By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
DPP GMNI Mendorong Pelaksanaan UHC: Tidak Menyisakan Ketimpangan Akses dan Kualitas Layanan Kesehatan
Demokrasi Bukan Dagangan Elite: GMNI Situbondo Tolak Tegas Pilkada oleh DPRD
Dokumen Rahasia Amerika: AS Mengetahui Skala Pembantaian Tragedi 1965
Kendalikan Hama Belalang dengan Ayam: Kebijakan Kemandirian Pangan Ibrahim Traoré di Burkina Faso
Sukarno dan Analisis Anti-Kolonialnya yang tidak Rasis

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
ArtikelOpini

Matinya Pancasila di Bulan Juni

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Minggu, 1 Juni 2025 | 14:28 WIB
Bagikan
Waktu Baca 4 Menit
Foto: Firman Tendry Masengi, Advokat, aktivis prodem 98, alumni GMNI Jakarta/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Pagi belum benar-benar terang ketika Prabowo keluar dari rumah kayunya yang lapuk di tepi gang. Di tangannya, segelas kopi hitam mengepul. Ia duduk di bangku panjang warung kecil milik Bu Titik, menghadap ke pagar Sekolah Dasar Inpres yang berdiri sejak zaman Orde Baru.

Dari balik pagar itu, suara anak-anak kecil menggemakan lima sila Pancasila.

“Satu! Ketuhanan Yang Maha Esa!”
“Dua! Kemanusiaan yang adil dan beradab!”

Prabowo tersenyum kecil. Suara itu—lantang, hafal, dan tulus—mengingatkannya pada masa mudanya. Dulu, ia juga pernah seperti mereka: percaya penuh pada setiap kata dalam Pancasila. Ia pernah turun ke jalan, memimpin demonstrasi, membacakan manifesto Trisakti, dan berdiri di depan gas air mata demi “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.”

Kini, puluhan tahun kemudian, ia hanya bisa duduk dan mendengarkan dari kejauhan. Ia tak lagi berorasi. Ia tak lagi berbaris. Yang tersisa darinya hanyalah ingatan—dan segelas kopi yang mulai dingin.

Sore itu, televisi di warung menayangkan pidato seorang pejabat tinggi. Latar merah putih, jas hitam, dan suara berat yang dilatih retorikanya. Prabowo menonton dalam diam. Di layar, sang pejabat bicara tentang pentingnya keadilan, gotong royong, dan nilai-nilai Pancasila.

Prabowo menyesap kopinya, lalu bergumam, “Pancasila… sekarang adalah dekorasi sering dipajang daripada dijalankan.”

Ia masih ingat betul bagaimana Bung Karno menyebut Pancasila sebagai *philosophische grondslag*, dasar filsafat bangsa. Ia juga mengingat istilah *leitstar dinamis*—bintang penuntun yang hidup. Tapi di zaman sekarang, pikirnya, Pancasila telah berubah bentuk: bukan lagi arah, melainkan alat.

Dulu, kata “adil” membuatnya bergetar. Kini, kata itu hanya muncul di baliho, di spanduk, di amplop bantuan, di pidato-pidato yang lupa rakyat.

Baca Juga:   Populisme dan Krisis Musyawarah dalam Demokrasi Kita

Ia pernah percaya bahwa “kemanusiaan yang adil dan beradab” dan “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” bisa menjadi nyata. Tapi kini ia melihat:

Buruh dipecat demi efisiensi,

Petani digusur demi investasi,

Mahasiswa dibungkam demi stabilitas,

Dan hukum—seperti pisau—tajam ke rakyat, tumpul ke penguasa.

Seseorang di warung bertanya, “Masih percaya sama Pancasila, Wo?”

Prabowo tersenyum. “Percaya. Tapi bukan versi yang mereka umbar di televisi.”

“Maksudnya?”

“Versi yang hidup. Yang berpihak. Yang tidak berhenti di pidato. Versi yang membela si kecil, bukan menindasnya dengan kata-kata indah.”

Ia menatap ke luar warung. Langit sore menggantung merah muram.

Beberapa hari kemudian, di sekolah yang sama, anak-anak kembali melafalkan Pancasila. Tapi kali ini Prabowo berdiri lebih dekat ke pagar, memperhatikan wajah-wajah kecil yang berteriak lantang.

“Lima! Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia!”

Ia tersenyum – bukan karena bangga, tapi karena sedih. Ia tahu, suara itu akan tumbuh dalam sistem yang tak memedulikan makna. Akan ada anak yang menghafal Pancasila, lalu hidup dalam kemiskinan. Akan ada yang belajar tentang keadilan, tapi disuruh diam saat ketidakadilan datang.

