaenist.id, Morowali - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Ajukan Banding atas Putusan PN Jakpus Nomor 115/Pdt.G/2025/PN Jkt.Pst, DPP GMNI Ajak Penggugat Dialog dan Mediasi

Marhaenist.id, Jakarta – Didampingi Tim Kuasa Hukum PSHN & Partners, Dewan Pimpinan…

Putusan MK Mulai Jegal Klan Jokowi

MARHAENIST - Mahkamah Konstitusi (MK) memutuskan menetapkan minimal syarat usia calon di…

Tanamkan Nilai Marhaenisme pada Peserta Baru, GMNI Touna Sukses Gelar PPAB Ke 7

Marhaenist.id, Touna - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Rayakan Dies Natalis GMNI Ke-70, DPK GMNI UIN Jakarta Bagikan Takjil Gratis di Ciputat

Marhaenis.id, Jakarta - Dewan Pengurus Komisariat GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia) Universitas…

Di Hari Lahir Pancasila, GMNI Kendari Harapkan Nilai Pancasila harus Mampu Diimplementasikan Pemangku Kebijakan di Sultra

Marhaenist.id, Kendari - Dewan pimpinan cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format

Vivere Pericoloso

🎧 Online Radio

Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?