By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Marhaenist
Log In
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Onward Issue:
Hitam Putihnya Hukum, Penganiayayan Siswa 14 Tahun Tantangan Untuk Penegak Hukum
Dugaan Kekerasan Oknum Brimob di Tual, Anak 14 Tahun Meninggal Dunia
Indonesia Menggugat: GMNI Jakarta Timur Desak Pencopotan Menteri HAM
Prof. Arief Hidayat: Perjanjian Dagang RI–AS Jadi Ujian Konstitusi dan Politik Luar Negeri Bebas Aktif
DPP GMNI Desak Pengusutan Terbuka Dugaan Kekerasan Oknum Brimob di Kota Tual yang Tewaskan Anak 14 Tahun

Vivere Pericoloso

Ever Onward Never Retreat

Font ResizerAa
MarhaenistMarhaenist
Search
  • Infokini
    • Internasionale
  • Marhaen
    • Marhaenis
    • Marhaenisme
    • Study Marhaenisme
    • Sukarnoisme
  • Indonesiana
    • Kabar Alumni GMNI
    • Kabar GMNI
  • Kapitalisme
  • Polithinking
  • Insight
    • Bingkai
    • Historical
  • Manifesto
  • Opini
Ikuti Kami
Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.
Opini

Kapitalis dan Komunis

La Ode Mustawwadhaar
La Ode Mustawwadhaar Diterbitkan : Minggu, 6 April 2025 | 08:52 WIB
Bagikan
Waktu Baca 4 Menit
Foto: Ferdinand Marcos Jr, Presiden Filipina/MARHAENIST.
Bagikan

Marhaenist.id – Pada pandangan pertama, kapitalisme dan komunisme tampak seperti dua kutub yang tak pernah bisa bertemu. Kapitalisme, dengan semangat pasar bebas dan keuntungan individu, sering dianggap berlawanan dengan komunisme yang mengedepankan kolektivisme dan kontrol negara.

Namun, realitas politik dan ekonomi global membuktikan bahwa ideologi yang berbeda tidak selalu menjadi penghalang untuk mencapai kesepakatan.

Komunikasi antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Sekretaris Jenderal Partai Komunis Vietnam To Lam pada April 2025, telah menunjukkan bahwa pragmatisme sering kali mengalahkan perbedaan ideologis.

Pada tanggal 5 April 2025, Trump mengumumkan melalui akun media sosialnya bahwa ia telah melakukan panggilan telepon yang “sangat produktif” dengan To Lam.

Dalam percakapan tersebut, Vietnam menyatakan niatnya untuk menghapus tarif impor dari Amerika Serikat sepenuhnya, sebagai respons terhadap tarif 46% yang diberlakukan Trump terhadap barang-barang Vietnam yang masuk ke AS.

Langkah ini merupakan bagian dari negosiasi yang dimulai setelah Trump menetapkan kebijakan tarif pada 2 April 2025. Bagi banyak pengamat, ini adalah bukti nyata bahwa kepentingan ekonomi dapat menjembatani jurang ideologi yang tampaknya tak terselesaikan.

Vietnam, sebuah negara yang dijalankan oleh Partai Komunis, telah lama dikenal sebagai salah satu ekonomi yang berkembang pesat di Asia Tenggara. Meskipun berpegang pada sistem politik komunis, Vietnam telah mengadopsi elemen kapitalisme dalam perekonomiannya sejak reformasi Doi Moi pada tahun 1986. Sementara itu, Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Trump dikenal sebagai benteng kapitalisme yang gigih memperjuangkan kebijakan “America First”.

Ketika kedua pemimpin ini duduk bersama, walau hanya melalui telepon, untuk membahas tarif dan perdagangan, dunia menyaksikan bahwa label ideologi tidak selalu menentukan arah hubungan bilateral.

Baca Juga:   Pilkada 2024: Kesadaran Politik Pemilih Muda 

Lebih jauh lagi, pembicaraan ini tidak hanya terbatas pada soal tarif. Menurut Vietnam News Agency, Trump dan To Lam juga membahas penguatan hubungan bilateral dan peningkatan perdagangan. To Lam menegaskan bahwa Vietnam akan terus mengimpor barang-barang yang dibutuhkan dari Amerika, sekaligus menciptakan iklim yang kondusif bagi perusahaan-perusahaan Amerika untuk berinvestasi di Vietnam. Hal ini menunjukkan adanya kesadaran bersama bahwa kerja sama ekonomi dapat saling menguntungkan, terlepas dari perbedaan sistem politik.

Foto: Edi Subroto, Alumni GMNI Yogyakarta/MARHAENIST.

Vietnam membutuhkan pasar dan investasi AS, sementara Amerika melihat Vietnam sebagai mitra strategis di kawasan Asia-Pasifik, terutama dalam konteks persaingan geopolitik dengan Tiongkok.

Kesepakatan ini juga mencerminkan fleksibilitas yang muncul dari kebutuhan pragmatis. Bagi Vietnam, menghapus tarif impor dari AS adalah langkah untuk menjaga akses ke pasar Amerika yang besar, sementara bagi Trump, ini adalah kemenangan dalam mewujudkan janji kampanyenya untuk menciptakan perdagangan yang “adil” bagi Amerika.