Dan akan ada pejabat yang mengutip sila kelima… sambil menandatangani kontrak yang menggusur ribuan rumah rakyat.

Prabowo membatin, “Pancasila bukan untuk dihafal, tapi diperjuangkan. Adil bukan untuk dikutip, tapi dibela.”

Ia tahu, suatu hari nanti anak-anak itu akan bertanya:

“Mengapa kami diajarkan keadilan, tapi hidup dalam ketimpangan?”

Dan ketika hari itu tiba, Prabowo berharap masih ada satu-dua orang tua yang mau berkata jujur:

“Karena yang mengkhianati Pancasila bukan penjajah,
Tapi mereka yang paling sering mengucapkannya”***

Disclaimer: Ini sebuah Cerpen yang berkisah tentang tokoh fiksi bernama Prabowo—seorang lelaki tua mantan aktivis yang menyaksikan kehancuran Pancasila di tengah kekuasaan yang penuh simbol dan pengkhianatan.


Penulis: Firman Tendry Masengi, Advokat, Aktivis Prodem 98, Alumni GMNI Jakarta.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print

ARTIKEL TERBARU

DPP GMNI Mendorong Pelaksanaan UHC: Tidak Menyisakan Ketimpangan Akses dan Kualitas Layanan Kesehatan
Selasa, 13 Januari 2026 | 18:01 WIB
Demokrasi Bukan Dagangan Elite: GMNI Situbondo Tolak Tegas Pilkada oleh DPRD
Selasa, 13 Januari 2026 | 12:57 WIB
Dokumen Rahasia Amerika: AS Mengetahui Skala Pembantaian Tragedi 1965
Selasa, 13 Januari 2026 | 10:42 WIB
Foto: Ibrahim Traore, Presiden Burkina Faso (Sumber: Inilah.com)/MARHAENIST.
Kendalikan Hama Belalang dengan Ayam: Kebijakan Kemandirian Pangan Ibrahim Traoré di Burkina Faso
Senin, 12 Januari 2026 | 19:19 WIB
Sukarno dan Analisis Anti-Kolonialnya yang tidak Rasis
Senin, 12 Januari 2026 | 15:03 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

GMNI Minta Jokowi Evaluasi Kinerja Menkominfo Terkait Amburadulnya Penghentian Siaran TV Analog

Marhaenist - Kebijakan penghentian siaran TV analog atau Analog Swicth Off (ASO)…

Foto: Stevani Evarista dan Salwa Azhari Riefhantza Putri (Mahasiswi STIH IBLAM) Bersama Dosen Pendamping Prof. Dr. Gunawan Nacrahwi S.H,M.H. MARHAENIST

Mahasiswi STIH IBLAM Angkat Isu HAM dan Demokrasi dalam Lomba Esai GALAKSI 2025

Marhaenist.id, Jakarta, - Dua mahasiswi Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) IBLAM, Stevani…

Ekponen Alumni GMNI Kawal Ganjar Pranowo Ikuti Kontestasi Pilpres 2024

Marhaenist.id, Jakarta - Massa dari eskponen alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) dan…

Pro dan Kontra PT. SIM di Dusun Pelita, Bupati SBB dilema?

Marhaenist.id - Sudah hampir dua tahun terakhir, kita di suguhkan dengan berita-berita…

RBPR Deklarasikan Dukungan Untuk Pramono Anung-Rano Karno

MARHAENIST -  Pranowo Anung dan Rano Karno turut menghadiri acara deklarasi Rumah…

Jangan Mereduksi GMNI Sebagai Wadah Perpanjangan Karir!

Marhaenist.id - Tentunya kita mengucap syukur Alhamdulillah lantaran kita baru saja memperingati…

Peningkatan PPN akan Menjadi Disinsentif Bagi Masyarakat Kecil

Marhaenist.id - Keputusan pemberlakuan tarif pajak pertambahan nilai (PPN) sebesar 12 persen…

Pilkada Lewat DPRD, Bentuk Perampasan Hak Rakyat untuk Berdaulat Secara Politik

Marhaenist.id - Mengalihkan Pilkada dari tangan rakyat ke ruang DPRD adalah bentuk…

Gelar Aksi, DPK GMNI UM Buton dan PK IMM Faperta UM Buton Desak Pencopotan Dosen atas Dugaan Pelecehan Seksual

Baubau, Marhaenist.id - Dewan Pengurus Komisariat (DPK) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format

Vivere Pericoloso

🎧 Online Radio

Copyright © 2025 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?