Marhaenist.id, Jakarta — Dewan Pengurus Daerah (DPD) Persatuan Alumni (PA) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Jakarta Raya kembali menunjukkan kapasitasnya sebagai ruang konsolidasi ideologis sekaligus pusat dialektika gagasan Marhaenisme di tingkat nasional.
Hal ini tampak dalam penyelenggaraan Diskusi Publik bertema “Front Marhaenis Ambil Peran: Berdaulat, Berdikari, Berbudaya” yang digelar pada Sabtu (6/12/2025) di Kantor DPP PA GMNI.
Kegiatan tersebut menghadirkan dua tokoh nasional sebagai pembicara utama, yakni politisi senior Bambang Wuryanto atau Bambang “Pacul” serta akademisi pertahanan dan keamanan nasional Prof. Muradi.
Kehadiran keduanya memberi warna, bobot, serta perspektif strategis yang mempertegas posisi Marhaenisme sebagai ideologi yang relevan menjawab persoalan kebangsaan hari ini.
Konsolidasi Ideologis sebagai Kebutuhan Mendesak
Dalam paparannya, Bambang “Pacul” menekankan bahwa Marhaenisme tidak boleh hanya berhenti sebagai wacana sejarah atau romantisme ideologis.
Di tengah perubahan politik dan ekonomi global yang semakin cepat, menurutnya, Marhaenisme harus kembali diterjemahkan dalam langkah konkret yang mampu membela kepentingan rakyat pekerja, kaum kecil, dan kelompok-kelompok yang termarjinalkan oleh arus liberalisasi.
Bambang menggarisbawahi pentingnya front kebudayaan dan front politik yang bergerak sejalan. Tanpa kedua hal itu, Marhaenisme akan terus terperangkap dalam ruang konsep tanpa menjelma menjadi kekuatan perubahan.
Sementara itu, Prof. Muradi memberikan perspektif dari sisi pertahanan dan keamanan nasional. Ia menyoroti bahwa dinamika geopolitik dan gesekan antar-kepentingan di tingkat global menuntut Indonesia untuk memiliki pondasi ideologis yang tegas serta arah pembangunan politik yang berpijak pada jati diri bangsa.
Menurutnya, Marhaenisme dapat berfungsi sebagai kerangka orientasi yang menjaga negara dari jebakan polarisasi politik dan pengaruh asing yang mengancam kedaulatan.
Jakarta Raya Menjadi Pusat Gagasan Marhaenis
Diskusi ini memperlihatkan bahwa DPD PA GMNI Jakarta Raya terus menjadi poros strategis yang menghidupkan kembali dialektika pemikiran Marhaenisme.
Forum ini bukan sekadar ruang akademik, tetapi menjadi arena penguatan karakter politik para kader dan alumni, sekaligus laboratorium ideologi yang menghasilkan gagasan relevan bagi masa depan bangsa.
Antusiasme peserta yang berasal dari berbagai latar belakang profesi, daerah, dan generasi alumni menjadi bukti bahwa kebutuhan untuk merawat dan memperbarui Marhaenisme masih sangat tinggi. Banyak peserta yang menilai bahwa forum seperti ini harus diperbanyak sebagai bagian dari gerakan konsolidasi pemikiran nasional.
Meneguhkan Arah Perjuangan Marhaenisme di Masa Depan
Melalui diskusi ini, DPD PA GMNI Jakarta Raya menegaskan kembali posisinya sebagai barisan terdepan dalam menggerakkan narasi Marhaenisme secara lebih kritis, strategis, dan terorganisir.
Di tengah tantangan politik yang semakin kompleks, mulai dari komersialisasi demokrasi, penetrasi kepentingan asing, hingga merosotnya kesadaran ideologis generasi muda, gerakan Marhaenis perlu memiliki peta jalan yang jelas dan konsisten.
Kegiatan ini diharapkan menjadi momentum berkelanjutan bagi PA GMNI Jakarta Raya untuk memperluas ruang diskusi, memperkuat kapasitas kader, serta memastikan Marhaenisme tetap hidup sebagai ideologi perjuangan yang membela kepentingan rakyat banyak.
Apresiasi dan Penegasan dari Ketua Umum DPP PA GMNI
Keterlibatan dua tokoh tersebut dalam memaparkan materinya di Seri Diskusi Publik Edisi V digelar oleh DPD PA GMNI Jakarta Raya mendapat apresiasi langsung dari Ketua Umum DPP PA GMNI, Prof. Arief Hidayat.
“Mantap dan benar, Mas Bambang Pacul!,” ucap Prof. Arief saat mengomentari posting berita Seri diskusi Publik Edisi V yang digelar oleh DPD PA GMNI Jakarta Raya tersebut di grup WhatsApp MARHAEN MEDIA, Minggu (7/12/2025).
Ungkapan itu menggambar bukan hanya bentuk dukungan, tetapi juga simbol legitimasi politik atas arah konsolidasi ideologi yang dikerjakan DPD PA GMNI Jakarta Raya.
Ungkapa itu juga menegaskan bahwa upaya penguatan ideologi di tubuh kader dan alumni GMNI merupakan agenda besar yang harus terus diperjuangkan secara sistematis.***
Penulis Bung Wadhaar/Editor: Bung Wadhaar.