Dalam konteks ini, ideologi menjadi sekunder dibandingkan kepentingan nasional dan ekonomi. Siapa bilang kapitalis dan komunis tidak bisa membuat kesepakatan? Sejarah telah menunjukkan bahwa ketika ada keuntungan yang bisa diraih, perbedaan ideologis sering kali dikesampingkan demi tujuan bersama.

Panggilan telepon antara Trump dan To Lam adalah simbol dari dunia yang semakin kompleks, di mana garis-garis ideologi menjadi kabur di hadapan realitas ekonomi global.

Hal ini bukan pertama kalinya kapitalisme dan komunisme menemukan titik temu—ingat hubungan AS dengan Tiongkok di masa lalu atau kerja sama ekonomi Vietnam dengan negara-negara Barat lainnya.

Namun, peristiwa ini menegaskan kembali bahwa dalam politik internasional, tidak ada yang benar-benar mutlak. Ketika kepentingan bertemu, bahkan kapitalis dan komunis pun bisa duduk bersama, berjabat tangan—atau setidaknya, bertukar kata melalui saluran telepon—dan mencapai kesepakatan yang menguntungkan kedua belah pihak.

Baca Juga:   PDI-P dan Revisi UU TNI

Penulis: Edi Subroto, Alumni GMNI Yogyakarta.

iRadio
Bagikan Artikel
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Ad image

ARTIKEL TERBARU

Hitam Putihnya Hukum, Penganiayayan Siswa 14 Tahun Tantangan Untuk Penegak Hukum
Senin, 23 Februari 2026 | 03:46 WIB
Dugaan Kekerasan Oknum Brimob di Tual, Anak 14 Tahun Meninggal Dunia
Senin, 23 Februari 2026 | 03:35 WIB
Indonesia Menggugat: GMNI Jakarta Timur Desak Pencopotan Menteri HAM
Senin, 23 Februari 2026 | 03:24 WIB
Prof. Arief Hidayat: Perjanjian Dagang RI–AS Jadi Ujian Konstitusi dan Politik Luar Negeri Bebas Aktif
Minggu, 22 Februari 2026 | 21:23 WIB
DPP GMNI Desak Pengusutan Terbuka Dugaan Kekerasan Oknum Brimob di Kota Tual yang Tewaskan Anak 14 Tahun
Minggu, 22 Februari 2026 | 00:25 WIB

BANYAK DIBACA

Negara Hukum Berwatak Pancasila
Kelompok Cipayung Plus Jatim Ajak Masyarakat Utamakan Persatuan dan Perdamaian Bangsa
DPR Nilai Saatnya Mahkamah Agung Bersih-Bersih
UU PDP Disahkan, Pemerintah Diminta Bentuk Pengawas Independen
Beliau Ini Tukang Buat Masjid Bagus

Lainnya Dari Marhaenist

Islamisme dan Komunisme, Haji Misbach 1925

Marhaenist - Apabila kita berbicara mengenai Islam dan Komunisme di Indonesia, kita…

Pernyataan Sikap GMNI Se-Indonesia: Sukseskan Konsolidasi KLB GMNI, Kongres di Bandung bukanlah Solusi Persatuan!

Marhaenist.id - Menyimak dinamika organisasi Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) akhir-akhir ini…

GMNI-PERMAHI Desak Partai Perindo Lakukan PAW Terhadap Alm Leonardus Kocu dari Anggota DPRD Mimika

Marhaenist.id, Mimika - Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) dan Perhimpunan Mahasiswa Hukum…

GMNI Berduka: Ketua Panitia Kongres Persatuan GMNI Ke – XV Nizis Edward Julistris, Telah Tutup Usia

Marhaenist.id, Bangka Tengah - Kabar duka kembali menyelimuti Keluarga Besar Alumni Gerakan Mahasiswa…

Materialisme Ala Karl Marx dan Syech Siti Jenar

Marhaenist.id - Kalau diamati Karl Marx dan Syech Siti Jenar itu sama-sama…

Matinya Pancasila di Bulan Juni

Marhaenist.id - Pagi belum benar-benar terang ketika Prabowo keluar dari rumah kayunya…

DPP GMNI Tekankan Peran Kewirausahaan dalam Memperkuat Ekonomi Rakyat dan Kaderisasi

Marhaenist.id, Jakarta - Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)…

GMNI Desak Pencopotan Bahlil, Adili Jokowi dan Pembubaran PIK Sebagai PSN

Marhaenist.id, Jakarta - Aliansi Mahasiswa yang tergabung dalam Front Pengadilan Rakyat menggelar…

Revisi UU TNI: Ancaman Serius Bagi Demokrasi Indonesia

Marhaenist.id - Kita sedang menghadapi bahaya laten. Revisi UU TNI yang sedang…

Tampilkan Lebih Banyak
  • Infokini
  • Indonesiana
  • Historical
  • Insight
  • Kabar Alumni GMNI
  • Kabar GMNI
  • Bingkai
  • Kapitalisme
  • Internasionale
  • Marhaen
  • Marhaenis
  • Marhaenisme
  • Manifesto
  • Opini
  • Polithinking
  • Study Marhaenisme
  • Sukarnoisme
Marhaenist

Ever Onward Never Retreat

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • ▪️ Kirim Artikel
  • ▪️ Format
  • ▪️Donasi Perjuangan

Vivere Pericoloso

🎧 Radio Online

Copyright © 2026 Marhaenist. Ever Onward Never Retreat. All Rights Reserved.

Marhaenist
Ikuti Kami
Marhaenist
Merdeka!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?